Tuesday, December 8, 2015

Life in future with you--- part 15

Life in future with you--- part 15

 ("Are you crying, mam?"
  "Emm, gak kok sayang. Mami bahagia... sangaattt bahagia. Apa yang kamu lakukan disini?? Kamu tahu?? Mami mencari mu sayang. Mami sangat mencemaskan mu. Mami takut terjadi sesuatu kepada mu. Kamu baik-baik saja, bukan??" 
  "Um'humm.. i am so happy, mam.." ucap key
  "Sungguh??"
  "Kamu sudah disini?"
  "Raffi..."
  "Kebetulan aku lewat sini. Dan aku hanya menemani nya bermain." Ucap raffi
  "Makasih, kamu sudah mau menemani nya. Aku tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi bila kamu tak disini. Mungkin aku..."
  "Ssssssttt... kamu tak usah memikirkan hal itu, karena aku tak akan membiarkan sesuatu terjadi pada nya. Kamu tenang saja. Aku akan selalu menjaga nya .." ucap raffi yang tersenyum kearah ku. Aku tahu, raffi begitu menyayangi putri nya, ia pasti menjaga nya dengan baik. Dan aku sangat percaya itu.)

Tak khayal bila akhirnya aku memberikan kepercayaan penuh terhadap raffi atas key. Seperti yang terlihat saat ini, ya.. saat ini. Membiarkan mereka bermain, bukan lagi suatu hal yang baru untuk ku. Mendengar mereka bercerita,,, Melihat mereka berlari untuk saling kejar,,, Bahkan saat mereka tertawa, seakan hati ini luluh, mengikis semua harapan yang dulu tak pernah aku bayangkan sebelum nya..
Semua luka seakan sirna, lalu berganti bahagia yang mungkin akan mengubah segala nya. Tapi, yang jadi pertanyaan ku saat ini, siapkah aku untuk mengawali itu semua..? Siapkah aku menjemput kebahagiaan itu? Kebahagiaan yang jauh lebih dari apa yang aku lihat saat ini. Lalu, pada siapa hati ini akan berlabuh?? Entahlah rasa nya sulit,,, sangaaaat sulit. Seperti nya aku harus berpikir 100 kali untuk bisa menjawab itu semua. Mungkin besok,,, lusa,,, atau bahkan nanti.. ? Hingga akhirnya aku merasa yakin dengan pilihan ku, maka saat itu juga akan ku sambut kebahagiaan itu..

  "Hei, apa yang kau lakukan disini??" Ucap raffi yang tiba-tiba muncul dihadapan ku.
  "Apa yang kamu lakukan raffi? Duduk lah.. jangan merunduk dihadapan ku seperti itu."
  "Apa yang kamu lakukan disini?? Kamu memikirkan ku, hmm?" Ucap raffi, aku hanya menoleh kearah nya, memandangnya lekat, namun tak sedikit pun aku berucap.
  "Heii,, Apa ada yang salah dari perkataan ku, hingga kau memandang ku seperti itu??" Ucap raffi yang mendadak salah tingkah saat aku mulai memperhatikan nya. 
  "Raffi,,, raffi.. kamu ini... " aku hanya tersenyum simpul kearah nya.
  "Aku ada sesuatu untuk mu.."
  "Sesuatu..?? Apa itu??" Tanya raffi penasaran.
  "Apa ini milik mu??" Sebuah dompet hitam kecil, yang aku dapat dari penjaga sekolah itu. Aku tak ingin berlama-lama menyimpan sesuatu yang bukan milik ku. Lagi pula ini memang milik nya. Dan aku harus segera mengembalikan nya.
  "Dari mana kamu dapatkan ini?"
  "Emm, Pak imron yang sengaja menitipkan nya kepada ku."
  "Sungguh??" Ucap raffi penasaran
  "Kamu panik??"
  "Ya.. Entahlah, aku tak bisa membayangkan bila dompet ini benar-benar hilang." Ucap raffi
  "Memang nya apa yang membuat mu takut seperti itu??"
  "Sesuatu,, Ya.. Sesuatu yang sangat berharga untuk ku. Cuma itu satu-satu nya yang tersisa dan aku miliki saat ini. Sesuatu yang hanya bisa aku pandangi, bila aku sedang merindukan nya. Menyedihkan, bukan..?" Ucap raffi yang menoleh kearah ku.
  "Seberharga itu kah dia dimata mu..?"
  "Ya.... Tapi, sudahlah.. itu semua sudah terjadi. Kamu tak usah memikirkan hal itu. Lagi pula itu semua salah ku. Sekarang sebaiknya kita antar key pulang. Kasihan dia, lagi pula kamu harus kembali ke kantor, bukan..? Setelah itu aku akan mengantar mu.." Ucap raffi.
Ya.. memang sebaiknya aku harus kembali ke kantor. Mengingat ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan sore ini. Tapi, mengapa aku jadi gak bisa fokus dengan apa yang aku kerjakan saat ini. Berulangkali aku mencoba, namun seperti nya aku tetap tak bisa. Ucapan raffi siang tadi seakan mampu menguasai otak dan pikiran ku saat ini.

