Life in future with you--- part 14
(Ini bukan soal akhir, bukan soal awal, bukan bagaimana memulainya dan bukan bagaimana caramu mengakhiri. Tapi ini tentang menjalani, bertahan dan mendewasa dalam setiap pilihan. Saat ini, tinggalah soal waktu. Tuhan hanya memberi sesuatu jika kita telah betul-betul siap memilikinya. Mungkin saja ada yang memang belum betul-betul siap, mungkin saja aku, mungkin saja dia, mungkin saja entah. Meyakini hal-hal semu memang tak mudah, tapi lebih baik daripada menjatuhkan diri pada kesedihan yang salah.)
"Sekarang, kamu tahu bukan apa yang seharusnya kamu lakukan??" Ucap dinar
"Ya.. akan ku pikirkan lagi.."
"Tok..tok..tok.."
"Masuk.."
"Maaf bu, ada yang ingin bertemu." Ucap fara
"Siapa?"
"Mr. Paul.. Beliau menunggu ibu di lobby depan." lanjut fara
"Paul??" Pikir ku
"Kamu ada janji dengan nya?" Tanya dinar.
"Aku tidak punya janji dengan siapapun. Fara, tolong suruh dia tunggu sebentar. Bilang saja aku masih ada tamu. 10 menit lagi aku kebawah" aku pun segera membereskan berkas-berkas yang sempat berserakan diatas meja kerja ku, dan siap-siap bergegas untuk segera menemui nya.
"Kira-kira,, ada perlu apa paul kesini? Bukankah tidak ada jadwal meeting hari ini??" Tanya dinar
"Entahlah. Aku sendiri belum tahu maksud dan tujuan nya datang kesini. Mungkin ada urusan lain. Kamu mau temani ku sebentar untuk menemui nya..?" Sedikit usulan konyol, tapi siapa tahu dinar mau menemani ku.
"Aku..???? Gak .. Gak..! Aku gak mau ikut campur." Ucap dinar, yang sudah pasti menolak ajakan ku.
"Ayolah sebentar.. " aku pun sedikit membujuk nya untuk ikut bersama ku. Setidaknya aku tidak sendiri.
"Emmmpp.. ??" Sedikit berfikir panjang,, dan akhirnya...
"Ok, untuk kali ini. Tapi,,, aku tidak bisa lama. Setelah itu, aku harus ke resto. Aku ada janji dengan restu. Oh.. Iya, kamu mau sekalian aku pesankan makanan?" tanya dinar, saat sedang berjalan keluar ruangan. Berhubung ruang kerja ku ada di lantai 3, maka aku harus turun ke lantai 1 untuk bisa sampai lobby dan menemui paul.
"Tidak perlu. Lagi pula siang ini aku harus jemput key disekolah. Kamu tak usah menunggu ku disana. Aku sudah janji akan lunch bersama nya. Dan mungkin aku akan telat untuk kembali ke kantor."
"Okey, sampaikan salam ku untuk nya. Sekarang lebih baik kamu temui dia. Kasihan, paul sudah menunggu lama. Ingat pesan ku. Aku jalan dulu ya? Bye..." ucap dinar
"Maaf, kamu sudah lama?"
"Em.. It's ok. Kamu sibuk? Apa kedatangan ku ini mengganggu mu?" ucap paul
"Gak, sama sekali tidak paul. Apa ada sesuatu? Seperti nya ada yang ingin kamu sampaikan?"
"Kita cari tempat yang lebih santai, bisa? Kita duduk disana saja, sepertinya lebih baik.." paul pun membawa ku ke tempat yang jauh lebih santai untuk sekedar ngobrol, meski masih di sekitar lobby, tapi menurut ku itu jauh lebih baik.
"Sebelum nya, kamu mau minum apa? Biar sekalian aku buatkan untuk mu."
