Sunday, July 26, 2015

Life in future with you--- part 4

Life in future with you--- part 4

(Meski ku tau rasa rindu akan kehadiran dedy nya sangat lah besar. Dan mungkin waktu yg akan mempertemukan kalian di kemudian hari.
  "Sabar ya sayang, mami akan melakukan apapun yg terbaik untuk kamu. Karena mami sangat mencintai kamu nak.." batin ku.)"

Pagi itu, aku sengaja berangkat lebih awal dari biasa nya. Ada berkas yg harus aku pelajari, untuk bahan meeting siang ini. Banyak hal yg belum aku ketahui, hingga aku harus mempelajari nya dari awal.
  "Tok..tok..tok.."
  "Maaf bu, ada yg ingin bertemu.." ucap fara asisten ku.
  "Siapa fara?"
  "Bu dinar... " ucap fara
  "Tumben, jam segini dinar sudah datang. Untuk apa dinar pagi2 menemui ku." Pikir ku
  "Baik lah, suruh masuk saja.." aku pun segera membereskan semua berkas yg sempat berserakan di meja kerja ku.
  "Km sibuk?" Ucap dinar dari balik pintu ruang kerja ku. Sebenarnya aku enggan menerima tamu pagi2, tapi mau gimana lagi. Mana mungkin aku menolak kedatangan nya.
  "Hai dinar,, masuk saja." aku pun mempersilahkan nya duduk.
  "Sorry, aku ganggu km pagi2." Ucap dinar
  "Gak apa2. Oya, kebetulan kamu kesini. Sekalian aku mau minta maaf soal kemarin." Aku pun mulai pembicaraan tetang alasan aku yg tiba2 pergi meninggalkan nya. Tak etis rasa nya jika aku tak menjelaskan hal yg sesungguhnya nya.
  "Iya gi, sebenarnya aku ingin menanyakan hal ini sebelum nya. Mengapa km tiba2 pergi begitu saja? Apa ada masalah?" Ucap dinar yg mulai penasaran.
  "Dinar,, Sebelum nya ada yang ingin aku tanyakan sama km."
  "Katakan lah gi.. ada apa?" Ucap dinar
  "Kamu kenal raffi?" 
  "Iya, kebetulan kita pernah 1 frame. Sebentar,, sebentar.. aku jadi teringat akan sesuatu. Jangan bilang apa yg ada di pikiran aku sama dengan apa yg kamu maksud..?" ucap dinar. Aku pun mengiyakan apa yg di katakan dinar.
  "Dan km tau, aku cukup kaget saat orang yg km maksud adalah raffi. Aku belum siap untuk bertemu dan berbicara dengan nya, maafkan aku dinar."
  "Ya Tuhan, aku sama sekali tak tahu jika orang yg kita maksud sama. Aku yg seharusnya minta maaf gi, aku gak bermaksud mempertemukan kalian berdua lagi. Dia memang teman ku, tapi dia gak pernah cerita tentang masalah kalian berdua. Maafkan aku gi." ucap dinar

Siang itu, meeting dimulai. Aku dan dinar pun hadir disana. Bahkan seluruh jajaran, beserta staff pun turut hadir disana. Namun tak banyak hal serius yg harus dibahas dalam meeting nya kali ini. Hingga 1 jam lewat 15 menit, aku pun keluar dari meeting room. Aku memang berniat untuk kembali ke ruang kerja ku, untuk mengambil handphone yg tertinggal didalam sana. Sebelum aku meninggalkan kantor dengan dinar untuk sekedar makan siang bersama.
  "Fara,,, jika ada yg mencari ku, bilang saja aku keluar sebentar dengan bu dinar." 
  "Baik bu. Ohh iya, tadi ada yg mencari ibu." Ucap fara
  "Siapa?"
  "Maaf, saya lupa menanyakan siapa nama nya. Tapi dia dari tadi tunggu ibu disana" ucap fara seraya menunjukkan dimana orang tersebut berada. Aku penasaran, sebenarnya siapa yg fara maksud.
  "Apa mungkin caca?" Bathin ku
  "Ok, makasih ya fara.. " aku pun mencoba mencari tahu sendiri, siapa dia?
Dan ternyata,,
  "Nagita.." ucap raffi. Sungguh, rasa nya aku ingin berbalik arah. Aku tak ingin melihat nya atau bahkan berbicara dengan nya. Aku merasa belum siap jika harus menemui nya sekarang.
  "Nagita, nagita.. tunggu!" ucap raffi yg langsung menghentikan langkah ku yg semakin menjauh dari nya.
  "Nagita tunggu,, aku mau bicara sama kamu." ucap raffi lagi.
  "Untuk apa km kesini? Aku sudah tidak ada urusan lagi dengan mu."
  "Nagita,, ada yg ingin aku jelaskan sama kamu.." ucap raffi
  "Km mau jelaskan apa lagi? Semua sudah cukup jelas, bukan? Lebih baik km pergi dari sini!" sedikit aliran darah ku meningkat, dan aku berusaha untuk pergi dari sini, dari pada emosi ku semakin tak terkendali.
  "Nagita, km dengarkan dulu penjelasan ku!" Ucap raffi dengan menarik tangan ku kuat2.
  "Lepaskan aku raffi,,! Ini kantor, sebaik nya kamu pergi."
  "Sebenci itu kah km terhadap ku? Sampai km enggan bertemu dan berbicara dengan ku?" ucap raffi saat menatap kedua mata ku secara bergantian. Sudah lama aku tak merasakan sedekat ini dengan nya. Bahkan tatapan itu,,, Seolah mengingatkan aku akan sesuatu. Tapi lagi2 aku tepis jauh2 rasa itu.
  "Maaf raffi, aku harus pergi.." aku pun mencoba melepaskan tangannya, meski saat itu raffi tak ingin melepaskan nya. Aku pergi meninggalkan raffi yg masih berada di waiting room samping ruang kerja ku. Meski ku tau rasa kecewa itu tersirat jelas diwajah nya. Bahkan dinar pun mengetahui bagaimana upaya raffi saat meminta ku untuk mendengarkan sedikit apa yg seharusnya raffi jelaskan sejak lama.
  "Gi,, mengapa km tak mau dengarkan sedikit penjelasan raffi?" Ucap dinar membuka pembicaraan kita saat berada di cafe untuk makan siang.
  "Gak ada yg perlu dijelaskan lagi dinar, semua sudah jelas!" Ucap ku dengan sedikit sisa emosi yg masih belum stabil. Sebenarnya aku tak ingin membahas hal ini disini. Semua membuat selera makan ku menjadi berantakan.
  "Gi, bukan nya aku ingin ikut campur urusan kalian. Tapi cobalah km sedikit mengalah untuk sedikit mendengarkan penjelasan raffi. Toh dia gak minta apapun selain itu. Km cukup mendengarkan nya, tanpa perlu berkomentar apa pun" Ucap dinar
  "Aku sudah cukup sabar dengan apa yg dia lakukan terhadap ku dinar, lalu mengapa dia baru menjelaskan nya sekarang? 5 tahun bukan waktu yg singkat untuk aku berjuang hidup sendiri bersama putri ku. Lalu kemana saja dia selama ini??" 
  "Ok, aku paham itu. Tapi apa km sadar, berapa lama juga km meninggalkan jakarta? Mungkin saat itu raffi tak bisa menemui mu karena jarak yg memisahkan kalian berdua. Tapi gi, aku kenal raffi. Dan selama aku mengenal nya, aku tak pernah melihatnya sampai rapuh seperti yg kulihat 3 tahun belakangan ini." Ucap dinar, aku sedikit menoleh kearah dinar. Menatap nya tajam, seolah mencari kebenaran dari setiap perkataan nya kepada ku. Apakah benar apa yg diucapkan nya? Apakah raffi benar2 serius ingin menjelaskan sesuatu kepada ku? Aku mulai bimbang dengan perasaan ku saat ini. Yg jelas aku tak bisa berkata apapun dihadapan dinar. Yg ada air mata yg jatuh menetes dan mengalir di pipi ku.
  "Gi, berilah kesempatan untuk raffi. Aku yakin kalian cuma butuh waktu berdua untuk saling menjelaskan semua nya." Ucap dinar

Tepat pukul 15.00 wib, aku kembali ke ruang kerja ku. Sebelum aku pulang menjemput key di sekolah.
  "Maaf bu, ini ada titipan untuk ibu" ucap fara saat aku hendak memasuki ruang kerjaku. Secarik kertas putih dan kotak kecil berwarna coklat.
  "Dari siapa?" 
  "Saya kurang tau, tiba2 ada di meja saya dan ternyata itu untuk ibu." ucap fara
  "Ok, Makasih yah.." aku pun langsung membawa nya masuk, meski belum jelas siapa pengirim nya dan apa isi kotak tersebut. Ingin ku buka isi kotak itu, dan ku baca sehelai kertas yg menempel diatas nya. Namun aku ingat akan sesuatu yg membuat ku sedikit mengabaikan nya. Ku lirik jam yg yg ada disamping kiri ku, pukul 15.25 wib. Yg artinya sebentar lagi aku harus ke sekolah key untuk menjemputnya. Aku segera menyelesaikan apa yg seharusnya aku kerjakan, dan setelah itu bersiap2 untuk pergi menemui putri kecil ku. Entah lah, akhir2 ini aku benar2 ingin selalu berada di dekat nya. Bahkan rasa takut pun sempat menyelimuti hati dan perasaan ku 2 hari belakangan ini. Dan itu bermula tatkala raffi tiba2 muncul di hadapan ku. Bahkan datang begitu saja di kehidupan ku, yg baru saja akan ku mulai bersama key. Dan itu cukup membuatku merasa tak nyaman.