  "Dia sangat berarti untuk ku. Dia segala nya bagi ku. Mungkin, gak akan ada yang bisa menggantikan posisi dia dihati ku. Meski ku tahu, aku tak berarti apa-apa untuk nya."

Ya Tuhan... Apa yang sudah aku lakukan..? 1 masalah saja rasa nya aku belum tentu bisa menyelesaikan nya. Lalu bagimana dengan paul?? Urusan ku dengan paul saja belum selesai. Lalu apa yang harus aku lakukan..? Bagaimana aku menjelaskan semuanya?? Huuffttt.. rasa nya aku sedang berada pada titik yang gelap, sangatt gelap. Dan aku tak bisa terus-menerus seperti ini. Sebaiknya aku pulang, lagi pula tak ada yang bisa aku kerjakan disini. Setidak nya, dirumah aku bisa beristirahat, dan sedikit menenangkan pikiran ku. Berharap dengan begitu, semuanya akan lebih baik..
~~
  "Haii, sayang..? Apa yang kamu lakukan disini, hmm..?" Ucap caca
  "Aunty..?" ucap key
  "Kamu lihat, aunty bawakan sesuatu untuk mu.." Ucap caca
  "Woww.. Ice cream..?"
  "Ya, kamu suka?"
  "Um'humm.."
  "Okey, sekarang kamu makan. Aunty mau ke kamar dulu."
  "Aunty...!" Seru key
  "Ya..?"
  "Thank you." Key pun tersenyum kearah caca. Sebelum akhirnya caca pergi ke kamar nya.

  "Tok.. tok.. tok.." 
  "Siapa ?"
  "Ini mama sayang. Boleh mama masuk?"
  "Masuk saja mah, gak di kunci.." sahut caca
  "Kamu sibuk..?" Tanya mama yang mulai berjalan kearah caca.
  "Gak, memang nya kenapa? Apa ada sesuatu?"
  "Mama ingin bicara sesuatu sama kamu. Ini soal kakak mu."
  "Maksud mama, mba gigi??"
  "Ya .."
  "Ada apa lagi dengan nya?"
  "Semenjak pulang dari kantor, ia belum turun-turun juga dari kamar nya. Ia juga belum makan, dan mama sangat khawatir dengan keadaan nya."
  "Mama sudah coba tanya dia?"
  "Belum, mama takut di bilang terlalu ikut campur urusan nya. Lagi pula kamu yang lebih dekat dengan nya. Mungkin, ia akan bisa mendengar omongan mu."
  "Baiklah, aku akan coba bicara dengan nya. Mama tak usah khawatir seperti itu. Aku akan menemui nya sekarang."
  "Ya.. sebaiknya begitu. Makasih ya sayang.." ucap mama ku.

