Tuesday, December 8, 2015

Life in future with you--- part 15

Life in future with you--- part 15

 ("Are you crying, mam?"
  "Emm, gak kok sayang. Mami bahagia... sangaattt bahagia. Apa yang kamu lakukan disini?? Kamu tahu?? Mami mencari mu sayang. Mami sangat mencemaskan mu. Mami takut terjadi sesuatu kepada mu. Kamu baik-baik saja, bukan??" 
  "Um'humm.. i am so happy, mam.." ucap key
  "Sungguh??"
  "Kamu sudah disini?"
  "Raffi..."
  "Kebetulan aku lewat sini. Dan aku hanya menemani nya bermain." Ucap raffi
  "Makasih, kamu sudah mau menemani nya. Aku tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi bila kamu tak disini. Mungkin aku..."
  "Ssssssttt... kamu tak usah memikirkan hal itu, karena aku tak akan membiarkan sesuatu terjadi pada nya. Kamu tenang saja. Aku akan selalu menjaga nya .." ucap raffi yang tersenyum kearah ku. Aku tahu, raffi begitu menyayangi putri nya, ia pasti menjaga nya dengan baik. Dan aku sangat percaya itu.)

Tak khayal bila akhirnya aku memberikan kepercayaan penuh terhadap raffi atas key. Seperti yang terlihat saat ini, ya.. saat ini. Membiarkan mereka bermain, bukan lagi suatu hal yang baru untuk ku. Mendengar mereka bercerita,,, Melihat mereka berlari untuk saling kejar,,, Bahkan saat mereka tertawa, seakan hati ini luluh, mengikis semua harapan yang dulu tak pernah aku bayangkan sebelum nya..
Semua luka seakan sirna, lalu berganti bahagia yang mungkin akan mengubah segala nya. Tapi, yang jadi pertanyaan ku saat ini, siapkah aku untuk mengawali itu semua..? Siapkah aku menjemput kebahagiaan itu? Kebahagiaan yang jauh lebih dari apa yang aku lihat saat ini. Lalu, pada siapa hati ini akan berlabuh?? Entahlah rasa nya sulit,,, sangaaaat sulit. Seperti nya aku harus berpikir 100 kali untuk bisa menjawab itu semua. Mungkin besok,,, lusa,,, atau bahkan nanti.. ? Hingga akhirnya aku merasa yakin dengan pilihan ku, maka saat itu juga akan ku sambut kebahagiaan itu..

  "Hei, apa yang kau lakukan disini??" Ucap raffi yang tiba-tiba muncul dihadapan ku.
  "Apa yang kamu lakukan raffi? Duduk lah.. jangan merunduk dihadapan ku seperti itu."
  "Apa yang kamu lakukan disini?? Kamu memikirkan ku, hmm?" Ucap raffi, aku hanya menoleh kearah nya, memandangnya lekat, namun tak sedikit pun aku berucap.
  "Heii,, Apa ada yang salah dari perkataan ku, hingga kau memandang ku seperti itu??" Ucap raffi yang mendadak salah tingkah saat aku mulai memperhatikan nya. 
  "Raffi,,, raffi.. kamu ini... " aku hanya tersenyum simpul kearah nya.
  "Aku ada sesuatu untuk mu.."
  "Sesuatu..?? Apa itu??" Tanya raffi penasaran.
  "Apa ini milik mu??" Sebuah dompet hitam kecil, yang aku dapat dari penjaga sekolah itu. Aku tak ingin berlama-lama menyimpan sesuatu yang bukan milik ku. Lagi pula ini memang milik nya. Dan aku harus segera mengembalikan nya.
  "Dari mana kamu dapatkan ini?"
  "Emm, Pak imron yang sengaja menitipkan nya kepada ku."
  "Sungguh??" Ucap raffi penasaran
  "Kamu panik??"
  "Ya.. Entahlah, aku tak bisa membayangkan bila dompet ini benar-benar hilang." Ucap raffi
  "Memang nya apa yang membuat mu takut seperti itu??"
  "Sesuatu,, Ya.. Sesuatu yang sangat berharga untuk ku. Cuma itu satu-satu nya yang tersisa dan aku miliki saat ini. Sesuatu yang hanya bisa aku pandangi, bila aku sedang merindukan nya. Menyedihkan, bukan..?" Ucap raffi yang menoleh kearah ku.
  "Seberharga itu kah dia dimata mu..?"
  "Ya.... Tapi, sudahlah.. itu semua sudah terjadi. Kamu tak usah memikirkan hal itu. Lagi pula itu semua salah ku. Sekarang sebaiknya kita antar key pulang. Kasihan dia, lagi pula kamu harus kembali ke kantor, bukan..? Setelah itu aku akan mengantar mu.." Ucap raffi.
Ya.. memang sebaiknya aku harus kembali ke kantor. Mengingat ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan sore ini. Tapi, mengapa aku jadi gak bisa fokus dengan apa yang aku kerjakan saat ini. Berulangkali aku mencoba, namun seperti nya aku tetap tak bisa. Ucapan raffi siang tadi seakan mampu menguasai otak dan pikiran ku saat ini.

  "Dia sangat berarti untuk ku. Dia segala nya bagi ku. Mungkin, gak akan ada yang bisa menggantikan posisi dia dihati ku. Meski ku tahu, aku tak berarti apa-apa untuk nya."

Ya Tuhan... Apa yang sudah aku lakukan..? 1 masalah saja rasa nya aku belum tentu bisa menyelesaikan nya. Lalu bagimana dengan paul?? Urusan ku dengan paul saja belum selesai. Lalu apa yang harus aku lakukan..? Bagaimana aku menjelaskan semuanya?? Huuffttt.. rasa nya aku sedang berada pada titik yang gelap, sangatt gelap. Dan aku tak bisa terus-menerus seperti ini. Sebaiknya aku pulang, lagi pula tak ada yang bisa aku kerjakan disini. Setidak nya, dirumah aku bisa beristirahat, dan sedikit menenangkan pikiran ku. Berharap dengan begitu, semuanya akan lebih baik..
~~
  "Haii, sayang..? Apa yang kamu lakukan disini, hmm..?" Ucap caca
  "Aunty..?" ucap key
  "Kamu lihat, aunty bawakan sesuatu untuk mu.." Ucap caca
  "Woww.. Ice cream..?"
  "Ya, kamu suka?"
  "Um'humm.."
  "Okey, sekarang kamu makan. Aunty mau ke kamar dulu."
  "Aunty...!" Seru key
  "Ya..?"
  "Thank you." Key pun tersenyum kearah caca. Sebelum akhirnya caca pergi ke kamar nya.

  "Tok.. tok.. tok.." 
  "Siapa ?"
  "Ini mama sayang. Boleh mama masuk?"
  "Masuk saja mah, gak di kunci.." sahut caca
  "Kamu sibuk..?" Tanya mama yang mulai berjalan kearah caca.
  "Gak, memang nya kenapa? Apa ada sesuatu?"
  "Mama ingin bicara sesuatu sama kamu. Ini soal kakak mu."
  "Maksud mama, mba gigi??"
  "Ya .."
  "Ada apa lagi dengan nya?"
  "Semenjak pulang dari kantor, ia belum turun-turun juga dari kamar nya. Ia juga belum makan, dan mama sangat khawatir dengan keadaan nya."
  "Mama sudah coba tanya dia?"
  "Belum, mama takut di bilang terlalu ikut campur urusan nya. Lagi pula kamu yang lebih dekat dengan nya. Mungkin, ia akan bisa mendengar omongan mu."
  "Baiklah, aku akan coba bicara dengan nya. Mama tak usah khawatir seperti itu. Aku akan menemui nya sekarang."
  "Ya.. sebaiknya begitu. Makasih ya sayang.." ucap mama ku.

Kadang, ada saat nya kita butuh waktu tuk sendiri. Namun, seringkali kesendirian itu mendatangkan kesedihan.
  "Malam yang indah, bukan..? tapi sayang, hanya beberapa bintang saja yang nampak disana." Ucap seseorang yang perlahan berjalan mendekati ku.
  "Kamu disini?? Ya..... Mungkin mereka malu untuk menampakkan diri."
  "Apa yang kamu lakukan disini? Aku tahu kamu belum makan, maka aku bawakan sedikit makanan untuk mu." Ucap caca
  "Kamu tak usah repot-repot seperti itu. Aku bisa ambil sendiri, bila menginginkan nya. Lagi pula aku masih kenyang, aku sudah makan siang tadi." 
  "Siang? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya caca
  "Mengapa kamu bertanya seperti itu?" 
  "Kamu lihat ini jam berapa??"
Aku pun menoleh kearah jam yg bertengger di dinding kamar ku. Tepat pukul 21.00 wib, yang artinya lebih dari 5 jam aku berdiri disini.
  "Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan??"
Aku sejenak terdiam, mengingat-ingat apa yang terjadi pada diri ku saat ini. Mengapa aku bisa berpikir kalo ini siang? Jelas-jelas yang ada dihadapan ku adalah langit gelap, dan hanya ada bintang disana, bukan lagi matahari. Mengapa aku lupa akan hal itu?
  "Apa yang membuat mu seperti ini?" Ucap caca yang mulai mendekat kepada ku, bahkan kini berdiri persis disamping ku.
  "Entahlah.. Aku bingung." Aku tak mungkin menjelaskan semua nya ke caca, karena aku pikir ini masalah ku. Biarkan aku yang tahu, orang lain tak perlu mengetahui nya.
  "Bingung..?" Ucap caca.
  "Aku masih harus mempertimbangkan itu semua, marsha."
  "Okey, lalu..?"
  "Masalah ku terlalu kompleks dan rumit. Aku rasa... aku sulit untuk bisa melakukan itu semua. "
  "Rumit?? Perasaan itu tidak pernah rumit, tapi orang-orang lah yang membuat nya rumit. Butuh keberanian untuk bisa memulai sesuatu yang baru. Dan aku pikir, sudah saat nya mba untuk melakukan itu. Bukankah itu tujuan awal mba saat memutuskan untuk pulang ke indonesia??" Caca pun menoleh kearah ku. Ya.. memang benar apa yang di katakan caca. Bukankah itu tujuan awal ku kesini?
  "Sekarang, apa lagi yang mba tunggu?? Apa mba menunggu hingga nanti saat semua itu pergi? Dan baru menyadari bahwa orang yang selama ini sabar, orang yang selama ini mencintai mu dengan tulus, menjauh hanya karena kesalahan yang sama, dan berujung pada penyesalan? Apa itu yang mba inginkan? Ingatlah key,, lihat dia. Sosok raffi yang sekarang, bukan lagi sosok yang perlu kamu hindari, atau kamu takutkan. Dan seperti nya tak usah aku jelaskan, kamu jauh lebih mengerti soal itu."
  "Ya.. mungkin kamu benar. Aku tak mungkin terus-menerus seperti ini. Cepat atau lambat, aku akan mengakhiri semua nya. Lalu, bagaimana dengan mu..?"
  "Aku..?" Tanya caca. 
  "Ya.. kamu.." Seperti yg aku ketahui, kisah cinta caca pun tak semulus apa yang kita bayangkan. Meski aku belum pernah mengenal nya secara langsung, Bahkan aku hanya mendengar sekilas tentang nya, itu pun dari caca saat aku masih berada di australi. Tapi, itu sudah cukup menggambarkan bagaimana sosok lelaki itu. Terlebih aku sangat mengenal pribadi caca, yg pastinya dalam hal ini jauh lebih selektif dibanding diri ku.
  "Aku rasa, dia sudah berada di jakarta." Ucap caca
  "Sungguh?? Lalu..?"
  "Biarlah waktu yang akan mempertemukan kita. Percaya lah, bila memang dia jodoh kita, maka ia akan kembali dengan cara yang mengagumkan." Ucap caca yang melempar senyum kearah ku. 
Ya.. Kita tak pernah tahu, kapan saat nya itu terjadi. Hanya sebuah harapan kecil yg bisa memupuk rasa itu untuk tetap berada pada titik yang sama, mungkin itulah yang dinamakan cinta. Terkadang cinta memang begitu menyakitkan, tapi karena cinta juga, kamu selalu temukan dirimu tersenyum tanpa alasan. Kadang kamu juga harus dengarkan kata hati. Jangan tanyakan siapa yg kamu cintai, tapi tanyakan siapa yg buatmu bahagia dan dihargai. Lalu, siapakah yang akan aku pilih nanti..? Entahlah, aku hanya berserah diri pada Mu.. Engkau yang maha memberi petunjuk, Engkau yang maha bijaksana. Sesungguhnya hanya Engkau yang bisa membolak-balikkan hati manusia. Dan aku, percaya.. rencana Tuhan pasti akan jauh lebih indah.

Pagi itu, aku harus menerima kenyataan kalo mobil yang biasa aku bawa ke kantor mendadak harus masuk bengkel. Dan itu cukup membuat ku garuk kepala.
  "Apa gak bisa di percepat lagi? Ok, baiklah.."
  "Kenapa?" Tanya caca
  "Pak jo bilang, mobil yang biasa aku pake masuk bengkel, dan kemungkinan akan memakan waktu yang cukup lama."
  "Lalu...?" Ucap caca
  "Ya mau bagaimana lagi,,,"
  "Biar aku antar mba sekalian ke kantor. Kebetulan hari ini aku off, dan aku sama sekali tak ada kegiatan lain, selain antar key ke sekolah." Ucap caca
  "Kamu serius,,?? Aku bisa kok naik taxi."
  "Gak.. gak.. biar aku yang antar." Ucap caca
  "Baiklah, kamu tunggu disini. Aku ambil tas dan berkas-berkas nya dulu." Aku pun segera bersiap-siap. Mengingat key pun masih berada dikamar nya.
  "Key,, ayo sayang.."
  "Um'humm.. " kita pun akhirnya berangkat, mengingat sudah jam 8.00 pagi dan aku harus segera menyiapkan segala sesuatu nya untuk bahan meeting pagi ini.

