The Power Of Love Part---22
Perlahan raffi mulai menjauhkan wajah nya, namun tak sedikit pun memalingkan pandangan nya yg hanya berjarak 10 cm dari hadapan nagita. Raffi memandangi setiap lekuk wajah cantik nya, dengan mata nya yg berbinar, senyum nya yg menawan membuat raffi enggan mengedipkan mata meski sekejap.
"Km gpp?" Ucap nagita, namun tak sedikitpun raffi menanggapi pertanyaan nya, ia tetap terus memandangi nya.
"Hei.. km kenapa sayang?" Ucap nya lagi, seraya memegangi wajah raffi dengan sentuhan jari2 manis nya.
"Emmmp.. gak.."
"Aku gak apa2.." ucap raffi yg langsung menggenggam jari tangan nagita yg sempat mendarat diwajah nya, seraya menciumi nya..
"Are you seriusly?" Ucap nagita memastikan nya kembali
"Ya, sungguh.."
"Sekarang aku antar kamu kedalam yah,,?" Ucap raffi saat langit berubah gelap, dan angin pun mulai berhembus kencang kearah nya. Raffi membawa nagita kekamar nya, mengingat kondisi nya masih perlu istirahat. Tak lama handphone raffi pun berdering cukup keras.
"Iya, hallo.." ucap raffi saat mengangkat telephone nya.
"Baik lah.. aku segera kesana.." bisik raffi dalam percakapan nya.
"Ada masalah?" Ucap nagita sesaat setelah raffi menutup telephone genggam nya beberapa detik yg lalu.
"Maaf kan aku.."
"Aku tak bisa berlama2 disini.." lanjut raffi yg kini mulai duduk disamping nya.
"Km mau kemana?" Selidik nagita
"Ada pekerjaan yg harus aku selesaikan malam ini.." ucap raffi, ia tau nagita pasti kecewa mendengar nya. Terlebih ia baru sebentar melepas rasa rindu dengan nya.
"Km jgn sedih yah, aku janji akan meluangkan waktu ku untuk selalu menemui km disini.." ujar raffi segera, seolah tak ingin membuat nya sedih.
"Pergilah raffi,, aku gak apa2. Aku cuma minta 1 hal sama km, jaga kesehatan km, karena tubuh km pun perlu istirahat." ucap nagita
"Iya,, sekarang aku pulang dulu yah..? Km jgn lupa minum obat, dan kalo ada apa2 langsung hubungi aku.." Ucap raffi dengan mengecup mesra kening nya.
"Km hati2 dijalan..?"
"Jangan lupa kabari aku.." lanjut nagita
Raffi pun tersenyum kearah nya, sebelum ia benar2 pergi meninggalkan nya.
***
Hari-hari pun dijalani mereka sebagai mana mesti nya. Nagita tetap memilih untuk tinggal di villa semasa pemulihan, sedangkan raffi sesekali meluangkan waktu nya hanya untuk menemui dan menghibur nya dikala sendiri. Seperti yg terlihat saat ini, raffi sengaja mengambil cuti di saat tak ada agenda yg mengharuskan nya stay di kantor. Hingga ia bisa leluasa menghabiskan waktu bersama kekasih nya. Namun kedatangan nya kali ini memang tanpa sepengetahuan nagita, hingga cukup membuat nagita terkejut akan kehadiran nya tiba2.
"Raffi, , ," ucap nya saat raffi mengetuk pintu kamar yg sedari tadi terbuka lebar.
"Hai.. apa yg sedang km lakukan disini??" Ucap raffi yg perlahan jalan mendekati nagita yg masih terduduk di ranjang nya.
"Entah lah.." ucap nya seraya mengangkat kedua bahu nya secara bersamaan
"Gimana keadaan mu, sudah baikan?" Tanya raffi
"Jauh lebih baik..." ucap nya singkat
"Aku punya sesuatu untuk km.." ucap raffi yg perlahan menampakkan tangan kanan nya yg sedari tadi ia tutupi dengan tubuh nya yg tinggi tegap.
"Ini untuk ku??"
"Cantik banget..." lanjut nagita dengan senyum lebarnya saat raffi memberikan seikat mawar merah dengan hiasan pita berwarna pink kesukaan nya.
"Km suka??" Ujar raffi mengusap lembut ujung kepala nya.
Nagita pun mengangguk pelan, meng "iya" kan perkataan nya.