Malam itu, tak ada yg harus aku lakukan atau kerjakan seperti malam2 biasanya yg harus sibuk dengan setumpuk berkas yg sering aku bawa untuk aku pelajari. Karena kebetulan besok aku libur kerja, hingga aku memutuskan untuk pergi ke teras belakang. Sejenak melepas kepenatan, dengan menghirup udara segar di malam hari. 
  "Sayang, km disini nak?" Ucap mama. Aku yg duduk di sofa panjang, sambil menikmati indah nya malam yg penuh dengan bintang pun menoleh kearah nya.
  "Mama... Rasa2 nya aku sudah lama tak melewati malam seindah ini. Aku rindu suasana ini mah.." Seraya mendongak keatas langit, berharap tak ada hujan atau petir yg merusak indah nya malam ini.
  "Boleh mama duduk disini?" Ucap mama ku.
  "Tentu,, " Aku pun tersenyum kearah nya.
  "Mama dengar kamu 1 kantor ya dengan dinar?" Ucap mama
  "Iya mah, kebetulan dinar partner kerja ku saat ini. Tapi seperti nya itu tidak akan berlangsung lama." 
  "Mengapa demikian...?" Tanya mama lagi
  "Beberapa bulan lagi dinar akan menikah, dan kemungkinan besar, ia akan ikut suami nya ke luar kota. Mama masih mengingat nya?"
  "Mana mungkin mama lupa akan sahabat2 kamu sayang,, lalu bagaimana dengan kamu sendiri?" Ucap mama, aku pun menoleh kearah nya.
  "Apa maksud mama?" Mendadak suasana pun berubah menjadi hening. Aku mulai punya feel, mama pasti akan menanyakan hal yang sama seperti apa yg pernah mama katakan kepada ku beberapa waktu yg lalu.
  "Sayang,, mau sampai kapan kamu akan terus menutupi semua nya? Ingat nak, mama gak akan selama nya bisa menemani kalian hingga esok, nanti dan seterus nya. Bahkan semakin hari, usia mama semakin berkurang. Dan kita tak pernah tau kapan Tuhan akan mengambil mama dari orang2 yg sangat mama sayangi. Besar harapan mama melihat anak2 nya bahagia, terutama kamu sayang. Mama ingin melihat kamu menikah dengan orang pilihan mu. Seseorang yg bisa membahagiakan kalian.." ucap mama ku.
  "Mah, aku bahagia bersama key. Dan itu sudah cukup untuk ku."
  "Itu menurut kamu! Tapi key gak sayang! Sekarang, apa kamu bisa menjamin kalo key akan bahagia tanpa seorang ayah disamping nya?" Disitu aku merasa di skakmat oleh mama. Tak ada kata yg terucap dari bibir ku. Bahkan aku hanya terdiam, tanpa ada sanggahan yg biasa aku lontarkan untuk memberi sedikit pembelaan terhadap diri ku sendiri.
  "Nagita,, dengarkan mama sayang. Kamu gak tau bagaimana perasaan key yg sesungguh nya. Karena dia masih terlalu kecil untuk bisa protes tentang apa keinginan nya. Tapi apa kamu bisa sedikit peka akan perasaan nya? Key butuh seorang ayah, dan itu tak bisa di dapatkan dari kamu. Dan mama kira, km tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bisa bilang "iya"." Ucap mama. Aku pun sejenak terdiam, menelaah setiap pesan yg disampaikan mama kepada ku. Mungkin benar apa yg di katakan mama, bagaimana pun juga aku tetap mami nya dan tak akan pernah bisa menjadi dedy nya. Entahlah mengapa aku jadi kepikiran akan ucapan dinar tadi siang. Terkadang kesedihan memerlukan kesendirian, meskipun seringkali kesendirian mengundang kesedihan tak tertahan kan. Itulah yg aku rasakan saat ini. "Sebenci itu kah km terhadap ku? Sampai km enggan bertemu dan berbicara dengan ku?" Kata2 yg selalu terngiang dalam benak dan pikiran ku, hingga detik ini. Kejadian siang tadi membuat ku merasa kalo aku sudah melakukan hal yg salah. Semakin aku berusaha melupakan nya, semakin pula aku merasa bersalah atas semua nya. Meskipun ku tau semua terjadi secara tak sengaja. Dan tak seharusnya aku bersikap dingin terhadap nya. Bahkan siang tadi, aku merasa sama sekali tak mengenali diri ku sendiri. Saat aku berkata kasar kepada raffi, bahkan dinar pun tak luput dari sasaran amarah ku.
  "Ya Tuhan.. apa yg harus aku lakukan? Aku yg memutuskan untuk kembali. Tapi apakah aku siap dengan segala konsekuensi nya?" Batin ku. 
  "Mam..." ucap key yg tiba2 menghampiriku.
  "What are you doing? I've been looking for you mam" ucap key. Rupanya sedari tadi key mencari keberadaan ku. Aku memang meninggalkan nya saat key tertidur lelap di ranjang nya. Aku susah tidur, hingga aku memutuskan untuk duduk di balkon kamar ku. Yang aku pikir akan menimbulkan kantuk dan membuat ku bisa terlelap malam ini. Namun seperti nya aku salah. Yg ada aku malah memikirkan sesuatu yg membuat ku semakin sulit tidur.
  "Mam... are you ok..?" Key pun memecahkan keheningan malam ini. Disaat semua terasa sunyi, bahkan mungkin semua semua orang sudah terlelap dalam mimpi indah nya.
  "Iya nak,,? Key kenapa bangun sayang? Apa ada sesuatu??"
  "Um.. No.." key pun menggelengkan kepala nya.
  "Lalu,,?"
  "Ya Tuhan.. Aku lupa." Pikir ku.
Sekarang aku mengerti kenapa key terbangun. Dari dulu hingga saat ini, key tak bisa jauh dari ku. Sekali nya aku pergi, key langsung mencari ku.
  "Sini sayang,, jangan jauh2 dari mami." Aku pun menarik nya untuk duduk pangkuan ku. Mengusap lembut tubuh nya, dan berharap key akan terlelap di pelukan ku.
  "Mam,," ucap key
  "Hmm.. ?"
  "Look at the sky? Is that what is called star, mam?" Ucap key
  "Ya sayang. So beautiful, isn't it?"
  "Apa bintang akan selalu bersinar terang seperti itu, mam?" Ucap key. Mungkin ini baru pertama kali nya key melihat ribuan bintang dilangit bahkan tak sedikit bintang yang bersinar terang diatas sana.
  "Tentu sayang.. Bintang memang muncul di malam hari, dan ia akan selalu memancarkan sinar nya, menerangi dalam kegelapan, menemani kita dalam kesepian. Bahkan bintang selalu memberikan warna dilangit yang indah, seperti yang key lihat saat ini."
  "Sungguh??" Ucap key
  "Iya sayang"
  "Kalo siang hari?" Tanya key lagi
  "Iya tetap ada,, tapi di belahan dunia lain. Yang gak kelihatan, bukan berati gak ada, bukan?" Aku pun tersenyum kearah nya. Key begitu menikmati malam ini bersama ku. Dan itulah obrolan ringan aku dan key, sebelum ia benar2 terlelap dalam pelukan ku. Melewati pergantian malam, hingga pagi menjelang.
 
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

Sunday, July 19, 2015

Life in future with you--- part 3

Life in future with you--- part 3

 ("Maafkan aku gi, sungguh aku tak bermaksud membuka luka lama atau mengingat-ingat masalalu mu lagi. Tapi aku cukup bangga dengan keputusan mu. Bahkan aku salut sama kamu, mungkin jika aku yg mengalami itu semua, gak akan mungkin saat ini aku ada dihadapan mu. Mungkin aku sudah mati bunuh diri." Ucap dinar yg secara tak sengaja ikut larut dalam cerita ku.
  "Sudah lah lupakan saja, aku sudah tak ingin membahas nya lagi." Aku pun tersenyum simpul dihadapan nya.)

  "Lalu apakah sekarang dia tau kalo km sekarang kembali ke sini? Dan apakah gak ada usaha dari nya untuk mencari keberadaan mu saat ini?" Ucap dinar
  "Gak, semenjak aku memutuskan untuk pergi dan semenjak itulah aku tak pernah tahu keberadaan nya hingga saat ini. Mungkin dia bahagia dengan hidup nya sekarang, atau mungkin...? Entah lah... aku pun tak ingin memikirkan nya lagi."
Tak lama handphone ku berdering sangat kencang.
  "Sebentar ya din.." aku pun mengangkat telephone itu.
  "Gi, km kapan pulang? Kasian key sendiri disini. Km pulang lah, ajak dia bermain sebentar. Mungkin saja key bosan disini." Ucap mama dalam telephone.
  "Dimana key mah? Bisa aku bicara dengan nya..?" aku pun meminta key yg berbicara langsung kepada ku.
  "Mami.." Ucap key
  "Ya sayang, what are u doing dear? Are u borring?"
  "Um, Mami when to go home? I miss mam... I want to buy books anymore, all the books that I have already exhausted legible." ucap key. Aku terenyuh saat key bilang, "aku sangat merindukan mami". Dan itu membuat ku berfikir, apakah selama ini aku terlalu sibuk dengan dunia ku? Dan sedikit mengabaikan perasaan key yg masih membutuhkan perhatian ku?. Tanpa berfikir panjang, aku langsung memutuskan untuk pulang.
  "Ok dear just a moment, cause mami will be home soon."
  "Well. Love u mami .." ucap key

  "Itu key?" Ucap dinar sesaat setelah aku menutup telephone nya.
  "Iya,, maaf aku harus segera pulang." Aku pun segera berkemas.
  "Ada apa dengan key? Apakah terjadi sesuatu?" Ucap dinar
  "Aku meninggalkan nya sendiri dirumah, dan mungkin saat ini key sedang ingin bersama ku. Aku terlalu sibuk dengan dunia ku sendiri, hingga sedikit mengabaikan perasaan nya. Mungkin besok aku akan mulai bekerja."
  "Baiklah gi, km hati2 dijalan. Salam untuk semua nya." Ucap dinar sebelum aku benar2 pergi.

Sore hari, aku berniat mengajak key untuk sekedar berjalan2 keluar rumah, karena aku tau key pasti bosan dengan suasana rumah. Aku pergi mengajak serta caca yg kebetulan pulang lebih awal dari biasa nya.
  "Aunty, we will go anywhere?" Key pun bertanya.
  "Kita mau jalan2, key suka jalan2 bukan?" Ucap caca
  "Tentu..! Mam, ipad nya boleh aku pinjam??" key pun melanjutkan permainan gadget nya, sedangkan aku memulai pembicaraan bersama caca.
  "Gimana keadaan kantor papa sekarang? Sudah lama aku tak pernah datang kesana." Karena seingat ku hampir 6 tahun lama nya aku sama sekali tak pernah berkunjung kesana.
  "Semua baik2 saja, kenapa mba gak bergabung saja di perusahaan papa?" Tanya caca
  "Mba gak kepikiran sampe sana ca, lagi pula mba pikir ada km yg bisa menggantikan papa disana. Bahkan besok mba sudah mulai bekerja diperusahaan mba yang baru. Mungkin sekali2 saja mba akan datang ke kantor km, gpp kan?"
  "Ya.. gpp. Lalu bagaimana dengan key?" Ucap caca, aku pun melihat kearah key yg sedang asik bermain ipad. Aku sadar, key pasti akan merasa sangat kesepian, jika aku harus meninggalkan nya seperti yg aku lakukan biasa nya.
  "Kasian dia.." ucap caca
  "Ya.. aku tau itu, tapi aku pun tak bisa berbuat apa2. Aku yakin key pasti mengerti dengan kondisi ku."
  "Tapi key butuh teman,, butuh seseorang yg bisa menghibur nya. Dan itu tak bisa didapatkan dari aku dan mama. Sekarang usia key 4 thn, bukan?" Ucap caca
  "Ya.."
  "Apa gak sebaiknya key km masukkan ke sekolah saja, sekolah playgroup mungkin?? Seperti nya key akan merasa senang disana." Ucap caca
  "Apa km yakin key akan mau?"
  "Mba, key butuh teman bermain, sedangkan aku tak bisa menemani nya bermain setiap saat, apa lagi km. Lagi pula key sudah terbiasa bukan dengan bersekolah, itu akan mempermudah key untuk bisa mendapatkan teman2 baru nya disana." Ucap caca, aku pun mulai berfikir. Mungkin caca benar, sudah saat nya key aku sekolah kan dan mengenal dunia baru nya disini.
  "Key, here.. sitting with mami. And listen to mami. Key once said to mam, if key would like to have many friends, isn't it?"
  "Ya, mam,," ucap key
  "Kalo begitu, apa key mau sekolah? Nanti disana key bisa bertemu dengan banyak teman, bisa bermain bersama, belajar bersama, dan pasti nya akan seru disana."
  "Really, as in australi? Kapan aku kesana mam?" Dengan wajah sumringah nya, key pun menatap ku tajam.
  "Ya sayang, secepat nya mami akan urus. Key senang, bukan?"
  "Em'hum.. " key pun tersenyum kearah ku, dan aku pun langsung mencium nya. Ku pandangi wajah polos nya, aku tak pernah menyangka key sudah sebesar ini, bahkan aku selalu merasa kalo key masih aku timang. Semenjak key lahir ke dunia, aku selalu berusaha mencurahkan kasih sayang ku seluruh nya terhadap key. 4 tahun menjadi single fighter bagi ku tidak lah mudah, semua butuh pengorbanan. Meski kadang aku harus meninggalkan nya sendiri, demi tanggung jawab yg aku emban di kantor. Tapi walaupun begitu key tetap prioritas utama ku karena key satu2 nya harta yg paling berharga dalam hidup ku.
  "Mam, are u ok?" Ucap key saat tau aku sedikit melow, bahkan airmata ini pun sulit aku tahan jika membayangkan apa yg sudah aku alami selama ini.
  "Ya.. i'm ok." Aku langsung menyeka airmata yg sempat menetes dengan kedua jari tangan ku. Aku memang terlalu cengeng dalam hal ini, tp key yg selalu menguatkan aku. Bahkan tak jarang key selalu mengusap airmata ku, dan menghibur ku disaat aku membutuhkan seseorang untuk bersandar. Seperti yg terlihat saat ini.
  "Key sayang mami, key gak ingin melihat mami menangis lagi." Key pun langsung mengusap lembut pipi ku, mencium ku, dan memeluk erat tubuh ku. Mungkin tidak semua anak bisa melakukan itu seperti apa yg key lakukan terhadap ku. Tapi itulah key, dia selalu bisa membuat orang lain nyaman berada di dekat nya.
  "Aku jadi terharu." Ucap caca
  "Aku memang cengeng, bahkan aku kadang tak bisa menahan tangis meski dihadapan nya. Bukan begitu key??"
  "Umm.. ?" Ucap key
  "What mami ever told you, why mami crying?" Tanya caca
  "Em..hum.." key pun mengangguk pelan
  "What mami say, key? Tell with aunty?" Ucap caca, key pun langsung menoleh kearah ku.
  "Katakan sayang, aunty mau dengar kata nya. Mami pernah berpesan apa sama key?" Aku pun mengusap lembut ujung rambut nya yg tergurai panjang. Namun key pun tak kunjung menjawab pertanyaan caca yg kala itu berharap kalo key sendiri lah yg akan bercerita.
  "Key gak boleh nakal, yah? Terus apa lagi? Gak boleh cengeng. Harus dengarkan apa yang mami katakan. Bukan begitu sayang? Lalu apa lagi?" Aku pun mencoba menjawab rasa penasaran caca terhadap key. Dan key pun mengiyakan apa yg aku ucapkan, meski ia terus bersandar dalam pelukan ku.

