Sunday, November 15, 2015

Life in future with you--- part 14

Life in future with you--- part 14

(Ini bukan soal akhir, bukan soal awal, bukan bagaimana memulainya dan bukan bagaimana caramu mengakhiri. Tapi ini tentang menjalani, bertahan dan mendewasa dalam setiap pilihan. Saat ini, tinggalah soal waktu. Tuhan hanya memberi sesuatu jika kita telah betul-betul siap memilikinya. Mungkin saja ada yang memang belum betul-betul siap, mungkin saja aku, mungkin saja dia, mungkin saja entah. Meyakini hal-hal semu memang tak mudah, tapi lebih baik daripada menjatuhkan diri pada kesedihan yang salah.)

  "Sekarang, kamu tahu bukan apa yang seharusnya kamu lakukan??" Ucap dinar
  "Ya.. akan ku pikirkan lagi.."
  "Tok..tok..tok.."
  "Masuk.."
  "Maaf bu, ada yang ingin bertemu." Ucap fara
  "Siapa?"
  "Mr. Paul.. Beliau menunggu ibu di lobby depan." lanjut fara
  "Paul??" Pikir ku
  "Kamu ada janji dengan nya?" Tanya dinar.
  "Aku tidak punya janji dengan siapapun. Fara, tolong suruh dia tunggu sebentar. Bilang saja aku masih ada tamu. 10 menit lagi aku kebawah" aku pun segera membereskan berkas-berkas yang sempat berserakan diatas meja kerja ku, dan siap-siap bergegas untuk segera menemui nya.
  "Kira-kira,, ada perlu apa paul kesini? Bukankah tidak ada jadwal meeting hari ini??" Tanya dinar
  "Entahlah. Aku sendiri belum tahu maksud dan tujuan nya datang kesini. Mungkin ada urusan lain. Kamu mau temani ku sebentar untuk menemui nya..?" Sedikit usulan konyol, tapi siapa tahu dinar mau menemani ku.
  "Aku..???? Gak .. Gak..! Aku gak mau ikut campur." Ucap dinar, yang sudah pasti menolak ajakan ku.
  "Ayolah sebentar.. " aku pun sedikit membujuk nya untuk ikut bersama ku. Setidaknya aku tidak sendiri.
  "Emmmpp.. ??" Sedikit berfikir panjang,, dan akhirnya...
  "Ok, untuk kali ini. Tapi,,, aku tidak bisa lama. Setelah itu, aku harus ke resto. Aku ada janji dengan restu. Oh.. Iya, kamu mau sekalian aku pesankan makanan?" tanya dinar, saat sedang berjalan keluar ruangan. Berhubung ruang kerja ku ada di lantai 3, maka aku harus turun ke lantai 1 untuk bisa sampai lobby dan menemui paul.
  "Tidak perlu. Lagi pula siang ini aku harus jemput key disekolah. Kamu tak usah menunggu ku disana. Aku sudah janji akan lunch bersama nya. Dan mungkin aku akan telat untuk kembali ke kantor."
  "Okey, sampaikan salam ku untuk nya. Sekarang lebih baik kamu temui dia. Kasihan, paul sudah menunggu lama. Ingat pesan ku. Aku jalan dulu ya? Bye..." ucap dinar