"Km kok disini, gak ke kantor?" Ujar nya
"Emmm..Gak,, "
"Aku ingin bersama km saat ini.." ucap raffi seraya berjongkok dihadapan nagita.
"Sayang, gak seharus nya km kesini dan meninggalkan apa yg sudah menjadi kewajiban km..?" Ucap nya seraya membelai wajah raffi yg kini berada persis dihadapan nya.
"Iya, aku mengerti,, maaf kan aku.." ucap raffi
"Sekarang km mau kemana? Aku akan temani km, kemana pun km mau.." lanjut raffi yg tersenyum kearah nya.
Namun, belum juga nagita menjawab nya, mamah rieta pun datang menemui mereka yg sedang asik mengobrol dikamar nya.
"Sayang, km ada jadwal terapi hari ini. Km siap2 yah..? Sebentar lagi dokter datang.." Ucap mamah rieta yg mengingatkan kembali akan jadwal rutin nya yg hampir 3 minggu belakangan ini dijalani nagita.
"Mah,,, "
"Hari ini aku gak usah terapi yah??" Ucap nagita
"Loh.. kok gitu..??"
"Km gimana sih sayang, kan km sendiri yg udah buat janji."
"Bukan kah km ingin cepat2 sembuh??" Lanjut mama rieta yg sedikit kecewa akan sikap nagita yg tak menginginkan menjalankan terapi nya untuk kesekian kali.
"Emmm..Maaf tante,, "
"Raffi boleh minta waktu sebentar untuk bicara dengan nagita?" Ucap nya yg menoleh kearah mamah rieta, seolah memberi nya kode.
"Baik lah, mamah keluar dulu.." Ucap mamah rieta dengan menepuk pelan pundak raffi, lalu perlahan pergi meninggalkan mereka berdua dikamar nya.
"Benar, km ada jadwal terapi hari ini?" Tanya raffi sesaat setelah mama rieta benar2 keluar dari pintu kamar nya.
Nagita pun mengangguk pelan,
"Lalu kenapa kamu ingin membatalkan nya?" Selidik raffi
"Aku gak mau lagi menjalani semua rangkaian pengobatan ini.." ucap nagita
"Kenapa? Km belum mencoba nya..!" ujar raffi
"Aku udah pernah melakukannya raffi, tp aku gak bisa! Aku gak bisa berjalan normal seperti dulu lagi. Dan aku capek dengan semua nya.." ujar nagita
"Sayang, km gak boleh berbicara seperti itu. Semua butuh waktu, dan km harus sabar."
"Sekarang, biar aku yg ditemani km.." Ujar raffi yg mencoba berbicara lembut kepada nya.
"Tapi raffi.." ucap nya pun terpotong saat raffi menempelkan jari tangan nya ke bibir nagita
"Sssssssstttttt.."
"Km gak ingin melihat mamah dan papah km kecewa, bukan?"
"Dan bukan kah 1 minggu lagi hari wisuda km,,? Apa km tak ingin merayakan bersama dengan yg lain di hari bahagia km? Hari yg selama hampir 4 tahun km tunggu2..?" Lanjut raffi yg mulai menatap nya dalam2, dengan tak sedikitpun memalingkan pandangan nya.
"Mungkin itu berat untuk mu sayang,, tp aku akan selalu ada untuk km."
"Percayalah..Tuhan tak akan pernah memberi cobaan diluar kemampuan kita. Dan bagi siapa yg berusaha untuk menerimanya, niscaya akan dilapangkan segala sesuatu nya." lanjut nya tersenyum
Nagita pun langsung memeluk nya, mendekap erat dan bersandar di dada bidang nya. Raffi pun membalas nya, dengan mengecup lembut ujung kepala nya.
"Sekarang, km siap2.."
"Lakukan lah untuk org2 yg mencintai km.." Ucap raffi sesaat setelah nagita mulai merenggangkan lengan nya yg sempat melingkar di pinggang nya.
Nagita pun mengangguk pelan dan tersenyum kearah raffi.
Hari itu raffi benar2 menepati janji nya meluangkan waktu khusus untuk menemani nya menjalankan terapi yg sudah seharus nya nagita lakukan selama 3 hari sekali. Dengan penuh hati2 nagita mulai menjalani serangkaian terapis nya. Sedangkan raffi hanya duduk memperhatikan step by step yg dilakukan dokter kepada nagita. Hampir 1 jam mereka melakukan nya, hingga dokter pun memutuskan untuk break terlebih dahulu.