20 menit perjalanan cukup mengantarkan kita ketempat tujuan. Aku dan caca membawa nya ke salah satu mall terbesar di jakarta. Aku sengaja membawa key kesini, selain ada beberapa keperluan yg harus aku beli, aku pun berniat untuk mengajak key bermain. Aku sudah pernah berjanji, kalo aku akan mengajak nya ketempat bermain. Dan aku pikir mungkin ini lah waktunya.
  "Mam, key boleh main disana?" Ucap key sambil menunjuk area bermain circuz town miniz, yg kebetulan sedang ada acara disana.
  "Hmm.. boleh sayang, tapi mami gak bisa ikut. Biar aunty yg temani key, dan mami tunggu disini." Bukan aku tak ingin menemani nya, tapi biarlah key dekat dengan caca sebagai tante nya. Dan aku pikir caca bisa mengawasi nya saat bermain. Dan aku hanya melihat nya dari jauh, betapa senang nya key saat itu.

*Keesokan hari nya,
Ok.. kini hari pertama ku kerja, dan pasti nya dinar tak akan mengajak ku berlama2 ngobrol di cafe seperti waktu itu. Saat nya aku melanjutkan aktifitas kerja ku, yg sebenarnya tak beda jauh dengan pekerjaan ku saat di australi. Mungkin waktu itu aku merasa menjadi orang yang gagal dalam menjalani hidup ini. Tapi bukan berarti aku tak ingin sukses seperti apa yg dicita2 kan sebelum nya. Meski begitu, aku lulus s2 dari universitas ternama di melbourne. Dan itu cukup membuat papa aku bangga sebelum akhirnya papa meninggalkan aku untuk selama2 nya.
  "Tok..tok..tok.."
  "Masuk..." aku kira asisten ku.
  "Dinar,,,? silahkan duduk.." aku pun mempersilahkan nya duduk.
  "Km sibuk? Apa aku mengganggu mu?" Ucap dinar
  "Ohh.. gak. Kenapa, ada masalah?" Aku mencium ada sesuatu yg ingin dinar katakan kepada ku.
  "Aku butuh bantuan mu, aku akan menemui client yg kebetulan teman lama ku dulu. Tapi seperti nya aku tak bisa lama2, ada hal yg harus aku selesaikan. Ini masalah keluarga ku." Ucap dinar
  "Lalu maksud kamu, meminta aku untuk menemani nya?" Aku pun langsung menangkap apa yg diutarakan dinar.
  "Ya gi,, aku rasa km bisa membantu nya." Ucap dinar
  "Membantu nya? Apa maksud kamu, aku sungguh tak mengerti?" Aku semakin tak mengerti apa yg dimaksud dinar.
  "Dia lagi butuh teman untuk sekedar ngobrol, dan bercerita. Dan aku pikir km org yang cocok untuk menjadi pendengar yg baik." Ucap dinar
  "Ya tapi aku bukan psikolog atau konsultan masalah seperti gg kamu maksud, gimana bisa aku mengerti akan hal itu?"
  "Setidaknya km pernah mempelajari tentang itu gi.." ucap dinar. Aku memang sempat mempelajari nya, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk stop dan melanjutkan ke ilmu bisnis.
  "Ok, kapan?"
  "Besok.. dia akan menemui ku di cafe biasa jam 2 siang." Ucap dinar
  "Aku akan temani dia. Tapi aku minta ini yg terakhir kali. Gak akan ada client2 lain nya yg perlu aku dengarkan keluh kesah nya." Aku pun mengajukan persyaratan sebelum aku dianggap bisa untuk menjadi konsultan masalah.
  "Ok, aku setuju. Nanti aku akan temani km untuk bertemu dengan nya. Setelah itu, aku akan meninggalkan kalian berdua. Karena aku gak bisa berlama2 disana." Ucap dinar.
  "Itu lebih baik." Aku pun melanjutkan apa yg seharusnya aku kerjakan pagi itu, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke sekolah yg sudah caca referensi kan kepada ku. Ya.. sekolah yg sempat aku bicarakan sebelum nya bersama caca dan mama semalam. Dan aku rasa, aku cocok dengan segala nya.
  "Thank you Mrs. Nagita, already select and entrust our school for your daughter. And we will continue to maintain that trust." ucap Mr.Jorsh Smith selaku advisory board disini.
  "Ok.. you're welcome. Well, excuse me because I had to go back to the office." Aku pun segera beranjak pergi, mengingat ada meeting sore ini dengan jajaran direksi. Hingga aku langsung segera menuju kantor dan menemui dinar yg merupakan partner kerja ku saat ini. Tak ada hal yg serius dari pembicaraan kita sore itu, karena kebetulan BOD tidak hadir dalam pertemuannya kali ini. Hingga meeting tertunda sampai 2 hari kedepan. Dan saat itu juga aku memutuskan untuk pulang.
 
  "Km jadi daftarkan key ke sekolah itu?" Ucap mama saat aku sedang duduk santai di ruang tv.
  "Iya mah, besok key sudah mulai masuk sekolah."
  "Secepat itu? Apa kamu yakin akan melepas key begitu saja?" Tanya mama ku lagi, mungkin mama masih belum percaya dengan semua nya.
  "Mah, aku yakin key bisa menyesuaikan diri disana, di tempat baru. Lagi pula key sudah terbiasa dengan dunia luar dan disana key gak sendiri, banyak teman yg bisa diajak nya bermain. Percaya lah mah, key akan baik2 saja disana" aku pun sedikit memberikan pengertian tentang hal itu. Wajar rasa nya jika seorang oma khawatir akan cucu nya, apalagi aku sangat tau kalo mama begitu menyayangi nya.

*Pagi itu, aku memang berencana mengantarkan key ke sekolah, mengingat ini merupakan hari pertama ia masuk ke sekolah. Tapi sungguh disayangkan, aku tak bisa menemani nya apa lagi berlama2 disana, karena aku harus segera ke kantor. Ada berkas yg harus aku tandatangani secepat nya, dan itu tidak bisa diwakilkan begitu saja. Hingga caca yg harus mendampingi key sampai ia benar2 bisa mengikuti apa yg sudah menjadi kewajiban nya sebagai siswi disana.
  "Key sayang, baik2 disini yah? Aunty pergi ke kantor dulu. Nanti kalo ada apa2 key langsung telephone mami atau aunty. Okey?" Ucap caca
  "Baik aunty,," ucap key
  "Anak pintar...  Bu, saya titip key ya? Kalo ada apa2 tolong segera hubungi saya ke sini" ucap caca seraya mengeluarkan kartu nama dari dalam tas nya.
  "Baik bu, terimakasih. Kami akan menjaga nya, Key pasti akan baik2 saja disini." Ucap guru pembimbing nya.
  "Ok, Semoga menyenangkan ya sayang.." pikir caca.

Siang itu, dinar mengajak ku ke cafe yg tak jauh dari kantor tempat aku bekerja. Sebenar nya aku malas untuk ikut campur urusan orang lain, tapi seperti nya dinar benar2 membutuhkan bantuan ku.
  "Km yakin dia akan datang?" Ya.. aku Sedikit berharap client nya gak akan datang, agar aku bisa terbebas dari apa yg sudah direncanakan.
  "Dia lagi dijalan. Km mau pesan apa?" Ucap dinar saat seorang waiter mengantarkan menu yang berisikan beberapa daftar makanan.
  "Aku minta coklat panas 1."
  "Kamu gak makan?" Ucap dinar
  "Nanti saja, aku lagi diet." Aku pun tersenyum simpul kearah nya
  "Gila, km gak salah?" Ucap dinar. Aku sudah tebak, kalo dinar pasti akan berkomentar seperti itu.
  "Km serius diet? Km sudah perfect gi, lalu apa lagi yg kamu inginkan? Sungguh luar biasa." ucap dinar
  "Km gak perlu memuji ku seperti itu, kadang pada kenyataan nya aku tak seperti yg km bayangkan." Dan lagi2 aku tersenyum simpul kearah nya.
  "Ya .. mungkin.. tapi apa yg aku katakan gak mungkin salah, coba saja kamu tanyakan ke orang2 yg berkunjung kesini. Mungkin akan berkomentar sama seperti ku." ucap dinar.
Tapi lama2 mendengar ocehan dinar semakin aku ingin ke kamar kecil.
  "Ehh.. aku ke toilet dulu yah..?" aku pun pergi ke kamar kecil yg ada di ujung kanan.

  "Hai.. Sorry ya aku telat. Macet dijalan.." ucap pria tersebut.
  "Iya.. gak apa2. Silahkan duduk. Maaf yah, aku gak bisa lama. Tapi akan ada teman ku yang akan menemani km disini. Tapi seperti nya dia agak lama di toilet." Ucap dinar
  "Teman mu?" Ucap pria tersebut
  "Ya.. dia sahabat kecil ku, kebetulan dia sedang ada sini. Tapi tenang kok, dia asik orang nya" Ucap dinar
  "Memang sebelum nya dimana?" Ucap pria tersebut
  "Dulu dia di australi, aku harap km bisa mengenal nya. Dan mungkin dia bisa membantu mu." Ucap dinar.
  "Ya.. aku pun berharap begitu." Ucap pria tersebut.
  "Maaf menunggu lama" aku pun berada persis di belakang pria yang mungkin dimaksud dinar.
  "Oya,, gi, kenalkan ini orang yg aku mau kenalin ke kamu." Ucap dinar.
Dan apa kalian tau siapa orang yg dinar maksud?
  "Raffi..?" Batin ku, sungguh kala itu aku tak bisa berkata2 lagi. Mungkin raffi pun merasakan hal yang sama. Aku memang sudah lama tak bertemu dengan nya, tapi aku masih ingat jelas wajah nya. Bahkan tak ada perubahan yg begitu besar dalam diri nya, mungkin perbedaan nya sekarang dia lebih rapih dengan balutan blazer hitam di tubuh nya. Hampir 5 tahun lama nya, kini baru di pertemukan kembali dengan keadaan yg tak pernah aku duga sama sekali.
  "Maaf, aku harus pergi." Aku pun segera mengambil tas dan handphone yg aku letakkan sebelum nya di meja.
  "Loh, Gi..  km mau kemana?" Ucap dinar, saat tau aku pergi meninggalkan mereka berdua begitu saja.
  "Nagita...!" seru raffi, namun aku tetap tak menghiraukan nya. Aku terus berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil lalu pergi jauh dari tempat ini.
  "Dinar, km jawab pertanyaan aku. Apakah yg aku lihat barusan nagita?" Ucap raffi
  "ii.. iya.. apa km mengenal nya?" Selidik dinar dengan raut wajah kebingungan
  "Apa km tau dimana nagita tinggal saat ini?" Ucap raffi
  "Bentar, aku bingung. Kalian ini sebenar nya ada apa sih? Kalian itu saling kenal?" Ucap dinar
  "Din,, aku butuh jawaban km!" Ucap raffi
  "Ok.. ok.. nagita masih tinggal di rumah nya yg dulu, dan kebetulan nagita 1 kantor dengan ku." Ucap dinar
  "Baik, makasih.." Ucap raffi lalu pergi begitu saja.