  "Maaf, kamu sudah lama?"
  "Em.. It's ok. Kamu sibuk? Apa kedatangan ku ini mengganggu mu?" ucap paul
  "Gak, sama sekali tidak paul. Apa ada sesuatu? Seperti nya ada yang ingin kamu sampaikan?"
  "Kita cari tempat yang lebih santai, bisa? Kita duduk disana saja, sepertinya lebih baik.." paul pun membawa ku ke tempat yang jauh lebih santai untuk sekedar ngobrol, meski masih di sekitar lobby, tapi menurut ku itu jauh lebih baik.
  "Sebelum nya, kamu mau minum apa? Biar sekalian aku buatkan untuk mu."
  "Tidak usah, nagita. Kamu tak usah repot-repot seperti itu. Lagi pula ada yang lebih penting dari pada itu. Lebih baik sekarang kamu duduk, santai lah sebentar, tak usah tegang begitu, biasa saja" ucap paul. Ya.. Mungkin saat ini aku terlihat cemas. Itu semua dikarenakan aku ada keperluan lain. Tidak kurang dari 30 menit, aku harus segera pergi ke sekolah untuk menjemput putri ku. Tapi bagaimana dengan paul? Haruskah aku berkata sejujurnya dan meninggalkan nya sendiri disini? Tapi, tunggulah sebentar, tak usah terburu-buru. Dan seperti nya aku harus bersabar. Lebih baik aku dengarkan dulu apa maksud dan tujuan nya kesini. Siapa tahu itu penting.
  "Sudah lama aku ingin membicarakan hal ini dengan mu. Tapi rasa nya sulit menemukan waktu yang tepat untuk merencanakan itu semua. Mungkin itu disebabkan karena kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing." Ucap paul
  "Lalu, apa tujuan mu kesini? Apa ada masalah dengan proyek kita? Apa kamu kurang setuju dengan usulan ku tempo hari? Atau...?" 
  "No.. no.. ! It's not that. Ini gak ada hubungan nya dengan pekerjaan."
  "Lalu?"
  "Ada hal lain yg ingin aku sampaikan. Ini soal hubungan kita." Ucap paul
  "Kita??" pikir ku
  "Ya.. aku tahu, mungkin ini tak pantas untuk aku katakan disini. Tapi... Ada hal yang memang seharusnya kamu ketahui sejak dulu." ucap paul. 
Sungguh aku sama sekali tak mengerti, apa maksud dari semua nya? Mengapa paul tiba-tiba berkata seperti itu? Tapi aku mencoba untuk tetap bersikap tenang, mencoba menghargai apa yang ingin paul sampaikan kepada ku. Meski beberapa pertanyaan dan spekulasi pun muncul dalam angan ku. Seakan timbul keraguan di hati ini. Bahkan aku seakan takut untuk menjawab sesuatu, bilamana paul memberi ku pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan menyudutkan ku. Tapi itu baru feel ku, dan belum tentu juga sama dengan apa yang aku pikirkan saat ini.
  "Nagita.." lambaian tangan paul pun melintas tepat didepan mata ku. Dan itu cukup mengagetkan ku. Aku seolah ada dibawah alam sadar ku. Rasa takut itu seakan menguasai otak dan pikiran ku saat ini.
  "Kamu baik-baik saja?"
Mana mungkin aku jawab dengan kata "tidak". Aku tak ingin membuat nya semakin curiga dengan sikap ku. Hingga aku menjawab "Ya..". Meski dengan sangat hati-hati, bahkan ragu untuk berkata seperti itu. Tapi aku tutupi semua nya dan berusaha melempar senyuman tipis ke arah nya. Meski ku tahu sesungguhnya "i'm not fine.".
  "Okey. Mungkin, kamu sudah mendengar dari beberapa relasi mu tentang aku. Bagaimana perasaan aku ke kamu. Dan jujur, aku tak bisa lagi menutupi perasaan itu. Aku... aku menyukai mu sejak awal kita bertemu."
DEG,,, I'm speechless. Ya.. aku terdiam. Aku rasa, saat itu jantung ku seakan berhenti berdetak. Aku seakan tak bisa berkata apa-apa lagi. Mulut seakan membisu, bahkan kaki terasa kaku. Apa yang aku takutkan, kini terjadi? Paul benar-benar mengutarakan nya di depan ku. Harus kah aku bahagia dengan semua ini?? Ataukah sebaliknya..?? Entahlah, kini hanya ada 2 pertanyaan yang bersarang dalam hati dan perasaan ku saat ini. 
  "Hingga detik ini, aku tak pernah tahu, sejak kapan aku mulai jatuh cinta kepada mu. Nagita, jika kamu bersedia, perkenankan aku untuk bisa mengenal mu lebih jauh lagi. Aku ingin, hubungan kita lebih dari sekedar teman biasa. Setidaknya aku ingin serius dengan mu" ucap paul yang berusaha meyakinkan aku. Bahkan ia tak segan-segan memohon kepada ku. Lalu apa yang bisa aku lakukan? Akankah aku meng "Iya" kan permintaan nya? Ataukah ...??
  "Nagita,, are you okey?" Seru paul
  "Paul,, aku..."
  "PRAAKKKKKK...!!!" Seketika saja ku potong pembicaraan ku. Meski ku tahu, paul sangat menunggu jawaban ku. Tapi, entah apa yang membuat ku ingin beranjak dari tempat duduk ku. Suara nyaring itu, seakan mampu menggiring ku untuk sedikit mencari tahu asal muasal suara itu terdengar.

  "Maaf tuan, saya tidak sengaja." Ya.. rupanya seseorang telah menabrak OB yg tengah berjalan mengantarkan minuman pesanan ku. Mungkin pemuda itu tak sengaja menabrak nya, hingga apa yang ia bawa semua jatuh dan menimbulkan sedikit kegaduhan yang bisa mengundang perhatian banyak orang termasuk aku..
  "Kamu tidak apa-apa? Biar saya bantu."
  "Gak usah repot-repot tuan. Biar saya saja yang bereskan."
  "Raffi???" Pikir ku.
  "Baiklah, lain kali hati-hati" ucap pemuda itu
  "Baik tuan, terimakasih.."
Ya.. meski sekilas, bahkan aku tak sempat melihat wajah nya dengan jelas. Tapi aku yakin bahwa apa yang aku lihat beberapa menit yang lalu adalah raffi. Lalu, apa yang ia lakukan disini? Apakah ada sesuatu, hingga ia terlihat sangat terburu-buru?? Atau jangan-jangan raffi mendengar sesuatu?? Ahhhh..!! Sungguh, mengapa perasaan ku seperti ini?? Lalu, apa yg harus aku lakukan..??

  "Nagita,, apa yang sedang kamu lakukan disini? Apakah ada sesuatu disana?" Tanya paul.
  "Tidak, tidak ada paul. Sekarang duduklah, ada yang ingin aku sampaikan.." 
Fiiuuuhhhh.. rasanya sesuatu. Untung saja paul tak melihat kejadian itu. Tapi ya sudah lah, sekarang bukan saat nya aku membahas soal raffi. Kini saat nya kembali kepada pokok permasalahan antara aku dan paul. Dari awal aku mengenal nya, tak pernah sedikitpun terlintas dibenak ku untuk suka atau ingin menitipkan cinta kepada nya. Aku hanya menganggapnya teman biasa, gak lebih. Hubungan kita pun berjalan real, dan apa ada nya, tanpa ingin mencampuri urusan pribadi (privasi) masing-masing. Dan aku akui, memang selama ini paul selalu memberi perhatian lebih untuk ku. Sedangkan aku hanya menanggapi nya dengan santai. Karena aku pikir, yang namanya pertemanan rasa-rasa nya wajar bila paul bersikap seperti itu kepada ku. Dan aku rasa itu bukan cinta.. ya.. bukanlah cinta. Namun, dibalik sikap dan sifat ku yang tertutup, rupanya banyak menarik perhatian paul dan membuatnya semakin penasaran dengan ku. Mengumpulkan informasi tentang ku, bukanlah hal yang sulit untuk nya. Itu terbukti saat beberapa teman dekat ku, tak terkecuali dinar yang tak lain adalah sahabat karib ku, menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Dan itu cukup membuat ku berkata "wow". Mungkin paul bisa semudah itu memperoleh informasi tentang diri ku, tapi tidak dengan hati ku, yang mungkin selama ini masih tertutup dengan rasa takut untuk memulai cinta yang baru. Jauh sebelum paul mengutarakan hal ini kepada ku, sedikit banyak aku memang sudah mengetahuinya. Terlebih banyak orang yang berkata sama tentang paul kepada ku. Sejak saat itu, aku sedikit membatasi diri ku untuk tidak terlampau jauh masuk kedalam kehidupan nya. Karena aku sadar, aku bukanlah siapa-siapa untuk nya. Aku tak ingin paul semakin berharap lebih kepada ku, karena aku tak ingin membuat nya kecewa.
  "Nagita,,,?" Tanya paul lagi
  "Paul, aku..."
  "Katakan lah, nagita..?"
  "Apa aku yakin dengan keputusan ku..?" Pikir ku. Aku sedikit mengatur nafas ku, sebelum akhirnya...
  "Paul, aku sangat menghargai mu. Tapi, terlalu banyak hal yang tak kamu ketahui tentang aku. Dan aku rasa, itu tidak mudah."
  "Aku tahu. Dan aku siap untuk melakukan nya. Asalkan kamu mau menuntun ku untuk lebih mengenal kehidupan mu."
  "Paul.. "
  "Nagita,, percayalah. Aku bisa membuktikan nya." Ucap paul yang berusaha meyakinkan ku atas apa yang disampaikan soal perasaan nya kepada ku.
  "Paul, aku mengerti. Dan aku percaya kamu bisa melakukan nya. Tapi, kenyataan berkata lain. Kita berbeda, paul. Dan aku bukan wanita yang cocok untuk berdiri disamping kamu. Maafkan aku paul.."
  "Tapi nagita..." ucapan paul pun terpotong saat dering handphone ku yang terdengar sangat nyaring. Dan benar saja, ternyata key menelpon ku. Sudah saat nya aku pergi.
  "Maaf paul, aku harus pergi.."
  "Nagita, aku mohon pikirkan lagi. Aku tak akan memaksa mu untuk menjawab pertanyaan ku sekarang. Tapi tolong pikirkan lagi." Ucap paul
  "Terimakasih paul,, tapi maafkan aku, sekarang aku harus pergi." Aku pun segera bergegas untuk pergi. Mengingat sudah waktu nya key pulang. Bahkan seperti nya aku akan telat untuk bisa sampai sana. 10 menit lewat, bahkan kini...??
  "Astaga.. ini sudah jam berapa??" Bathin ku
  "Pak, apa tidak ada jalan lain selain ini?"
  "Maaf non, ini jalan sudah yang paling cepat menurut bapak. Apa sebaiknya kita putar balik saja non, cari alternatif lain?"
  "Tidak perlu, pak. Lebih baik lanjutkan saja." Aku sengaja tak membawa mobil, karena aku pikir lebih cepat menggunakan taxi. Tapi tenyata aku salah, malah macet tak terhindarkan yang ku dapat. Dan keadaan yang memaksa ku untuk tetap bersabar, meski kini rasa cemas mulai menyelimuti hati ku. Hingga saat nya aku tiba, ku lihat sekitar, bahkan di sekeliling nya, tak nampak lagi aktifitas sekolah disana. Semua sudut terasa sunyi, sepi.. lalu dimana key saat ini?? Aku mulai mencari keberadaan nya. Menanyakan kepada penjaga sekolah, satu hal yang selalu aku lupakan. Mungkin itu karena aku terlalu panik. Hingga aku lupa, sesungguhnya ada yang lebih tahu soal ini.

