Sunday, August 23, 2015

Life in future with you--- part 6

Life in future with you--- part 6

  ("Nagita...." ucap raffi yg seketika menahan langkah ku. Menahan ku untuk tidak pergi. Sejenak ku terdiam, untuk sedikit menghela nafas panjang, sebelum akhirnya aku memutuskan... 
  "Tolong tinggalkan aku..."
  "Kamu yakin?" Caca pun menoleh kearah ku. 
  "Ya..." meski ku tak tau, apa aku siap untuk menjawab semua pertanyaan yg mungkin raffi lontarkan kepada ku.
  "Baiklah,,," Ucap caca yg saat itu pun berada di samping ku. Sebelum akhir nya caca pun pergi, dan meninggalkan aku berdua dengan raffi dicafe.)

Raffi membawa ku ketempat yg jauh dari keramaian. Masuk dalam ruang tertutup yg ada hanya aku dan raffi disana. Kali ini aku tak ingin ribut atau bahkan menghindar seperti yg biasa aku lakukan jika bertemu dengan nya. Mungkin benar apa yg dikatakan dinar. Tak ada salah nya aku mengalah, menghilangkan sedikit ego ku untuk mendengarkan apa yg ingin disampaikan raffi kepada ku. Mencoba untuk tetap terlihat tenang, meski aku merasa sedikit nerveus saat berada di dekat nya. Berulangkali aku menarik nafas panjang, menghilangkan segala rasa cemas yg sempat menyelimuti hati dan perasaan ku. Sebelum akhirnya, raffi pun membuka pembicaraan nya dengan ku..
  "Mungkin, kamu sudah membaca surat yg pernah aku tulis untuk mu" Ucap raffi
  "Surat?" Batin ku. Sungguh aku tak mengerti apa yg dimaksud raffi akan surat. Namun aku mencoba untuk tetap mendengarkan nya.
  "Ya.. surat. Mungkin kamu lupa, atau bahkan surat itu sudah kamu buang tanpa kamu tahu isi dari surat yang aku tulis untuk mu. Nagita, Aku tahu aku salah dan kamu berhak membenci ku atas apa yg pernah aku lakukan terhadap mu. Tapi perlu kamu tahu, aku sama sekali tak pernah lari dari tanggungjawab ku." Ucap raffi
  "Apa, tanggungjawab? Kamu bilang tanggungjawab? Kemana saja kamu selama ini?"
  "Nagita, dengarkan dulu penjelasan ku." Ucap raffi
  "Raffi,, Bertahun-tahun aku menunggu mu. Bahkan malam itu, detik berganti menit hingga menit berganti jam aku rela menunggu mu. Berharap km datang dan menepati semua janji yg pernah kamu ucapkan kepada ku. Tapi apa kenyataan nya...? Aku harus menelan rasa kecewa, raffi! Lalu, Itu yg kamu maksud tanggungjawab?" Aku mulai meluapkan semua isi hati ku. Saat aku tak bisa menahan semua perasaan, dan saat itu juga air mata pun mulai membanjiri pelipis mata ku.
  "Nagita, aku minta maaf. Aku tak bermaksud membuat mu kecewa. Aku mencintaimu nagita dan sampai kapan pun aku akan tetap mencintaimu. Percayalah pada ku.." ucap raffi
  "Cukup raffi..! Apa pernah kamu berfikir, gimana aku bisa bertahan hidup hingga saat ini?? Bagaimana aku berjuang mempertaruhkan seluruh nyawa hanya untuk mempertahankan anak yg ada didalam kandungan ku..?? Dengan susah payah aku memperjuangan itu sendiri, raffi. Apa kamu tahu akan hal itu..?? Raffi, 5 tahun bukan waktu yg singkat untuk aku bisa melupakan kejadian itu begitu saja. Dan itu cukup membuat aku sakit." 
  "Aku tahu, aku salah! Tapi cobalah kamu sedikit mengerti posisi ku saat itu..!" Ucap raffi
  "Sekarang aku tanya 1 hal sama kamu. Apa kamu mengerti perasaan ku?"
Raffi hanya terdiam, ia hanya memandang kosong kearah ku.
  "Kamu gak pernah berubah, raffi! Dan aku sudah bosan mendengar itu semua." Aku pun segera berkemas. Dan hendak pergi dari tempat dimana aku berada saat ini. Rasa nya aku tak bisa membendung perasaan ku lagi. hingga aku memutuskan untuk segera keluar dari ruangan ini. Namun raffi enggan membiarkan ku pergi begitu saja. Hingga ia menahan kepergian ku, menggenggam erat tangan ku. Bahkan ia rela bersujud di hadapan ku.
  "Nagita.. aku akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahan ku, asalkan kamu mau memaafkan ku. Please nagita, aku mohon sama kamu. Beri aku kesempatan sekali lagi. Aku janji, aku akan berubah! Untuk kamu..." papar raffi, namun seketika handphone ku berdering sangat keras. Aku langsung mengambil handphone ku yg masih tergeletak di atas meja. Dan ternyata, caca yg menelpon ku.
  "Angkatlah nagita.. Siapa tahu itu penting" raffi pun melepaskan ku, dan membiarkan aku untuk mengangkat telephone itu. Perlahan aku mengatur nafas ku, sebelum akhirnya aku memberanikan diri untuk mengangkat telephone dari adik ku, caca.
  "Hallo?" Aku perlahan menjauh dari keberadaan raffi saat ini. Karena aku yakin, bukan caca yg menelpon ku. Tapi key yg pastinya menanyakan keberadaan ku. Dan memang benar. Key lah yg menelpon ku. Namun, seperti nya usaha ku percuma. Sedikit banyak nya raffi mendengar percakapan antara aku dan key dalam telephone. Hingga raffi mulai penasaran dengan apa yg aku bicarakan saat itu.
  "Apakah itu anak kita?" Tanya raffi, sesaat setelah aku menutup telephone beberapa detik yang lalu.
  "Nagita.. apa aku boleh bertemu dengan nya?" Ucap raffi lagi. Aku sejenak terdiam, aku bingung harus berkata apa.
  "Nagita... jawab aku..!" Raffi pun mulai membentak ku. Meminta ku untuk berkata sesuatu. Bukan aku tak ingin menjawab apa yg raffi tanyakan kepada ku. Tapi entahlah, aku merasa sedikit pusing, kepala ku terasa sakit. Namun raffi terus memojokkan ku. Hingga aku memutuskan untuk menjawab semua rasa penasaran nya.
  "Ya.. memang benar, itu anak kamu. Anak yg selama ini kamu sia-siakan. Sekarang kamu puas?!" Aku tak mungkin terus menerus menutupi kenyataan yg ada. Raffi berhak tahu semua ini.
  "Semua sudah cukup jelas, bukan? Sekarang, lepaskan aku raffi. Aku harus pergi..!" aku segera membereskan semua nya. Dan bergegas untuk keluar dari tempat ini. Meninggalkan raffi yg masih terdiam diruang sana. Biarkan raffi berpikir, atas apa yg dilakukan nya. Sedangkan aku, harus secepat nya pulang. Mengingat key pasti sudah menunggu ku di rumah.

  "Mami..." key pun langsung berlari kearah ku, memeluk ku yg baru saja tiba dirumah. Padahal aku baru saja duduk dan sedikit merebahkan tubuhku di sofa.
  "Kamu dari mana sayang? Kok keringetan gitu nak?"
  "Key lari dari kamar, saat tahu mami nya datang." Ucap caca saat berada di belakang ku.
  "Benar begitu??"
  "Um'humm.." key pun mengangguk pelan.

Sore itu, aku memang meminta fara untuk mengantarkan beberapa berkas yg belum sempat aku selesaikan kerena tertunda beberapa waktu yg lalu. Mengingat besok adalah deadline aku untuk memberikan presentasi tentang project yg sedang aku jalani untuk beberapa bulan kedepan. Kejadian siang tadi, begitu banyak menyita waktu ku. Hingga aku harus berbesar hati untuk mengerjakan semua nya dirumah. Dan melewati malam ini dengan setumpuk pekerjaan yg mungkin sangat melelahkan bagi ku. Sepulang dari kantor, tak sedikitpun aku mengalihkan pandangan ku. Bahkan jari-jari ku pun tak pernah lepas dari tombol-tombol yg ada di keyboard laptop ku. Semua ini ku lakukan, hanya untuk memenuhi tanggungjawab ku sebagai pimpinan. Aku berharap, aku bisa menyelesaikan nya tepat waktu. Dan akhirnya, tepat pukul 19.00 wib aku pun selesai mengerjakan semua nya. Kini aku bisa bernafas lega, tak ada lagi yg harus aku khawatirkan. Aku sedikit menundukkan kepala, sejenak merilekskan otot-otot yang sempat tegang. Namun seketika saja aku terkaget, saat seseorang masuk kedalam ruang kerja ku. Dan ternyata itu key. Ia pun berlari kearah ku yg masih duduk di balik meja kerja ku. Key segera memeluku dari belakang.
  "Maaf non, tadi mbok sudah bilang jangan. Tapi non key tetap memaksa." Ucap mbok ina. Aku memang berpesan kepada nya untuk tidak mengganggu ku saat aku berada diruang kerja. Karena aku ingin konsen dengan apa yang aku kerjakan saat itu.
  "Gak apa-apa mbok. Biarkan dia disini, makasih ya mbok." Aku pun tersenyum kearah nya. Sebelum akhirnya mbok ina pun pergi, meninggalkan aku dan key disini.
  "Mam,, are you busy?" Key pun menanyakan hal tersebut kepada ku. Mungkin mbok ina sudah menyampaikan terlebih dahulu kepada nya. Hingga wajar jika key menanyakan langsung kepada ku.
  "Gak sayang, mami sudah selesai. Maafkan mami ya..?"
  "Ya..." key pun tersenyum kearah ku.
  "Kamu sudah makan??"
  "Um'humm.." key pun menggelengkan kepala nya. Aku menoleh kearah jam tangan, 
  "Oke. Now, do you want to eat anything sayang? Mami akan memasakkan nya untuk mu" Kebetulan sudah tak ada lagi yang harus ku kerjakan disini. Setidak nya, aku akan membuatkan nya sesuatu. Mengingat ini sudah saat nya makan malam.
  "Um, I'd like spaghetti mam" Ucap key. Dia memang sangat menyukai mie, apa lagi spaghetti buatan ku.
  "Spaghetti? Oke,,, now, let mami make for you." Aku pun tersenyum kearah nya.
  "Um..hum.. Can i help you, please..?" Ucap key
  "Um.. ok, let's go dear" aku pun segera menggandeng nya, dan membawa nya ke dapur. Ini bukan kali pertama aku membuatkan spaghetti untuk nya, tapi untuk yg kesekian kali nya. Dan key sangat menyukai itu.
  "Kalian sedang apa disini?" Ucap caca yg datang tiba2. 
  "Make a spaghetti.. bukan begitu sayang??" 
  "Um.. hum... Do you like it?" Ucap key kepada caca, aku hanya tersenyum mendengar apa yg sedang mereka bicarakan di belakang ku.
  "Um, i like it. Can I help you? What I have to do?" Ucap caca
  "Sudah lah, kalian gak usah repot2 membantu ku. Aku sudah terbiasa sendiri. Lebih baik kalian berdua tunggu di sana, karena aku yg akan mengantarkan nya untuk kalian.."
  "You heard what mami said, key? Better to wait there." Ucap cacha
  "Mam,," key pun menarik lengan ku untuk sedikit menundukkan tubuh ku, dan di ciumlah pipi ku.
  "I love you.." key pun tersenyum kearah ku, sebelum akhirnya ia pergi bersama cacha menuju meja makan yg tak jauh dari tempat ku berada. Mereka berdua begitu menikmati kebersamaan nya kali ini. Terlihat saat key bisa tertawa, bergurau atau bahkan bercerita akan hal-hal yg pernah dialami nya bersama caca. Sedangkan aku, hanya bisa memandangi nya dari jauh. Mendengarkan apa yg dibicarakan nya disana.
  "Andai kamu tahu raffi, dia sekarang tumbuh menjadi anak yg pintar." Bathin ku.

  "Apa yg sedang kamu lakukan disini, nagita..?" Mama ku pun datang menghampiri ku, saat aku sedang menyiapkan beberapa piring, untuk aku hidangkan di meja makan. Kebetulan aku telah selesai memasak, dan sekarang tinggal menatanya kemudian siap untuk hidangkan.
  "Aku sedang menyiapkan makan malam untuk mereka. Mama mau? Biar aku siapkan untuk mama."
  "Makasih sayang, tapi mama sudah makan." Mama pun menolaknya. Hingga aku hanya menyiapkan secukupnya nya untuk mereka makan berdua. Namun saat aku sedang menemani mereka makan. Tiba2 aku teringat akan sesuatu, aku lupa belum memberi tahu dinar tentang meeting yg di percepat lebih awal dari jadwal yg sudah ditentukan. Aku memutuskan untuk ke kamar, dan mengambil handphone ku untuk segera menghubungi dinar. Namun sepertinya aku lupa meletakkan handphone ku untuk terakhir kali nya. Hingga aku harus mengeluarkan semua isi tas ku untuk memperoleh nya. Dan..
  "Prakkk.." aku tak sengaja menjatuhkan nya. Kotak kecil berwarna coklat, dan sehelai kertas yg masih menempel diatas nya. Tapi, seperti nya itu bukan milik ku. Aku tak pernah merasa memiliki nya, namun aku teringat akan sesuatu....
  "Maaf bu, ini ada titipan untuk ibu"
  "Dari siapa?" 
  "Saya kurang tau, tiba2 ada di meja saya dan ternyata itu untuk ibu."
  "Ok, Makasih yah.."
Sejenak aku terdiam. Masih teringat jelas in memory ku, saat fara memberikan ini kepada ku. Dan..
  "Mungkin, kamu sudah membaca surat yg pernah aku tulis untuk mu"
  "Surat??" Aku mencoba untuk mengaitkan-ngaitkan semuanya.
  "Apa mungkin ini yg dimaksud raffi selama ini?" Aku mulai penasaran akan isi dari surat tersebut, tapi kotak ini..?
   
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

Monday, August 10, 2015

Life in future with you--- part 5

Life in future with you--- part 5

("Kalo siang hari?" Tanya key lagi
  "Iya tetap ada,, tapi di belahan dunia lain. Yang gak kelihatan, bukan berati gak ada, bukan?" Aku pun tersenyum kearah nya. Key begitu menikmati malam ini bersama ku. Dan itulah obrolan ringan aku dan key, sebelum ia benar2 terlelap dalam pelukan ku. Melewati pergantian malam, hingga pagi menjelang.)"

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Rasa-rasa nya aku baru saja terlelap 2 jam yang lalu. Bahkan saat ini, key pun masih tertidur pulas disamping ku. Ingin ku coba untuk membenarkan posisi nya yg masih memeluk erat tubuh ku. Namun seketika saja key berbalik ke arah ku. Wajah nya yg terlihat polos, membuat aku enggan berpaling memandang nya. Ku letakkan perlahan lengan ku tepat di atas bantal nya. Ku belai lembut rambut nya, dan ku kecup kening nya. Terimakasih Tuhan,, atas nikmat yg telah Kau beri untuk ku. Tlah Kau titipkan malaikat kecil dalam kehidupan ku, yg selalu mengisi kekosongan hati ini. Menemani disaat aku membutuhkan seseorang untuk sekedar bercerita, dan manjadikannya seorang sahabat. Aku memang tak bisa menjamin apa yg pernah disampaikan mama tentang kebahagiaan key kepada ku. Tapi aku berjanji, akan tetap berusaha untuk selalu membahagiakan nya.

Pagi ini, tak ada hal yg membuat aku sibuk dengan segala aktifitas kantor ku yg seperti biasa aku lakukan setiap pagi. Itu semua karena aku "off day". Aku ingin sejenak melepaskan rasa lelah ku, sebelum akhir nya disibukkan dengan berbagai agenda yang sudah ter-planning untuk 1 minggu ke depan. Kadang, tinggi nya suatu jabatan tak menjamin kebahagiaan seseorang. Semakin tinggi kedudukan, semakin besar pula tanggungjawab yg harus di emban nya. Loyalitas, proposional, integritas tinggi, tak luput dari apa yang harus aku miliki saat ini. Maka tak khayal jika aku terlihat sibuk dengan pekerjaan ku, dan sedikit mengesampingkan quality time bersama keluarga ku. Dan hari ini, rasa nya aku ingin beristirahat sejenak. Menghilangkan penat yg akhir2 ini singgah di otak dan pikiran ku. Mengingat kebetulan caca pun sama off day. Hingga aku bisa sedikit tenang tanpa repot memikirkan bagaimana mengawasi key seorang diri. Namun, kadang ada saja yg membuat ku harus mengurungkan niat itu. Menepis anggapan kalo aku akan bisa bebas menikmati hari libur ku untuk sekedar santai atau minum teh di teras belakang. Dan itu terjadi tatkala key meminta ku untuk menemani nya bermain ke taman komplek dekat rumah.
  "No, mami. I want to play, now! I want to the park, mam. I want to play there..?" Rengek key, padahal aku baru saja duduk santai, setelah semua pekerjaan rumah baru saja aku selesaikan.
  "Tapi key...."
  "Please, mam.. I want to play with you..?" Ucap key pelan
Entah lah, aku tak tahu apa alasan nya hingga key bersikeras ingin sekali ke taman siang itu. Yang jelas, key benar2 berharap aku bisa mengabulkan permintaan nya. Itu terlihat saat pelangi mulai menghiasi kedua bola mata nya. Dan saat itu jua aku tak mungkin bisa menolak permintaan nya. Aku memutuskan untuk ke taman siang itu juga. Memberikan kebebasan kepada key, untuk bermain sesuka hati nya disana. Meluapkan segala rasa penasaran nya. Mencoba semua permainan yang ada disana dengan suka cita. Sedangkan aku, hanya tersenyum bahagia melihat key bisa tertawa ria dengan teman2 yang lain nya. Aku cuma berpesan kepada nya untuk tidak berlari. Karena aku takut ia akan terjatuh dan terluka. Namun, saat aku sedang asik memperhatikan nya dari jauh, handphone ku berdering untuk yang ke sekian kali. 
  "Dinar..? Ada apa dia menelpon ku?" Pikir ku. Mau gak mau aku harus mengangkat nya, karena aku takut itu penting.
  "Hallo.." namun seperti nya signal disini terlalu jelek, hingga aku harus mencari tempat lain untuk mendapatkan signal yg lebih bagus.
  
  "Aww.. " ucap key, rupanya ia terjatuh saat akan memetik bunga yg ada diujung taman sana.
  "Hey,, kamu gak apa-apa?"
  "Sakit om.." keluh key
  "Sini, om bantu." Ia pun menggendong nya dan membawa key ke tempat yg lebih aman.
  "Kaki kamu berdarah, boleh om lihat dan obati luka nya?"
  "Um'hum.." key pun memperlihatkan luka itu. Meski airmata tak bisa tertahankan lagi, karena sakit yg diderita nya. Namun key beruntung, ada seseorang yg baik hati datang dan mau menolong nya. Seolah menjadi malaikat penyelamat bagi nya. Dan mengobati luka nya dengan penuh kasih sayang.
  "Sudah gak sakit lagi, bukan?" Ucap nya, setelah luka itu terbalut rapih oleh plester yg kini menempel di lutut key.
  "Um'humm.." key pun mengangguk pelan.
  "Sekarang,, apa yg sedang kamu lakukan disini cantik?"
  "I want to pick the flowers. Can you help me to pick the flowers that for me?" Ucap key.
  "Kamu mau bunga itu??"
  "Iya om..." ucap key
  "Oke, kamu tunggu disini.." Dengan segala kerendahan hati, ia pun pergi untuk memetik kan bunga itu untuk key.
  "Sekarang, hapus air mata mu sayang. Jangan pernah menangis lagi, and.. this is for you.." seraya memberikan bunga itu kepada key dan tersenyum kearah nya.
  "Thank you, but this is for my mam" Ucap key.
  "Your mam? Where is she?"

  "Ya Tuhan, aku meninggalkan key sendiri disana" pikir ku, sesaat setelah aku menutup telephone itu. Aku pun langsung bergegas untuk kembali ketempat semula, tempat dimana aku meninggalkan key untuk pertama kali nya. Namun, apa yg aku lihat?? Sama sekali tak ku dapati key disana.
  "Kemana dia?" Batin ku
  "Key..? Key.. ? Km dimana sayang??" Aku pun terus memanggil nya dan berusaha mencari disetiap sudut taman komplek. Hingga saat nya aku berhenti disatu titik, dimana aku melihat key sedang asik duduk sendiri. Perlahan ku berjalan kearah nya. Mencoba untuk menghampiri nya, karena ku tau pasti key mencari ku sejak lama.
  "Hey, sayang. Kamu disini?"
  "Mami.." key pun langsung memeluk ku.
  "Apa yg kamu lakukan disini? Kamu tau,, mami dari tadi mencari mu..?"
  "I'm sorry, mam." Ucap key
  "It's ok. By the way, bunga nya cantik."
  "Do you like it, mam? This is for you." Key pun memberikan setangkai bunga itu untuk ku dan tersenyum kearah ku.
  "For me..?"
  "Um'hmm.. i love you.." key pun langsung mencium ku. 
  "Owwhhh..  sweet banget anak mami...? Makasih ya sayang. Lain kali kalo mau pergi, kasih tau mami yah?? Kalo ada yg berbuat jahat kepada mu, gimana? Sekarang, kita pulang yah?" Aku pun mengajak nya untuk pulang, mengingat hari sudah semakin gelap. Dan aku pun harus menyiapkan makan malam. Sebelum akhirnya aku istirahat, dan siap menyambut hari esok dengan sederet agenda yg siap menanti ku.

Keesokan hari..
Sudah menjadi kewajiban ku untuk mengantarkan key ke sekolah. Menemani nya hingga bell sekolah berbunyi, dan memastikan kembali bahwa key akan baik2 saja disana. Sebelum akhir nya aku memutuskan untuk pergi ke kantor. Dan menjalankan segala aktivitas yang sudah menjadi tanggungjawab ku di kantor. Seperti yg terlihat saat ini. Baru saja masuk, tapi sudah disambut dengan beberapa tumpuk berkas yg telah menanti untuk aku baca dan aku pelajari. Namun, beruntung nya hari ini tak begitu banyak agenda yg harus aku jalani. Hingga aku bisa sedikit santai untuk mempelajari semua berkas yg ada.

Siang ini, aku sudah ada janji dengan caca untuk makan siang bersama di cafe dekat kantor papa. Sekaligus aku ingin memastikan keadaan disana. Lagi pula aku sudah lama tak berkunjung kesana.
  "Selamat siang bu nagita.." ucap seorang resepsionis tersebut.
  "Siang.." Aku pun tersenyum kearah nya. Aku tak pernah menyangka, mereka masih mengingat ku. Bahkan mereka pun masih menyambut hormat kedatangan ku. Aku pun langsung menuju tempat dimana caca berada. Tempat dimana ruangan papa dulu, duduk sebagai direktur utama. Dan sekarang, caca lah yg duduk menggantikan nya. Ku berjalan menelusuri setiap ruangan yg ada disana. Tak ada yg berubah dari apa yg aku lihat 5 tahun yg lalu. Bahkan ruangan itu... mengingatkan aku akan sesuatu.
  "Kamu tau,,? Apa yg papa ingin kan selama ini??"
  "Apa??"
  "Papa ingin,, Suatu saat kalian yg akan meneruskan perusahaan ini. Duduk disini, dan menggantikan posisi papa." Kata2 itu begitu jelas terlintas di pikiran ku saat ini. Bahkan foto2 kenangan kita, masih tertata rapih diatas buffet, meski agak sedikit berdebu. Ingin rasa nya aku belama2 disini, mengenang masa2 ku dulu. Tapi, seperti nya itu tidak mungkin terjadi, karena rasa lapar sudah tak bisa tertahankan lagi. Hingga aku memutuskan untuk ke cafe saat itu juga. Caca mengajak ku ke tempat biasa ia makan. Atau sekedar berkumpul dengan teman2 lama nya. Cafe kecil, namun tak sedikit orang yg berkunjung kesana.
  "Kamu sering kesini?"
  "Lumayan.. km suka?" Ucap caca
  "Aku suka suasana nya.." suasana yg nyaman membuat ku betah berlama2 disana. Hingga akhir nya aku menoleh kearah jam tangan ku. Tepat pukul 14.00 wib, yg artinya sudah saat nya aku harus kembali ke kantor. Aku dan caca hendak keluar dari cafe itu, namun seketika saja handphone ku berbunyi. 
  "Sebentar .." Aku hendak mengambil nya dari dalam tas ku. Namun belum juga aku menemukan handphone itu, seorang pria berbadan tegap menabrak ku dari arah berlawanan.
  "Awwww.." hampir saja aku terjatuh, namun seketika pria itu menahan tubuh ku.
  "Kamu gak apa-apa?" Ucap nya
 "Raffi..?" Aku pun langsung melepaskan tangannya. Dan perlahan menjauh dari raffi yg kebetulan berada persis didepan ku.
  "Aku minta maaf, aku gak sengaja. Kamu gak apa-apa?" ucap raffi
  "It's ok. Tp maaf, aku harus pergi.." aku berusaha untuk mengalihkan pandangan ku, dan langsung menyeret caca untuk segera pergi dari sini.
  "Nagita...." ucap raffi yg seketika menahan langkah ku. Menahan ku untuk tidak pergi. Sejenak ku terdiam, untuk sedikit menghela nafas panjang, sebelum akhirnya aku memutuskan... 
  "Tolong tinggalkan aku..."
  "Kamu yakin?" Caca pun menoleh kearah ku. 
  "Ya..." meski ku tak tau, apa aku siap untuk menjawab semua pertanyaan yg kemungkinan raffi lontarkan kepada ku.
  "Baiklah,,," Ucap caca yg saat itu pun berada di samping ku. Sebelum akhir nya caca pun pergi, dan meninggalkan ku berdua dengan raffi dicafe.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.