  "Hallo,, iya gimana?"
  "Baik lah, aku akan segera kesana.." aku pun segera mematikan telephone nya lalu bergegas pergi ke sekolah key. Ada beberapa berkas yg harus aku tandatangani.
  "Maaf bu, ini berkas2 yang harus ibu tandatangani. Kalo boleh tahu dimana ayah key? Kebetulan ada berkas yg mengharuskan ayah nya yg menandatangani." Ucap salah satu admin di sekolah key
Aku bingung harus jawab apa? Mana mungkin kalo aku jawab ayah nya meninggal. Rasa2 nya aku terlalu kejam jika harus berkata seperti itu.
  "Ayah key masih berada di australi bu, dan kemungkinan akan lama disana." Aku pun sedikit berbohong, aku pikir ini untuk kebaikan semua.
  "Ohh.. kalo begitu baiklah, mungkin lain kali jika ayah nya sudah kembali ke sini." Ucap ibu tersebut
Aku pun tersenyum kearah nya.
  "Key anak yg pintar, baru pertama masuk saja ia sudah bisa menyatu dengan anak2 lain nya." Ucap ibu tersebut
  "Boleh aku bertemu key sebentar bu?" Tiba2 aku ingin bertemu nya, melihat senyumnya, mendengar celoteh nya, dan ingin rasa memeluk nya. Entahlah, saat ini aku sedang ingin bersama nya. Apakah ini semua karena efek dari cafe tadi? Apakah ini cuma perasaan ketakutan ku saja?.
  "Silahkan, key ada di taman belakang. Dia sedang bermain dengan anak2 yg lain. Mari saya antarkan.." Ucap ibu tersebut.
Aku lihat key sedang asik bermain dengan teman2 baru nya, dan aku rasa key begitu bahagia.
  "Key..." aku pun memanggil nya,,
  "Mami..." key pun langsung berlari kearah ku dan meninggalkan apa yg sedang ia lakukan bersama teman2 nya. Key yg datang langsung memeluk ku.
  "Sayang,, apa yg sedang km lakukan?" Saat aku memegang erat kedua tangan mungil nya dan mencium nya.
  "Mami mau temani key disini?" Ucap key
  "Emmpp.. boleh."
  "Asiiiikkk.. " key pun bersorak sorai saat aku memutuskan untuk menemani nya bermain hari ini. Tak ada kerjaan yg harus aku kerjakan di kantor, lebih baik aku disini menemani putri kecil ku.

Hingga malam hari, aku melihat key sedang asik dengan buku dan pensil warna nya dikamar ku.
  "Key gambar apa sayang? Boleh mami melihat nya?"
  "Emmm.. wait mam, Key unfinished." Ucap key.
  "Ok.." aku hanya melihat keseriusan nya dalam menggambar, entah apa yg key tulis di kertas itu. Yg jelas aku sangat senang dengan keterampilan nya. Key memang anak yg pintar. Apa yg aku ajarkan berbuah manis saat melihat key yg begitu aktif dan tanggap dalam kondisi apa pun.
  "Ok.. finish " key pun memberikan sehelai kertas hasil gambar nya, yg key warnai dengan pensil warna milik nya.
Kalian tau tentang apa yg key gambar di kertas itu? Sebuah keluarga kecil bahagia, dimana key menuliskan disetiap gambar nya ada mami dan dedy nya.
  "Mam, when I could meet with dedy? Ucap key, sejenak ku terdiam. Menelaah pertanyaan yg key ajukan kepada ku. Sudah lama rasa nya key baru menanyakan hal ini kembali kepada ku.
  "Apa dedy sudah gak sayang lagi sama key? Dedy gak mau bertemu dengan key ya mam??" Ucap key yg mulai bersandar di pelukan ku. Aku tau bagaimana perasaan key saat ini. 4 tahun bukan waktu yg singkat untuk nya. Bagaimana pun juga key butuh kasih sayang dedy nya, dan itu tak bisa didapatkan dari aku sebagai mami nya.
  "Key,, lihat mami sayang. Key gak boleh berbicara seperti itu. Mami yakin dedy pasti sayang sama key dan key harus percaya itu. Mungkin saat ini dedy sedang sibuk dengan pekerjaan nya. Tapi suatu saat dedy pasti akan menemui key."
  "Are u really mam?" Ucap key
  "Iya sayang, key mau sabar, bukan? Meskipun dedy tak bisa menemani key disini, kan ada mami, aunty caca, dan oma yg selalu ada untuk key."
  "Ya mami,, maafkan aku." Ucap key
  "Iya sayang, gak apa2. Sekarang key bobo sama mami disini yah? Sekarang key istirahat, karena besok pagi key harus berangkat ke sekolah."
  "Mam?" Ucap key, aku yg hendak mematikan lampu kamar seketika key menarik dan memeluk ku.
  "Oowww.. kenapa jadi manja gini sayang, hmm?? " Aku pun segera memeluk nya, dan mencium nya hingga key benar2 terlelap dalam pelukan ku. Meski ku tau rasa rindu akan kehadiran dedy nya sangat lah besar. Dan mungkin waktu yg akan mempertemukan kalian di kemudian hari.
  "Sabar ya sayang, mami akan melakukan apapun yg terbaik untuk kamu. Karena mami sangat mencintai kamu nak.." batin ku.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

Monday, July 13, 2015

Life in future with you--- part 2

Life in future with you--- part 2

  ("Anak? Km sudah nikah? Kapan? Dengan siapa? Kok aku gak tau?" Ucap dinar bertubi2.
  "Panjang cerita nya.."
  "Ayo lah gi, aku penasaran. Km masih anggap aku sahabat mu bukan? Ayo lah.." bujuk dinar yg membuat ku terpojok, dan mau gak mau aku harus cerita kepada nya.)

*6 tahun yg lalu,
Berawal dari perkenalan ku dengan seorang pria. Yg aku tau dia bernama raffi, anak pengusaha yg mungkin kala itu harta nya tak akan habis 7 turunan. Aku bertemu dengan nya karena kita 1 kampus, dan kebetulan juga papa raffi adalah rekan kerja papa ku yg kala itu sedang ada proyek besar yg mengharuskan mereka berdua bertemu sangat intens. Semenjak itu aku mulai dekat dengan nya, namun seperti nya hubungan kerjasama itu tak berlangsung lama. Karena papa raffi dimutasi ke luar kota bahkan sempat ke luar negeri karena ada trouble yg mengharuskan nya turun tangan langsung, hingga membuat mereka jarang bertemu lagi. Tapi meskipun begitu raffi masih tetap berhubungan baik dengan ku. Dari awal aku mengenal nya tak ada satu pun terlintas dibenak ku untuk suka atau bahkan cinta sama raffi. Meskipun cewe2 1 kampus suka meributkan atau bahkan mengejar-ngejar nya hanya untuk berkenalan, makan siang, atau bahkan kencan bareng dengan nya. Tapi aku gak! Entah apa yg membuat ku gak tertarik sama sekali dengan raffi. Yg jelas aku hanya menganggap nya sebagai teman biasa gak lebih.

  "Kaya? Itu sudah jelas! Siapa sih yg gak tahu raffi, anak terkaya dan bahkan donatur terbesar dikampus waktu itu."
  "Tampang? Sudah pasti, Oke! Siapa sih yg gak suka dengan gaya nya yg cool, bahkan mobil nya saja hampir setiap hari ganti."
Okey, sudah jelas bukan? Over all fisickly raffi sempurna. Dan sejauh itu aku mengenal nya, raffi memang pribadi yg baik. Hingga tak khayal semua cewe berebut ingin menjadi pacar nya. 1 tahun berlalu, aku masih tetap berhubungan baik dengan raffi. Bahkan raffi suka mengantarkan pulang jika sopir tak bisa menjemput aku di kampus. Namun sejauh itu kita tetap memiliki kehidupan dan privasi masing2.

Seperti siang itu, kebetulan tak ada jam kuliah lagi yg mengharuskan aku berlama2 disana. Hingga aku memutuskan untuk pergi ke toko buku untuk mencari beberapa referensi tugas yg harus aku kumpulkan minggu2 ini. Saat itu aku memang sedang menunggu jemputan diparkiran depan, namun tak kunjung juga datang. Aku lihat raffi berlari kearah parkiran, namun aku tak pernah berfikir dia akan menyeret ku dalam masalah nya. Aku pikir raffi terlalu konyol.
  "Huhff, gak ada kerjaan banget sih tuh orang, tiap hari kayak nya gak bisa kalo gak jadi perbincangan 1 kampus." Pikir ku. 
Aku pun mencoba untuk berjalan, siapa tau supir ku sudah menunggu didepan kampus. Tapi ternyata seketika raffi menarik ku dengan cara yg menurut ku sangat kasar.
  "Raffi.. km apa-apaan sih?"
  "Udah, ayo ikut aku..!" ucap raffi.
Sungguh tak ada penolakan saat itu. Aku dibawa nya masuk kedalam mobil. Dan itu cukup melelahkan, karena aku harus berlari mengikuti nya.
  "Raffi, apa yg kamu lakukan?? kenapa km membawa ku kesini? Tak seharusnya aku ikut dengan mu, dan berlari2 menghindar dari orang2 yg terobsesi dengan mu" dengan nafas yg masih tersengal2 aku pun mencoba untuk tidak terpancing dengan apa yg raffi lakukan kepada ku.
  "Maaf kan aku nagita. Aku gak bermaksud menyeret mu dalam masalah ku. Tp aku gak ada cara lagi selain aku meminta bantuan mu untuk menghindar dari org2 yg selalu memburu ku dengan ajakan2 yg sebenar nya aku sendiri gak suka." Ucap raffi
  "Ya tapi nanti gimana kalo org2 itu mengira kalo aku ada hubungan dengan mu? Aku gak mau itu terjadi!"
  "Ya aku tau itu, tapi mau gimana lagi aku gak ada cara lain?? Aku benar2 bingung" Ucap raffi
  "Itu sangat mudah raffi. Km tinggal pilih salah satu dari mereka. Beres bukan?" Sedikit saran konyol sih, tapi itu cara yg menurut ku tepat, agar semua cewe berhenti mengejar2 nya lagi setelah tau kalo raffi punya pacar.
  "Hah,, ? Maksud km, aku harus memilih diantara cewe2 gila itu untuk dijadikan pacar? Ohh, itu gak mungkin!" Raffi pun menolak apa yg aku sarankan kepada nya.
  "Kenapa gak mungkin? Mereka cantik2. Dan menurut ku, km cocok dengan nya."
  "Km kenapa sih? Kok km sentimen gitu? Sebentar deh,, kenapa gak km saja yg jadi pacar ku?" Raffi pun menoleh kearah ku. Aku sedikit kaget, dan gak menyangka juga dengan apa yg raffi katakan kepada ku. Mengapa raffi bisa berfikir demikian?.
  "Aku?? Jadi pacar kamu? Itu gak mungkin raffi!" Aku pun langsung mengelak nya dan mengalihkan pandangan ku kearah spion yg ada disisi kiri ku.
  "Kenapa gak mungkin? Bisa saja bukan? Lagian km itu sungguh aneh, cewe2 lain pada ingin jalan dengan ku. Sedangkan km, yg jelas2 mengenal dan dekat dengan ku tapi sangat anti jadi pacar ku. Atau sebenarnya km diam2 memanfaatkan kedekatan kedua orangtua kita selama ini, untuk bisa dekat dengan ku, iya bukan? Secara aku tampan, kaya, dan banyak disukai wanita." Ucap raffi dengan rasa percaya diri nya yg tinggi.
Raffi mulai menatap ku tajam2, mungkin kalo saja aku punya perasaan yg sama seperti wanita2 lain, mungkin saat itu aku sudah jatuh pingsan dibuat nya. Tatapan nya, senyum nya, sungguh membuat wanita silau akan ketampanan nya. Tapi lagi2 aku buang rasa itu jauh. Untuk apa aku malah memikirkan nya? Aku berusaha untuk tidak mendengarkan apa yg raffi katakan kepada ku. Anggap lah itu angin lalu yg menyambar ku disiang bolong.
  "Maaf raffi, aku harus pergi." Aku pun berusaha keluar dari mobil nya, dan berlari menjauh. 
  "Nagita tunggu.." raffi pun terus memanggil ku, namun aku tetap saja tak menghiraukan nya. Aku tak ingin berlama2 disana, yg ada raffi terus mengganggu ku, dan mengusik kenyamanan ku.

Hari demi hari aku jalani dengan kesendirian, karena aku pun saat itu baru saja putus dari pacar ku yg kebetulan masih 1 kampus dengan ku. Raffi mengetahui kalo aku baru saja putus cinta, hingga ia terus mencecar ku. Berbagai cara pun terus dilakukan raffi agar tetap bisa mendekati ku. Meskipun saat itu raffi pun diketahui sudah memiliki kekasih yg jauh lebih menarik dari ku. Tapi entah lah, apa sebenarnya yg raffi cari dan inginkan dari ku. Hingga ia tetap berusaha mengganggu hidup ku. Bahkan raffi sudah seperti hantu yg selalu muncul dihadapan ku setiap saat, dimanapun, dan kapan pun.
  "Ya Tuhan... ini orang gak ada kerjaan lain apa selain mengganggu ketenangan ku!" Batin ku. Tapi ternyata bukan hanya itu, raffi sudah seperti bodyguard ku yg kemana2 selalu mengikuti ku kemanapun aku pergi. Bahkan dia keppo akan semua jadwal kegiatan ku. Terlebih raffi selalu mementingkan kepentingan aku, dari pada harus menemani pacar nya untuk sekedar belanja atau makan siang. Tak khayal jika pacar nya selalu cemburu terhadap ku.

Siang itu,,
  "Gi.. tunggu!" Raffi pun memanggil ku, saat aku hendak berjalan ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku untuk ku jadikan sebagai bahan ajar. Aku pun berhenti sejenak, untuk meladeni raffi yg sebenar nya gak terlalu penting untuk ku.
  "Aku boleh minta waktu km sebentar? Please, temui aku di gedung serbaguna lantai 5. Aku ingin bicara sesuatu." Ucap raffi
  "Tapi raffi.."
  "Aku tunggu km disana.." raffi pun langsung memotong pembicaraan ku dan pergi begitu saja. Aku belum tau apa maksud semua ini? Apa yg akan dikatakan raffi? apakah hal yg sama ataukah ada hal lain yg aku sendiri belum mengetahuinya?. Tp kalo raffi membicarakan hal yg sering ia katakan kepada ku tentang perasaan nya, sungguh aku tak ingin mendengar nya. Sudah cukup rasa nya aku di katakan sebagai orang ketiga dalam hubungan raffi. Karena kenyataan nya sungguh terbalik. Tp aku mulai penasaran, sebenarnya apa yg ingin disampaikan raffi. Hingga aku memutuskan untuk menemui nya. Aku menaiki beberapa anak tangga, dan berjalan mencari keberadaan raffi yg kala itu memintaku untuk naik ke lantai 5. Dimana tak ada 1 sudut pun yg terlihat ramai. Karena lantai 5 merupakan ruang kosong yg sewaktu2 saja dipakai untuk pertemuan antar organisasi. Aku pikir ini cuma kerjaan raffi yg ingin mengerjai ku.
  "Raffi.. raffi,, km dimana?" Aku pun terus memanggil nama nya, namun tak ada 1 pun orang yg mendengar nya atau bersahut kepada ku. Namun tiba2 pelukan pun mendarat begitu saja di perut ku. Begitu kencang nya pegangan itu, hingga membuat ku sulit bergerak dan bernafas.
  "Raffi, lepaskan aku!" Aku tahu itu pasti raffi, namun apa yg diucapan ku tak di dengar nya sama sekali.
  "Kamu mau buat aku mati berdiri, karena pelukan mu yg membuat ku sulit bernapas?" Aku pun terus berusaha melepaskan tangan nya yg bersarang kuat di perut ku. Namun percuma saja, aku terlalu lemah untuk melakukan itu.
  "I love u.. i love u.. i love u.." bisik pelan raffi yg terdengar jelas di telingaku.
  "Km apa2an sih, tolong lepaskan aku raffi!" Permintaan ku untuk yg sekian kali nya.
  "Nagita.. aku mohon, beri aku kesempatan untuk mencintai km dan menyayangi km." Bisik raffi, sudah ku duga raffi akan berbicara seperti itu.
  "Aku gak bisa raffi,,"
  "Kenapa nagita?" Raffi pun mulai bertanya alasan ku. 
  "Karena.. karena aku sama sekali gak mencintai km."
  "Km gak perlu mencintaiku, tp izin kan aku untuk mencintai mu. Please nagita.. aku mohon.." raffi pun terus memohon kepada ku. Bukan aku munafik menolak apa yg raffi minta, yg pastinya di ingin kan setiap wanita diluar sana yg sangat mengagumi nya. Tapi aku bukan mereka yg mau menerima begitu saja, banyak konsekuensi yg harus aku terima untuk menjadi seorang pacar sekelas raffi.
  "Maaf kan aku raffi, aku bukan wanita yg km cari. Aku hanya wanita biasa, yg gak ada apa2 nya jika dibandingkan dengan mu. Lagian, kamu sudah memiliki seseorang yg jauh lebih mencintai kamu dan mengerti kamu."
  "Tapi aku sama sekali tak mencintai nya.." ucap raffi
  "Km sudah memilih nya raffi!"
  "Aku akan putusin dia sekarang juga, asal km mau menerima ku nagita." Ucap raffi
  "Gak semudah itu km mencampakkan dia begitu saja." Aku sedikit tak terima dengan ucapan raffi, bagaimanapun juga kita sama2 wanita. Yg memiliki perasaan lembut, dan pasti nya akan terluka jika raffi benar2 melakukan nya tanpa sebab dan alasan yg jelas.
  "Oke, jika km menolak nya. Aku akan loncat ke bawah dan km pasti akan menyesal nagita." Ucap raffi yg langsung menuju ke ujung gedung yg entah berapa puluh meter ketinggian nya. 
  "Km jangan konyol raffi! Itu bahaya, raffi tolong km menjauh dari sana!" Seru ku yg tak ingin terjadi sesuatu terhadap raffi.
  "Aku akan menjauh dari sini, jika km mau menerima ku. Jika tidak, biarkan aku jatuh dan mati dihadapan mu." Perlahan raffi mulai berjalan mundur dan akhirnya raffi pun terpeleset dan hanya bisa bergelantungan di atap gedung lantai 5.
  "Raffi..!" Aku pun langsung berlari kearah nya, memegang erat kedua tangan nya.
  "Biarkan aku jatuh nagita." Ucap raffi
  "Jangan gila raffi!" Seru ku.
  "Km bilang gila? Hah.. ? aku gila karena mu, dan biarkan aku mati karena mu.." ucap raffi dengan wajah penuh kesungguhan dan kekecewaan.
  "Kamu benar2 gila raffi. Aku gak akan melepaskan mu, km harus naik raffi. Ayo, aku bantu km pelan2." Aku terus berusaha untuk membantu nya, membantu mengangkat nya dan menjauh dari tempat yg sangat gak banget untuk bermain main. Raffi pun berhasil naik kembali dan aku seret dia untuk menepi ke tempat yg jauh dari bahaya, yg sempat membuat ku jantungan karena ulah nya. Aku tak tau jika hal itu benar2 terjadi? Aku tak bisa membayangkan nya lagi.
  "Apa yg kamu lakukan barusan? Km mau buat aku merasa bersalah atas apa yg km perbuat? Km gak mikir apa akibat dari semua nya? Ini sungguh Gila!" Seru ku.
  "Nagita..nagita.. aku mohon sama km, beri aku kesempatan." Ucap raffi yg menarik lengan ku dan terus membujuk ku, merayu ku, dan meminta ku untuk menerima nya. Bahkan raffi sempat bersujud di hadapan ku. Aku benar2 dilanda rasa bimbang dengan apa yg aku rasakan saat ini. Disatu sisi aku gak ingin jatuh pada luka yg sama, disaat aku benar2 mencintai seseorang yg dirasa nya pantas untuk ku, malah menelan rasa pahit kalo aku harus benar2 bisa melepaskan nya. Dan saat ini, apakah aku tahu raffi tidak akan berbuat seperti itu? Atau kah mungkin ia akan berbuat lebih dari apa yg aku rasakan saat ini?.
Aku berusaha untuk menghindar, sedikit mencari ruang, untuk ku bisa berfikir jernih. Namun seketika raffi menarik lengan ku, hingga spontan aku pun terjatuh dalam dekapan nya. Raffi begitu erat memeluk ku, bahkan hampir tak ada jarak diantara kita berdua. Saat ke 4 mata saling bertatap, saat kedua hidung saling bersentuhan dan saat itu juga raffi mencium ku.
  "Raffi..." seketika aku pun segera melepaskan nya, sedikit mendorong tubuh nya dan berlari menjauh dari nya.
  "Nagita... ! km belum jawab pertanyaan aku..!" seru raffi.
  "Ya Tuhan.. apa yg sudah aku lakukan? Gak seharusnya aku larut dalam perasaan ini. Apa aku mulai jatuh cinta kepada nya? Ahh.. itu gak mungkin, aku gak mungkin mencintai nya." Pikir ku.

Dari hari ke hari raffi terus saja berusaha mendekati ku, bahkan kini lebih intens dari biasa nya. Kadang aku pun merasa kasihan, berulangkali raffi mengungkapkan isi hati nya kepada ku, namun berulangkali juga ku menolak nya. Sekeras apapun batu, jika terus menerus diteteskan air maka akan hancur juga, Lama2 aku pun luluh dengan kesungguhan hati nya. Perlahan aku mulai menerima keberadaan raffi disisi ku. Meski rasa takut itu masih menyelimuti sebagian hati ini. Tapi berulangkali juga raffi meyakinkan aku akan keseriusan nya.
1 minggu, 1 bulan, hingga sampai di usia 5 bulan hubungan ku dan raffi, kita jalani dengan penuh suka. Perlahan benih2 cinta pun itu tumbuh, aku mulai mencintai nya. Dan begitu juga sebaliknya nya. Tepat di hari ulang tahun salah satu teman baik kita berdua, sasha. Yg dirayakan disalah satu Bar ternama dipusat kota jakarta. Sebenar nya aku enggan untuk datang, namun raffi memaksa ku untuk ikut dan datang bersama nya dengan alibi sasha adalah best friend kita berdua. Akhirnya aku pun datang bersama nya. Tak sedikit org yg datang dan menikmati malam penuh kebahagiaan. Bahkan sederet wine pun menemani orang2 yg hadir disana. 
  "Sayang, km mau?" Ucap raffi dengan memberikan segelas white wine kepada ku.
  "Gak raffi,," aku pun langsung menjauhkan gelas itu dari pandangan ku. Karena aku tak begitu suka dengan wine.
  "Ini minuman biasa, gak akan memabukkan sayang. Km coba yah, kan sayang aku udah ambil kan untuk km." Ucap raffi, dan lagi2 aku percaya dengan apa yg diucapkan raffi.
  "Makasih..." Aku minum beberapa gelas white wine yg raffi beri kepada ku. Tak lama setelah itu aku merasakan pusing, dan itu cukup mengganggu pandangan ku yg sedikit kabur. 
  "Raffi.. aku ingin pulang,,"
  "Km kenapa sayang?" Ucap raffi
  "Aku mulai pusing.. antar aku pulang raffi.." aku pun meminta raffi untuk mengantarkan ku pulang. Namun rupa nya raffi harus ke apartemen nya terlebih dahulu sebelum ia benar2 mengantarkan ku pulang ke rumah.
  "Sayang, kita ke apartemen aku dulu yah? Ada titipan mama yg aku tinggal disana." Ucap raffi
  "Ok.." aku mengiyakan nya, meski saat itu aku tau kalo waktu menunjukkan hampir pukul 00.00 wib. Bahkan hujan besar pun mengguyur seluruh kota jakarta.
  "Km masuk saja. Aku cari barang nya dulu." Ucap raffi, aku pun masuk ke dalam. Aku memang sering main ke apartemen nya, tp aku tak pernah berlama2 disana. Namun saat itu raffi lupa akan letak barang yg dicari nya, hingga aku harus berlama2 disana. Aku memutuskan untuk mencoba membuka gorden kamar yg posisi nya gak jauh dari tempat ku berdiri. Dan ku buka pintu jendela nya, sungguh dingin banget malam itu, namun aku tetap berada disana menikmati setiap sisa tetesan air hujan yg jatuh melewati atap apartemen. Karena rupa nya hujan pun telah usai mengguyur kota jakarta. 
  "Hei, km disini?" Ucap raffi yg tiba2 saja ada di belakang ku.
  "Sudah km dapatkan apa yg kamu cari?" 
  "Sudah,, km gak merasa dingin disini..?" Ucap raffi yg mulai memeluk ku dari belakang.
  "Apa yg km lakukan?"
  "Memeluk mu bukan? Aku gak ingin melihat km kedinginan disini" Ucap raffi.
Raffi memang selalu bisa membuat ku nyaman berada di dekat nya. Bahkan raffi selalu bisa memberikan kehangatan yg tak pernah bisa aku dapatkan dari orang lain. Perbedaan usia kita memang tak begitu jauh, tapi raffi cukup dewasa dalam hal ini. Bahkan tak khayal raffi sering memanjakan aku dengan kasih sayang nya
  "Raffi,, makasih yah.." seru ku.
  "Ssssssttttt... km gak perlu berterimakasih, karena aku sangat mencintai km. Apakah kamu pun mencintai ku..?" Ucap raffi. 
  "Apakah aku perlu menjawab pertanyaan mu?" Aku pun menoleh kearah nya dengan senyuman.
  "Emm.. sepertinya?" Ucap raffi yg membalas senyuman kearah ku. Raffi semakin mengerat kan pelukan nya itu, bahkan hembusan nafas nya begitu terasa saat raffi mulai meletakkan dagu nya di bahuku.
  "Sayang,," raffi pun perlahan mulai memutarkan tubuh ku yg sedari tadi membelakangi nya. raffi mulai menatap ku dengan senyuman khas dari diri nya. Menyibakkan rambut ku yg sempat menutupi wajah dengan kedua tangan nya. Dan saat raffi mulai menggenggam erat tangan ku, saat itu juga raffi mencium ku. Meski ini bukan kali pertama raffi mencium ku, tapi saat itu merupakan french kiss kita berdua. Aku mulai terlarut dalam permainan raffi. Hingga saat raffi mulai menuntun ku perlahan, menidurkan ku pelan di ranjangnya dan bahkan mulai menindih pelan tubuh ku, aku pun seolah tak bisa menolak nya. Entah setan apa yg merasuki dalam pikiran ku dan raffi saat itu, apakah ini efek wine yg kita minum atau kah,,,,, entah lah! Yg jelas, malam itu menjadi malam terindah yg kita lewati bersama. 
Hingga pagi menjelang aku mulai merasakan hal yg aneh dalam telingaku. Suara detak jantung yg begitu terdengar jelas di gendang telingaku, bahkan pelukan hangat ini?? Sungguh aku pun langsung bangun saat itu juga,,
  "Raffi.. !" Seketika aku pun berteriak histeris. Dan raffi pun langsung terbangun dari tidur nya.
  "Sayang,," Ucap raffi yg juga kaget dengan kondisi yg masih mengenakan selimut tebal nya yg menutupi seluruh bagian tubuh nya.
  "Apa yg sudah kita lakukan raffi, jawab aku?!" Aku berharap ini cuma mimpi. Berharap tak terjadi apa2 semalam. Namun seketika raffi mematahkan apa yg aku harapkan.
  "Kita.. Emmp, kita.. km tenang dulu sayang.." ucap raffi
  "Katakan kepada ku raffi, apa kita melakukan nya?"
  "Maafkan aku sayang.." ucap raffi
  "Apa??" Aku cukup terkejut mendengar nya. Sungguh apa sebenar nya yg ada di pikiran ku semalam, hingga aku mau melakukan nya. Memberikan apa yg seharusnya aku berikan kepada suami ku kelak. Begitu kotor kah diri ku..? Yg jelas saat ini aku merasa hina di hadapan Mu.

  "Sayang, Aku tak pernah memaksa mu untuk melakukan itu. Tapi kita melakukan nya atas dasar cinta." Ucap raffi
  "Cinta? Lalu gimana kalo aku hamil raffi? Apa kamu tak berpikir kearah sana?" Aku pun mulai menangisi apa yg sudah terjadi.
  "Aku akan menikahi mu..!" ucap raffi, aku seketika terdiam. Aku tak habis fikir dengan raffi bisa berkata semudah itu ia bilang akan menikahi ku.
  "Sayang, aku berjanji sama km. Aku akan bertanggungjawab jika terjadi sesuatu terhadap mu. Karena aku sangat mencintai mu sayang, dan akan selama nya mencintai mu. Percayalah." Ucap raffi yg langsung memeluk ku, menenangkan ku yg kala itu perasaan ku sedang kacau. Entah lah apa yg terjadi jika mama dan papa ku tahu akan hal ini, aku tak bisa membayangkan nya.
  "Aku mau pulang,," aku bergegas untuk pergi dan meninggalkan tempat yg membuatku pusing.
  "Sayang,,,! Aku antar km pulang yah? Tunggu aku.." raffi pun tengah bersiap2 untuk segera mengantar kan ku pulang. Tak ada 1 patah kata pun yg terucap dari bibir ku. Meski raffi berulangkali mengajak ku untuk berbicara. Hingga saat nya tiba dirumah, aku pun langsung berlari masuk.

Hampir 3 minggu setelah kejadian malam itu, tak ada sesuatu yg mengharuskan ku khawatir akan terjadi sesuatu. Hubungan ku dan raffi masih berjalan seperti biasa. Hingga 4 minggu lebih 5 hari, aku mulai merasakan mual yg sangat amat tidak enak. Dan itu membuat aku beberapa kali absen masuk kampus. Aku pikir aku hanya mual dan pusing biasa, hingga saat nya mama menyarankan ku untuk ke rumahsakit dan aku pun menolak nya.
  "Km terlihat sangat pucat nak, dan km terlihat kurusan sekarang." Mama pun melihat ada yg berubah dari diri ku, tp aku selalu beranggapan kalo aku sedang kurang enak badan. Namun seketika ku melihat sekilas akan kalender bulanan ku, yg seperti nya bulan ini begitu polos tanpa silang merah di hari dan tanggal yg biasa aku lakukan setiap bulan nya.
  "Astaga!" Aku pun langsung berlari ke arah kamar mandi, aku ambil test pack yg pernah aku beli sebelum nya untuk sepupu ku. Dan apa hasil nya??
  "Gak.. ini gak mungkin terjadi.." 2 tanda garis merah yg jelas2 terdapat dalam stik tersebut.
  "Raffi.. ! aku harus beri tahu dia tentang ini semua. Ya.. aku harus menelpon nya." Aku mencoba mengambil handphone yg ada di laci almari ku, dan mencoba untuk menghubungi raffi. Namun beberapa kali dihubungi, raffi sama sekali tak mengangkat nya.
  "Km dimana raffi?" Aku mulai putus asa, cemas dengan apa yg aku alami saat ini. Aku segera bergegas pergi menemui raffi, dan mencari keberadaan nya saat ini, meski dengan kondisi ku yg masih terlihat pucat. Ku datangi kampus saat itu juga, dan kebetulan raffi baru saja keluar dari kelas nya. Aku tarik tangan nya dan aku bawa ketempat yg jauh dari keramaian.
  "Sayang, km kenapa? Kenapa km tarik tangan aku dan membawa ku ke sini..?" Ucap raffi
Aku pun memberikan hasil test pect itu kepada raffi.
  "Apa ini sayang?" Raffi pun tak mengerti apa maksud ku dan barang yg di pegang nya.
  "Aku hamil raffi,, !" 
  "Apa? Hamil?" Seru raffi, langsung saja aku tutupi mulutnya dengan kedua tangan ku.
  "Maaf-maaf. Km.. km hamil? Kamu gak lagi mimpi kan sayang, itu gak mungkin terjadi.." lanjut raffi yg tak mempercayai nya atas apa yg aku katakan.
  "Gak mungkin gimana? Itu sudah jelas raffi! Aku positif hamil anak km." Aku pun terus berusaha meyakinkan nya, bahwa apa yg aku katakan itu benar. 
  "Ok.. ok.. sekarang km tenang dulu ya. Aku akan bertanggung jawab atas apa yg sudah aku perbuat terhadap mu. Sekarang km ikut aku, dan tenangkan diri km." Raffi pun membawa ku ke tempat yg jauh lebih tenang dan nyaman untuk kita berdua.
Raffi memang sudah berjanji akan bertanggung jawab atas perbuatan nya, bahkan raffi bersedia menikahi ku saat itu juga. Tapi dengan usia ku yg masih muda, begitu juga sebaliknya nya. Itu tidak mudah mendapatkan izin dari kedua orangtua kita, kecuali aku harus menceritakan itu semua. Namun seperti nya itu tak mungkin aku berkata jujur. Hingga sampai usia kandungan ku masuk 3 bulan, mama mulai timbul rasa curiga dengan berat badan ku yg semakin hari semakin berisi. Bahkan hampir setiap hari aku alami morning sick. Dan itu cukup membuat mama bertanya2.
  "Gi.. mama lihat akhir2 ini km suka mual dan muntah. Km kenapa sayang?" Ucap mama ku yg menanyakan perubahan fisik ku.
  "Apakah aku harus jujur dengan semua nya? Apa aku harus menceritakan hal ini ke mama? Gimana jika mama tau, apakah mama akan marah pada ku?" Bathin ku.
  "Sayang?? Gi.. gigi..?" Ucap mama yg membuyarkan lamunan ku.
  "Segala sesuatu jika ditutup2i, suatu saat pasti akan tercium juga. Lalu untuk apa aku berlama2 memberitahu nya?" Pikir ku.
Perlahan aku mulai merangkai kata, tentang apa yg akan aku ceritakan kepada mama. Dengan sangat hati2 aku berkata jujur kepada nya. Menceritakan apa yg aku alami sejauh ini. Dan itu cukup menjadi tamparan bagi mama. Rasa malu, kecewa, bahkan mungkin enggan memaafkan ku terpancar begitu jelas diwajah mama saat itu.
  "Mah.. maafkan aku." Itulah yg hanya bisa ku katakan kepadanya, meski airmata tak bisa terbendung lagi.
  "Apa raffi sudah mengetahui nya?" Mama pun menanyakan hal itu.
  "Raffi sudah berjanji akan bertanggungjawab atas kehamilan ku." 
Aku pun sedikit lega, saat mama sudah mengetahui hal ini. Namun gimana dengan papa?.