"Tidak usah, nagita. Kamu tak usah repot-repot seperti itu. Lagi pula ada yang lebih penting dari pada itu. Lebih baik sekarang kamu duduk, santai lah sebentar, tak usah tegang begitu, biasa saja" ucap paul. Ya.. Mungkin saat ini aku terlihat cemas. Itu semua dikarenakan aku ada keperluan lain. Tidak kurang dari 30 menit, aku harus segera pergi ke sekolah untuk menjemput putri ku. Tapi bagaimana dengan paul? Haruskah aku berkata sejujurnya dan meninggalkan nya sendiri disini? Tapi, tunggulah sebentar, tak usah terburu-buru. Dan seperti nya aku harus bersabar. Lebih baik aku dengarkan dulu apa maksud dan tujuan nya kesini. Siapa tahu itu penting.
"Sudah lama aku ingin membicarakan hal ini dengan mu. Tapi rasa nya sulit menemukan waktu yang tepat untuk merencanakan itu semua. Mungkin itu disebabkan karena kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing." Ucap paul
"Lalu, apa tujuan mu kesini? Apa ada masalah dengan proyek kita? Apa kamu kurang setuju dengan usulan ku tempo hari? Atau...?"
"No.. no.. ! It's not that. Ini gak ada hubungan nya dengan pekerjaan."
"Lalu?"
"Ada hal lain yg ingin aku sampaikan. Ini soal hubungan kita." Ucap paul
"Kita??" pikir ku
"Ya.. aku tahu, mungkin ini tak pantas untuk aku katakan disini. Tapi... Ada hal yang memang seharusnya kamu ketahui sejak dulu." ucap paul.
Sungguh aku sama sekali tak mengerti, apa maksud dari semua nya? Mengapa paul tiba-tiba berkata seperti itu? Tapi aku mencoba untuk tetap bersikap tenang, mencoba menghargai apa yang ingin paul sampaikan kepada ku. Meski beberapa pertanyaan dan spekulasi pun muncul dalam angan ku. Seakan timbul keraguan di hati ini. Bahkan aku seakan takut untuk menjawab sesuatu, bilamana paul memberi ku pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan menyudutkan ku. Tapi itu baru feel ku, dan belum tentu juga sama dengan apa yang aku pikirkan saat ini.
"Nagita.." lambaian tangan paul pun melintas tepat didepan mata ku. Dan itu cukup mengagetkan ku. Aku seolah ada dibawah alam sadar ku. Rasa takut itu seakan menguasai otak dan pikiran ku saat ini.
"Kamu baik-baik saja?"
Mana mungkin aku jawab dengan kata "tidak". Aku tak ingin membuat nya semakin curiga dengan sikap ku. Hingga aku menjawab "Ya..". Meski dengan sangat hati-hati, bahkan ragu untuk berkata seperti itu. Tapi aku tutupi semua nya dan berusaha melempar senyuman tipis ke arah nya. Meski ku tahu sesungguhnya "i'm not fine.".
"Okey. Mungkin, kamu sudah mendengar dari beberapa relasi mu tentang aku. Bagaimana perasaan aku ke kamu. Dan jujur, aku tak bisa lagi menutupi perasaan itu. Aku... aku menyukai mu sejak awal kita bertemu."
DEG,,, I'm speechless. Ya.. aku terdiam. Aku rasa, saat itu jantung ku seakan berhenti berdetak. Aku seakan tak bisa berkata apa-apa lagi. Mulut seakan membisu, bahkan kaki terasa kaku. Apa yang aku takutkan, kini terjadi? Paul benar-benar mengutarakan nya di depan ku. Harus kah aku bahagia dengan semua ini?? Ataukah sebaliknya..?? Entahlah, kini hanya ada 2 pertanyaan yang bersarang dalam hati dan perasaan ku saat ini.
"Hingga detik ini, aku tak pernah tahu, sejak kapan aku mulai jatuh cinta kepada mu. Nagita, jika kamu bersedia, perkenankan aku untuk bisa mengenal mu lebih jauh lagi. Aku ingin, hubungan kita lebih dari sekedar teman biasa. Setidaknya aku ingin serius dengan mu" ucap paul yang berusaha meyakinkan aku. Bahkan ia tak segan-segan memohon kepada ku. Lalu apa yang bisa aku lakukan? Akankah aku meng "Iya" kan permintaan nya? Ataukah ...??