  "Gi, gigi.. tunggu..!" Sesaat setelah meeting itu selesai. Dan aku memang harus kembali ke ruang kerja ku.
  "Kamu memanggil ku..?"
  "Astaga, kamu ini." Ucap dinar
  "Maaf, aku buru-buru. Sekarang duduk lah."
  "Kamu sibuk?" Tanya dinar
  "Gak juga, sebentar lagi aku selesai. Katakan saja apa yang ingin kamu sampaikan. Aku akan mendengar nya." Aku memang sedang mengerjakan sesuatu di laptop ku, dan aku tak ingin menunda-nunda nya lagi.
  "Apa yang terjadi antara kamu dan paul??" Ucap dinar tiba-tiba.
  "Apa maksud kamu? Aku tak mengerti.." ucap ku, namun tak sedikit pun aku berpaling dari layar laptop ku. 
  "Aku tak pernah melihat mu sedingin itu. Ada apa dengan mu?" Ucap dinar yang mulai penasaran dengan sikap ku. Sebenarnya, aku tak bermaksud seperti itu.
  "Mungkin itu cuma perasaan mu saja. Lagi pula menurut ku itu hal biasa. Kamu tak perlu khawatir soal itu."
  "Nagita, lihat aku. Perasaan ku gak mungkin salah. Itu bukan diri kamu yang sebenar nya. Sekarang, kamu cerita sama aku. Apa yang sebenarnya terjadi..? Kamu melakukan itu, bukan berarti tanpa alasan, bukan? Lalu apa alasan mu?" Ucap dinar yang menatap serius kearah ku. Dengan segera aku menghentikan segala aktivitas ku. Karena percuma, dinar pun sudah menutup paksa laptop ku. Hingga aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku berdiri, dan berjalan pergi meninggalkan nya. Beralih ke tempat yang lebih santai yang menurut ku bisa memberikan ruang gerak untuk ku. Sengaja aku buka tirai lebar-lebar, agar aku bisa memperoleh sedikit ketenangan dan udara segar dari luar sana. Tapi entah mengapa, rasanya aku belum bisa tenang. Sejahat itu kah diri ku pada nya? Bahkan aku tega melukai 2 orang yang begitu mencintai ku dan berharap lebih kepada ku.
  "Gi.. aku.." 
  "Aku tak tahu harus bagaimana menjelaskan nya kepada mu. Yang pasti, aku melakukan itu semua bukan berarti tanpa alasan. Apa yang aku lakukan semata-mata untuk kebaikan nya, gak ada maksud lain. Dari awal, aku hanya menganggap nya teman biasa gak lebih, dan kamu tahu hal itu. Tapi itu semua tidak berlaku untuk paul, dinar? Dan mungkin kamu juga tahu hal itu. Aku tak ingin paul terus-menerus berharap, yang pada akhirnya berujung pada kekecewaan. Karena sesungguhnya aku tak pernah bisa move on dari masalalu ku bersama raffi. Sikap ku yang menurut mu dingin, merupakan salah satu alasan agar lebih membatasi diri. Sedikit memberi jarak, karena aku takut melukainya. Lalu, apa yang aku lakukan itu salah?? Jawab pertanyaan ku, din? Apa aku salah melakukan itu semua?" Aku mulai tak bisa mengontrol emosi ku. Bulir bening pun jatuh tak kuasa menahan amarah yang seharusnya aku lakukan sejak dulu. Ya sejak dulu.
  "Maafkan aku, gi.. aku.." Ucap dinar
  "Harus nya tak ku biarkan masalah ini berlarut-larut. Dan harus nya aku lakukan ini sejak dulu, din.."
  "Gi, gigi.. please, aku mohon kamu tenang, ya.. ? Aku tahu, ini masa-masa tersulit untuk mu. Tapi aku rasa, kamu sudah mengambil keputusan yang tepat. Cepat atau lambat paul pasti mengetahui, siapa raffi,, dan siapa key.. dan aku pun sudah pernah bilang juga sama kamu, ikuti kata hati mu. Please, specify your choice from now. Don't make them wait long. Karena bisa jadi, orang yang kamu cintai akan pergi meninggalkan mu, setelah kamu menyadari bahwa dialah satu-satu nya orang yang sangat berarti dalam hidup mu. Kamu tak ingin itu terjadi, bukan..?"
  "Lalu, apa yang harus aku lakukan, din??"
  "Yang perlu kamu lakukan saat ini adalah ajak paul berbicara. Coba jelaskan sedikit-demi sedikit kepada nya. Kalian ini sudah dewasa. Tak perlu dijelaskan secara gamblang pun, aku rasa kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Dan aku rasa, paul akan bisa menerima alasan mu dengan baik. Percayalah, semua akan baik-baik saja." Aku mulai sedikit tenang. Setidak nya aku bisa bernafas lega, meski belum sepenuh nya aku terbebas dari rasa takut ini. Mungkin benar, hidup itu adalah pilihan. Life is all about making choices. Always do your best the right ones. And always do your best to learn from the wrong one.
  "Sekarang kamu lebih tenang, bukan?? Lebih baik kita masuk. Tak baik bila kita berlama-lama disini." Ucap dinar. Namun, seketika langkah ku terhenti. Saat sesosok pria tinggi berbadan tegap berdiri tepat depan ku.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

Sunday, November 15, 2015

Life in future with you--- part 14

Life in future with you--- part 14

(Ini bukan soal akhir, bukan soal awal, bukan bagaimana memulainya dan bukan bagaimana caramu mengakhiri. Tapi ini tentang menjalani, bertahan dan mendewasa dalam setiap pilihan. Saat ini, tinggalah soal waktu. Tuhan hanya memberi sesuatu jika kita telah betul-betul siap memilikinya. Mungkin saja ada yang memang belum betul-betul siap, mungkin saja aku, mungkin saja dia, mungkin saja entah. Meyakini hal-hal semu memang tak mudah, tapi lebih baik daripada menjatuhkan diri pada kesedihan yang salah.)

  "Sekarang, kamu tahu bukan apa yang seharusnya kamu lakukan??" Ucap dinar
  "Ya.. akan ku pikirkan lagi.."
  "Tok..tok..tok.."
  "Masuk.."
  "Maaf bu, ada yang ingin bertemu." Ucap fara
  "Siapa?"
  "Mr. Paul.. Beliau menunggu ibu di lobby depan." lanjut fara
  "Paul??" Pikir ku
  "Kamu ada janji dengan nya?" Tanya dinar.
  "Aku tidak punya janji dengan siapapun. Fara, tolong suruh dia tunggu sebentar. Bilang saja aku masih ada tamu. 10 menit lagi aku kebawah" aku pun segera membereskan berkas-berkas yang sempat berserakan diatas meja kerja ku, dan siap-siap bergegas untuk segera menemui nya.
  "Kira-kira,, ada perlu apa paul kesini? Bukankah tidak ada jadwal meeting hari ini??" Tanya dinar
  "Entahlah. Aku sendiri belum tahu maksud dan tujuan nya datang kesini. Mungkin ada urusan lain. Kamu mau temani ku sebentar untuk menemui nya..?" Sedikit usulan konyol, tapi siapa tahu dinar mau menemani ku.
  "Aku..???? Gak .. Gak..! Aku gak mau ikut campur." Ucap dinar, yang sudah pasti menolak ajakan ku.
  "Ayolah sebentar.. " aku pun sedikit membujuk nya untuk ikut bersama ku. Setidaknya aku tidak sendiri.
  "Emmmpp.. ??" Sedikit berfikir panjang,, dan akhirnya...
  "Ok, untuk kali ini. Tapi,,, aku tidak bisa lama. Setelah itu, aku harus ke resto. Aku ada janji dengan restu. Oh.. Iya, kamu mau sekalian aku pesankan makanan?" tanya dinar, saat sedang berjalan keluar ruangan. Berhubung ruang kerja ku ada di lantai 3, maka aku harus turun ke lantai 1 untuk bisa sampai lobby dan menemui paul.
  "Tidak perlu. Lagi pula siang ini aku harus jemput key disekolah. Kamu tak usah menunggu ku disana. Aku sudah janji akan lunch bersama nya. Dan mungkin aku akan telat untuk kembali ke kantor."
  "Okey, sampaikan salam ku untuk nya. Sekarang lebih baik kamu temui dia. Kasihan, paul sudah menunggu lama. Ingat pesan ku. Aku jalan dulu ya? Bye..." ucap dinar

  "Maaf, kamu sudah lama?"
  "Em.. It's ok. Kamu sibuk? Apa kedatangan ku ini mengganggu mu?" ucap paul
  "Gak, sama sekali tidak paul. Apa ada sesuatu? Seperti nya ada yang ingin kamu sampaikan?"
  "Kita cari tempat yang lebih santai, bisa? Kita duduk disana saja, sepertinya lebih baik.." paul pun membawa ku ke tempat yang jauh lebih santai untuk sekedar ngobrol, meski masih di sekitar lobby, tapi menurut ku itu jauh lebih baik.
  "Sebelum nya, kamu mau minum apa? Biar sekalian aku buatkan untuk mu."
  "Tidak usah, nagita. Kamu tak usah repot-repot seperti itu. Lagi pula ada yang lebih penting dari pada itu. Lebih baik sekarang kamu duduk, santai lah sebentar, tak usah tegang begitu, biasa saja" ucap paul. Ya.. Mungkin saat ini aku terlihat cemas. Itu semua dikarenakan aku ada keperluan lain. Tidak kurang dari 30 menit, aku harus segera pergi ke sekolah untuk menjemput putri ku. Tapi bagaimana dengan paul? Haruskah aku berkata sejujurnya dan meninggalkan nya sendiri disini? Tapi, tunggulah sebentar, tak usah terburu-buru. Dan seperti nya aku harus bersabar. Lebih baik aku dengarkan dulu apa maksud dan tujuan nya kesini. Siapa tahu itu penting.
  "Sudah lama aku ingin membicarakan hal ini dengan mu. Tapi rasa nya sulit menemukan waktu yang tepat untuk merencanakan itu semua. Mungkin itu disebabkan karena kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing." Ucap paul
  "Lalu, apa tujuan mu kesini? Apa ada masalah dengan proyek kita? Apa kamu kurang setuju dengan usulan ku tempo hari? Atau...?" 
  "No.. no.. ! It's not that. Ini gak ada hubungan nya dengan pekerjaan."
  "Lalu?"
  "Ada hal lain yg ingin aku sampaikan. Ini soal hubungan kita." Ucap paul
  "Kita??" pikir ku
  "Ya.. aku tahu, mungkin ini tak pantas untuk aku katakan disini. Tapi... Ada hal yang memang seharusnya kamu ketahui sejak dulu." ucap paul. 
Sungguh aku sama sekali tak mengerti, apa maksud dari semua nya? Mengapa paul tiba-tiba berkata seperti itu? Tapi aku mencoba untuk tetap bersikap tenang, mencoba menghargai apa yang ingin paul sampaikan kepada ku. Meski beberapa pertanyaan dan spekulasi pun muncul dalam angan ku. Seakan timbul keraguan di hati ini. Bahkan aku seakan takut untuk menjawab sesuatu, bilamana paul memberi ku pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan menyudutkan ku. Tapi itu baru feel ku, dan belum tentu juga sama dengan apa yang aku pikirkan saat ini.
  "Nagita.." lambaian tangan paul pun melintas tepat didepan mata ku. Dan itu cukup mengagetkan ku. Aku seolah ada dibawah alam sadar ku. Rasa takut itu seakan menguasai otak dan pikiran ku saat ini.
  "Kamu baik-baik saja?"
Mana mungkin aku jawab dengan kata "tidak". Aku tak ingin membuat nya semakin curiga dengan sikap ku. Hingga aku menjawab "Ya..". Meski dengan sangat hati-hati, bahkan ragu untuk berkata seperti itu. Tapi aku tutupi semua nya dan berusaha melempar senyuman tipis ke arah nya. Meski ku tahu sesungguhnya "i'm not fine.".
  "Okey. Mungkin, kamu sudah mendengar dari beberapa relasi mu tentang aku. Bagaimana perasaan aku ke kamu. Dan jujur, aku tak bisa lagi menutupi perasaan itu. Aku... aku menyukai mu sejak awal kita bertemu."
DEG,,, I'm speechless. Ya.. aku terdiam. Aku rasa, saat itu jantung ku seakan berhenti berdetak. Aku seakan tak bisa berkata apa-apa lagi. Mulut seakan membisu, bahkan kaki terasa kaku. Apa yang aku takutkan, kini terjadi? Paul benar-benar mengutarakan nya di depan ku. Harus kah aku bahagia dengan semua ini?? Ataukah sebaliknya..?? Entahlah, kini hanya ada 2 pertanyaan yang bersarang dalam hati dan perasaan ku saat ini. 
  "Hingga detik ini, aku tak pernah tahu, sejak kapan aku mulai jatuh cinta kepada mu. Nagita, jika kamu bersedia, perkenankan aku untuk bisa mengenal mu lebih jauh lagi. Aku ingin, hubungan kita lebih dari sekedar teman biasa. Setidaknya aku ingin serius dengan mu" ucap paul yang berusaha meyakinkan aku. Bahkan ia tak segan-segan memohon kepada ku. Lalu apa yang bisa aku lakukan? Akankah aku meng "Iya" kan permintaan nya? Ataukah ...??
  "Nagita,, are you okey?" Seru paul
  "Paul,, aku..."
  "PRAAKKKKKK...!!!" Seketika saja ku potong pembicaraan ku. Meski ku tahu, paul sangat menunggu jawaban ku. Tapi, entah apa yang membuat ku ingin beranjak dari tempat duduk ku. Suara nyaring itu, seakan mampu menggiring ku untuk sedikit mencari tahu asal muasal suara itu terdengar.

  "Maaf tuan, saya tidak sengaja." Ya.. rupanya seseorang telah menabrak OB yg tengah berjalan mengantarkan minuman pesanan ku. Mungkin pemuda itu tak sengaja menabrak nya, hingga apa yang ia bawa semua jatuh dan menimbulkan sedikit kegaduhan yang bisa mengundang perhatian banyak orang termasuk aku..
  "Kamu tidak apa-apa? Biar saya bantu."
  "Gak usah repot-repot tuan. Biar saya saja yang bereskan."
  "Raffi???" Pikir ku.
  "Baiklah, lain kali hati-hati" ucap pemuda itu
  "Baik tuan, terimakasih.."
Ya.. meski sekilas, bahkan aku tak sempat melihat wajah nya dengan jelas. Tapi aku yakin bahwa apa yang aku lihat beberapa menit yang lalu adalah raffi. Lalu, apa yang ia lakukan disini? Apakah ada sesuatu, hingga ia terlihat sangat terburu-buru?? Atau jangan-jangan raffi mendengar sesuatu?? Ahhhh..!! Sungguh, mengapa perasaan ku seperti ini?? Lalu, apa yg harus aku lakukan..??