Kadang, ada saat nya kita butuh waktu tuk sendiri. Namun, seringkali kesendirian itu mendatangkan kesedihan.
  "Malam yang indah, bukan..? tapi sayang, hanya beberapa bintang saja yang nampak disana." Ucap seseorang yang perlahan berjalan mendekati ku.
  "Kamu disini?? Ya..... Mungkin mereka malu untuk menampakkan diri."
  "Apa yang kamu lakukan disini? Aku tahu kamu belum makan, maka aku bawakan sedikit makanan untuk mu." Ucap caca
  "Kamu tak usah repot-repot seperti itu. Aku bisa ambil sendiri, bila menginginkan nya. Lagi pula aku masih kenyang, aku sudah makan siang tadi." 
  "Siang? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya caca
  "Mengapa kamu bertanya seperti itu?" 
  "Kamu lihat ini jam berapa??"
Aku pun menoleh kearah jam yg bertengger di dinding kamar ku. Tepat pukul 21.00 wib, yang artinya lebih dari 5 jam aku berdiri disini.
  "Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan??"
Aku sejenak terdiam, mengingat-ingat apa yang terjadi pada diri ku saat ini. Mengapa aku bisa berpikir kalo ini siang? Jelas-jelas yang ada dihadapan ku adalah langit gelap, dan hanya ada bintang disana, bukan lagi matahari. Mengapa aku lupa akan hal itu?
  "Apa yang membuat mu seperti ini?" Ucap caca yang mulai mendekat kepada ku, bahkan kini berdiri persis disamping ku.
  "Entahlah.. Aku bingung." Aku tak mungkin menjelaskan semua nya ke caca, karena aku pikir ini masalah ku. Biarkan aku yang tahu, orang lain tak perlu mengetahui nya.
  "Bingung..?" Ucap caca.
  "Aku masih harus mempertimbangkan itu semua, marsha."
  "Okey, lalu..?"
  "Masalah ku terlalu kompleks dan rumit. Aku rasa... aku sulit untuk bisa melakukan itu semua. "
  "Rumit?? Perasaan itu tidak pernah rumit, tapi orang-orang lah yang membuat nya rumit. Butuh keberanian untuk bisa memulai sesuatu yang baru. Dan aku pikir, sudah saat nya mba untuk melakukan itu. Bukankah itu tujuan awal mba saat memutuskan untuk pulang ke indonesia??" Caca pun menoleh kearah ku. Ya.. memang benar apa yang di katakan caca. Bukankah itu tujuan awal ku kesini?
  "Sekarang, apa lagi yang mba tunggu?? Apa mba menunggu hingga nanti saat semua itu pergi? Dan baru menyadari bahwa orang yang selama ini sabar, orang yang selama ini mencintai mu dengan tulus, menjauh hanya karena kesalahan yang sama, dan berujung pada penyesalan? Apa itu yang mba inginkan? Ingatlah key,, lihat dia. Sosok raffi yang sekarang, bukan lagi sosok yang perlu kamu hindari, atau kamu takutkan. Dan seperti nya tak usah aku jelaskan, kamu jauh lebih mengerti soal itu."
  "Ya.. mungkin kamu benar. Aku tak mungkin terus-menerus seperti ini. Cepat atau lambat, aku akan mengakhiri semua nya. Lalu, bagaimana dengan mu..?"
  "Aku..?" Tanya caca. 
  "Ya.. kamu.." Seperti yg aku ketahui, kisah cinta caca pun tak semulus apa yang kita bayangkan. Meski aku belum pernah mengenal nya secara langsung, Bahkan aku hanya mendengar sekilas tentang nya, itu pun dari caca saat aku masih berada di australi. Tapi, itu sudah cukup menggambarkan bagaimana sosok lelaki itu. Terlebih aku sangat mengenal pribadi caca, yg pastinya dalam hal ini jauh lebih selektif dibanding diri ku.
  "Aku rasa, dia sudah berada di jakarta." Ucap caca
  "Sungguh?? Lalu..?"
  "Biarlah waktu yang akan mempertemukan kita. Percaya lah, bila memang dia jodoh kita, maka ia akan kembali dengan cara yang mengagumkan." Ucap caca yang melempar senyum kearah ku. 
Ya.. Kita tak pernah tahu, kapan saat nya itu terjadi. Hanya sebuah harapan kecil yg bisa memupuk rasa itu untuk tetap berada pada titik yang sama, mungkin itulah yang dinamakan cinta. Terkadang cinta memang begitu menyakitkan, tapi karena cinta juga, kamu selalu temukan dirimu tersenyum tanpa alasan. Kadang kamu juga harus dengarkan kata hati. Jangan tanyakan siapa yg kamu cintai, tapi tanyakan siapa yg buatmu bahagia dan dihargai. Lalu, siapakah yang akan aku pilih nanti..? Entahlah, aku hanya berserah diri pada Mu.. Engkau yang maha memberi petunjuk, Engkau yang maha bijaksana. Sesungguhnya hanya Engkau yang bisa membolak-balikkan hati manusia. Dan aku, percaya.. rencana Tuhan pasti akan jauh lebih indah.