"Nagita,, are you okey?" Seru paul
"Paul,, aku..."
"PRAAKKKKKK...!!!" Seketika saja ku potong pembicaraan ku. Meski ku tahu, paul sangat menunggu jawaban ku. Tapi, entah apa yang membuat ku ingin beranjak dari tempat duduk ku. Suara nyaring itu, seakan mampu menggiring ku untuk sedikit mencari tahu asal muasal suara itu terdengar.
"Maaf tuan, saya tidak sengaja." Ya.. rupanya seseorang telah menabrak OB yg tengah berjalan mengantarkan minuman pesanan ku. Mungkin pemuda itu tak sengaja menabrak nya, hingga apa yang ia bawa semua jatuh dan menimbulkan sedikit kegaduhan yang bisa mengundang perhatian banyak orang termasuk aku..
"Kamu tidak apa-apa? Biar saya bantu."
"Gak usah repot-repot tuan. Biar saya saja yang bereskan."
"Raffi???" Pikir ku.
"Baiklah, lain kali hati-hati" ucap pemuda itu
"Baik tuan, terimakasih.."
Ya.. meski sekilas, bahkan aku tak sempat melihat wajah nya dengan jelas. Tapi aku yakin bahwa apa yang aku lihat beberapa menit yang lalu adalah raffi. Lalu, apa yang ia lakukan disini? Apakah ada sesuatu, hingga ia terlihat sangat terburu-buru?? Atau jangan-jangan raffi mendengar sesuatu?? Ahhhh..!! Sungguh, mengapa perasaan ku seperti ini?? Lalu, apa yg harus aku lakukan..??
"Nagita,, apa yang sedang kamu lakukan disini? Apakah ada sesuatu disana?" Tanya paul.
"Tidak, tidak ada paul. Sekarang duduklah, ada yang ingin aku sampaikan.."
Fiiuuuhhhh.. rasanya sesuatu. Untung saja paul tak melihat kejadian itu. Tapi ya sudah lah, sekarang bukan saat nya aku membahas soal raffi. Kini saat nya kembali kepada pokok permasalahan antara aku dan paul. Dari awal aku mengenal nya, tak pernah sedikitpun terlintas dibenak ku untuk suka atau ingin menitipkan cinta kepada nya. Aku hanya menganggapnya teman biasa, gak lebih. Hubungan kita pun berjalan real, dan apa ada nya, tanpa ingin mencampuri urusan pribadi (privasi) masing-masing. Dan aku akui, memang selama ini paul selalu memberi perhatian lebih untuk ku. Sedangkan aku hanya menanggapi nya dengan santai. Karena aku pikir, yang namanya pertemanan rasa-rasa nya wajar bila paul bersikap seperti itu kepada ku. Dan aku rasa itu bukan cinta.. ya.. bukanlah cinta. Namun, dibalik sikap dan sifat ku yang tertutup, rupanya banyak menarik perhatian paul dan membuatnya semakin penasaran dengan ku. Mengumpulkan informasi tentang ku, bukanlah hal yang sulit untuk nya. Itu terbukti saat beberapa teman dekat ku, tak terkecuali dinar yang tak lain adalah sahabat karib ku, menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Dan itu cukup membuat ku berkata "wow". Mungkin paul bisa semudah itu memperoleh informasi tentang diri ku, tapi tidak dengan hati ku, yang mungkin selama ini masih tertutup dengan rasa takut untuk memulai cinta yang baru. Jauh sebelum paul mengutarakan hal ini kepada ku, sedikit banyak aku memang sudah mengetahuinya. Terlebih banyak orang yang berkata sama tentang paul kepada ku. Sejak saat itu, aku sedikit membatasi diri ku untuk tidak terlampau jauh masuk kedalam kehidupan nya. Karena aku sadar, aku bukanlah siapa-siapa untuk nya. Aku tak ingin paul semakin berharap lebih kepada ku, karena aku tak ingin membuat nya kecewa.