  "Nagita,, apa yang sedang kamu lakukan disini? Apakah ada sesuatu disana?" Tanya paul.
  "Tidak, tidak ada paul. Sekarang duduklah, ada yang ingin aku sampaikan.." 
Fiiuuuhhhh.. rasanya sesuatu. Untung saja paul tak melihat kejadian itu. Tapi ya sudah lah, sekarang bukan saat nya aku membahas soal raffi. Kini saat nya kembali kepada pokok permasalahan antara aku dan paul. Dari awal aku mengenal nya, tak pernah sedikitpun terlintas dibenak ku untuk suka atau ingin menitipkan cinta kepada nya. Aku hanya menganggapnya teman biasa, gak lebih. Hubungan kita pun berjalan real, dan apa ada nya, tanpa ingin mencampuri urusan pribadi (privasi) masing-masing. Dan aku akui, memang selama ini paul selalu memberi perhatian lebih untuk ku. Sedangkan aku hanya menanggapi nya dengan santai. Karena aku pikir, yang namanya pertemanan rasa-rasa nya wajar bila paul bersikap seperti itu kepada ku. Dan aku rasa itu bukan cinta.. ya.. bukanlah cinta. Namun, dibalik sikap dan sifat ku yang tertutup, rupanya banyak menarik perhatian paul dan membuatnya semakin penasaran dengan ku. Mengumpulkan informasi tentang ku, bukanlah hal yang sulit untuk nya. Itu terbukti saat beberapa teman dekat ku, tak terkecuali dinar yang tak lain adalah sahabat karib ku, menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Dan itu cukup membuat ku berkata "wow". Mungkin paul bisa semudah itu memperoleh informasi tentang diri ku, tapi tidak dengan hati ku, yang mungkin selama ini masih tertutup dengan rasa takut untuk memulai cinta yang baru. Jauh sebelum paul mengutarakan hal ini kepada ku, sedikit banyak aku memang sudah mengetahuinya. Terlebih banyak orang yang berkata sama tentang paul kepada ku. Sejak saat itu, aku sedikit membatasi diri ku untuk tidak terlampau jauh masuk kedalam kehidupan nya. Karena aku sadar, aku bukanlah siapa-siapa untuk nya. Aku tak ingin paul semakin berharap lebih kepada ku, karena aku tak ingin membuat nya kecewa.
  "Nagita,,,?" Tanya paul lagi
  "Paul, aku..."
  "Katakan lah, nagita..?"
  "Apa aku yakin dengan keputusan ku..?" Pikir ku. Aku sedikit mengatur nafas ku, sebelum akhirnya...
  "Paul, aku sangat menghargai mu. Tapi, terlalu banyak hal yang tak kamu ketahui tentang aku. Dan aku rasa, itu tidak mudah."
  "Aku tahu. Dan aku siap untuk melakukan nya. Asalkan kamu mau menuntun ku untuk lebih mengenal kehidupan mu."
  "Paul.. "
  "Nagita,, percayalah. Aku bisa membuktikan nya." Ucap paul yang berusaha meyakinkan ku atas apa yang disampaikan soal perasaan nya kepada ku.
  "Paul, aku mengerti. Dan aku percaya kamu bisa melakukan nya. Tapi, kenyataan berkata lain. Kita berbeda, paul. Dan aku bukan wanita yang cocok untuk berdiri disamping kamu. Maafkan aku paul.."
  "Tapi nagita..." ucapan paul pun terpotong saat dering handphone ku yang terdengar sangat nyaring. Dan benar saja, ternyata key menelpon ku. Sudah saat nya aku pergi.
  "Maaf paul, aku harus pergi.."
  "Nagita, aku mohon pikirkan lagi. Aku tak akan memaksa mu untuk menjawab pertanyaan ku sekarang. Tapi tolong pikirkan lagi." Ucap paul
  "Terimakasih paul,, tapi maafkan aku, sekarang aku harus pergi." Aku pun segera bergegas untuk pergi. Mengingat sudah waktu nya key pulang. Bahkan seperti nya aku akan telat untuk bisa sampai sana. 10 menit lewat, bahkan kini...??
  "Astaga.. ini sudah jam berapa??" Bathin ku
  "Pak, apa tidak ada jalan lain selain ini?"
  "Maaf non, ini jalan sudah yang paling cepat menurut bapak. Apa sebaiknya kita putar balik saja non, cari alternatif lain?"
  "Tidak perlu, pak. Lebih baik lanjutkan saja." Aku sengaja tak membawa mobil, karena aku pikir lebih cepat menggunakan taxi. Tapi tenyata aku salah, malah macet tak terhindarkan yang ku dapat. Dan keadaan yang memaksa ku untuk tetap bersabar, meski kini rasa cemas mulai menyelimuti hati ku. Hingga saat nya aku tiba, ku lihat sekitar, bahkan di sekeliling nya, tak nampak lagi aktifitas sekolah disana. Semua sudut terasa sunyi, sepi.. lalu dimana key saat ini?? Aku mulai mencari keberadaan nya. Menanyakan kepada penjaga sekolah, satu hal yang selalu aku lupakan. Mungkin itu karena aku terlalu panik. Hingga aku lupa, sesungguhnya ada yang lebih tahu soal ini.

  "Maaf, apakah ibu sedang mencari seseorang?" Ucap penjaga sekolah itu
  "Tentu,, apa bapak tahu dimana dia? Apakah dia masih ada disini?"
  "Ibu tidak usah khawatir, apakah dia putri yang ibu maksud??" Ucap penjaga sekolah tersebut, seraya menunjuk kearah taman bermain.
  "Syukurlah, key masih disini. Rupanya key sedang bermain disana." Pikir ku.
  "Ibu tak usah khawatir seperti itu, bukan kah sudah ada yang menjemput nya?" Ucap penjaga tersebut
  "Maksud bapak apa?"
  "Loh, bukan kah lelaki yang bersamanya adalah suami ibu? Oh, iya. Tunggu sebentar. Ini dompet bapak, yang gak sengaja jatuh saat meminta saya untuk memarkirkan mobil nya. Silahkan di cek kembali" Ucap penjaga sekolah tersebut.
  "Tidak usah, terimakasih.. saya permisi.." aku pun segera berjalan untuk menemui mereka di taman. Namun ditengah perjalanan, aku tak sengaja menjatuhkan dompet yang sedari tadi aku genggam. Dengan segera aku ambil dompet itu, namun hanya karena ku raih ujung nya, maka lipatan-lipatan dalam dompet itu pun terlihat begitu jelas. Aku sempat tak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Apakah ini sungguhan? Ataukah cuma masalah penglihatan ku yang mulai terganggu ..?
  "Tapi foto ini..?" Bathin ku
FlashbackOn
  "Hai.. aku raffi, boleh aku duduk disini? Kebetulan aku sedang mencari objek untuk pengambilan gambar. Kamu mau jadi objek ku..?"
  "Memang kamu fotografer?"
  "Bukan,, tapi itu hobby ku."
  "Mengapa bukan mereka saja yang kau jadikan objek mu? Kenapa harus aku??"
  "Menurut ku, kamu lebih cocok."
  "Mengapa demikian?? Bukankah mereka lebih cantik dan menarik?? dan seperti nya mereka lebih berhak mendapatkan nya. Ya.. Mungkin kamu salah.."
  "Aku gak mungkin salah,,"
  "Heuh.. dasar aneh.."
  "Cekreeeekkkk.. Cekreeeekkkk"
  "Raffi, apa yang kamu lakukan?? Sini,,! kasih foto itu ke aku, atau.."
  "Atau apa? Katakan lah,, Makasih ya, aku suka. bye... "
  "Raffiiii .. !!"
FlashbackOff
Aku masih memandang lekat kearah foto itu. Foto yang pernah raffi ambil secara paksa, disaat aku baru saja mengenal nya.
FlashbackOn
  "Kamu tahu, aku masih menyimpan foto itu."
  "Untuk apa lagi? Bukan kah kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau? Kamu tak perlu lagi menyimpan foto itu. Aku milik mu, kamu tinggal datang kerumah ku, bila memang kau merindukan aku."
  "Tak semudah itu sayang. Perjuangan ku, dan penantian ku yang panjang untuk bisa mendapatkan mu, membuat ku tak bisa semudah itu untuk aku sia-siakan. Biarlah aku simpan foto ini. Dan aku tak akan pernah mengganti nya dengan yang lain, percayalah.. "
FlashbackOff
Masih teringat jelas dalam ingatan ku akan hal itu. Suatu pernyataan yang aku pikir, hanya ada didalam cerita dongeng. Rasa nya sulit untuk ku percaya, tapi itulah kenyataan nya. Aku mencoba untuk bisa mengontrol diri. Meski rasa nya sulit untuk bisa menutupi rasa itu. 
  "Mami...!" seru key. Aku pun segera mengusap air mata yang sempat menetes di pipi ku, menengadah kan sedikit seraya menyeka airmata ku, lalu berjalan kearah nya. Sebelum akhirnya, ku sambut key dengan rasa cinta. Ku peluk ia dengan rasa syukur, atas karunia yang telah Tuhan beri selama ini untuk ku.
  "Are you crying, mam?"
  "Emm, gak kok sayang. Mami bahagia... sangaattt bahagia. Apa yang kamu lakukan disini?? Kamu tahu?? Mami mencari mu sayang. Mami sangat mencemaskan mu. Mami takut terjadi sesuatu kepada mu. Kamu baik-baik saja, bukan??" 
  "Um'humm.. i am so happy, mam.." ucap key
  "Sungguh??"
  "Kamu sudah disini?"
  "Raffi..."
  "Kebetulan aku lewat sini. Dan aku hanya menemani nya bermain." Ucap raffi
  "Makasih, kamu sudah mau menemani nya. Aku tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi bila kamu tak disini. Mungkin aku..."
  "Ssssssttt... kamu tak usah memikirkan hal itu, karena aku tak akan membiarkan sesuatu terjadi pada nya. Kamu tenang saja. Aku akan selalu menjaga nya .." ucap raffi yang tersenyum kearah ku. Aku tahu, raffi begitu menyayangi putri nya, ia pasti menjaga nya dengan baik. Dan aku sangat percaya itu. 

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

Wednesday, November 4, 2015

Life in future with you--- part 13

Life in future with you--- part 13

 ("Dedy.." ucap key disela-sela tangis nya. Raffi pun langsung memeluk key dengan penuh cinta, mendekap erat dengan kasih yang mungkin selama ini belum pernah ia lakukan pada putri nya. 4 tahun menunggu untuk bisa merasakan hangat nya di peluk sang ayah, membuat ku sadar.. tak akan ada yang bisa menggantikan posisi di hati nya. Ikatan bathin pun tetap ada, darah yang mengalir pun begitu pekat terasa. Meski aku tahu, mungkin ini pemandangan yang belum pernah aku lihat sebelum nya. Huhhfff,, rasa nya hilang sudah beban ku dengan segenap rasa bahagia yang aku rasakan saat ini. Aku seolah larut dalam rasa haru, yang mungkin tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. Bahagia mu adalah bahagia ku, sedih mu adalah sedih ku, dan akan selama nya seperti itu, hingga nanti saat nya kamu mengerti, betapa aku sangat menyayangi mu, putri ku.. )

Aku hanya bisa tersenyum kearah nya, seraya menyilangkan kedua tangan tepat di dada. Aku berharap, kebahagiaan itu tak akan berakhir sampai disini. Berharap kelak akan ada kebahagiaan lain dihari-hari berikut nya.

  "Don't go away, dedy. Stay with me, please..? I don't want you away from me.." ucap key saat masih berada di pelukan nya.
Aku tahu, key pasti menginginkan raffi selalu berada disamping nya. Seperti anak-anak lain pada umum nya, yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari seorang ayah, yang mungkin saja tak pernah ia dapatkan dari aku selaku ibu nya..
  "Don't be afraid, ok?? I'm don't go anywhere. I'm here,, always be near you."
  "Would you promise me?" Key pun menatap nya dengan penuh harap, yang berharap dedy nya akan berkata "iya" atas pertanyaan nya. Dan akhirnya...
  "Ya.....I'm promise you." Jawaban yang selama ini key tunggu-tunggu. Raffi pun tersenyum kearah nya, mencium nya dengan penuh cinta.
  "Thank you.. Miss you, dedy. I miss you so much." Key pun kembali memeluk nya. Saat itu juga aku bahagia,,, Sangaaattt bahagia... Andai kalian tahu bagaimana perasaan ku saat ini..? Huuuffftt.. tapi aku bisa apa??? Aku hanya bisa menghela nafas panjang, hanya bisa memandangi nya, memandang lekat kearah nya, tanpa berani aku melangkahkan kaki untuk sedikit mendekat kepada nya. Tapi,,,
  "Mami...? Are you ok?"
Aku sama sekali tak bergeming. Aku seakan mematung, dan tak mendengar sedikit pun apa yang mereka katakan kepada ku. Yang ku rasa hanya sunyi.. entah kemana pikiran ku saat ini..??

  "Dedy..?"
  "Biar dedy yang bicara sama mami, Ok? Lebih baik kamu tunggu disini." Mungkin saat itu, raffi mulai perlahan jalan kearah ku.
  "Nagita..? Nagita..?" Ucapan nya pun seolah mengagetkan ku.
  "Raffi...?" Semua nya seakan terasa mimpi.
  "Apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu menangis..?" Raffi pun mulai mengusap lembut sisa airmata yang sempat mengotori wajah ku. Entahlah, sejak kapan raffi berada di depan ku, ia seakan mulai memperhatikan ku.
  "Emmm.. aku gak apa-apa" aku segera menepis nya.
  "Mami... dedy..." seru key
  "Kamu dengar?? Sedari tadi key memanggil mu, kasian dia,,,"
  "Maafkan aku.."
  "It's ok. Sebaiknya sekarang kita pulang. Karena kamu masih harus banyak istirahat."
  "Mami,, dedy,, let's go.." seru key mungkin ini untuk yang kesekian kali nya key memanggil ku.
  "Kamu lihat, rupanya dia sudah tidak sabar menunggu untuk cepat-cepat pulang. Baiklah,, ayo mami..?" Raffi pun mengulurkan tangan nya dihadapan ku. Aku sejenak terdiam, sedikit menoleh kearah nya. Aku sadar dengan apa yang raffi katakan....  Mami??? Apa mungkin ada yang salah dengan pendengaran ku saat ini?? Mungkinkah raffi salah memanggil ku dengan sebutan itu?? Atau....
  "Come on, mami..??" Seru key. OK!! Aku tak ingin mengambil pusing dengan apa yang raffi ucapkan sebelum nya. Aku tak ingin key menunggu ku terlalu lama. Hingga aku meng "iya" kan begitu saja uluran tangan raffi dan bergegas untuk pulang.

Sejak saat itu, raffi sering berkunjung ke rumah ku. Entah dengan alasan ingin bertemu key, atau ada hal lain yang membuat nya begitu intens untuk datang kerumah ku. Raffi terlihat begitu bahagia dengan dunia baru nya, dunia nya bersama key, membuat nya enggan untuk beranjak dari tempat dimana pun key berada. Setiap hari libur, raffi selalu mengajak nya jalan-jalan. Ya.. sekedar lunch atau dinner di luar. Atau hanya sekedar bermain ke taman komplek depan rumah ku. Dan mau gak mau aku harus ikut menemani mereka. Layak nya ibu yang sedang mengawasi anak-anak nya bermain. Aku duduk sambil memperhatikan setiap apa yang mereka ber 2 lakukan. Kadang sempat terlintas di benak dan pikiran ku, apakah ada seseorang yang bisa membuat key tersenyum lepas seperti yang raffi lakukan kepada nya?? Apakah ada seseorang yang bisa menyayangi key lebih dari kasih sayang yang raffi beri untuk nya?? Apakah ada seseorang yang bisa membuatnya merasa nyaman, senyaman key saat berada disamping raffi?? Apa sebaiknya aku terima saja lamaran raffi, hidup bersama nya, dan menjadi keluarga kecil yang seutuh nya..? Entah lah, mengapa aku bisa berfikir seperti itu. Aku melihat sekeliling taman, rupanya tak sedikit juga yang tersenyum memperhatikan ku. Bahkan melintas dan menyapa ku..
  "Kalian ini pasangan yang cocok ya..? Mari bu, kita duluan.." ucap seseorang yang aku sendiri tak begitu mengenal nya. Hingga aku hanya meringis, manggut-manggut  mendengar pernyataan dari setiap orang yang lewat dihadapan ku dan berkata yang sama dengan apa yang orang itu katakan. Mungkin mereka mengira, kita ini keluarga kecil yang bahagia. Andai mereka tahu yang sebenar nya..?? Tapi, jika mereka tahu apa yang sebenar nya terjadi, apa mungkin mereka akan berkata yang sama?? Entah lah, yang jelas aku masih belum bisa memberikan keputusan. Tapi, jika aku boleh berkata jujur... aku selalu merasa nyaman bila berada di dekat nya.
  "Kamu kenapa? Kok senyum-senyum sendiri..?"
  "Gak.. aku gak apa-apa."

Kehadiran raffi, seakan mampu mengubah segala nya. Segalanya yang biasa menjadi lebih berarti. Tawa, bahagia, canda selalu mengiringi apa yang sedang mereka perbuat. Kadang aku merasa jengkel dengan apa yang mereka lakukan, tapi itu semua cuma sesaat.. setelah itu mereka berusaha untuk bisa membuat ku tertawa dan melupakan apa yang sudah mereka lakukan kepada ku. Lucu juga pikir ku, tapi itulah kenyataan nya. Sifat dan kelakuan yang sama persis membuat mereka mudah bersatu. Mungkin benar, pepatah mengatakan "Buah jatuh tak akan jauh dari pohon nya" dan itu lah yang terjadi antara raffi dan key.

Malam itu, raffi datang kerumah ku, yang kebetulan hanya ada aku dan key saja dirumah. Mengetahui yang datang itu dedy nya, key pun langsung berlari kearah nya, dan menyambut kedatangan dedy nya dengan suka cita.
  "Dedy...?" 
  "Iya sayang.. Kamu apakabar? Kamu baik-baik saja, bukan?"
  "Um'humm.." key pun mengangguk pelan, aku tahu bagaimana penantian key menunggu kedatangan raffi malam ini. Mungkin mengalahkan segala nya. Ya.. memang sudah 3 hari ini raffi tidak bisa menemani nya bermain, karena disibukkan dengan beberapa pekerjaan nya dikantor. Hingga raffi harus meninggalkan key, dan tak bisa bertemu dengan nya untuk beberapa hari ini.
  "Kamu baru pulang?"
  "Emm.. iya, kebetulan aku ada meeting dengan paul." Ucap raffi
  "Kamu sudah makan?"
  "Um'humm.." raffi hanya menggelengkan kepalanya. Sudah ku duga, raffi pasti langsung bergegas kesini.
  "Lebih baik kamu makan dulu, biar aku siapkan makanan untuk mu. Kamu tunggu disini."
Aku pun menyajikan beberapa menu makanan yang memang sudah aku siapkan sebelum nya. Berhubung cuma ada aku dan key saja ber 2 pikir ku, maka aku tak begitu banyak menu makanan yang ku masak untuk dinner kita malam ini. Tapi bagaimana dengan raffi...? Tak pernah terlintas dibenak ku bahwa raffi akan datang malam ini, semua datang secara tiba-tiba. Dan mana mungkin aku membiarkan nya begitu saja. Aku tahu raffi lebih membutuhkan nya. Hingga aku hanya mengambil kan 2 piring untuk key dan raffi saja,, sedangkan aku.. ?? Hanya menemani mereka bersantap malam.
  "Kamu gak ikut makan??" Ucap raffi
  "Mana mungkin aku bilang yang sebenar nya kepada raffi..?" Bathin ku.
  "Mam,, mau aku suapin??" Ucap key
  "Emm.. gak, gak usah sayang. Mami masih kenyang. Kalian saja yang makan. Mami sudah makan kok.."
  "Benar begitu?? Kamu gak lagi bohong, bukan?" Raffi pun seolah menyudutkan ku. Tapi.. sudahlah, aku tak begitu menghiraukan perkataan nya. Aku tetap menemani nya, sampai akhirnya mereka selesai makan. Setelah itu, aku membiarkan raffi untuk menemani key bermain.
 
  "Kok sepi, key mana?" Ucap mama yang tiba-tiba saja muncul di belakang ku
  "Mama,, aku pikir siapa? Dia sedang bermain diruang tengah, bersama raffi."
  "Raffi..? Tumben malam-malam kesini, dari tadi??" Tanya mama ku lagi
  "Lumayan, ,"
  "Lalu kenapa kamu masih disini? Kamu gak mau temani mereka?" Mama pun menoleh kearah ku, seolah menatap ku dengan tatapan yang berbeda, seakan mengisyaratkan sesuatu kepada ku.
  "Biarlah mah, aku masih ingin disini. Lagi pula, sudah lama juga raffi tak bertemu dengan key. Biarkan mereka saling melepas rindu. Aku tak ingin menggangu mereka ber 2."
  "Kalo gitu biar mama yang temani mereka." Mama pun perlahan berjalan menjauh dari ku.
  "Mah.. mama.. tunggu!" seru ku. Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin aku ceritakan. Ini soal perasaan ku yang akhir-akhir ini kadang membuat ku sulit untuk berfikir. Aku mengikuti setiap langkah nya berharap aku bisa bercerita sedikit kepada mama.
  "Kenapa? Kamu berubah pikiran??" Ucap mama ku. 
  "Gak.. bukan itu, tapi..." aku pun sejenak terdiam, memotong pembicaraan ku, saat aku melihat key sedang asik bercanda dengan raffi. Sebenar nya ini bukan kali pertama nya aku melihat ke asikan mereka saat bermain, tapi.... Entah apa yang membuat ku merasakan hal yang berbeda. Yang jelas, aku bangga dengan apa yang raffi dilakukan belakangan ini.
  "Apa kamu tak ingin berada diantara mereka?" Ucap mama ku tiba2, rupanya mama pun sama-sama sedang memperhatikan mereka yang sedang asik dengan dunia baru nya. Bahagia,, ? sudah jelas terpancar dari kedua nya. Terlihat saat raffi mulai mendudukkan key di sofa, dan membacakan nya buku cerita sambil memeluk nya. Aku seakan tak percaya... 
  "Lalu apa yang ingin kamu katakan? Soal raffi..?" Tanya mama seakan mengagetkan ku.
  "Gak.. gigi cuma mau bilang, caca ada di apartemen sekarang."
  "Caca sudah memberi tahu mama soal itu." Ucap mama ku. Aku sengaja mengurungkan niat ku untuk sekedar bercerita kepada nya. Mungkin lain kali saja aku akan menceritakan nya. Karena aku tahu, jawaban mama pasti sama seperti yang sebelum-sebelum nya.
  "Kamu lihat,,? Begitu sabar nya raffi memperlakukan key. Hingga dalam keadaan lelah, raffi masih tetap mau mengajak nya bermain." Ucap mama ku. Aku sejenak terdiam, namun tak sedikit pun aku memalingkan pandangan ku untuk tetap memperhatikan nya.
  "Then what will happen after that?? Whether the princess will live happily with the prince, dedy?" Ucap key disela rasa letih dan kantuk nya.
  "Ya.. tentu. They will live together, and happily ever after.. Good nite sayang, have a nice dream my princess." ucap raffi
Itulah yang ku dengar dari sepenggal cerita yang raffi bacakan sebelum akhirnya key terlelap dalam pelukan nya. Dan raffi pun akhir nya pulang, mengingat malam semakin larut.
***
Pagi itu, aku tak begitu sibuk dengan apa yang aku kerjakan saat ini. Hanya beberapa berkas saja yang harus aku tandatangani, setelah itu...
  "Apa ada agenda lain setelah ini??"
  "Tidak ada, kebetulan semua jadwal pertemuan di cencel hingga beberapa hari kedepan." Ucap fara
  "Baiklah kalo begitu. Bisa tolong kamu panggil kan dinar untuk ke ruangan ku?"
  "Baik, saya permisi." Ucap fara. Aku sengaja menyuruh nya kesini, karena ada hal yang ingin aku ceritakan kepada nya. Kebetulan tak ada kesibukan lain, hingga aku bisa leluasa untuk sekedar ngobrol santai bersama dinar diruangan ku.

  "Kamu mencari ku??" Ucap dinar
  "Duduklah dulu,,"
  "Ngomong-ngomong apakabar dengan keponakan kecil ku? Aku sangat merindukan nya. Kapan-kapan aku kan mengajak nya pergi, boleh? Aku ingin mengajak nya ke suatu tempat." Ucap dinar yang mulai duduk di kursi depan meja kerja ku. Aku hanya tersenyum simpul kearah nya. 
  "Memang nya kamu mau ajak kemana dia? Lagi pula key tidak pernah bisa jauh dari ku. So, .."
  "Ya..ya.. aku ngerti. Akan ku pikirkan lagi bila harus mengajak mu. Bukan begitu maksud mu?? " Ucap dinar
  "Baguslah, akhirnya kamu mengerti maksud ku."
  "Lalu apa tujuan mu meminta ku kesini? Apakah ada hal yang serius?"
Aku mulai berjalan ke tempat yang lebih terlihat santai. Menarik nafas panjang, sebelum akhirnya aku memulai pembicaraan.
  "Din.. ?" Dan lagi-lagi ucap ku tertahan, aku seakan tak bisa mengungkapkan nya.
  "Apa? Katakan lah apa yang ingin kamu katakan kepada ku..?
  "Akhir-akhir ini aku bingung dengan perasaan ku sendiri."
  "Apa yang membuat mu bingung? Apa ini ada hubungan nya dengan kisah asmara mu??"
  "Asmara.. ?" aku hanya tersenyum kearah dinar yang mulai berjalan mendekati ku.
  "Ya maksud aku, apa ini ada hubungan nya dengan paul? Atau raffi?"
  "Mungkin,,"
  "Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
  "Entah lah din.. "
  "Ikuti kata hati mu, gi. Aku percaya, kamu lebih pandai memilih siapa yang berhak kamu pilih." Ucap dinar. Ya.. aku mengerti, tapi ini bukan masalah bagaimana memilih yang terbaik diantara yang baik, melainkan menyangkut masalah hati.
  "Gigi? Are you ok? Please, specify your choice from now. Don't make them wait long, ok? Kamu mengerti kan maksud ku?"
  "Ya.. aku mengerti."
  "Aku cuma ingin melihat mu bahagia gi, karena kamu berhak bahagia." Dinar pun langsung menyambut ku dengan pelukan nya, sedikit meredam perasaan ku dan mulai menenangkan pikiran ku.
  "Hidup itu pilihan. Life is all about making choices. Always do your best the right ones. And always do your best to learn from the wrong one. Ok?" Ucap dinar

Tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ketika diri sendiri merasa terlalu sepi untuk lari dari sunyi, namun terlalu enggan mencari yang mampu mendampingi. Seakan cinta di dalam dada terlampau berharga untuk diberikan begitu saja. Seakan kosong di dalam hati terlalu kecil untuk bisa kututupi sendiri, padahal tidak. Semua bagai berpura-pura, namun bukan begitu sebenarnya. Aku hanya takut terluka, sebab segala cinta yang ku kenal, belum ada yang berakhir bahagia. Semiris itukah cinta yang menghampiri hati? Atau aku yang tak berhati-hati menaruh hati?
Jika mencintai berarti memberi hati seutuhnya, aku tidak ingin mempertaruhkannya pada yang mahir meretakkan. Karena tidak pernah ada yang tahu telah sejauh apa aku memunguti serpihan itu satu persatu untuk mengumpulkannya, lalu menyatukannya lagi hingga sempurna, hingga tak ada luka. Setelah sembuh, lalu semudah itu seorang baru merobohkan hatiku hingga runtuh kembali?
Aku tahu, tak baik terus begini. Bagaimana bahagia itu bisa mendatangi, jika membuka hati saja aku tak berani? Dengan alasan apapun, yang punya awal pasti kelak berakhir. Meski sudah melangkah paling hati-hati, kuyakin ada saatnya hati akan sakit kemudian sembuh sendiri. Namun aku lelah bila terus menerus terjebak pada situasi yang sama. Seseorang datang, mendekat, bersama, sakit, lalu berujung aku, atau dia yang luka. Jika boleh memilih, akan aku buat jalan cerita itu sendiri, bak cerita dongeng yang akan selalu berakhir bahagia. Akan tetapi, ini bukanlah sebuah cerita fiksi, yang dengan mudah nya kita buatkan alur tanpa ada nya kerikil-kerikil tajam yang siap mengguncang para lakon nya. Tapi inilah yang dinamakan perjalanan hidup. Kaki bertugas melintasi, dan hati mempelajari apapun yang semesta beri. Sejuta tempat singgah, berkelana hingga berdiam di titik lelah, masing-masing dari kita pasti akan menemukan seseorang yang bisa disebut rumah.
Ini bukan soal akhir, bukan soal awal, bukan bagaimana memulainya dan bukan bagaimana caramu mengakhiri. Tapi ini tentang menjalani, bertahan dan mendewasa dalam setiap pilihan. Saat ini, tinggalah soal waktu. Tuhan hanya memberi sesuatu jika kita telah betul-betul siap memilikinya. Mungkin saja ada yang memang belum betul-betul siap, mungkin saja aku, mungkin saja dia, mungkin saja entah. Meyakini hal-hal semu memang tak mudah, tapi lebih baik daripada menjatuhkan diri pada kesedihan yang salah.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

Wednesday, October 28, 2015

Life in future with you--- part 12

Life in future with you--- part 12

 ("Lalu, kapan kamu akan membawa nya kesini??"
  "Aku sudah mengajak nya, tapi raffi belum ada waktu untuk menemui nya. Dia terlalu sibuk dengan urusan nya."
  "Mengapa demikian? Mungkin dia ada alasan lain yang kamu tak tahu??"
  "Entahlah, ada atau tidak, aku tak ingin memaksa nya."
  "Mama yakin, raffi bukan orang yang seperti itu."
  "Maksud mama??" Aku mulai bingung dengan apa yang mama ku katakan. Sebenarnya kemana arah pembicaraan ini??
  "Raffi ada di sini, dan ia ingin bertemu dengan mu." Ucap mama ku
  "Raffi..?" Pikir ku.)

  "Mana mungkin raffi kesini, mah. Mama bercanda, bukan??"
  "Untuk apa mama bercanda, sayang? Memang raffi ada disini, lebih baik kamu temui dia sekarang."
  "Tapi mah,, aku..."
  "Gi,,, hargai dia yg sudah meluangkan waktu nya untuk datang menemui mu disini. Dan mama rasa itu tidak mudah untuk nya sayang."
  "Apa maksud mama??"
  "Kamu mau tahu, bagaimana usaha nya untuk bisa sampai sini menemui mu?? Raffi kabur dari rumah sakit, nak.."
  "Rumah sakit?"
  "Ya.. Raffi sempat masuk rumah sakit kemarin. Dan raffi memaksa untuk pulang, yang seharusnya ia masih belum diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit.
Sesaat setelah kamu pergi, raffi jatuh dan sempat tidak sadarkan diri. Itu bermula saat pak tedi menemukan raffi dalam kondisi pingsan di tengah jalan. Malam itu, mama memang meminta pak tedi untuk mengantar semua pesanan baju ke salah satu butik mama yang ada di kawasan puncak. Dan seperti biasa pak tedi langsung bertolak dari bogor ke jakarta, dengan alasan ia tak ingin bermalam disana. Namun ditengah perjalanan ke jakarta, pak tedi melihat sesosok pria yang sedang berdiri di tengah jalan. Entah, apa yang ia lakukan disana. Beberapa kali pak tedi membunyikan klaksonnya, tapi sama sekali tak dihiraukan nya. Seolah ia tak mendengar apa yang pak tedi lakukan. Hingga akhirnya ia pun jatuh, tepat di hadapan nya. Bahkan kepala nya pun sempat cidera. Ia jatuh tepat mengenai kap mesin mobil mama. Dengan cepat, pak tedi langsung mengamankan nya, namun rupanya raffi tak sadarkan diri. Untungnya pak tedi masih mengenal baik sosok raffi, hingga ia langsung saja menghubungi mama. Saat itu...
  "Hallo,, ibu. Ini tedi.."
  "Iya, ada apa telephone ibu pagi-pagi gini..? Kamu sudah sampai jakarta?"
  "Em.. anu bu... e.. em.. anu.."
  "Kamu kenapa? Dimana kamu sekarang?"
  "Saya masih di puncak bu, tapi.... "
  "Tapi kenapa? Ingat tedi, pagi ini kamu harus tiba di jakarta. Karena ibu harus ke butik jam 09.00 pagi."
  "Iya, tapi gini loh bu, den raffi.."
  "Raffi?"
  "Iya den raffi, teman nya non gigi. Dia pingsan."
  "Pingsan? Pingsan kenapa? Mbo' yo kamu ngomong yang jelas toh ted..?? Ibu gak ngerti maksud mu."
  "Uwalahh.. tedi gak ngerti toh bu. Tiba-tiba saja den raffi pingsan di tengah jalan. Lalu apa yang harus tedi lakukan bu?"
  "Posisi kamu dimana sekarang? Apa ada rumah sakit terdekat disana, ato balai pengobatan mungkin??"
  "Jauh tenan to bu,, bu,, jangan kan rumah sakit, rumah penduduk wae jarang. Piye to iki bu..? Kasihan den raffi."
  "Ya sudah kalo memang memungkinkan, kamu bawa pulang saja ke jakarta. Dan segera kamu antar ke rumah sakit terdekat. Nanti kalo ada apa-apa hubungi ibu. Biar ibu yg tanggungjawab."
  "Baik bu.. Maturnuwun.."
Pak tedi pun membawa raffi ke salah satu rumah sakit terdekat di jakarta. Hingga raffi benar-benar ditangani khusus oleh dokter yang bersangkutan disana. Mama terus meminta pak tedi untuk memantau perkembangan nya, meski ia harus bersembunyi tanpa sepengetahuan raffi yang saat itu belum juga sadarkan diri. Namun perlahan tapi pasti, raffi kini mulai sadar. Bahkan ia mulai menanyakan keberadaan nya kini. Ia berusaha untuk melepaskan selang infus yang masih menancap kuat di pergelangan tangan kanan nya. Ia berusaha untuk bisa pergi dari tempat itu. Entah apa yang ingin dia lakukan, apa yang membuatnya enggan untuk berlama-lama disana. Meski dokter sudah melarang keras, tapi raffi tetap bersikeras untuk bisa keluar dari sana. Hingga akhirnya ia berhasil kabur, dan sekarang dia ada disini. Sebaiknya kamu temui dia, dan jangan kecewakan dia. Apa perlu mama ajak dia kesini..?"
  "Tidak usah mah, biarkan aku yang turun menemui nya."
  "Kamu yakin, kamu bisa?? Apa kamu kuat??"
  "Ya.. aku akan baik-baik saja.."
  "Baiklah... Sebaiknya kamu siap-siap, mama tunggu kamu dibawah" Mama pun pergi begitu saja. Aku sejenak terdiam, menelaah setiap ucapan mama kepada ku. Apakah benar yang dikatakan mama tentang raffi? Apakah yang raffi lakukan itu semua ada hubungan nya dengan ku?? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kini muncul dibenak ku saat ini.

"Raffi, kamu gak ikut pulang bersama ku?" 
 "Lebih baik kamu pulang dulu."
 "Kamu yakin gak apa-apa aku tinggal? Kamu terlihat sangat pucat, raffi?? Apa kamu baik-baik saja?"
  "Kamu tak usah khawatirkan aku. Kamu hati-hati dijalan. Jangan lupa kabari aku."
Masih terekam jelas dalam ingatan ku, saat berulang kali aku menanyakan kondisi nya. Mengajak nya untuk ikut bersama ku. Namun berulangkali juga ia mengalihkan pembicaraan nya. Apa mungkin raffi berbohong hanya untuk mengurangi rasa ke khawatiran ku pada nya?

  "Raffi kabur dari rumah sakit"
  "Raffi jatuh, dan sempat tidak sadarkan diri."

Sebenar nya apa yang ada di pikiran nya saat ini?? Mengapa ia lakukan itu..?? Mengapa ia lebih memilih untuk mengutamakan ku dari pada diri nya sendiri? Jika memang benar ia melakukan itu, aku rasa..... Ahh .. sudahlah, mengapa aku jadi memikirkan nya? Bertanya-tanya kepada diri sendiri yang sudah pasti tidak akan tahu jawaban nya. Kini aku harus segera turun untuk menemui nya. Bila perlu aku akan tanyakan hal ini langsung kepada nya.

  "Kamu sudah menunggu lama??"
  "Em.. lumayan.." ucap raffi datar, aku pun kini mulai duduk disamping nya. Memandang lekat tubuh nya yang kini berada persis disamping ku.
  "Bagaimana keadaan mu sekarang? Aku sangat mengkhawatirkan mu saat dinar menghubungi ku dan mengatakan kamu sakit."
  "Dinar??"
  "Ya.. Dinar." Ucap raffi
  "Ya Tuhan..." Pikir ku
  "Dia menelpon ku, memberi kabar kalo kamu sedang sakit. Maka dari itu aku kesini, hanya ingin melihat kondisi mu."
  "Dengan cara kabur dari rumah sakit?" Aku hanya memandang lekat kearah nya. Mencoba mencari-cari kebenaran atas rasa penasaran ku selama ini. Namun melihat dari ekspresi nya, seperti nya raffi benar-benar sulit untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
  "Raffi,, kenapa kamu lakukan itu?? Apa kamu gak lihat, bagaimana kondisi mu sekarang?"
  "Aku.. em.. aku.." raffi seolah tak bisa menjawab nya, hanya keringat bercucuran yang nampak di wajah nya. Kondisi badan yang belum terlalu fit, membuat raffi terlihat pucat. Dan... 
  "Awwww... " Aku memang sedikit menoleh kan wajah raffi kearah kiri. Ku lihat luka di pelipis matanya yang belum sempat mengering, dan masih terbalut perban basah bercampur darah.
  "Biar aku obati luka mu"
  "Nagita, kamu gak usah repot-repot. Aku gak apa-apa.." ucap raffi yang segera menahan ku untuk pergi.
  "Tapi raffi,,,??" raffi pun segera menepis tangan ku yang sempat mengenai luka nya. Dijauhkan nya tangan ku dari wajah nya, namun tidak untuk melepaskan genggaman nya. Raffi malah memegangi erat kedua tangan ku. Dan mendudukkan ku kembali sejajar dengan nya.
  "Percaya lah, luka ini tak akan terasa sakit lagi, karena sesungguhnya penawar sakit itu adalah kamu. Aku kesini, cuma untuk memastikan kondisi kamu. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu. Aku tak perduli dengan apa yang aku lakukan dan apa yang aku rasakan. Yang penting aku bisa menemui mu disini."
  "Raffi,,,, "
  "Sssstttt,,, Kamu gak usah cemas seperti itu. Ini cuma luka biasa, sebentar lagi juga kering. Percayalah, aku akan baik-baik saja" Ucap raffi yang tersenyum kearah ku. Ku menatap lekat kedua bola mata nya, yang seakan tak ingin aku khawatir dengan diri nya yg sekarang. Meski dengan kondisi nya yang seperti ini, raffi masih saja memikirkan ku. Bahkan ia sama sekali tak memikirkan bagaimana kondisi nya saat ini yang masih sama-sama membutuhkan perawatan intensif. Tapi meski begitu, raffi masih terlihat begitu tenang. Pembawaan nya yg santai mampu membuat ku percaya akan ucapan nya, kalo dia akan baik-baik saja. Hingga aku tak begitu khawatir melihat nya.

  "Oya, aku punya sesuatu untuk mu. Kamu tunggu disini. Jangan kemana-mana. Aku akan kembali.." raffi pun pergi, entah kemana. Yang jelas, aku melihat raffi yang berjalan keluar. Seolah ia ingin mengambil sesuatu didalam mobil nya. Dan jelas saja...
  "Kamu..?"
  "Kamu menyukai nya..?"
  "Raffi,, kamu masih sempat belikan ini untuk ku??" Ya.. raffi memberikan se ikat mawar putih untuk ku. 
  "Aku tahu, aku salah. Maafkan aku yang sudah membuat mu cemas. Nagita, aku tak akan memaksa mu untuk mencintai ku. Tapi izin kan aku untuk selalu ada di dekat kamu, disaat kamu membutuhkan ku. Aku janji, aku tak akan mengulangi nya lagi. Kamu gak usah khawatir, aku akan selalu ada untuk kamu, yang siap menjaga dan melindungi kamu sampai kapan pun itu.." Ucap raffi yang tersenyum kearah ku, dan menyambut ku dalam dekapan nya. Seakan melepaskan rindu dalam belaian nya. Mungkin benar, cinta selalu membuat kita merasakan hal-hal aneh, tapi nyata. Saat kita bertemu dengan orang yang kita suka, bahkan melihat nya saja mampu membuat hati berdegup kencang. Kita selalu menunggu nya, selalu mencoba mencuri perhatian nya. Tak jarang kita bahkan melakukan hal yang terasa bodoh hanya untuk melihat nya tersenyum atau membuatnya bahagia. Seperti yang raffi lakukan akhir-akhir ini. Jatuh cinta memang indah rasa nya, melewati malam dengan do'a dan harapan. Rindu yang tak pernah usai, atau genggaman jemari yang begitu hangat terasa. Cinta memang sulit untuk ditebak, namun kenangan akan selalu hadir apapun bentuk nya. Lalu, apakah aku mulai jatuh cinta kepada nya? Apa cinta itu hadir kembali di hati ku? Aku memang tak pernah menghapus semua tentang raffi. Baik itu kebaikan nya ataupun keburukan nya, karena bagaimanapun juga raffi pernah menjadi seseorang yang paling berarti dalam hidup ku. Meski ku tahu, hingga saat ini raffi masih mencintai ku. Sedangkan aku...? Entah lah.. yang jelas, saat ini aku mulai terhibur dengan kehadiran nya. Apa yang raffi lakukan mampu membuat mood ku membaik dari sebelum nya. Seperti yang kita rasakan saat ini..
  
  "Apa itu foto key..??" Ucap raffi disela-sela kita berbincang di ruang tengah. Aku memang sengaja memajang foto berdua bersama key di samping meja tv, karena kebetulan semua pigura sudah penuh dengan foto-foto aku dan caca, hanya ada 2 pigura yang masih kosong, hingga aku letakan tepat disamping nya.
  "Iya.. itu aku dan key. Foto yang aku ambil 1 tahun lalu, saat aku masih di australi."
  "Lalu dimana dia sekarang? Apa aku boleh bertemu dengan nya?"
  "Tentu.. tapi .. astaga!" Aku menoleh kearah jam yang bertengger di dinding tempat ku berada saat ini.
  "Klung.. klung.. klung.. " 
  "Aku gak bisa jemput key di sekolah. Aku ada meeting siang ini. Apa kamu bisa menjemput nya? Aku takut key sudah menunggu lama." Ucap caca dalam bbm nya. Mau gak mau aku yang harus menjemput nya.
  "Raffi, aku bisa minta tolong kepada mu?"
  "Katakan lah.."
  "Aku harus menjemput key di sekolah. Apa kamu bisa menemani ku kesana? Aku takut dia sudah menunggu terlalu lama."
  "Lebih baik, kamu siap-siap. Aku tunggu kamu di mobil" Ucap raffi yang dengan segala kerendahan hati nya mau menemani ku untuk menjemput key yang mungkin ini kali pertama nya untuk raffi akan bertemu dengan putri nya.

  "Gi,,.." raffi pun menahan ku, saat aku hendak turun dari mobil nya.
  "Ya..?"
  "Aku.. emm.. aku rasa, aku belum siap untuk menemui nya."
  "Mengapa begitu?? Bukan kah kamu menginginkan nya?" Aku pun menoleh kearah raffi yang masih enggan untuk berbicara dan mengatakan yang sebenarnya.
  "Raffi,,??"
  "Aku gak pantas menjadi seorang ayah untuk nya, mungkin aku bukanlah ayah yang baik untuk nya." Suatu jawaban yang membuat ku yakin, kalo di dalam pribadi yang tenang, terdapat rasa takut yang teramat dalam bagi nya.
  "Raffi, kamu belum mencoba nya. Kamu tahu, dia sangat merindukan mu? Apa kamu tega membuat nya kecewa dengan apa yang kamu lakukan?"
  "Ya.. aku tahu itu. Tapi aku takut gi..." ucap raffi, aku tahu ini tak mudah untuk nya. Rasa takut akan diterima baik atau tidak nya kini mulai masuk dalam pikiran nya. Seolah mengalahkan rasa rindu yang selama ini ia rasakan. 
  "Biar aku yang bicara dengan nya, lebih baik kamu tunggu disini." Aku pun meminta nya untuk tetap stay di mobil. Biarkan aku yang menemui nya, dan sedikit memberi nya pengertian sebelum akhirnya key benar-benar bertemu dengan nya.

  "Mamiiii..." terdengar teriakan yang tak asing di telinga ku. Ku melihat kearah pintu masuk, dan benar saja, key sudah menunggu ku. Entah sejak kapan ia berdiri disana, mungkin aku yang terlalu lama sampai, hingga ia terlihat begitu cemas.
  "I'm afraid, mami." ucap key yang kini berada dipelukan ku. Aku tahu, key pasti sudah menunggu ku sejak lama. Hingga wajar rasa nya jika key berkata seperti itu.
  "Maafkan mami sayang. Sekarang kamu tenang yah? Mami ada disini. Kamu jangan takut lagi, ok?"
  "Ya, mam.." Ucap key yang kembali memeluk ku.
  "Sekarang, mami punya kejutan untuk mu. Tapi key harus janji 1 hal sama mami."
  "Apa?"
  "Mami ingin, key akan selalu ingat pesan-pesan mami, untuk jadi anak  baik, yang selalu mami banggakan. Kamu setuju??"
  "Um'humm.. lalu apa kejutan nya" key pun begitu bersemangat untuk mendengar apa yang akan aku katakan kepada nya
  "Ok. Sekarang, mami tanya 1 hal. Apa key mau bertemu dengan dedy?"
Sejenak key terdiam, semangat yang baru saja ia rasakan kini berubah menjadi hening. Key hanya diam, tak bergeming. Key hanya menatap ku, tanpa 1 kata pun yang keluar dari bibir nya. Mungkin rasa kecewa sempat singgah di hati nya, hingga ia tak ingin merasakan kekecewaan untuk yang kesekian kali nya.
  "Sayang,, Do you hear me?"
  "Ya... i hear you, mam" Ucap key
  "Sayang,,,, Dengarkan mami nak, dedy ada disini. Bahkan dedy yang mengantar mami untuk datang menjemput mu."
  "Are you seriously?" Ucap key yang mulai menatap ku, menunggu kepastian atas perkataan ku.
  "Ya.. Dedy ada di mobil sayang. Dedy sengaja tidak ikut turun, karena dedy ingin memberi kejutan untuk mu. Sekarang, key mau bertemu dengan nya?? Datanglah pada nya sayang, dan ucapkan salam untuk nya. Karena dedy, sudah menunggu mu disana." Aku pun menunjukkan tempat dimana raffi memarkirkan mobil nya. Dan perlahan key pun bergerak menjauh dari ku. Mencoba mengikuti perintah ku untuk datang dan menemui raffi yang sedari tadi menunggu nya disana. Raffi nampak begitu cemas menunggu ku, terlihat saat raffi mulai mondar-mandir kesana-kemari. Mungkin dengan begitu, rasa cemas nya akan hilang dengan sendiri nya. Tapi sepertinya, itu tidak berlaku untuk nya.
  "Lebih baik aku tunggu di dalam mobil saja." Pikir raffi
  "De..dy...?" Ucap key pelan, namun cukup membuat raffi terdiam. Terdiam untuk beberapa saat, hingga akhirnya raffi pun berbalik kearah ku. Yang mungkin jarak nya hanya beberapa meter saja dari tempat dimana ku berdiri.
  "Mami,,, " Key pun berlari kearah ku. Memegang erat kedua tangan ku, seolah tak ingin jauh dari ku. 
  "Ayo lah sayang, jangan kecewakan dedy." Perlahan ku lepaskan jemari nya yang mulai menguat di tangan ku. Ku biarkan key untuk berjalan sendiri, mendekat kearah raffi. Hingga akhirnya tepat dimana key berada pada 1 garis lurus dengan raffi. Bahkan kini raffi bisa melihat jelas wajah putri nya dengan jarak yang begitu dekat.
  "Hai princess?" ucap raffi yang mulai terbata-bata. Raffi mencoba untuk bisa menahan semua perasaan nya. Menahan semua ego nya untuk tidak terlalu berharap bila key akan menerima sebagai ayah biologis nya. Raffi sadar atas apa yang pernah dilakukan nya, raffi tak bisa memaksa key untuk bisa menerima kehadiran diri nya. Hingga akhirnya raffi perlahan mulai bangkit dari tempat persinggahan nya, mencoba untuk menjauh dari hadapan nya. Namun seketika saja,,, 
  "Jangan pergi.. " ucap key yang menahan kepergian nya. Bahkan jemari tangan nya mampu membuat raffi tertahan untuk beberapa saat.
  "Aku mohon, jangan pergi.." ucap key lagi. Dengan segenap perasaan nya, raffi pun berbalik kearah key yang masih mematung di hadapan nya. Tangan nya yang mungil itu berhasil di rengkuh oleh raffi, dan menuntun nya untuk lebih dekat lagi dengan nya. Raffi mulai menatap wajah key yang saat itu hanya berjarak beberapa senti saja dari wajah nya. Membelai nya, dan sesekali mengusap airmata key yang sempat menetes di pipi nya. 
  "Dedy.." ucap key disela-sela tangis nya. Raffi pun langsung memeluk key dengan penuh cinta, mendekap erat dengan kasih yang mungkin selama ini belum pernah ia lakukan pada putri nya. 4 tahun menunggu untuk bisa merasakan hangat nya di peluk sang ayah, membuat ku sadar.. tak akan ada yang bisa menggantikan posisi di hati nya. Ikatan bathin pun tetap ada, darah yang mengalir pun begitu pekat terasa. Meski aku tahu, mungkin ini pemandangan yang belum pernah aku lihat sebelum nya. Huhhfff,, rasa nya hilang sudah beban ku dengan segenap rasa bahagia yang aku rasakan saat ini. Aku seolah larut dalam rasa haru, yang mungkin tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. Bahagia mu adalah bahagia ku, sedih mu adalah sedih ku, dan akan selama nya seperti itu, hingga nanti saat nya kamu mengerti, betapa aku sangat menyayangi mu, putri ku..

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

Monday, October 19, 2015

Life in future with you--- part 11

Life in future with you--- part 11

 ("Dedy??"
  "Ya, dedy.. Kamu sangat menyukai nya, bukan??"
  "Ya.. Aku sangat menyukai nya. Tapi kenapa bukan dedy yang memberikan lagsung untuk ku? Kenapa harus mami??"
  "Dedy ada keperluan lain sayang. Tapi dedy janji, secepat nya dedy akan datang kesini."
  "Really??" tanya key
  "Ya sayang,, dedy juga titip salam untuk mu. Kata nya salam sayang untuk my princess."
  "Thanks mam, love you.." morning kiss itu pun mendarat di kedua pipi ku. Itulah yang mungkin tak didapatkan oleh para ibu yang ada di dunia ini. Key memang begitu manis memperlakukan ku. Kadang dibalik sifat manja nya, terselip kedewasaan yang tak jarang membuat ku bangga.)

  "Sekarang key siap-siap, kita turun. Oma dan aunty pasti sudah menunggu kita dibawah untuk sarapan."
  "Baiklah..."
Hari itu, memang tak ada kegiatan lain selain duduk bersantai. Setelah semua pekerjaan rumah aku selesaikan dengan cepat. Hingga aku bisa memiliki waktu yang cukup untuk sejenak merilekskan tubuh yang masih terasa sakit. Mungkin itu semua karena 2 malam terakhir ini aku kurang tidur. Hingga aku merasakan sedikit pusing. Aku menyandarkan tubuhku yang mulai lemas di sofa panjang. Berharap ini cuma pusing biasa, dan pasti nya tidak akan terjadi apa-apa pada ku.
  "Mba... Kamu kenapa??" aku sempat terkaget. Entahlah, sejak kapan caca berdiri dan berada di hadapan ku. Bayangan ku sempat kabur, hanya gelap yang ku rasa saat itu. Sampai akhirnya aku sadar, bahwa caca sudah berada persis disamping ku.
  "Kamu baik-baik saja??" ucap caca lagi yang mulai duduk disebelah ku. Aku sedikit memperbaiki posisi duduk ku.
  "Aku gak apa-apa." 
  "Kamu yakin?!" tanya caca lagi. Mungkin ia kini mulai memperhatikanku dan seperti nya caca mulai khawatir dengan keadaan ku.
  "Ya,tentu... Key mana??" saat aku tak melihat key disampingnya. Sekaligus mengalihkan kecurigaan caca terhadap ku.
  "Ada.. Dia lagi asik dengan mainan baru nya. Aku dengar itu dari raffi, benar begitu??" Aku tahu, key pasti sudah bercerita kepadanya. Dan pasti nya caca mulai kepo dengan semuanya.
  "Ya.. " suatu jawaban singkat, berharap caca tak akan mengingtrogasi ku dengan pertanyan lain tentang nya. Tapi... Sepertinya aku salah. Karena percuma saja, caca malah melontarkan beberapa pertanyaan kepada ku soal raffi
  "Lalu, bagaimana dengan hubungan mu sendiri? Sudah kah ada titik terang diantara kalian?"
  "Huuuffttt.." pikir ku,
  "Entahlah, aku pun masih ragu."
  "Ragu?? Aku pikir dengan begitu kamu akan menerima nya kembali, dan hidup bahagia dengan keluarga kecil mu." ucap caca, aku hanya menaikkan bahu ku dan menurunkan nya kembali.
  "Aku tak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Biarlah mengalir dengan sendiri nya. Kalaupun aku kembali dengan raffi, maka aku pun akan memilih waktu yang tepat untuk mengatakan itu semua."
  "Kamu terlihat sangat pucat.." ucap caca
  "Sungguh??"
  "Em'heum.. Sebaiknya kamu istirahat.." ucap caca
  "Ya, sepertinya begitu.. tapi.. bagaimana dengan key??" aku pun menoleh kearah key yang sedang asik bermain dengan boneka baru nya. Ini hari liburku, hari dimana selalu aku tunggu untuk bermain dengan nya. Mana mungkin aku melewatkan 1 hari bersamanya.
  "Biar aku yang jaga dia. Lagi pula, kamu belum istirahat, bukan??"  
Ya.. Memang benar. Sepulang nya dari puncak aku langsung beres-beres, hingga aku belum sempat istirahat. Dan mungkin benar apa yang diucapkan caca. Aku harus istirahat, sebelum semua nya terlambat.
  "Baiklah, aku ke kamar dulu."
Aku pun langsung naik ke kamar. Rasa nya aku tak sanggup lagi untuk berjalan. Hingga aku hanya bisa berbaring diranjang. Berharap dengan begitu, sakit yang ku derita akan hilang dengan sendiri nya. Ku coba untuk memejamkan mata, namun seperti nya aku tak bisa. Entahlah, apa yang membuat ku sulit melakukan nya, sebenarnya apa terjadi pada diriku saat ini?

  "Tok... Tok... Tok.." begitu nyaring terdengar di telingaku. Ketukan itu berkali-kali terdengar oleh ku.
  "Siapa?"
  "Ini mama sayang.." ya.. rupanya mama sudah pulang.
  "Silahkan masuk mah.." aku pun mempersilahkan mama untuk masuk, meski aku tak bisa membukakan pintu untuk nya.
  "Mama ganggu istirahat kamu??" Mama mulai berjalan mendekati ku. Mungkin mama sudah mendengarnya dari caca tentang aku.
  "Gak mah, lagi pula aku cuma rebahan saja. Mama baru pulang??"
  "Iya, tadi ke butik. Kamu sakit?"
  "Aku cuma pusing sedikit.. Mungkin sebentar lagi reda. Mama tenang saja." aku mencoba untuk menutupi sakit itu dari mama. Berharap mama tidak lagi cemas memikirkan ku. 
  "Jangan pernah menganggap sepele akan sakit mu. Mama paling gak suka kamu bohongin mama akan hal itu" mama pun mulai menatap ku serius. Seolah mama tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku memang tak bisa menyembunyikan 1 hal apapun dari mama. Hingga aku seolah tak bisa berkata apa-apa lagi kepadanya.
  "Apa perlu mama antar kamu ke rumahsakit??"
  "Mah,, aku cuma pusing biasa. Sebentar lagi juga sembuh. Mama tak usah khawatirkan aku seperti itu. Percayalah, tak ada yang serius, aku hanya butuh istirahat."
  "Kamu yakin?? Kali ini kamu gak bohongi mama??"
  "Ya.. " aku pun tersenyum kearahnya, setidaknya aku bisa meyakinkan nya untuk saat ini. Meski ku tahu, apa yang aku lakukan itu salah. 
  "Kamu sudah makan? Biar mama ambilkan makanan."
  "Gak usah mah,,"
  "Tapi kamu belum makan dari siang, sayang! Gak.. gak.. pokoknya sekarang kamu harus makan" Aku tau mama begitu mengkhawatirkan kondisi ku. Suatu niatan baik seorang ibu yang pastinya akan dilakukan oleh ibu-ibu lain yang ada di dunia ini. 
  "Mah... Aku gak mau makan."
  "Lalu kamu mau apa??" ucap mama ku.
  "Aku... aku cuma ingin mama duduk disini, dan temani gigi. Mama mau menemani ku disini..?" mama hanya tersenyum kearah ku, dan mengusap ujung kepala ku. Aku tahu, mama gak mungkin menolak permintaan ku. Setidaknya aku gak sendirian di kamar, ada mama yg selalu menemani ku, dan menjaga ku dikala ku sakit. Meski ku kini sudah menjadi seorang ibu. Walaupun kini aku sudah tak lagi menjadi puteri kecilmu, tapi aku masih ingin dimanja oleh mu, menjadi nagita yang dulu. Yang selalu bisa dibelai oleh kelembutan tangan seorang ibu.

Saat garis keriput sudah mulai tampak di wajahnya, helaian putih sudah mulai tumbuh di rambutnya, dan kulitnya pun sudah tak lagi selembut dulu. Aku tahu kalau dirimu sudah tak lagi muda, dan aku sadar usiamu sudah semakin tua. Terkadang aku melihat ada kesedihan yang tersirat dari senyumanmu, ada tawa yang terasa hampa, dan ada air mata yang kadang jatuh membelai pipimu. Kadang aku ingat akan jasamu, saat kau menyuapiku, menyisir rambutku, memakaikan bajuku, menggunting kukuku, menggendongku di punggungmu, membacakan buku cerita sebelum aku tidur. Bahkan saat kau mengajariku berjalan, berbicara, membaca, mengikat tali sepatu, sampai mengajariku memakai baju dengan kesabaran yang penuh kasih sayang. Dan sampai saat ini, aku telah memberimu seorang cucu, kau tetap mengajariku untuk menjadi pribadi yang baik. Menjadi seorang anak yang berbakti, dan menjadikan nya orang-orang yang berhasil. Tak ada pengajar yang lebih baik darimu untuk hidupku. Kini aku tlah tumbuh dewasa, bahkan aku sudah memiliki hidupku sendiri. Kini aku pun mulai merasakan apa yang engkau rasakan selama ini. Bagaimana engkau didik putri-putri mu hingga mereka tumbuh dewasa. Dan itu tak semudah yang ku bayangkan. Semua itu butuh perjuangan. Meski kadang aku merasa bosan dengan segala aturan mu. Tapi perlahan aku sadar, apa yang kau ajarkan selama ini membuat hidupku lebih terarah. Dan kini, aku benar-benar mengulangi apa yang kau lakukan dulu kepada ku. Yang kini ku terapkan itu pada putri kecil ku.
Walau waktu semakin berlalu, ketulusan dan kasih sayangmu masih tetap sama, tak ada satupun yang berbeda. Aku sadar kalau kini kau sudah lanjut usia, aku sadar kalau kini kau sudah tak sekuat dulu, tubuhmu semakin ringkih, perasaanmu semakin sensitif, dan pemikiranmu selalu diselimuti oleh kecemasan. Maafkan aku, jika selama ini banyak waktu yang tak ku luangkan untuk bersamamu, banyak kesempatan yang ku lewatkan hanya untuk berbicara denganmu, dan banyak keegoisanku yang selalu mengedepankan keinginanku tanpa memikirkan perasaanmu.
  "Mah .. "
  "Iya, sayang??" ucap mama yang masih membelaiku dengan sentuhan lembut tangan nya.
  "Maafkan aku..... Maaf jika aku belum bisa membahagiakan mu dengan apa yang aku miliki salama ini." kalimat yang sebenarnya sudah lama ingin aku sampaikan kepada mama. Mungkin, aku terlalu egois. Selama ini, aku hanya mementingkan diri ku sendiri. Tak memperdulikan bagaimana perasaan orang-orang disekitar ku, terutama mama. Bahkan aku lupa kapan membuatnya tersenyum bahagia seperti dulu. Seperti saat aku mendapat peringkat 1 di sekolah, saat aku memperoleh penghargaan olimpiade Sains dan Matematika ditingkat provinsi, bahkan masih banyak lain nya. Hingga papa harus membuatkan 1 almari khusus untuk menyimpan semua penghargaan-penghargaan yang berhasil ku peroleh, itu pun rasa nya tak cukup untuk menampung semua nya.
Namun, seketika saja keceriaan itu berubah menjadi awan gelap. Kejadian yang aku alami beberapa tahun yang lalu seakan mengubah semua nya, mengubah keadaan menjadi 180 derajat dari biasa nya. Apa yang aku lakukan sudah membuatnya benar-benar kecewa. Dan itu lah alasan mengapa awan mendung selalu menyelimuti hati dan perasaan nya hingga kini. Meski mama tak pernah mengungkapkan itu, dan selalu mencoba untuk menutupi semua nya dari ku, tapi aku sadar, aku salah. Hingga wajar jika aku meminta maaf kepada mama, meminta maaf atas apa yang pernah aku lakukan kepada nya. Berharap suatu saat nanti aku bisa mengubah tangis dan kesedihan mu itu menjadi tawa bahagia. Mama mulai menatap ku serius, seolah sibuk merangkai kata. Sebelum akhirnya...
  "Sayang,, dengarkan mama nak.
Mama sudah cukup bahagia dengan kalian yang sekarang, yang kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa. Kebahagiaan kalian, adalah kebahagiaan mama. Dan mama akan melakukan apapun untuk bisa membahagiakan kalian. Percayalah, mama akan selalu ada untuk kalian. Jangan pernah berfikir seperti itu, karena mama gak pernah berharap lebih. Cukup kalian berada di dekat mama, itu semua lebih dari apa yang mama inginkan selama ini." mama pun langsung memeluk ku. Mendekap erat tubuh ku. Kasih sayang yang kau beri untuk kedua putri mu sangat lah besar. Hingga aku selalu berfikir bagaimana cara untuk bisa membalas semua apa yang kau beri untuk ku selama ini. Tapi rupanya itu semua tak cukup untuk menggantikan seluruh letih mu, dan perjuangan mu selama ini. Memang benar, jika kasih ibu itu sepanjang masa. Karena sampai kapan pun beliau akan tetap menyayangi mu. Aku selalu berharap, tak akan ada lagi airmata yang kau teteskan hanya karena kesalahan ku. Karena aku hanya ingin selalu melihat senyumanmu, aku ingin selalu merasakan kehangatanmu. Terimakasih atas segalanya yang telah engkau berikan dalam hidupku ini. Terimakasih atas segala do'amu yang menyebutkan namaku, dan Kau akan selalu menempati posisi teratas dalam hatiku, dan namamu akan selalu aku sebut di setiap do'aku.

****
Keesokan hari, aku masih terkulai lemas di tempat tidur ku. Tapi aku masih ingat dengan tanggungjawab ku dikantor. Hingga aku memutuskan bersiap-siap untuk pergi ke kantor pagi itu juga. Meski masih dengan keadaan sakit seperti ini.
  "Kamu mau kemana?? Lebih baik kamu istirahat, mama sudah panggilkan dokter untuk mu" ucap wanita paruh baya yg tiba-tiba saja masuk kedalam kamar ku.
  "Mama..?" Pikir ku, padahal aku baru saja hendak turun dari tempat tidur dan ingin bersiap-siap ke kantor. Tapi bagaimana dengan mama...???
  "Kali ini kamu harus dengarkan apa kata mama."
  "Tapi mah..."
  "Tetaplah disitu, dan jangan memaksakan diri untuk pergi, karena itu akan membahayakan mu."
Apa yang bisa ku lakukan sekarang?? Yang ada aku hanya diam, dan menunggu hingga dokter datang dan selesai memeriksa kondisi ku saat ini.
  "Bagaimana keadaan putri saya dok? Apa dia baik-baik saja?" Ucap mama ku sesaat setelah dokter melepaskan alat tensimeter di lengan kanan ku. Kecemasan itu terlihat dari wajah nya yang menatap serius kearah dokter yang sibuk memeriksa keadaan ku saat itu.
  "Tidak ada yang serius. Ibu tidak usah khawatir. Dia cuma kelelahan. Saya akan memberinya multivitamin, sebaiknya diminum. Dan jangan lupa perbanyak istirahat, karena itu akan mempercepat kesembuhan nya." 
  "Baiklah dok, terimakasih.." dan dokter itu pun pergi.

  "Kamu dengarkan apa yang dokter katakan barusan?" Mama menatap ku tajam, seakan memberi ku peringatan keras untuk tidak beraktifitas seperti biasa terlebih dahulu. Ya... seperti nya aku harus off dari kantor untuk sementara waktu, hingga nanti sampai kondisi ku membaik.
  "Mam.. " key pun berjalan pelan kearah ku yang masih terduduk di tempat tidur. 
  "Oma, mami kenapa? Mami sakit ya?" Ucap key
  "Sini sayang, key mau sekolah ya?"
  "Mami belum jawab pertanyaan ku, apa mami sakit?" Tanya key lagi
  "Mami gak apa-apa sayang"
  "Sungguh?? Mami gak lagi bohong kan??" Ucap key lagi
  "Ya ... Just plain dizzy sayang. Sebentar lagi juga mami akan sembuh, kamu jangan khawatir ya..?"
  "Key sayang mami, key gak mau lihat mami sakit." Seraya memeluk ku dengan erat.
  "Key, biarkan mami istirahat sayang. Key ikut oma yuk, kita sarapan." Ucap mama ku
  "Tapi oma,,, aku masih ingin tetap disini." Ucap key 
  "Baiklah, oma akan meminta tolong bi inah, untuk membawakan makanan nya kesini." mama pun pergi kebawah, untuk menyiapkan beberapa makanan untuk kita berdua. Sedangkan aku dan key duduk manis diatas ranjang sampai bi inah pun datang dengan membawa makanan yang sudah mama siapkan sebelum nya. Sebelum akhirnya key pergi ke sekolah, dan meninggalkan ku sendiri didalam kamar.
Sungguh, sesuatu yang sangat menjenuhkan. Tak ada yang bisa aku kerjakan disini. Dan aku tak biasa untuj berdiam diri seperti ini. Apalagi harus istirahat total tanpa ada kesibukan yang biasa aku lakukan dan kerjakan setiap hari.

  "Din,, apa yang harus aku lakukan?"
  "Maksud kamu??"
  "Ya... apa yang bisa aku perbuat?? Sungguh, aku tak bisa seperti ini." Dinar hanya tersenyum pelan menertawakan ku. Aku memang menelpon nya untuk sekedar bercerita. Tapi bukan untuk ditertawakan oleh nya.
  "Apakah ada yang lucu dari perkataan ku?"
  "Upsss.. sorry. Tapi jujur, malam itu sungguh romantis, bukan?" Ucap dinar
  "Hah..?? Darimana dinar tahu akan hal itu..?" Pikir ku.
  "Kok diam..?"
  "Maksud kamu??"
  "Ya Tuhan.. kamu masih nanya maksud aku?? Gi, raffi sangat mencintai kamu."
  "Lalu..?"
  "Apa kamu tak bisa sedikit membuka hati untuk nya?"
  "Entahlah, aku masih belum bisa menjawab semua nya."
  "Apa yang membuat mu ragu sampai detik ini? Apa kamu takut, raffi akan memperlakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan dulu?"
  "Maybe.. "
  "Oke, sekarang aku mengerti. Sebaiknya kamu istirahat. Lagi pula ada yang harus aku kerjakan."
  "Baiklah, aku serahkan semua nya kepada mu. Kabari aku, jika ada sesuatu yang penting untuk ku."
  "Ya.. pasti nya." Aku pun mengakhiri pembicaraan singkat ku dan dinar siang itu.

Aku sejenak berfikir, akan kah aku menerima raffi kembali kedalam kehidupan ku?? Apakah aku siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi di kemudian hari?? Apa aku siap dengan konsekuensi nya menjadi Ny. Raffi yang pernah aku bayangkan sebelum-sebelum nya..?? Entahlah, mengapa aku jadi memikirkan nya ..?
  "Kamu kenapa melamun seperti itu??" Ucap mama yang mengagetkan ku.
  "Mama...? Sejak kapan mama disini?"
  "Emmm, sejak beberapa menit yang lalu." Ucap mama ku
  "Maksud mama..??"
  "Ya.. mama dengar apa yang kalian bicarakan. Lalu, apa lagi yang kamu tunggu sayang??" Ucap mama
Entahlah apa yang harus aku katakan kepada mama. Jujur, aku pun bingung...
  "Sayang, key begitu antusias ingin bertemu dengan dedy nya. Dan mungkin juga sebaliknya nya."
  "Aku tahu itu, mah.."
  "Lalu, kapan kamu akan membawa nya kesini??"
  "Aku sudah mengajak nya, tapi raffi belum ada waktu untuk menemui nya. Dia terlalu sibuk dengan urusan nya."
  "Mengapa demikian? Mungkin dia ada alasan lain yang kamu tak tahu??"
  "Entahlah, ada atau tidak, aku tak ingin memaksa nya."
  "Mama yakin, raffi bukan orang yang seperti itu."
  "Maksud mama??" Aku mulai bingung dengan apa yang mama ku katakan. Sebenarnya kemana arah pembicaraan ini??
  "Raffi ada di sini, dan ia ingin bertemu dengan mu." Ucap mama ku
  "Raffi..?" Pikir ku.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

Sunday, October 11, 2015

Life in future with you--- part 10

Life in future with you--- part 10

(Tapi apa daya, derai hujan yang turun tak bisa menghentikan niat nya untuk mengecek langsung kondisi mobil nya saat ini. Merasa tak memperoleh hasil, raffi pun masuk kembali kedalam mobil. Dengan kondisi setengah basah, raffi mencoba mengambil telephone nya dan segera menghubungi seseorang.
  "Gimana?"
  "Gak ada jalan lain, seperti nya kita harus bermalam disini. Kita tunggu sampai hujan reda." Pilihan yang sangat tidak aku inginkan sama sekali. Apa yang aku khawatirkan ini benar-benar terjadi.)

  "Kita harus cari penginapan,," ucap raffi
  "Penginapan?? Kamu bilang penginapan?? Mau cari dimana??? Lagi pula ini hujan gede banget raffi. Mana mungkin kita bisa keluar dari sini dengan keadaan hujan seperti ini. Kamu ..."
  "Kita harus keluar dari sini!" ucap raffi
  "Ya tapi..."
  "Sudah lah, cepat pakai ini! Aku akan membukakan pintu untuk mu." Baru kali ini rasanya raffi membentak ku. Tapi apa mau dikata.. Tak ada jalan lain, aku harus tetap ikut bersamanya. Menerjang hujan yang turun membasahi bumi. Sekedar mencari tempat untuk berteduh. Namun seperti nya tak kita dapati penginapan disekitarnya. Bahkan rumah penduduk pun seperti nya jarang ditemui disini. Yang ada hanya rumah tua, kecil dan seperti nya tak berpenghuni.. namun setidak nya cukup untuk berteduh sementara waktu.
  "Raffi, tunggu.... " aku mencoba menghentikan langkah kaki nya yg perlahan menjauh dari ku.
  "Iya.. ?"sahut raffi 
  "Maafkan aku.." aku sadar, aku salah. Ini bukan keinginan nya. Dan harus nya aku berterimakasih, bukan malah membuat nya emosi hingga sedikit membentak ku tadi.
  "Ini bukan salah mu. Tapi aku gak bermaksud seperti itu, apa lagi harus membentak mu. Aku cuma takut....... "
  "Takut???"
  "Sudah lah, lupakan saja. Kamu tak usah memikirkan hal itu." ucap raffi
  "Kamu mau kemana?"
  "Aku mau cek kedalam sebentar.." ucap raffi
  "Jangan lama-lama.." 
  "Aku gak akan lama.. Kamu tunggu disini, aku akan kembali.." raffi pun berlalu begitu saja, meski ku tahu raffi bukan lah orang yang pemberani seperti yg ku lihat saat ini.

  "Aaaaaaa"
  "Iihhh raffiiiii!!.. Kenapa kamu ikutan teriak??"
  "Aku takut..! Takut gelap.."
  "Raffi, kamu itu cowok. Gak seharus nya kamu memiliki rasa takut seperti ku."
  "Memangnya kalo cowo gak boleh TAKUT?? Lagi pula takut itu ilmiah, so.. Fine-fine saja."
  "Iiiihhh... Kalo kita sama-sama takut, gimana cara nya kamu melindungi aku kalo kamu sendiri seperti ini??"
  "Ya ya.. Tapi gimana caranya aku bisa menghilangkan rasa takut itu?"
  "Entahlah... Kamu harus memikirkan itu sendiri."
  "Sayang,,.? nagita..? Tunggu aku! Jangan tinggalkan aku sendiri."

  "Nagita... Nagita... Hei, Kamu gak apa-apa..?" seru raffi, aku sempat terkaget, saat lambaian tangan singgah di depan mata ku. Lamunan itu seakan hilang begitu saja.
  "Gak.. Aku gak apa-apa." segera ku tepis semua lamunan itu. Raffi yang dulu, kini seolah berubah 180 derajat. Sosok yang ku lihat saat ini dihadapan ku, bukan lah raffi yang penakut. Melainkan raffi yang bisa melindungi setiap orang yang ada disamping nya.
  "Ayo masuk..." raffi pun mengajak ku untuk masuk ke dalam. Mengingat udara diluar sangatlah dingin. Dan aku sangat terlindungi oleh jaz raffi yg melekat di tubuhku saat ini. Sedangkan raffi...???
  "Baju kamu basah. Sebaiknya kamu pakai jaz ini." ku lepaskan jaz nya dan ku kembalikan lagi ke pemilik nya. Karena aku yakin ia pasti lebih membutuhkan ini dibandingkan diri ku yang hanya basah dibagian kepala.
  "Kamu pakai saja, aku gak apa-apa. Lagi pula sudah ada lilin ini yg akan menghangatkan aku. Percayalah..." ucap raffi
  "Kamu yakin..? Bagaimana kalo kamu sakit?"
  "Aku akan meminta mu untuk merawat ku. Simple bukan?" raffi pun melontarkan senyuman ke arah ku. Disaat kondisi seperti ini, ucap raffi masih bisa mengundang tawa. Dan aku berharap semoga tak terjadi apa-apa dengan nya.

Raffi pun duduk di kursi panjang, samping lilin. Aku tau raffi pasti kedinginan. Hingga ia hanya bisa mengepal kedua tangan nya tanpa lepas.
  "Boleh aku duduk disini??"
  "Ya.. Silahkan." ucap raffi singkat
  "Kamu dingin?? Lebih baik kamu pakai ini. Setidaknya kamu tak kedinginan seperti itu." ku pakaikan jaz miliknya untuk menutupi bagian tubuhnya yg basah.
  "Makasih.." raffi pun tersenyum simpul kearah ku.
  "Sejak kapan kamu jadi seorang pemberani, bukankah kamu sangat takut akan gelap?" aku pun menoleh kearah nya.
  "Banyak hal. Tapi, mengapa tiba-tiba kau tanyakan itu kepada ku?" tanya balik raffi
  "A.. Aku... Lupakan saja.. " aku pun segera beranjak dari tempat duduk.
  "Ya Tuhan.. Mengapa aku bisa bertanya seperti itu kepada nya?" batin ku, namun seketika saja raffi menahan ku untuk pergi. Menahan ku untuk tetap disini. 
  "Saat tak ada lagi cahaya dalam kehidupan ku. Saat kamu pergi meninggalkan aku." ucap raffi yg masih menggenggam erat tangan ku.
  "Aku..?"
  "Ya.... Kamu tak menyadari hal itu, bukan???? Disaat aku benar-benar merasa sendiri. Disaat orang-orang pergi meninggalkan aku. Bahkan orang yang sangat aku sayang sekali pun pergi meninggalkan aku. Lalu, apa aku harus terus-menerus dihantui rasa takut dengan yang namanya kegelapan?? Itu sama saja membuat ku mati dengan sendiri nya. Mungkin jika aku tak bisa melawan rasa takut itu, aku gak mungkin ada bersama mu disini. Dulu, aku pernah berada dalam 1 ruang kosong. Yang ada hanya aku sendiri. Tanpa teman, tanpa cahaya, hanya gelap, dingin dan sepi yang ku rasa. Hanya detak jarum jam yang terdengar jelas di telinga ku dan menemani setiap hari-hari ku disana. Sesekali terdengar ketukan pintu yang begitu nyaring di telingaku, itu artinya aku harus siap dengan beberapa suntikan yang menancap diurat nadi ku, yang pasti nya akan mengalir di darah ku. Dan itu cukup membuat hari-hari ku semakin bosan. Seolah hidup ku tak berguna. Aku lelah.. Aku hampir putus asa. Lalu untuk apa lagi aku bertahan?? Ingin rasa nya aku mengakhiri hidup saat itu juga, berharap agar tak ada lagi luka di hati ini. Tapi,, itu tak mungkin terjadi. Beberapa orang menjaga ketat aktifitas ku disana. Entahlah, aku tak tahu siapa mereka?? Yang jelas mereka hanya bertugas memberiku obat yang selalu di suntikkan ke tubuh ku selama 5 jam sekali. Bahkan, jika ku merasa sedikit lebih tenang, mereka bersedia memberi ku cerita-cerita ringan yang membuat ku sedikit terhibur. 1 hal yang membuat ku sadar, dan membuatku merasa tertampar. Saat seorang memberi ku buku cerita akan kisah dongeng, dan membacakan layak nya seorang ibu terhadap putra nya. Dan itu cukup membuat ku sadar.
Sadar kalo aku pun akan menjadi seorang ayah, meski aku tak tahu keberadaan mu saat itu. Aku usap air mata dengan kedua jemari ku, dan berusaha untuk bisa melawan semua nya. Perlahan tapi pasti, aku bangkit dari kegelapan itu. Mencari secercah harapan yang mungkin bisa saja terjadi. Meski ku tahu akan banyak rintangan, bahkan mungkin jalan terjal pun siap menghadang ku di depan sana. Tapi aku akan berusaha, berusaha untuk bisa mencapai suatu titik dimana aku akan menemukan kebahagiaan yang selama ini aku nanti." papar raffi,  aku seolah hanyut dalam perasaan. Hingga aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya linangan air mata yang secara tak sengaja mengalir begitu deras dipipi ku.
  "Kamu tak usah khawatir,, aku tak akan lagi memaksa mu untuk menerima ku kembali dalam kehidupan mu. Aku sadar, apa yang aku lakukan selama ini cukup membuat mu terluka. Maafkan aku.. Maafkan aku.." raffi beranjak pergi dari tempat peristirahatan nya, seolah tak ingin terlihat rapuh didepan ku. Meski ku tahu, guratan kesedihan itu nampak jelas di sudut mata nya. Dan aku tak mungkin bisa membiarkannya pergi begitu saja. Aku mencoba mencari keberadaan nya saat ini. Setidak nya aku bisa menenangkan hati dan perasaan nya, meski rasa nya itu tak mungkin bisa menebus segala rasa bersalah ku pada nya. Aku mencoba menelusuri semua sudut yang mungkin saja raffi singgahi, namun seperti nya nihil. Rupa nya raffi berada di tempat lain. Ya... Aku lihat sosok tinggi tegap itu berdiri di teras depan. Dengan posisi kedua tangan bersila. Memandang lekat 100 meter dihadapan nya. 
  "Kamu ngapain berdiri di situ??" ucap raffi, seolah ia tahu kalo aku berada tepat di belakang nya. 
  "Aku... "
  "Masuk lah, aku gak ingin kamu kenapa-napa. Lagi pula ini masih hujan, udara pun masih sangat dingin. Sebaiknya kamu masuk, dan istirahat lah." pinta raffi
  "Aku masih ingin bersama mu disini. Apa aku salah?" aku perlahan mendekat kearah nya.
  "Kamu ini sudah jelas salah, tapi masih saja keras kepala." ucap raffi
  "Raffi....."
  "Mungkin, aku terlalu cengeng untuk jadi seorang laki-laki. Hingga kadang disaat seperti ini, aku hanya terdiam, terpaku dan kadang membisu. Hanya rangkaian butiran bening inilah yang selalu setia menemaniku di kala aku mengingatnya. Mengingat segala kenangan indah dan pedih yang telah ku lalui bersama mu. Tak khayal jika orang menganggap ku gila, hingga aku harus menjalankan serangkaian pengobatan yang cukup lama. Aku tau semua memang sudah terjadi, tapi penyesalan dan rasa bersalah ini tak akan pernah hilang dari benakku. Aku tak akan mampu menghapusnya dari bayangku, aku tak mampu melupakan semua kejadian itu dan aku tak akan pernah mampu membuang semua kenangan itu begitu saja. Aku minta maaf, aku......." 
Aku pun segera memeluk nya. Mendekap erat tubuh kekar nya yang kini membelakangi ku. Itulah kata yang bisa raffi ucapkan kepada ku "maaf". Sungguh, aku tak pernah menyangka bila raffi begitu terpukul dengan keputusan ku. Tapi aku bisa apa??? Aku gak bisa membiarkannya begitu saja. Hidup di jakarta, tak seperti layak nya hidup di luar sana. Bagaimana mungkin aku melahirkan seorang anak tanpa seorang ayah, apa kata orang nanti?? Adat dan budaya jelas sangat berbeda. Dengan aku hamil di luar nikah pun itu sudah melanggar aturan agama. Dan itu yang membuat ku memilih untuk pergi. Bukan berarti aku tak peduli dengan orang-orang sekitar termasuk raffi. Tapi jika orang lain pun mengalami hal yang sama dengan ku, mungkin itulah jalan satu-satu nya yang mungkin ia tempuh. Layak nya pemikiran anak labil, belum mengerti bahwa apa yang di pilih nya itu salah.
  "Apakah kamu mau memaafkan aku?? Memaafkan semua yang telah aku lakukan kepada mu?" seraya memegangi wajah ku dengan kedua tangan nya. Dengan harap aku mau memaafkan nya. Ku lepaskan kedua tangan nya yg sedari tadi bersarang di wajah ku. Aku sedikit mengatur nafas, merangkai kata.. sebelum akhirnya..
  "Aku sudah memaafkan mu raffi. Jauh sebelum aku bertemu dengan mu, aku sudah lebih dulu memaafkan mu."
  "Apa itu arti nya kamu mau menerima ku kembali..??" tanya raffi lagi
  "Maafkan aku raffi, tapi.."
  "Aku janji, aku akan berubah. Aku akan menebus semua kesalahan ku. Aku...."
  "Raffi,,, dengarkan aku. Tolong, beri aku waktu untuk menjawab semua nya. Aku mohon.. "
  "Ok, aku mengerti. Aku akan menerima semua keputusan mu." raffi pun tersenyum kearah ku. Dengan sisa-sisa harapan yang mungkin bisa membuat nya mengerti, bahwa semua nya itu butuh waktu. Dan aku percaya, akan ada saat nya nanti aku bisa memikirkan dan memilih diantara yang baik, untuk jadi yang terbaik di hidup dan mati ku. Ibarat kata, memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu!? Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta pernah tumbuh dihatimu.

Saat malam mulai menyambut pagi, aku mulai tersadar. Sudah Sejak lama aku berada dipelukan raffi. Bahkan lengan raffi pun masih melingkar erat di perut ku.
  "Kamu sudah bangun??" ucap raffi
  "Hemmmpp..?" aku masih setengah sadar, hingga aku tak begitu mendengarkan ucapan raffi.
  "Kamu siap-siap sekarang. Aku sudah menelphone seseorang untuk mengantar mu pulang, dan mungkin ia hampir sampai. Tunggu lah sebentar lagi.." ucap raffi.
Hingga 10 menit berlalu, terlihat mobil merah maroon terparkir di depan rumah ini. Entahlah itu mobil siapa, yang jelas raffi terlihat begitu akrab dengan seseorang yang ada didalam nya.
  "Kamu sudah siap?? Aku antar kamu ke depan." ucap raffi, aku berjalan hingga persis disamping pintu mobil itu.
  "Raffi, kamu gak ikut pulang bersama ku?" 
  "Aku masih menunggu orang lain disini untuk memperbaiki mesin mobil ku yang rusak itu. Lebih baik kamu pulang dulu. Kamu tenang saja, ini mobil ku. Dan itu sopir pribadi ku, namanya roni. Dan dia yang akan mengantar mu sampai rumah." ucap raffi
  "Apa kamu tak ingin pulang bersama ku?? Apa kamu tak ingin menemui putri mu?" ku pun mulai menatap nya. Namun raffi tak bergumam apa pun. 
  "Raffi..?"
  "Aku... Aku pasti akan menemuinya. Tapi gak untuk saat ini. Percayalah, secepat nya aku akan menemui kalian." raffi pun memeluk ku. Seolah meyakinkan ku.
  "Kamu yakin gak apa-apa aku tinggal? Kamu terlihat pucat, raffi?? Apa kamu baik-baik saja?"
Raffi hanya tersenyum kearah ku, dan mengecup pelan kening ku. Dan lagi-lagi aku hanya diam, saat raffi memperlakukan ku seperti itu.
  "Kamu hati-hati dijalan. Jangan lupa kabari aku." raffi pun membukakan pintu untuk ku, sebelum akhirnya aku masuk dan pergi meninggalkan nya sendiri. Maski aku ragu untuk meninggalkan nya, tapi mau gimana lagi? Key pasti sudah menunggu ku di rumah. Rasa nya aku ingin segera bertemu dengan nya. Sehari tak bertemu, membuat ku sangat merindukan nya.

Tepat pukul 05.00 wib, aku tiba dirumah.
  "Kamu sudah pulang?? Mamah begitu mencemaskan kamu. Mamah takut terjadi sesuatu kepada mu." ucap mamah yang langsung menyambut kedatangan ku.
  "Aku baik-baik saja mah. Mamah tak usah khawatir seperti itu. Percayalah, aku gak apa-apa." aku pun tersenyum kearah mamah, untuk sedikit meyakinkan mamah, kalo aku baik-baik saja.
  "Ya sudah. Lebih baik kamu temui key, dia sangat merindukan mu. Sekalian kamu istirahat, kamu pasti capek." ucap mamah ku.
  "Dimana dia sekarang mah?? Aku pun semalaman cemas memikirkan nya."
  "Dia ada dikamar nya." aku segera pergi menemui nya. Melepas rindu yang amat sangat kepada putri tercinta. Dan aku harap, key belum terbangun dari tidur nya. Hingga aku bisa menepati janji ku, untuk berada disampingnya saat key benar-benar membuka mata. Dan benar saja, key masih terlelap dalam mimpi-mimpi indah nya. Key terlihat sangat pulas bersama boneka yang di peluk erat oleh nya. Aku tak tega membangunkan nya, hingga aku hanya bisa membelai rambut nya, dan sesekali aku mencium nya.
  "Mam.." dengan sayup-sayup mata yang masih belum terlihat jelas. Penglihatan nya pun mungkin masih samar-samar.
  "Morning sayang..? Kamu sudah bangun..??" 
  "Mamiiii.....!!"
  "Owwwwhhhh.. Sayang.." aku pun langsung membalas pelukan nya yang begitu aku rindukan.
  "Mami sudah pulang? I miss u so much, mam.." ucap key
  "Miss u too sayang.."
  "Itu apa??" key menoleh kearah kotak berwarna pink yang berada disamping ku.
  "Heumm??"

  "Aku boleh titip sesuatu untuk nya??"
  "Apa??"
  "Aku titip ini untuk nya, sampaikan salam sayang ku untuk my princess."

  "Mam,,?? Are you ok??" aku pun mulai tersadar dari lamunan itu.
  "Oiya, mami punya sesuatu untuk mu. Kamu tunggu disini ya..."
  "Something? What is it?" key pun mulai penasaran dengan apa yang aku ucapkan.
  "This is for you.."
  "Princess?? This is for me??" tanya key penasaran
  "Ya.. Kamu suka??"
  "So look beautiful. I like it, mam." ucap key, aku tahu key sangat menyukai semua yang berbau princess. Tak khayal jika ia langsung berkata seperti itu. Apalagi jika key tahu, kalo ayah nya yang membelikan khusus untuk nya.

  "Mam,,,, kenapa mami belikan ini untuk ku?" ucap key yang masih bersandar di pelukan ku.
  "Memang nya kenapa? Key gak suka?"
  "No.. It is not that"
  "Lalu??"
  "It's very expensive, mami?"
  "I know that. Anyway, I did not buy it."
  "Maksud mami??" key pun menoleh kearah ku.
  "Dedy yang belikan itu untuk kamu sayang"
  "Dedy??"
  "Ya, dedy.. Kamu sangat menyukai nya, bukan??"
  "Ya.. Aku sangat menyukai nya. Tapi kenapa bukan dedy yang memberikan langsung untuk ku? Kenapa harus mami??" key pun mulai kritis, hingga aku bingung harus berkata apa? Aku tau key sangat menginginkan bertemu dengan dedy nya.
  "Key,, dengarkan mami sayang. Dedy menitipkan itu sama mami, semua ada alasan nya sayang. Gak mungkin dedy melakukan nya tanpa sebab. Dedy ada keperluan lain sayang. Tapi dedy sudah janji, secepat nya dedy akan datang kesini."
  "Really??" tanya key
  "Ya sayang,, dedy juga titip salam untuk mu. Kata nya salam sayang untuk my princess."
  "Thanks mam, love you both.." morning kiss itu pun mendarat di kedua pipi ku. Itulah yang mungkin tak didapatkan oleh para ibu yang ada di dunia ini. Key memang begitu manis memperlakukan ku. Kadang dibalik sifat manja nya, terselip kedewasaan yang tak jarang membuat ku bangga.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.