"Km baik2 saja bukan??" Ucap raffi sesaat setelah nagita selesai menjalankan serangkaian terapi nya.
"Ya.. aku baik2 saja.." ucap nya singkat
"Aku yakin, kalo km lakukan ini terus menerus akan mempercepat proses penyembuhan km.." Ucap raffi
"Tp aku gak yakin raffi." bls nya yg mulai putus asa dengan semua nya.
"Mengapa demikian? Apa yg membuat mu gak yakin sayang?
"Entah lah raffi,," ucap nagita
"Nagita.. apa mau di lanjut lagi,,?" Ucap dokter itu tiba2
Dan nagita hanya terdiam, seolah tak menginginkan melanjutkan nya kembali. Dirasa nya tak ada perubahan yg nampak pada dirinya hingga detik ini, hingga ia memutuskan enggan melanjutkan nya kembali. Namun seperti nya niat menyudahi semua terhalang oleh raffi yg langsung segera menepis anggapan nagita yg mulai putus asa. Dan segera meng "iya" kan pertanyaan dokter tersebut untuk melanjutkannya kembali.
"Raffi.." ucap nagita yg sedikit menarik lengan raffi, namun lagi2 raffi enggan menanggapi nya.
"Dok, boleh saya membantu nya..?" Ucap raffi
"Ohh,, silahkan, bagus lah kalo gitu nagita tak usah menggunakan peralatan ini untuk membantu nya berjalan." Ucap dokter tersebut.
"Ayo.. " ucap raffi seraya mengulurkan kedua tangan nya untuk mengajak nya berdiri.
Namun nagita lagi2 hanya diam dan enggan menanggapi uluran tangan raffi.
"Nagita,, lihat aku..." ucap raffi yg duduk di samping nya.
"Aku,,, menerima segala kekurangan km, dan aku gak peduli dengan kondisi mu saat ini. Tp bukan berarti aku gak ingin km sembuh dan berjalan seperti semula"
"Cobalah km pikirkan tentang perasaan mamah dan papah km yg selalu menginginkan yg terbaik untuk kesembuhan putri nya."
"Marsha,, yg selalu menunda2 keberangkatan nya, hanya karena tak ingin meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini.."
"Sekarang terserah km, aku gak akan memaksa untuk km melanjutkan semua nya.." ucap raffi dengan segala kerendahan hati nya. Memberi nya pengertian akan beberapa hal yg semestinya nagita pahami. Raffi mulai beranjak pergi dari tempat duduk nya, sedikit memberi nya ruang dan waktu untuk nagita lebih menelaah apa yg sudah ia sampaikan kepada nya.
"Ya Tuhan.. kenapa aku gak berfikir kearah sana..?" Bathin nagita
"Raffi.." ucap nagita yg menahan kepergian nya,,
"Aku salah,, maafkan aku.." lanjut nagita dengan sedikit mengalahkan ego nya. Sedikit mendengarkan apa yg dikatakan raffi kepada nya. Mengingat begitu banyak orang yg mencintai dan menyayangi nya, dan menginginkan nya untuk hidup normal sebagaimana mesti nya.
"Maafkan aku, tak seharus nya aku bersikap seperti itu"
"Aku hanya takut tak bisa melakukan nya dan akan berujung kecewa, dan rasa itu selalu menyelimuti perasaan ku.." ucap nagita
"Km gak perlu meminta maaf, aku cuma mengingatkan apa yg seharus nya aku lakukan.."
"Km gak usah takut, ada aku yg akan menuntun km, menjaga km, dan dan melindungi km.."
"Sekarang, km coba yah..?"
"Sini aku bantu pelan2.." lanjut raffi yg perlahan membangunkan nya dari kursi roda untuk berdiri dengan kedua tangan yang tak pernah lepas menggenggam erat lengan raffi. Namun meskipun denijian raffi pun tetap mengikuti apa yg dikatakan dokter tersebut. Jika memang dokter menginginkan raffi untuk melepaskan nagita, ia pun harus melakukan nya. Meskipun ia takut terjadi sesuatu dengan kekasih nya. Tapi lagi2 perasaan itu ditepis oleh nya, karena hanya itu yg bisa dilakukan untuk membuat nya bisa berjalan seperti semula.