Pagi itu, aku harus menerima kenyataan kalo mobil yang biasa aku bawa ke kantor mendadak harus masuk bengkel. Dan itu cukup membuat ku garuk kepala.
  "Apa gak bisa di percepat lagi? Ok, baiklah.."
  "Kenapa?" Tanya caca
  "Pak jo bilang, mobil yang biasa aku pake masuk bengkel, dan kemungkinan akan memakan waktu yang cukup lama."
  "Lalu...?" Ucap caca
  "Ya mau bagaimana lagi,,,"
  "Biar aku antar mba sekalian ke kantor. Kebetulan hari ini aku off, dan aku sama sekali tak ada kegiatan lain, selain antar key ke sekolah." Ucap caca
  "Kamu serius,,?? Aku bisa kok naik taxi."
  "Gak.. gak.. biar aku yang antar." Ucap caca
  "Baiklah, kamu tunggu disini. Aku ambil tas dan berkas-berkas nya dulu." Aku pun segera bersiap-siap. Mengingat key pun masih berada dikamar nya.
  "Key,, ayo sayang.."
  "Um'humm.. " kita pun akhirnya berangkat, mengingat sudah jam 8.00 pagi dan aku harus segera menyiapkan segala sesuatu nya untuk bahan meeting pagi ini.