  "Maaf, apakah ibu sedang mencari seseorang?" Ucap penjaga sekolah itu
  "Tentu,, apa bapak tahu dimana dia? Apakah dia masih ada disini?"
  "Ibu tidak usah khawatir, apakah dia putri yang ibu maksud??" Ucap penjaga sekolah tersebut, seraya menunjuk kearah taman bermain.
  "Syukurlah, key masih disini. Rupanya key sedang bermain disana." Pikir ku.
  "Ibu tak usah khawatir seperti itu, bukan kah sudah ada yang menjemput nya?" Ucap penjaga tersebut
  "Maksud bapak apa?"
  "Loh, bukan kah lelaki yang bersamanya adalah suami ibu? Oh, iya. Tunggu sebentar. Ini dompet bapak, yang gak sengaja jatuh saat meminta saya untuk memarkirkan mobil nya. Silahkan di cek kembali" Ucap penjaga sekolah tersebut.
  "Tidak usah, terimakasih.. saya permisi.." aku pun segera berjalan untuk menemui mereka di taman. Namun ditengah perjalanan, aku tak sengaja menjatuhkan dompet yang sedari tadi aku genggam. Dengan segera aku ambil dompet itu, namun hanya karena ku raih ujung nya, maka lipatan-lipatan dalam dompet itu pun terlihat begitu jelas. Aku sempat tak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Apakah ini sungguhan? Ataukah cuma masalah penglihatan ku yang mulai terganggu ..?
  "Tapi foto ini..?" Bathin ku
FlashbackOn
  "Hai.. aku raffi, boleh aku duduk disini? Kebetulan aku sedang mencari objek untuk pengambilan gambar. Kamu mau jadi objek ku..?"
  "Memang kamu fotografer?"
  "Bukan,, tapi itu hobby ku."
  "Mengapa bukan mereka saja yang kau jadikan objek mu? Kenapa harus aku??"
  "Menurut ku, kamu lebih cocok."
  "Mengapa demikian?? Bukankah mereka lebih cantik dan menarik?? dan seperti nya mereka lebih berhak mendapatkan nya. Ya.. Mungkin kamu salah.."
  "Aku gak mungkin salah,,"
  "Heuh.. dasar aneh.."
  "Cekreeeekkkk.. Cekreeeekkkk"
  "Raffi, apa yang kamu lakukan?? Sini,,! kasih foto itu ke aku, atau.."
  "Atau apa? Katakan lah,, Makasih ya, aku suka. bye... "
  "Raffiiii .. !!"
FlashbackOff
Aku masih memandang lekat kearah foto itu. Foto yang pernah raffi ambil secara paksa, disaat aku baru saja mengenal nya.
FlashbackOn
  "Kamu tahu, aku masih menyimpan foto itu."
  "Untuk apa lagi? Bukan kah kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau? Kamu tak perlu lagi menyimpan foto itu. Aku milik mu, kamu tinggal datang kerumah ku, bila memang kau merindukan aku."
  "Tak semudah itu sayang. Perjuangan ku, dan penantian ku yang panjang untuk bisa mendapatkan mu, membuat ku tak bisa semudah itu untuk aku sia-siakan. Biarlah aku simpan foto ini. Dan aku tak akan pernah mengganti nya dengan yang lain, percayalah.. "
FlashbackOff
Masih teringat jelas dalam ingatan ku akan hal itu. Suatu pernyataan yang aku pikir, hanya ada didalam cerita dongeng. Rasa nya sulit untuk ku percaya, tapi itulah kenyataan nya. Aku mencoba untuk bisa mengontrol diri. Meski rasa nya sulit untuk bisa menutupi rasa itu. 
  "Mami...!" seru key. Aku pun segera mengusap air mata yang sempat menetes di pipi ku, menengadah kan sedikit seraya menyeka airmata ku, lalu berjalan kearah nya. Sebelum akhirnya, ku sambut key dengan rasa cinta. Ku peluk ia dengan rasa syukur, atas karunia yang telah Tuhan beri selama ini untuk ku.
  "Are you crying, mam?"
  "Emm, gak kok sayang. Mami bahagia... sangaattt bahagia. Apa yang kamu lakukan disini?? Kamu tahu?? Mami mencari mu sayang. Mami sangat mencemaskan mu. Mami takut terjadi sesuatu kepada mu. Kamu baik-baik saja, bukan??" 
  "Um'humm.. i am so happy, mam.." ucap key
  "Sungguh??"
  "Kamu sudah disini?"
  "Raffi..."
  "Kebetulan aku lewat sini. Dan aku hanya menemani nya bermain." Ucap raffi
  "Makasih, kamu sudah mau menemani nya. Aku tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi bila kamu tak disini. Mungkin aku..."
  "Ssssssttt... kamu tak usah memikirkan hal itu, karena aku tak akan membiarkan sesuatu terjadi pada nya. Kamu tenang saja. Aku akan selalu menjaga nya .." ucap raffi yang tersenyum kearah ku. Aku tahu, raffi begitu menyayangi putri nya, ia pasti menjaga nya dengan baik. Dan aku sangat percaya itu. 