Lain hal nya dengan raffi. Setelah tahu aku hamil, raffi seperti kehilangan arah. Yg awal nya bersedia bertanggungjawab dan akan menikahi ku. Kini malah sedikit ragu untuk melangsungkan nya. Raffi tidak diperbolehkan papa nya untuk menikah muda, bahkan papa nya mengancam akan menarik seluruh fasilitas yg selama ini raffi gunakan. Bahkan tak segan2 untuk men "DO" nya dari kampus selama ini raffi menuntut ilmu. Dan itu cukup membuat raffi tak ingin kehilangan semua nya. Dan itu sempat berperang bathin antara hati dan kenyataan nya. 
Sedangkan aku, selalu di tanya mama dan papa akan keseriusan raffi. Bahkan papa tak segan2 akan memaksa raffi untuk menikahi ku minggu ini juga. Namun dimana keberadaan raffi? Entah lah, sampai detik ini dan hingga waktu itu pun tiba, aku tak tau dimana raffi berada. Nomor handphone nya sulit dihubungi, apartemen yg biasa raffi tinggal kini tak lagi ditempati nya, bahkan rumah yg selama ini raffi tinggal bersama keluarga nya sudah lama kosong. Lalu kemana aku harus mencari nya? Disitu aku mulai merasa putus asa.
  "Lalu apa yg harus kita lakukan mah? Semakin hari usia kandungan nagita semakin bertambah. Dan gimana jika semua orang tahu kalo anak kita hamil?" Papa pun mulai memikirkan hal negatif yg kemungkinan terjadi dekat2 ini.
  "Pah, biarkan nagita pergi dari sini." 
  "Apa maksud km nagita?" Ucap papa ku
  "Nagita gak mau org lain tahu akan hal ini, apalagi membuat mama dan papa malu. Biarkan nagita pergi. Dengan begitu, semua relasi papa gak akan tahu akan hal ini." Sebuah saran konyol sih menurut ku, tapi itu salah satu cara untuk kebaikan kita semua nya.
  "Tapi mama gak mungkin membiarkan mu sendiri, km masih terlalu muda untuk melakukan nya sendiri sayang?" Ucap mama
  "Mah,, percaya lah, nagita akan baik2 saja. Sekarang izin kan nagita untuk memilih dan menjalani kehidupan ku sendiri. Nagita hanya butuh do'a dari mama dan papa disini." Aku pun segera menyiapkan segala keperluan ku, dan bersiap2 pergi karena aku sebenar nya sudah menyiapkan pasport untuk aku pergi ke luar negeri.
  "Kabari mama dan papa jika km ada sesuatu, dan ingat lah Tuhan akan selalu menyertai orang2 yg selalu mengingat nya. Jangan pernah melupakan hal itu nak.." itulah pesan terakhir kedua orangtua ku, sebelum saat nya aku pergi meninggalkan nya.

Usia yg hampir 20 tahun tidak lah mudah untuk tinggal di negeri orang dengan seorang diri. Apalagi dalam kondisi berbadan 2. Itu cukup membuat ku merasa, ini lah jalan yg harus aku tempuh dan jalani sendiri tanpa seorang mama yg mungkin orang lain butuhkan disaat kehamilan ku semakin hari semakin membesar. Bahkan aku sempat mengalami pendarahan beberapa kali, tp alhamdulillah semua baik2 saja. Namun seperti nya berbanding terbalik dengan kondisi keluarga ku di jakarta. Semenjak aku pergi, saat itu juga papa mulai jatuh sakit. Bahkan berulangkali aku dengar papa sering bolak-balik masuk rumahsakit. Hingga saat nya aku melahirkan seorang anak perempuan, yg aku bernama "Key", tak ada 1 keluarga pun yg datang menemaniku disaat persalinan, karena mama dan caca harus menemani papa yg harus jalani operasi pemasangan ring pada  jantungnya. Dan lagi2 aku memaklumi hal itu, karena kesembuhan papa adalah segala nya untuk ku. Aku kira dengan menjalani operasi itu, papa bisa dinyatakan sembuh oleh dokter. Tapi ternyata aku salah, dan takdir berkata lain. Papa hanya bisa bertahan 1 tahun saja setelah pasca operasi itu. Dan itu cukup membuat aku shock dan panik mendapatkan kabar kalo papa sudah tiada. Kala itu yg ada di pikiran ku hanyalah "Mengapa Engkau memberikan cobaan yg bertubi2 untuk ku? Bahkan Engkau ambil salah satu orang yg sangat berarti dalam hidup ku. Mengapa Kau tak ambil saja nyawa ku, kenapa harus papa?" Pikir ku.
Aku sadar, kalo aku belum sempat mewujudkan apa yg diharapkan nya untuk segera lulus dengan gelar master ku, bahkan papa belum sempat bertemu dengan key cucu nya yg saat itu baru berusia 1 tahun. Namun disaat aku terpuruk, rio datang dengan segala kasih dan sayang yg bisa ia curahkan kepada ku yg kala itu membutuhkan seseorang yg bisa menenangkan pikiran ku. Seseorang yg rela mengorbankan kebahagiaan nya hanya untuk aku. Bahkan rio selalu mensupport ku, kehadiran nya membuat aku sadar. Bahwa perjuangan ku tak berhenti sampai disini. Aku masih harus terus berjuang untuk mereka, ada mama, caca, dan tak lupa putri kecil ku. Hingga 1 thn key terlahir di dunia, bahkan di sela2 waktu aku mengurus key, aku pun menyempatkan diri untuk bisa menyelesaikan study ku yg sempat tertunda beberapa bulan ini. Hingga saat nya key berusia kurang dari 4 tahun, aku bisa menyelesaikan S2 ku dengan sempurna. Dan itu cukup membuat ku bangga atas apa yg aku perjuangkan selama ini. Kini hidupku jauh lebih berwarna dengan kehadiran key disamping aku. Bahkan key tak segan2 mengajari ku banyak hal akan arti kehidupan yg sesungguhnya. Dengan begitu, aku lebih bisa bersyukur atas apa yg Tuhan beri untuk ku hingga saat ini. Itulah kisah ku.." papar ku.
  "Maafkan aku gi, sungguh aku tak bermaksud membuka luka lama atau mengingat-ingat masalalu mu lagi. Tapi aku cukup bangga dengan keputusan mu. Bahkan aku salut sama kamu, mungkin jika aku yg mengalami itu semua, gak akan mungkin saat ini aku ada dihadapan mu. Mungkin aku sudah mati bunuh diri." Ucap dinar yg secara tak sengaja ikut larut dalam cerita ku.
  "Sudah lah lupakan saja, aku sudah tak ingin membahas nya lagi." Aku pun tersenyum simpul dihadapan nya.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

Tuesday, July 7, 2015

Life in future with you--- part 1

Life in future with you--- part 1

Sudah cukup rasa nya aku disini, sekarang saat nya ku kembali dan melanjutkan kehidupan ku disana.
  "Apa kamu yakin dengan keputusan mu? Apa gak sebaik nya kamu pulang bersama ku?" Ucap rio tiba2 disaat ku sedang merapihkan beberapa potong baju.
  "Gak bisa ketuk pintu dulu? Kedatangan mu buat aku kaget."
  "Maafkan aku, tp aku pun cukup terkejut. Apa kamu yakin dengan semua nya? Apa kamu gak ingin menemani ku disini?" Ucap rio yg masih terlihat tergesa-gesa. Sebenar nya aku pun masih ingin berlama2 disini, tapi itu gak mungkin. Aku sudah cape lari dari masalah, dan sudah saat nya aku hadapi masalah itu.
  "Kak, makasih atas perhatian dan kasih sayang yg km beri untuk ku selama 4 tahun belakangan ini. Bahkan km merelakan kebahagiaan mu hanya untuk ku. Kini saat nya aku kembali, sudah cukup rasa nya aku merepotkan mu disini. Dan gak seharus nya aku lari dari masalah yg seharus nya aku hadapi waktu itu. Aku harap km pun segera pulang, mama pasti sangat merindukan mu." aku pun tersenyum kearah nya, dan kembali membereskan segala barang2 ku untuk memasukan nya ke dalam koper.
  "Lalu gimana dengan key? Km harus pikirkan itu gi..?" Seru rio, sejenak ku menghentikan segala aktivitas ku dan berfikir, key? Ya.. mungkin setelah ini aku harus memikirkan apa yg dikatakan rio.
  "Km tak usah khawatir akan hal itu, semua akan baik2 saja.." aku pun mencoba bersikap tenang, meskipun aku sendiri belum tahu apa yg harus aku lakukan nanti.
  "Lalu jam berapa km akan berangkat..?" Ucap rio
  "Sebentar lagi, apa km mau mengantar ku? Sebagai perpisahan sementara, karena aku berharap km akan cepat pulang dan menemui ku disana.." dan lagi2 aku tersenyum simpul kearah nya.
2 koper cukup rasa nya untuk aku bawa pulang, dan sebagian sengaja aku tinggal karena tak mungkin semua barang2 ku bawa dalam 1 waktu bersamaan. Aku pun tengah bersiap2, selain baju dan beberapa perlengkapan, segala berkas2 perpindahan tempat tinggal beserta peralihan tempat kerja dimana ku bernaung saat ini semua sudah ku kemas dalam 1 map. Lalu tunggu apa lagi.
  "Key, let's go.. " aku pun segera memasuki mobil yg memang sudah disiapkan sebelum nya.
  "Mami, apa kita akan pergi dari sini? Lalu kemana kita akan pergi?" Ucap key, aku memang belum menceritakan apapun tentang perpindahan nya kali ini. Hingga wajar saja jika key menanyakan hal ini kepada ku.
  "Sayang, kita akan pindah dari sini. Dan kita akan tinggal ditempat baru, yang pasti nya akan lebih menyenangkan."
  "Are you really??" Ucap key yg menatap ku tajam.
  "Ya,, really." Aku pun mengiyakan begitu saja pertanyaan key, setidak nya aku merasa tenang karena aku pikir ada caca yg akan menemani nya dikala kesibukan membelit ku.

  "Km baik2 disana, salam sayang untuk mama dan cacha. Km jangan khawatir, aku akan pulang setelah urusan ku selesai disini." Ucap rio, dan aku lagi2 tersenyum kearah nya, sekedar memberi pelukan sayang sebagai tanda perpisahan sementara yg tak bisa aku ungkapkan dengan kata2.
  "Hai.. can you kiss me..?" Ucap rio kepada key.
  "Papi.. " key pun lari ke arah rio, dan langsung memeluk nya. Aku tau gimana perasaan key saat ini, tapi aku tak bisa berbuat apa2. Aku hanya bisa menyeka air mata yg sempat menetes begitu saja. Hingga ku buru2 menutup nya dengan kaca mata hitam agar rio tak melihat kesedihan ku saat itu.
  "Ayo key, kita pergi.." aku pun menggandeng nya dan berjalan menuju pintu masuk. Mengingat akan boarding 10 menit lagi. Aku sengaja menggunakan pesawat jetstar, penerbangan pagi. Mengingat aku tak sendiri, ada key yg pasti nya akan repot jika harus ambil penerbangan malam. Selamat tinggal Australi, aku pasti akan merindukan nya.