"Nagita,,,?" Tanya paul lagi
"Paul, aku..."
"Katakan lah, nagita..?"
"Apa aku yakin dengan keputusan ku..?" Pikir ku. Aku sedikit mengatur nafas ku, sebelum akhirnya...
"Paul, aku sangat menghargai mu. Tapi, terlalu banyak hal yang tak kamu ketahui tentang aku. Dan aku rasa, itu tidak mudah."
"Aku tahu. Dan aku siap untuk melakukan nya. Asalkan kamu mau menuntun ku untuk lebih mengenal kehidupan mu."
"Paul.. "
"Nagita,, percayalah. Aku bisa membuktikan nya." Ucap paul yang berusaha meyakinkan ku atas apa yang disampaikan soal perasaan nya kepada ku.
"Paul, aku mengerti. Dan aku percaya kamu bisa melakukan nya. Tapi, kenyataan berkata lain. Kita berbeda, paul. Dan aku bukan wanita yang cocok untuk berdiri disamping kamu. Maafkan aku paul.."
"Tapi nagita..." ucapan paul pun terpotong saat dering handphone ku yang terdengar sangat nyaring. Dan benar saja, ternyata key menelpon ku. Sudah saat nya aku pergi.
"Maaf paul, aku harus pergi.."
"Nagita, aku mohon pikirkan lagi. Aku tak akan memaksa mu untuk menjawab pertanyaan ku sekarang. Tapi tolong pikirkan lagi." Ucap paul
"Terimakasih paul,, tapi maafkan aku, sekarang aku harus pergi." Aku pun segera bergegas untuk pergi. Mengingat sudah waktu nya key pulang. Bahkan seperti nya aku akan telat untuk bisa sampai sana. 10 menit lewat, bahkan kini...??
"Astaga.. ini sudah jam berapa??" Bathin ku
"Pak, apa tidak ada jalan lain selain ini?"
"Maaf non, ini jalan sudah yang paling cepat menurut bapak. Apa sebaiknya kita putar balik saja non, cari alternatif lain?"
"Tidak perlu, pak. Lebih baik lanjutkan saja." Aku sengaja tak membawa mobil, karena aku pikir lebih cepat menggunakan taxi. Tapi tenyata aku salah, malah macet tak terhindarkan yang ku dapat. Dan keadaan yang memaksa ku untuk tetap bersabar, meski kini rasa cemas mulai menyelimuti hati ku. Hingga saat nya aku tiba, ku lihat sekitar, bahkan di sekeliling nya, tak nampak lagi aktifitas sekolah disana. Semua sudut terasa sunyi, sepi.. lalu dimana key saat ini?? Aku mulai mencari keberadaan nya. Menanyakan kepada penjaga sekolah, satu hal yang selalu aku lupakan. Mungkin itu karena aku terlalu panik. Hingga aku lupa, sesungguhnya ada yang lebih tahu soal ini.
"Maaf, apakah ibu sedang mencari seseorang?" Ucap penjaga sekolah itu
"Tentu,, apa bapak tahu dimana dia? Apakah dia masih ada disini?"
"Ibu tidak usah khawatir, apakah dia putri yang ibu maksud??" Ucap penjaga sekolah tersebut, seraya menunjuk kearah taman bermain.
"Syukurlah, key masih disini. Rupanya key sedang bermain disana." Pikir ku.
"Ibu tak usah khawatir seperti itu, bukan kah sudah ada yang menjemput nya?" Ucap penjaga tersebut
"Maksud bapak apa?"
"Loh, bukan kah lelaki yang bersamanya adalah suami ibu? Oh, iya. Tunggu sebentar. Ini dompet bapak, yang gak sengaja jatuh saat meminta saya untuk memarkirkan mobil nya. Silahkan di cek kembali" Ucap penjaga sekolah tersebut.
"Tidak usah, terimakasih.. saya permisi.." aku pun segera berjalan untuk menemui mereka di taman. Namun ditengah perjalanan, aku tak sengaja menjatuhkan dompet yang sedari tadi aku genggam. Dengan segera aku ambil dompet itu, namun hanya karena ku raih ujung nya, maka lipatan-lipatan dalam dompet itu pun terlihat begitu jelas. Aku sempat tak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Apakah ini sungguhan? Ataukah cuma masalah penglihatan ku yang mulai terganggu ..?
"Tapi foto ini..?" Bathin ku
FlashbackOn
"Hai.. aku raffi, boleh aku duduk disini? Kebetulan aku sedang mencari objek untuk pengambilan gambar. Kamu mau jadi objek ku..?"
"Memang kamu fotografer?"
"Bukan,, tapi itu hobby ku."
"Mengapa bukan mereka saja yang kau jadikan objek mu? Kenapa harus aku??"
"Menurut ku, kamu lebih cocok."
"Mengapa demikian?? Bukankah mereka lebih cantik dan menarik?? dan seperti nya mereka lebih berhak mendapatkan nya. Ya.. Mungkin kamu salah.."
"Aku gak mungkin salah,,"
"Heuh.. dasar aneh.."
"Cekreeeekkkk.. Cekreeeekkkk"
"Raffi, apa yang kamu lakukan?? Sini,,! kasih foto itu ke aku, atau.."
"Atau apa? Katakan lah,, Makasih ya, aku suka. bye... "
"Raffiiii .. !!"
FlashbackOff
Aku masih memandang lekat kearah foto itu. Foto yang pernah raffi ambil secara paksa, disaat aku baru saja mengenal nya.
FlashbackOn
"Kamu tahu, aku masih menyimpan foto itu."
"Untuk apa lagi? Bukan kah kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau? Kamu tak perlu lagi menyimpan foto itu. Aku milik mu, kamu tinggal datang kerumah ku, bila memang kau merindukan aku."
"Tak semudah itu sayang. Perjuangan ku, dan penantian ku yang panjang untuk bisa mendapatkan mu, membuat ku tak bisa semudah itu untuk aku sia-siakan. Biarlah aku simpan foto ini. Dan aku tak akan pernah mengganti nya dengan yang lain, percayalah.. "
FlashbackOff
Masih teringat jelas dalam ingatan ku akan hal itu. Suatu pernyataan yang aku pikir, hanya ada didalam cerita dongeng. Rasa nya sulit untuk ku percaya, tapi itulah kenyataan nya. Aku mencoba untuk bisa mengontrol diri. Meski rasa nya sulit untuk bisa menutupi rasa itu.
"Mami...!" seru key. Aku pun segera mengusap air mata yang sempat menetes di pipi ku, menengadah kan sedikit seraya menyeka airmata ku, lalu berjalan kearah nya. Sebelum akhirnya, ku sambut key dengan rasa cinta. Ku peluk ia dengan rasa syukur, atas karunia yang telah Tuhan beri selama ini untuk ku.
"Are you crying, mam?"
"Emm, gak kok sayang. Mami bahagia... sangaattt bahagia. Apa yang kamu lakukan disini?? Kamu tahu?? Mami mencari mu sayang. Mami sangat mencemaskan mu. Mami takut terjadi sesuatu kepada mu. Kamu baik-baik saja, bukan??"
"Um'humm.. i am so happy, mam.." ucap key
"Sungguh??"
"Kamu sudah disini?"
"Raffi..."
"Kebetulan aku lewat sini. Dan aku hanya menemani nya bermain." Ucap raffi
"Makasih, kamu sudah mau menemani nya. Aku tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi bila kamu tak disini. Mungkin aku..."
"Ssssssttt... kamu tak usah memikirkan hal itu, karena aku tak akan membiarkan sesuatu terjadi pada nya. Kamu tenang saja. Aku akan selalu menjaga nya .." ucap raffi yang tersenyum kearah ku. Aku tahu, raffi begitu menyayangi putri nya, ia pasti menjaga nya dengan baik. Dan aku sangat percaya itu.
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.