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

Wednesday, November 4, 2015

Life in future with you--- part 13

Life in future with you--- part 13

 ("Dedy.." ucap key disela-sela tangis nya. Raffi pun langsung memeluk key dengan penuh cinta, mendekap erat dengan kasih yang mungkin selama ini belum pernah ia lakukan pada putri nya. 4 tahun menunggu untuk bisa merasakan hangat nya di peluk sang ayah, membuat ku sadar.. tak akan ada yang bisa menggantikan posisi di hati nya. Ikatan bathin pun tetap ada, darah yang mengalir pun begitu pekat terasa. Meski aku tahu, mungkin ini pemandangan yang belum pernah aku lihat sebelum nya. Huhhfff,, rasa nya hilang sudah beban ku dengan segenap rasa bahagia yang aku rasakan saat ini. Aku seolah larut dalam rasa haru, yang mungkin tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. Bahagia mu adalah bahagia ku, sedih mu adalah sedih ku, dan akan selama nya seperti itu, hingga nanti saat nya kamu mengerti, betapa aku sangat menyayangi mu, putri ku.. )

Aku hanya bisa tersenyum kearah nya, seraya menyilangkan kedua tangan tepat di dada. Aku berharap, kebahagiaan itu tak akan berakhir sampai disini. Berharap kelak akan ada kebahagiaan lain dihari-hari berikut nya.

  "Don't go away, dedy. Stay with me, please..? I don't want you away from me.." ucap key saat masih berada di pelukan nya.
Aku tahu, key pasti menginginkan raffi selalu berada disamping nya. Seperti anak-anak lain pada umum nya, yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari seorang ayah, yang mungkin saja tak pernah ia dapatkan dari aku selaku ibu nya..
  "Don't be afraid, ok?? I'm don't go anywhere. I'm here,, always be near you."
  "Would you promise me?" Key pun menatap nya dengan penuh harap, yang berharap dedy nya akan berkata "iya" atas pertanyaan nya. Dan akhirnya...
  "Ya.....I'm promise you." Jawaban yang selama ini key tunggu-tunggu. Raffi pun tersenyum kearah nya, mencium nya dengan penuh cinta.
  "Thank you.. Miss you, dedy. I miss you so much." Key pun kembali memeluk nya. Saat itu juga aku bahagia,,, Sangaaattt bahagia... Andai kalian tahu bagaimana perasaan ku saat ini..? Huuuffftt.. tapi aku bisa apa??? Aku hanya bisa menghela nafas panjang, hanya bisa memandangi nya, memandang lekat kearah nya, tanpa berani aku melangkahkan kaki untuk sedikit mendekat kepada nya. Tapi,,,
  "Mami...? Are you ok?"
Aku sama sekali tak bergeming. Aku seakan mematung, dan tak mendengar sedikit pun apa yang mereka katakan kepada ku. Yang ku rasa hanya sunyi.. entah kemana pikiran ku saat ini..??

  "Dedy..?"
  "Biar dedy yang bicara sama mami, Ok? Lebih baik kamu tunggu disini." Mungkin saat itu, raffi mulai perlahan jalan kearah ku.
  "Nagita..? Nagita..?" Ucapan nya pun seolah mengagetkan ku.
  "Raffi...?" Semua nya seakan terasa mimpi.
  "Apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu menangis..?" Raffi pun mulai mengusap lembut sisa airmata yang sempat mengotori wajah ku. Entahlah, sejak kapan raffi berada di depan ku, ia seakan mulai memperhatikan ku.
  "Emmm.. aku gak apa-apa" aku segera menepis nya.
  "Mami... dedy..." seru key
  "Kamu dengar?? Sedari tadi key memanggil mu, kasian dia,,,"
  "Maafkan aku.."
  "It's ok. Sebaiknya sekarang kita pulang. Karena kamu masih harus banyak istirahat."
  "Mami,, dedy,, let's go.." seru key mungkin ini untuk yang kesekian kali nya key memanggil ku.
  "Kamu lihat, rupanya dia sudah tidak sabar menunggu untuk cepat-cepat pulang. Baiklah,, ayo mami..?" Raffi pun mengulurkan tangan nya dihadapan ku. Aku sejenak terdiam, sedikit menoleh kearah nya. Aku sadar dengan apa yang raffi katakan....  Mami??? Apa mungkin ada yang salah dengan pendengaran ku saat ini?? Mungkinkah raffi salah memanggil ku dengan sebutan itu?? Atau....
  "Come on, mami..??" Seru key. OK!! Aku tak ingin mengambil pusing dengan apa yang raffi ucapkan sebelum nya. Aku tak ingin key menunggu ku terlalu lama. Hingga aku meng "iya" kan begitu saja uluran tangan raffi dan bergegas untuk pulang.

Sejak saat itu, raffi sering berkunjung ke rumah ku. Entah dengan alasan ingin bertemu key, atau ada hal lain yang membuat nya begitu intens untuk datang kerumah ku. Raffi terlihat begitu bahagia dengan dunia baru nya, dunia nya bersama key, membuat nya enggan untuk beranjak dari tempat dimana pun key berada. Setiap hari libur, raffi selalu mengajak nya jalan-jalan. Ya.. sekedar lunch atau dinner di luar. Atau hanya sekedar bermain ke taman komplek depan rumah ku. Dan mau gak mau aku harus ikut menemani mereka. Layak nya ibu yang sedang mengawasi anak-anak nya bermain. Aku duduk sambil memperhatikan setiap apa yang mereka ber 2 lakukan. Kadang sempat terlintas di benak dan pikiran ku, apakah ada seseorang yang bisa membuat key tersenyum lepas seperti yang raffi lakukan kepada nya?? Apakah ada seseorang yang bisa menyayangi key lebih dari kasih sayang yang raffi beri untuk nya?? Apakah ada seseorang yang bisa membuatnya merasa nyaman, senyaman key saat berada disamping raffi?? Apa sebaiknya aku terima saja lamaran raffi, hidup bersama nya, dan menjadi keluarga kecil yang seutuh nya..? Entah lah, mengapa aku bisa berfikir seperti itu. Aku melihat sekeliling taman, rupanya tak sedikit juga yang tersenyum memperhatikan ku. Bahkan melintas dan menyapa ku..
  "Kalian ini pasangan yang cocok ya..? Mari bu, kita duluan.." ucap seseorang yang aku sendiri tak begitu mengenal nya. Hingga aku hanya meringis, manggut-manggut  mendengar pernyataan dari setiap orang yang lewat dihadapan ku dan berkata yang sama dengan apa yang orang itu katakan. Mungkin mereka mengira, kita ini keluarga kecil yang bahagia. Andai mereka tahu yang sebenar nya..?? Tapi, jika mereka tahu apa yang sebenar nya terjadi, apa mungkin mereka akan berkata yang sama?? Entah lah, yang jelas aku masih belum bisa memberikan keputusan. Tapi, jika aku boleh berkata jujur... aku selalu merasa nyaman bila berada di dekat nya.
  "Kamu kenapa? Kok senyum-senyum sendiri..?"
  "Gak.. aku gak apa-apa."

Kehadiran raffi, seakan mampu mengubah segala nya. Segalanya yang biasa menjadi lebih berarti. Tawa, bahagia, canda selalu mengiringi apa yang sedang mereka perbuat. Kadang aku merasa jengkel dengan apa yang mereka lakukan, tapi itu semua cuma sesaat.. setelah itu mereka berusaha untuk bisa membuat ku tertawa dan melupakan apa yang sudah mereka lakukan kepada ku. Lucu juga pikir ku, tapi itulah kenyataan nya. Sifat dan kelakuan yang sama persis membuat mereka mudah bersatu. Mungkin benar, pepatah mengatakan "Buah jatuh tak akan jauh dari pohon nya" dan itu lah yang terjadi antara raffi dan key.

Malam itu, raffi datang kerumah ku, yang kebetulan hanya ada aku dan key saja dirumah. Mengetahui yang datang itu dedy nya, key pun langsung berlari kearah nya, dan menyambut kedatangan dedy nya dengan suka cita.
  "Dedy...?" 
  "Iya sayang.. Kamu apakabar? Kamu baik-baik saja, bukan?"
  "Um'humm.." key pun mengangguk pelan, aku tahu bagaimana penantian key menunggu kedatangan raffi malam ini. Mungkin mengalahkan segala nya. Ya.. memang sudah 3 hari ini raffi tidak bisa menemani nya bermain, karena disibukkan dengan beberapa pekerjaan nya dikantor. Hingga raffi harus meninggalkan key, dan tak bisa bertemu dengan nya untuk beberapa hari ini.
  "Kamu baru pulang?"
  "Emm.. iya, kebetulan aku ada meeting dengan paul." Ucap raffi
  "Kamu sudah makan?"
  "Um'humm.." raffi hanya menggelengkan kepalanya. Sudah ku duga, raffi pasti langsung bergegas kesini.
  "Lebih baik kamu makan dulu, biar aku siapkan makanan untuk mu. Kamu tunggu disini."
Aku pun menyajikan beberapa menu makanan yang memang sudah aku siapkan sebelum nya. Berhubung cuma ada aku dan key saja ber 2 pikir ku, maka aku tak begitu banyak menu makanan yang ku masak untuk dinner kita malam ini. Tapi bagaimana dengan raffi...? Tak pernah terlintas dibenak ku bahwa raffi akan datang malam ini, semua datang secara tiba-tiba. Dan mana mungkin aku membiarkan nya begitu saja. Aku tahu raffi lebih membutuhkan nya. Hingga aku hanya mengambil kan 2 piring untuk key dan raffi saja,, sedangkan aku.. ?? Hanya menemani mereka bersantap malam.
  "Kamu gak ikut makan??" Ucap raffi
  "Mana mungkin aku bilang yang sebenar nya kepada raffi..?" Bathin ku.
  "Mam,, mau aku suapin??" Ucap key
  "Emm.. gak, gak usah sayang. Mami masih kenyang. Kalian saja yang makan. Mami sudah makan kok.."
  "Benar begitu?? Kamu gak lagi bohong, bukan?" Raffi pun seolah menyudutkan ku. Tapi.. sudahlah, aku tak begitu menghiraukan perkataan nya. Aku tetap menemani nya, sampai akhirnya mereka selesai makan. Setelah itu, aku membiarkan raffi untuk menemani key bermain.
 
  "Kok sepi, key mana?" Ucap mama yang tiba-tiba saja muncul di belakang ku
  "Mama,, aku pikir siapa? Dia sedang bermain diruang tengah, bersama raffi."
  "Raffi..? Tumben malam-malam kesini, dari tadi??" Tanya mama ku lagi
  "Lumayan, ,"
  "Lalu kenapa kamu masih disini? Kamu gak mau temani mereka?" Mama pun menoleh kearah ku, seolah menatap ku dengan tatapan yang berbeda, seakan mengisyaratkan sesuatu kepada ku.
  "Biarlah mah, aku masih ingin disini. Lagi pula, sudah lama juga raffi tak bertemu dengan key. Biarkan mereka saling melepas rindu. Aku tak ingin menggangu mereka ber 2."
  "Kalo gitu biar mama yang temani mereka." Mama pun perlahan berjalan menjauh dari ku.
  "Mah.. mama.. tunggu!" seru ku. Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin aku ceritakan. Ini soal perasaan ku yang akhir-akhir ini kadang membuat ku sulit untuk berfikir. Aku mengikuti setiap langkah nya berharap aku bisa bercerita sedikit kepada mama.
  "Kenapa? Kamu berubah pikiran??" Ucap mama ku. 
  "Gak.. bukan itu, tapi..." aku pun sejenak terdiam, memotong pembicaraan ku, saat aku melihat key sedang asik bercanda dengan raffi. Sebenar nya ini bukan kali pertama nya aku melihat ke asikan mereka saat bermain, tapi.... Entah apa yang membuat ku merasakan hal yang berbeda. Yang jelas, aku bangga dengan apa yang raffi dilakukan belakangan ini.
  "Apa kamu tak ingin berada diantara mereka?" Ucap mama ku tiba2, rupanya mama pun sama-sama sedang memperhatikan mereka yang sedang asik dengan dunia baru nya. Bahagia,, ? sudah jelas terpancar dari kedua nya. Terlihat saat raffi mulai mendudukkan key di sofa, dan membacakan nya buku cerita sambil memeluk nya. Aku seakan tak percaya... 
  "Lalu apa yang ingin kamu katakan? Soal raffi..?" Tanya mama seakan mengagetkan ku.
  "Gak.. gigi cuma mau bilang, caca ada di apartemen sekarang."
  "Caca sudah memberi tahu mama soal itu." Ucap mama ku. Aku sengaja mengurungkan niat ku untuk sekedar bercerita kepada nya. Mungkin lain kali saja aku akan menceritakan nya. Karena aku tahu, jawaban mama pasti sama seperti yang sebelum-sebelum nya.
  "Kamu lihat,,? Begitu sabar nya raffi memperlakukan key. Hingga dalam keadaan lelah, raffi masih tetap mau mengajak nya bermain." Ucap mama ku. Aku sejenak terdiam, namun tak sedikit pun aku memalingkan pandangan ku untuk tetap memperhatikan nya.
  "Then what will happen after that?? Whether the princess will live happily with the prince, dedy?" Ucap key disela rasa letih dan kantuk nya.
  "Ya.. tentu. They will live together, and happily ever after.. Good nite sayang, have a nice dream my princess." ucap raffi
Itulah yang ku dengar dari sepenggal cerita yang raffi bacakan sebelum akhirnya key terlelap dalam pelukan nya. Dan raffi pun akhir nya pulang, mengingat malam semakin larut.
***
Pagi itu, aku tak begitu sibuk dengan apa yang aku kerjakan saat ini. Hanya beberapa berkas saja yang harus aku tandatangani, setelah itu...
  "Apa ada agenda lain setelah ini??"
  "Tidak ada, kebetulan semua jadwal pertemuan di cencel hingga beberapa hari kedepan." Ucap fara
  "Baiklah kalo begitu. Bisa tolong kamu panggil kan dinar untuk ke ruangan ku?"
  "Baik, saya permisi." Ucap fara. Aku sengaja menyuruh nya kesini, karena ada hal yang ingin aku ceritakan kepada nya. Kebetulan tak ada kesibukan lain, hingga aku bisa leluasa untuk sekedar ngobrol santai bersama dinar diruangan ku.

  "Kamu mencari ku??" Ucap dinar
  "Duduklah dulu,,"
  "Ngomong-ngomong apakabar dengan keponakan kecil ku? Aku sangat merindukan nya. Kapan-kapan aku kan mengajak nya pergi, boleh? Aku ingin mengajak nya ke suatu tempat." Ucap dinar yang mulai duduk di kursi depan meja kerja ku. Aku hanya tersenyum simpul kearah nya. 
  "Memang nya kamu mau ajak kemana dia? Lagi pula key tidak pernah bisa jauh dari ku. So, .."
  "Ya..ya.. aku ngerti. Akan ku pikirkan lagi bila harus mengajak mu. Bukan begitu maksud mu?? " Ucap dinar
  "Baguslah, akhirnya kamu mengerti maksud ku."
  "Lalu apa tujuan mu meminta ku kesini? Apakah ada hal yang serius?"
Aku mulai berjalan ke tempat yang lebih terlihat santai. Menarik nafas panjang, sebelum akhirnya aku memulai pembicaraan.
  "Din.. ?" Dan lagi-lagi ucap ku tertahan, aku seakan tak bisa mengungkapkan nya.
  "Apa? Katakan lah apa yang ingin kamu katakan kepada ku..?
  "Akhir-akhir ini aku bingung dengan perasaan ku sendiri."
  "Apa yang membuat mu bingung? Apa ini ada hubungan nya dengan kisah asmara mu??"
  "Asmara.. ?" aku hanya tersenyum kearah dinar yang mulai berjalan mendekati ku.
  "Ya maksud aku, apa ini ada hubungan nya dengan paul? Atau raffi?"
  "Mungkin,,"
  "Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
  "Entah lah din.. "
  "Ikuti kata hati mu, gi. Aku percaya, kamu lebih pandai memilih siapa yang berhak kamu pilih." Ucap dinar. Ya.. aku mengerti, tapi ini bukan masalah bagaimana memilih yang terbaik diantara yang baik, melainkan menyangkut masalah hati.
  "Gigi? Are you ok? Please, specify your choice from now. Don't make them wait long, ok? Kamu mengerti kan maksud ku?"
  "Ya.. aku mengerti."
  "Aku cuma ingin melihat mu bahagia gi, karena kamu berhak bahagia." Dinar pun langsung menyambut ku dengan pelukan nya, sedikit meredam perasaan ku dan mulai menenangkan pikiran ku.
  "Hidup itu pilihan. Life is all about making choices. Always do your best the right ones. And always do your best to learn from the wrong one. Ok?" Ucap dinar

Tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ketika diri sendiri merasa terlalu sepi untuk lari dari sunyi, namun terlalu enggan mencari yang mampu mendampingi. Seakan cinta di dalam dada terlampau berharga untuk diberikan begitu saja. Seakan kosong di dalam hati terlalu kecil untuk bisa kututupi sendiri, padahal tidak. Semua bagai berpura-pura, namun bukan begitu sebenarnya. Aku hanya takut terluka, sebab segala cinta yang ku kenal, belum ada yang berakhir bahagia. Semiris itukah cinta yang menghampiri hati? Atau aku yang tak berhati-hati menaruh hati?
Jika mencintai berarti memberi hati seutuhnya, aku tidak ingin mempertaruhkannya pada yang mahir meretakkan. Karena tidak pernah ada yang tahu telah sejauh apa aku memunguti serpihan itu satu persatu untuk mengumpulkannya, lalu menyatukannya lagi hingga sempurna, hingga tak ada luka. Setelah sembuh, lalu semudah itu seorang baru merobohkan hatiku hingga runtuh kembali?
Aku tahu, tak baik terus begini. Bagaimana bahagia itu bisa mendatangi, jika membuka hati saja aku tak berani? Dengan alasan apapun, yang punya awal pasti kelak berakhir. Meski sudah melangkah paling hati-hati, kuyakin ada saatnya hati akan sakit kemudian sembuh sendiri. Namun aku lelah bila terus menerus terjebak pada situasi yang sama. Seseorang datang, mendekat, bersama, sakit, lalu berujung aku, atau dia yang luka. Jika boleh memilih, akan aku buat jalan cerita itu sendiri, bak cerita dongeng yang akan selalu berakhir bahagia. Akan tetapi, ini bukanlah sebuah cerita fiksi, yang dengan mudah nya kita buatkan alur tanpa ada nya kerikil-kerikil tajam yang siap mengguncang para lakon nya. Tapi inilah yang dinamakan perjalanan hidup. Kaki bertugas melintasi, dan hati mempelajari apapun yang semesta beri. Sejuta tempat singgah, berkelana hingga berdiam di titik lelah, masing-masing dari kita pasti akan menemukan seseorang yang bisa disebut rumah.
Ini bukan soal akhir, bukan soal awal, bukan bagaimana memulainya dan bukan bagaimana caramu mengakhiri. Tapi ini tentang menjalani, bertahan dan mendewasa dalam setiap pilihan. Saat ini, tinggalah soal waktu. Tuhan hanya memberi sesuatu jika kita telah betul-betul siap memilikinya. Mungkin saja ada yang memang belum betul-betul siap, mungkin saja aku, mungkin saja dia, mungkin saja entah. Meyakini hal-hal semu memang tak mudah, tapi lebih baik daripada menjatuhkan diri pada kesedihan yang salah.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.