Setelah beberapa kali transit, akhirnya...*Syyyuuuuuuutttt...
Tepat pukul 15.15 wib, pesawat landas di bandara Soeta. Selamat datang jakarta. Sudah lama rasanya aku tak menginjakkan kaki disini. 3 tahun bukan waktu yg singkat untuk ku meninggalkan jakarta untuk yg terakhir kali nya, saat papa di kabarkan sakit dan meninggal dunia. Dan sekarang saat nya aku kembali dengan menutup semua duka ku, dan mengubah nya dengan lembaran baru bersama key putri kecil ku.

  "Sayang,, mama sangat merindukan mu nak. Km baik2 saja?" Ucap wanita paruh baya, seraya memegangi wajah ku dan aku pun langsung dipeluk nya. Ku pandang wajah nya yg tak lagi muda, kerutan di mata nya membuat ku sadar. Terlalu lama ku meninggalkan nya.
  "Alhamdulillah, aku juga sangat merindukan mama. Bagaimana dengan mama? Maafkan gigi ya mah, karena gigi jarang hubungi mama."
  "Mama baik sayang. Gak apa apa, yg penting sekarang kamu sudah kembali dengan selamat. Km pulang sendiri?" ucap mama ku
  "Gak,, aku bersama ..." aku pun sedikit mencari keberadaan key. Kemana dia? Aku pikir key ada di samping ku.
  "Mba mencari nya??" Ucap caca, sedikit mengalihkan perhatian ku. Seperti nya ada yg bersembunyi dibelakang ku, menarik baju dan lengan ku. Aku tau itu pasti key.
  "Iya,," aku pun tersenyum saat key berusaha bersembunyi dibelakang ku. Perlahan ku pegang kedua tangan mungil nya,
  "Km kenapa sayang?"
  "Key takut mam." bisik key, maklum ia belum pernah bertemu sebelum nya, hanya bisa melihat dari foto2 yg pernah aku kasih ke key itu pun seperti nya sudah lama. Hingga wajar jika key merasa asing dengan oma dan tante nya.
  "Key,,, they are mom's family."
  "Who is she, mam?" Ucap key yg mulai menatap ku dalam2.
  "Ini aunty caca, and than she is oma rieta sayang. Mami pernah cerita bukan? Sekarang coba key kasih salam dan peluk oma sayang." Mungkin key perlu waktu untuk bisa mengenal nya. Namun seperti nya key langsung bisa mengerti apa yg aku maksud.
  "Nice to meet you." Key pun langsung menyalami nya. Aku hanya bisa tersenyum bahagia melihat nya, dan ini merupakan pertemuan pertama untuk mereka. Karena waktu itu, key masih terlalu kecil untuk aku bawa pulang. Hingga ku memutuskan untuk pulang sendiri tanpa key.
Kini saat nya key mengenal dimana asal-usul ku, tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan selama 20 tahun sebelum aku memutuskan untuk pergi dan tinggal di australi.

  "Mah, dimana key?" Aku pun menanyakan keberadaan key, yg saat itu tak terlihat sama sekali kegaduhan seperti biasa nya.
  "Key sedang bersama caca dikamar. Km sini nak, mama masih kangen sama kamu." Ucap mama saat ku berada dikamar nya, aku pun mendekat dan duduk disamping nya. Tak terasa aku sudah lama kehilangan moment ini, dimana aku bisa bersandar di pelukan nya, tidur bersama nya, bahkan dibelai dengan penuh kasih sayang oleh seorang mama. Dan kini ku seperti mendapatkan kembali seluruh nya. Semua perhatian yg pernah hilang dari hidup ku, bahkan kasih sayang yg hampir tak pernah aku dapatkan di australi.
  "Maafkan mama sayang, tak seharusnya mama meninggalkan mu disaat km membutuhkan mama. Membiarkan mu hidup sendiri dengan segala keterbatasan disana. Bahkan mama tak bisa mendampingi km disaat persalinan. Maafkan mama sayang.." ucap mama ku lirih, ku pandangi setiap gurat diwajah nya, tatapan mata nya seolah menggambarkan penyesalan yg amat sangat besar kepada ku.
  "Mah, mama tak perlu meminta maaf kepada ku. Mama gak salah, aku yg salah. Aku yg memutuskan untuk pergi. Dan untuk masalah itu, aku sudah tak ingin membahas nya lagi." Aku pun sedikit memberi nya penjelasan, agar tak lagi menyalahkan diri nya sendiri atas apa yg terjadi kepada ku. Bagi ku, sudah tak ada lagi yg perlu disesali, karena aku sama sekali tak mempermasalahkan itu.

  "Mami...." seru key yg tiba2 berlari kearah ku. Ini kebiasaan buruk key yg suka menyelongnong masuk tanpa permisi. Dan itu cukup membuat ku panik, saat ia berlari dan kemudian naik ke tempat tidur yg cukup tinggi menurut ku.
  "Hati2 sayang, ini terlalu bahaya untuk km."
  "I am sorry mam." Key pun mengakui kesalahan nya.
  "Sekarang katakan kepada mami, kenapa km berlari? Ada sesuatu?" Aku pun mulai penasaran akan maksud dan tujuan key menemui ku.
  "Mam, aunty bilang disini ada tempat bermain seru, key mau kesana mami." Rengek key manja.
  "Aduh..." pikir ku, ya.. aku tau key suka bermain. Bahkan bukan hanya bermain games, tp mainan sungguhan pun suka dibeli nya bila ku ajak ke mall atau ke tempat2 yg memang menyediakan aneka mainan. Dan itu cukup membuat 1 lemari full akan mainan nya.
  "Mam..? Ayo mami, please?" Rengek key lagi.
  "Memang nya cucu oma gak capek,,? Kasihan mami sayang?" Ucap mama ku yg membantu menjelaskan nya kepada key.
  "Are u oke mami?" Key pun bertanya kepada ku setelah apa yg oma nya katakan.
  "Seems?"
  "We just came in key. And now it was night dear. So, next time ok?"
  "Tapi key boleh main kan mami?" Ucap key
  "Iya,,"
  "Aunty caca juga ikut ya mami?" Ucap key
  "Iya sayang, sekarang sudah malam nak. Kamu harus istirahat yah? Want you sleep with mami tonight?"
  "Baiklah mami,, " key pun menyetujui apa yg dikatakan ku saat itu. Menunda apa yg diinginkan nya untuk sekedar bermain2. Mengingat jam sudah menunjukkan pukul 21.00 wib, saat nya kita istirahat. Mama hanya melihat ku, menatap penuh bahagia saat aku dan key sedang bercengkrama layak nya seorang ibu dan anak nya.

#Keesokan hari,
  "Gi, apa gak sebaik nya km libur kerja dulu? Kasian key, jika km langsung sibuk dengan pekerjaan mu." ucap mama. Aku sadar akan hal itu, tapi sampai saat ini aku pun belum bisa meninggalkan pekerjaan ku. Entah sampai kapan, mungkin sampai aku benar2 menemukan seseorang yg bisa melarang ku untuk berhenti bekerja.
  "Aku akan memikirkan nya lagi mah, tapi sekarang aku harus ke kantor. Ada yg harus aku selesaikan tentang perpindahan ku. Aku titip key, kabari aku jika terjadi sesuatu."
Aku pun tengah bersiap2 untuk pergi ke kantor pagi itu. Tak lupa dengan berkas yg sudah aku siapkan 1 map sebelum nya.
Dan aku pun berangkat menggunakan taxi, kebetulan hari ini semua mobil masuk bengkel. Dan hanya ada 1 mobil yg akan dipakai caca untuk ke kantor nya. Lalu mana mungkin aku bisa ikut dengan nya, kantor kita berlawan arah. Hingga tak memungkinkan untuk aku ikut bersama nya. Pagi ini kota jakarta terlihat begitu senggang. Mungkin ini masih terlalu pagi, hingga tak begitu padat seperti biasa nya. Aku sengaja berangkat pagi2, karena tempat kerja ku cukup jauh jika ditempuh dari rumah. Hingga tepat pukul 08.00 wib aku pun sampai di depan kantor yg menurut ku cukup besar, meski tak sebesar kantor ku sebelum nya.

  "Silahkan masuk, ibu sudah ditunggu diruangan nya." Ucap resepsionis tersebut.
  "Baiklah,.." aku pun berjalan ke ruangan yg sudah ditunjukkan sebelum nya. Ya.. saya harus naik ke lantai 3 dan itu cukup membuat ku lelah, saya harus menaiki anak tangga satu persatu dikarenakan lift sedang dalam perbaikan. Bayangkan saja, berapa puluh tangga yg harus aku naiki..?? Dan itu sangat melelahkan.
Sampai di depan ruangan yg aku cari2 dari tadi.
  "Dinar Larasati? Seperti nya aku mengenal nya, tp apa mungkin dia teman ku? Ahh.. nagita, jakarta itu luas. Km pikir di jakarta nama dinar cuma 1?" Aku pun membuang jauh2 anggapan itu, dan berjalan masuk ke ruangan. Mengingat aku sudah lama ditunggu nya.
  "Tok.. tok..tok.."
  "Masuk.." ucap seseorang yg ada didalam sana. Aku mencoba untuk masuk dan menemui nya. Dan itu cukup membuat ku kaget.
  "Dinar??"
  "Nagita??" Ucap dinar, sungguh aku sangat terkejut. Dinar adalah teman kecil ku. Dulu kita sering bermain bersama, namun saat kelas 2 SMA aku memutuskan untuk pindah sekolah dikarenakan jarak tempat tinggal aku dan sekolah cukup jauh. Dan semenjak itu aku jarang bertemu dengan nya lagi.
  "Km apakabar gi? Sudah lama aku gak bertemu dengan mu, gimana sehat? Terakhir aku dengar kata nya km tinggal di australi?" Ucap dinar yg gak ada habis2 nya ngasih pertanyaan, hingga aku pun sulit pertanyaan mana yg harus aku jawab duluan.
  "Aku baik dinar, alhamdulillah. Iya, aku baru sampai kemarin. Km apakabar? Aku pikir dinar itu banyak, tapi ternyata aku salah. Dan ini bener dinar, dinar sahabat ku dulu" Aku pun tersenyum kearah nya. Dan segera melepaskan rasa rindu yg sudah lama aku dan dinar rasakan. Dinar mengajak ku untuk keluar ruangan, dan mencari tempat untuk sekedar santai dan berbincang2. Padahal niat awal aku kesini bukan untuk itu, melainkan untuk urusan kerja. Tapi berhubung dinar yg mengajakku, hingga aku tak mungkin menolak nya.
  "Gi.. aku minta maaf, waktu itu aku gak bisa hadir dipemakaman papa km. Jujur aku baru tau setelah 1 minggu papa kamu dikabarkan meninggal." Ucap dinar
  "Gpp.. aku mengerti."
  "Tapi waktu itu km pulang ke indo, bukan?" Ucap dinar
  "Ya.. aku pulang waktu itu, tp gak lama. Sehari setelah itu aku harus balik lagi ke australi."
  "Mengapa gi, kenapa km buru2?" Dinar pun mulai penasaran.
  "Aku gak bisa berlama2, karena aku ninggalin seorang anak disana" Spontan dinar pun kaget,
  "Anak? Km sudah nikah? Kapan? Dengan siapa? Kok aku gak tau?" Ucap dinar bertubi2.
  "Panjang cerita nya.."
  "Ayo lah gi, aku penasaran. Km masih anggap aku sahabat mu bukan? Ayo lah.." bujuk dinar yg membuat ku terpojok, dan mau gak mau aku harus cerita kepada nya.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.