  "Gi, gigi.. tunggu..!" Sesaat setelah meeting itu selesai. Dan aku memang harus kembali ke ruang kerja ku.
  "Kamu memanggil ku..?"
  "Astaga, kamu ini." Ucap dinar
  "Maaf, aku buru-buru. Sekarang duduk lah."
  "Kamu sibuk?" Tanya dinar
  "Gak juga, sebentar lagi aku selesai. Katakan saja apa yang ingin kamu sampaikan. Aku akan mendengar nya." Aku memang sedang mengerjakan sesuatu di laptop ku, dan aku tak ingin menunda-nunda nya lagi.
  "Apa yang terjadi antara kamu dan paul??" Ucap dinar tiba-tiba.
  "Apa maksud kamu? Aku tak mengerti.." ucap ku, namun tak sedikit pun aku berpaling dari layar laptop ku. 
  "Aku tak pernah melihat mu sedingin itu. Ada apa dengan mu?" Ucap dinar yang mulai penasaran dengan sikap ku. Sebenarnya, aku tak bermaksud seperti itu.
  "Mungkin itu cuma perasaan mu saja. Lagi pula menurut ku itu hal biasa. Kamu tak perlu khawatir soal itu."
  "Nagita, lihat aku. Perasaan ku gak mungkin salah. Itu bukan diri kamu yang sebenar nya. Sekarang, kamu cerita sama aku. Apa yang sebenarnya terjadi..? Kamu melakukan itu, bukan berarti tanpa alasan, bukan? Lalu apa alasan mu?" Ucap dinar yang menatap serius kearah ku. Dengan segera aku menghentikan segala aktivitas ku. Karena percuma, dinar pun sudah menutup paksa laptop ku. Hingga aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku berdiri, dan berjalan pergi meninggalkan nya. Beralih ke tempat yang lebih santai yang menurut ku bisa memberikan ruang gerak untuk ku. Sengaja aku buka tirai lebar-lebar, agar aku bisa memperoleh sedikit ketenangan dan udara segar dari luar sana. Tapi entah mengapa, rasanya aku belum bisa tenang. Sejahat itu kah diri ku pada nya? Bahkan aku tega melukai 2 orang yang begitu mencintai ku dan berharap lebih kepada ku.
  "Gi.. aku.." 
  "Aku tak tahu harus bagaimana menjelaskan nya kepada mu. Yang pasti, aku melakukan itu semua bukan berarti tanpa alasan. Apa yang aku lakukan semata-mata untuk kebaikan nya, gak ada maksud lain. Dari awal, aku hanya menganggap nya teman biasa gak lebih, dan kamu tahu hal itu. Tapi itu semua tidak berlaku untuk paul, dinar? Dan mungkin kamu juga tahu hal itu. Aku tak ingin paul terus-menerus berharap, yang pada akhirnya berujung pada kekecewaan. Karena sesungguhnya aku tak pernah bisa move on dari masalalu ku bersama raffi. Sikap ku yang menurut mu dingin, merupakan salah satu alasan agar lebih membatasi diri. Sedikit memberi jarak, karena aku takut melukainya. Lalu, apa yang aku lakukan itu salah?? Jawab pertanyaan ku, din? Apa aku salah melakukan itu semua?" Aku mulai tak bisa mengontrol emosi ku. Bulir bening pun jatuh tak kuasa menahan amarah yang seharusnya aku lakukan sejak dulu. Ya sejak dulu.
  "Maafkan aku, gi.. aku.." Ucap dinar
  "Harus nya tak ku biarkan masalah ini berlarut-larut. Dan harus nya aku lakukan ini sejak dulu, din.."
  "Gi, gigi.. please, aku mohon kamu tenang, ya.. ? Aku tahu, ini masa-masa tersulit untuk mu. Tapi aku rasa, kamu sudah mengambil keputusan yang tepat. Cepat atau lambat paul pasti mengetahui, siapa raffi,, dan siapa key.. dan aku pun sudah pernah bilang juga sama kamu, ikuti kata hati mu. Please, specify your choice from now. Don't make them wait long. Karena bisa jadi, orang yang kamu cintai akan pergi meninggalkan mu, setelah kamu menyadari bahwa dialah satu-satu nya orang yang sangat berarti dalam hidup mu. Kamu tak ingin itu terjadi, bukan..?"
  "Lalu, apa yang harus aku lakukan, din??"
  "Yang perlu kamu lakukan saat ini adalah ajak paul berbicara. Coba jelaskan sedikit-demi sedikit kepada nya. Kalian ini sudah dewasa. Tak perlu dijelaskan secara gamblang pun, aku rasa kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Dan aku rasa, paul akan bisa menerima alasan mu dengan baik. Percayalah, semua akan baik-baik saja." Aku mulai sedikit tenang. Setidak nya aku bisa bernafas lega, meski belum sepenuh nya aku terbebas dari rasa takut ini. Mungkin benar, hidup itu adalah pilihan. Life is all about making choices. Always do your best the right ones. And always do your best to learn from the wrong one.
  "Sekarang kamu lebih tenang, bukan?? Lebih baik kita masuk. Tak baik bila kita berlama-lama disini." Ucap dinar. Namun, seketika langkah ku terhenti. Saat sesosok pria tinggi berbadan tegap berdiri tepat depan ku.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

8 comments: