Life in future with you--- part 6
("Nagita...." ucap raffi yg seketika menahan langkah ku. Menahan ku untuk tidak pergi. Sejenak ku terdiam, untuk sedikit menghela nafas panjang, sebelum akhirnya aku memutuskan...
"Tolong tinggalkan aku..."
"Kamu yakin?" Caca pun menoleh kearah ku.
"Ya..." meski ku tak tau, apa aku siap untuk menjawab semua pertanyaan yg mungkin raffi lontarkan kepada ku.
"Baiklah,,," Ucap caca yg saat itu pun berada di samping ku. Sebelum akhir nya caca pun pergi, dan meninggalkan aku berdua dengan raffi dicafe.)
Raffi membawa ku ketempat yg jauh dari keramaian. Masuk dalam ruang tertutup yg ada hanya aku dan raffi disana. Kali ini aku tak ingin ribut atau bahkan menghindar seperti yg biasa aku lakukan jika bertemu dengan nya. Mungkin benar apa yg dikatakan dinar. Tak ada salah nya aku mengalah, menghilangkan sedikit ego ku untuk mendengarkan apa yg ingin disampaikan raffi kepada ku. Mencoba untuk tetap terlihat tenang, meski aku merasa sedikit nerveus saat berada di dekat nya. Berulangkali aku menarik nafas panjang, menghilangkan segala rasa cemas yg sempat menyelimuti hati dan perasaan ku. Sebelum akhirnya, raffi pun membuka pembicaraan nya dengan ku..
"Mungkin, kamu sudah membaca surat yg pernah aku tulis untuk mu" Ucap raffi
"Surat?" Batin ku. Sungguh aku tak mengerti apa yg dimaksud raffi akan surat. Namun aku mencoba untuk tetap mendengarkan nya.
"Ya.. surat. Mungkin kamu lupa, atau bahkan surat itu sudah kamu buang tanpa kamu tahu isi dari surat yang aku tulis untuk mu. Nagita, Aku tahu aku salah dan kamu berhak membenci ku atas apa yg pernah aku lakukan terhadap mu. Tapi perlu kamu tahu, aku sama sekali tak pernah lari dari tanggungjawab ku." Ucap raffi
"Apa, tanggungjawab? Kamu bilang tanggungjawab? Kemana saja kamu selama ini?"
"Nagita, dengarkan dulu penjelasan ku." Ucap raffi
"Raffi,, Bertahun-tahun aku menunggu mu. Bahkan malam itu, detik berganti menit hingga menit berganti jam aku rela menunggu mu. Berharap km datang dan menepati semua janji yg pernah kamu ucapkan kepada ku. Tapi apa kenyataan nya...? Aku harus menelan rasa kecewa, raffi! Lalu, Itu yg kamu maksud tanggungjawab?" Aku mulai meluapkan semua isi hati ku. Saat aku tak bisa menahan semua perasaan, dan saat itu juga air mata pun mulai membanjiri pelipis mata ku.
"Nagita, aku minta maaf. Aku tak bermaksud membuat mu kecewa. Aku mencintaimu nagita dan sampai kapan pun aku akan tetap mencintaimu. Percayalah pada ku.." ucap raffi
"Cukup raffi..! Apa pernah kamu berfikir, gimana aku bisa bertahan hidup hingga saat ini?? Bagaimana aku berjuang mempertaruhkan seluruh nyawa hanya untuk mempertahankan anak yg ada didalam kandungan ku..?? Dengan susah payah aku memperjuangan itu sendiri, raffi. Apa kamu tahu akan hal itu..?? Raffi, 5 tahun bukan waktu yg singkat untuk aku bisa melupakan kejadian itu begitu saja. Dan itu cukup membuat aku sakit."
"Aku tahu, aku salah! Tapi cobalah kamu sedikit mengerti posisi ku saat itu..!" Ucap raffi
"Sekarang aku tanya 1 hal sama kamu. Apa kamu mengerti perasaan ku?"
Raffi hanya terdiam, ia hanya memandang kosong kearah ku.
"Kamu gak pernah berubah, raffi! Dan aku sudah bosan mendengar itu semua." Aku pun segera berkemas. Dan hendak pergi dari tempat dimana aku berada saat ini. Rasa nya aku tak bisa membendung perasaan ku lagi. hingga aku memutuskan untuk segera keluar dari ruangan ini. Namun raffi enggan membiarkan ku pergi begitu saja. Hingga ia menahan kepergian ku, menggenggam erat tangan ku. Bahkan ia rela bersujud di hadapan ku.
"Nagita.. aku akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahan ku, asalkan kamu mau memaafkan ku. Please nagita, aku mohon sama kamu. Beri aku kesempatan sekali lagi. Aku janji, aku akan berubah! Untuk kamu..." papar raffi, namun seketika handphone ku berdering sangat keras. Aku langsung mengambil handphone ku yg masih tergeletak di atas meja. Dan ternyata, caca yg menelpon ku.
"Angkatlah nagita.. Siapa tahu itu penting" raffi pun melepaskan ku, dan membiarkan aku untuk mengangkat telephone itu. Perlahan aku mengatur nafas ku, sebelum akhirnya aku memberanikan diri untuk mengangkat telephone dari adik ku, caca.
"Hallo?" Aku perlahan menjauh dari keberadaan raffi saat ini. Karena aku yakin, bukan caca yg menelpon ku. Tapi key yg pastinya menanyakan keberadaan ku. Dan memang benar. Key lah yg menelpon ku. Namun, seperti nya usaha ku percuma. Sedikit banyak nya raffi mendengar percakapan antara aku dan key dalam telephone. Hingga raffi mulai penasaran dengan apa yg aku bicarakan saat itu.
"Apakah itu anak kita?" Tanya raffi, sesaat setelah aku menutup telephone beberapa detik yang lalu.
"Nagita.. apa aku boleh bertemu dengan nya?" Ucap raffi lagi. Aku sejenak terdiam, aku bingung harus berkata apa.
"Nagita... jawab aku..!" Raffi pun mulai membentak ku. Meminta ku untuk berkata sesuatu. Bukan aku tak ingin menjawab apa yg raffi tanyakan kepada ku. Tapi entahlah, aku merasa sedikit pusing, kepala ku terasa sakit. Namun raffi terus memojokkan ku. Hingga aku memutuskan untuk menjawab semua rasa penasaran nya.
"Ya.. memang benar, itu anak kamu. Anak yg selama ini kamu sia-siakan. Sekarang kamu puas?!" Aku tak mungkin terus menerus menutupi kenyataan yg ada. Raffi berhak tahu semua ini.
"Semua sudah cukup jelas, bukan? Sekarang, lepaskan aku raffi. Aku harus pergi..!" aku segera membereskan semua nya. Dan bergegas untuk keluar dari tempat ini. Meninggalkan raffi yg masih terdiam diruang sana. Biarkan raffi berpikir, atas apa yg dilakukan nya. Sedangkan aku, harus secepat nya pulang. Mengingat key pasti sudah menunggu ku di rumah.
"Mami..." key pun langsung berlari kearah ku, memeluk ku yg baru saja tiba dirumah. Padahal aku baru saja duduk dan sedikit merebahkan tubuhku di sofa.
"Kamu dari mana sayang? Kok keringetan gitu nak?"
"Key lari dari kamar, saat tahu mami nya datang." Ucap caca saat berada di belakang ku.
"Benar begitu??"
"Um'humm.." key pun mengangguk pelan.
Sore itu, aku memang meminta fara untuk mengantarkan beberapa berkas yg belum sempat aku selesaikan kerena tertunda beberapa waktu yg lalu. Mengingat besok adalah deadline aku untuk memberikan presentasi tentang project yg sedang aku jalani untuk beberapa bulan kedepan. Kejadian siang tadi, begitu banyak menyita waktu ku. Hingga aku harus berbesar hati untuk mengerjakan semua nya dirumah. Dan melewati malam ini dengan setumpuk pekerjaan yg mungkin sangat melelahkan bagi ku. Sepulang dari kantor, tak sedikitpun aku mengalihkan pandangan ku. Bahkan jari-jari ku pun tak pernah lepas dari tombol-tombol yg ada di keyboard laptop ku. Semua ini ku lakukan, hanya untuk memenuhi tanggungjawab ku sebagai pimpinan. Aku berharap, aku bisa menyelesaikan nya tepat waktu. Dan akhirnya, tepat pukul 19.00 wib aku pun selesai mengerjakan semua nya. Kini aku bisa bernafas lega, tak ada lagi yg harus aku khawatirkan. Aku sedikit menundukkan kepala, sejenak merilekskan otot-otot yang sempat tegang. Namun seketika saja aku terkaget, saat seseorang masuk kedalam ruang kerja ku. Dan ternyata itu key. Ia pun berlari kearah ku yg masih duduk di balik meja kerja ku. Key segera memeluku dari belakang.
"Maaf non, tadi mbok sudah bilang jangan. Tapi non key tetap memaksa." Ucap mbok ina. Aku memang berpesan kepada nya untuk tidak mengganggu ku saat aku berada diruang kerja. Karena aku ingin konsen dengan apa yang aku kerjakan saat itu.
"Gak apa-apa mbok. Biarkan dia disini, makasih ya mbok." Aku pun tersenyum kearah nya. Sebelum akhirnya mbok ina pun pergi, meninggalkan aku dan key disini.
"Mam,, are you busy?" Key pun menanyakan hal tersebut kepada ku. Mungkin mbok ina sudah menyampaikan terlebih dahulu kepada nya. Hingga wajar jika key menanyakan langsung kepada ku.
"Gak sayang, mami sudah selesai. Maafkan mami ya..?"
"Ya..." key pun tersenyum kearah ku.
"Kamu sudah makan??"
"Um'humm.." key pun menggelengkan kepala nya. Aku menoleh kearah jam tangan,
"Oke. Now, do you want to eat anything sayang? Mami akan memasakkan nya untuk mu" Kebetulan sudah tak ada lagi yang harus ku kerjakan disini. Setidak nya, aku akan membuatkan nya sesuatu. Mengingat ini sudah saat nya makan malam.
"Um, I'd like spaghetti mam" Ucap key. Dia memang sangat menyukai mie, apa lagi spaghetti buatan ku.
"Spaghetti? Oke,,, now, let mami make for you." Aku pun tersenyum kearah nya.
"Um..hum.. Can i help you, please..?" Ucap key
"Um.. ok, let's go dear" aku pun segera menggandeng nya, dan membawa nya ke dapur. Ini bukan kali pertama aku membuatkan spaghetti untuk nya, tapi untuk yg kesekian kali nya. Dan key sangat menyukai itu.
"Kalian sedang apa disini?" Ucap caca yg datang tiba2.
"Make a spaghetti.. bukan begitu sayang??"
"Um.. hum... Do you like it?" Ucap key kepada caca, aku hanya tersenyum mendengar apa yg sedang mereka bicarakan di belakang ku.
"Um, i like it. Can I help you? What I have to do?" Ucap caca
"Sudah lah, kalian gak usah repot2 membantu ku. Aku sudah terbiasa sendiri. Lebih baik kalian berdua tunggu di sana, karena aku yg akan mengantarkan nya untuk kalian.."
"You heard what mami said, key? Better to wait there." Ucap cacha
"Mam,," key pun menarik lengan ku untuk sedikit menundukkan tubuh ku, dan di ciumlah pipi ku.
"I love you.." key pun tersenyum kearah ku, sebelum akhirnya ia pergi bersama cacha menuju meja makan yg tak jauh dari tempat ku berada. Mereka berdua begitu menikmati kebersamaan nya kali ini. Terlihat saat key bisa tertawa, bergurau atau bahkan bercerita akan hal-hal yg pernah dialami nya bersama caca. Sedangkan aku, hanya bisa memandangi nya dari jauh. Mendengarkan apa yg dibicarakan nya disana.
"Andai kamu tahu raffi, dia sekarang tumbuh menjadi anak yg pintar." Bathin ku.
"Apa yg sedang kamu lakukan disini, nagita..?" Mama ku pun datang menghampiri ku, saat aku sedang menyiapkan beberapa piring, untuk aku hidangkan di meja makan. Kebetulan aku telah selesai memasak, dan sekarang tinggal menatanya kemudian siap untuk hidangkan.
"Aku sedang menyiapkan makan malam untuk mereka. Mama mau? Biar aku siapkan untuk mama."
"Makasih sayang, tapi mama sudah makan." Mama pun menolaknya. Hingga aku hanya menyiapkan secukupnya nya untuk mereka makan berdua. Namun saat aku sedang menemani mereka makan. Tiba2 aku teringat akan sesuatu, aku lupa belum memberi tahu dinar tentang meeting yg di percepat lebih awal dari jadwal yg sudah ditentukan. Aku memutuskan untuk ke kamar, dan mengambil handphone ku untuk segera menghubungi dinar. Namun sepertinya aku lupa meletakkan handphone ku untuk terakhir kali nya. Hingga aku harus mengeluarkan semua isi tas ku untuk memperoleh nya. Dan..
"Prakkk.." aku tak sengaja menjatuhkan nya. Kotak kecil berwarna coklat, dan sehelai kertas yg masih menempel diatas nya. Tapi, seperti nya itu bukan milik ku. Aku tak pernah merasa memiliki nya, namun aku teringat akan sesuatu....
"Maaf bu, ini ada titipan untuk ibu"
"Dari siapa?"
"Saya kurang tau, tiba2 ada di meja saya dan ternyata itu untuk ibu."
"Ok, Makasih yah.."
Sejenak aku terdiam. Masih teringat jelas in memory ku, saat fara memberikan ini kepada ku. Dan..
"Mungkin, kamu sudah membaca surat yg pernah aku tulis untuk mu"
"Surat??" Aku mencoba untuk mengaitkan-ngaitkan semuanya.
"Apa mungkin ini yg dimaksud raffi selama ini?" Aku mulai penasaran akan isi dari surat tersebut, tapi kotak ini..?
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.
di tunggu part selanjutnya .....
ReplyDeletejngan lama2 yaaaaa
keren ceritanya..
good luck
Cerita bagus banget , jangan lama lama kelanjutannya :)
ReplyDeleteMakasih banyak yg sudah mampir.. :* sabar ya.. ;)
ReplyDeleteBagus ceritanya... Jangan lama-lama yaa sambungannya.. Thanks..
ReplyDelete