Hingga dari hari ke hari raffi selalu setia menemani, mendampingi, bahkan berkorban waktu hanya untuk nagita. Hingga pada akhir nya tepat dimana 1 hari menjelang acara wisuda nya digelar, nagita benar2 siap untuk melepas apa yg selama ini ia gunakan untuk membantu nya berjalan dan beraktivitas.
"Km yakin tak memerlukan ini lagi?" Ucap raffi, saat nagita memutuskan tak ingin menggunakan kursi roda nya lagi, bahkan tongkat yg 2 hari belakangan ini selalu membantu nya untuk berjalan pun kini di abaikan nya.
"Aku yakin raffi.." ucap nagita dengan kesungguhan hati nya
"Baik lah.. km pelan-pelan.." ucap raffi yg perlahan melepaskan pegangan nya, dan berusaha menjauh dari hadapan nya. Perlahan tapi pasti nagita mulai bertumpu pada kedua kaki nya sendiri, tanpa ada alat yg membantu nya seperti sebelum2 nya. Bahkan kini ia bisa berdiri tegap, meski sempat goyang keseimbangan. Namun tekad nya kuat untuk bisa melangkah dan sampai di tempat raffi berada.
"Ayo sayang, mendekat lah.. km pasti bisa" ucap raffi yg berjarak 5 meter dari hadapan nya.
Perlahan nagita mulai melangkahkan kaki kanan nya dan diikuti dengan kaki kiri nya. Langkah demi langkah ia lewati dengan penuh hati2 dan keseimbangan. Hingga akhir nya tinggal 1 langkah lagi nagita sampai, ia jatuh di pelukan raffi.
"Km gpp..?" Ucap raffi yg dengan sigap nya menolong dan tak membiarkan nya untuk jatuh dan terluka.
"Aku gak apa2.." ucap nagita tersenyum
"Aku bisa, bukan?"
"Km gak usah panik gitu donk?" Lanjut nagita yg masih terus memandangi nya, memandang wajah raffi yg masih terlihat panik dibuat nya.
"Km tau?? Gimana perasaan ku saat itu??"
"Hingga saat ini, jantungku masih berdegup kencang.." lanjut raffi.
Nagita hanya tersenyum mendapati raffi yg begitu takut terjadi sesuatu akan diri nya. Namun meski begitu raffi mulai bisa tersenyum bahagia, melihat kesehatan nagita yg jauh lebih baik dari sebelum2 nya. Dan itu cukup membuat nya puas akan usaha nya selama ini.
*****
Tepat di hari wisuda nya,
"Sayang,, km sudah siap??" Ucap mama rieta dengan segala persiapan nya.
"Siap mah.." ucap nya
"Ayo.. papa dan cacha sudah menunggu di mobil.." ucap mama rieta
Mereka pun pergi ke tempat dimana akan diselenggarakan nya acara wisuda tersebut. Namun dimanakah raffi? Hingga saat ini tak ada yg mengetahui dimana raffi sekarang.
"Km tunggu apa lagi kak?"
"Ayo masuk, sebentar lagi giliran km.." lanjut cacha
Dengan terpaksa, nagita pun masuk tanpa ditemani sang kekasih. Meski jauh didalam lubuk hati nya, ia menginginkan raffi ada disamping nya. Terlebih nagita dinobatkan sebagai mahasiswi terbaik dan memperoleh predikat A+ di angkatan nya. Dan itu cukup membuat nya puas akan hasil yg diperoleh nya.
"Selamat ya sayang,," ucap papa gideon yg langsung memeluk nya
"Makasih pa.." ucap nya tersenyum
Ucapan selamat pun tak kunjung berhenti diperoleh nya, namun rasa gelisah pun terus mengiringi disetiap senyum yg selalu ia torehkan kepada beberapa orang yg memberi nya pujian serta sanjungan.
"Raffi.. km dimana?"
"Kenapa km gak datang?" Bathin nagita
#disamping itu,
*syuuuuuutttttt..
Raffi pun terlihat memarkirkan mobil nya. Dengan langkah jenjang nya raffi mulai berjalan ke tepat yg sudah ia ketahui sebelum nya. Ia tau pasti akan telat, bahkan ia tau nagita pasti akan kecewa akan hal ini. Tapi raffi tetap menyempatkan datang untuk menemui nya, menepati janji nya meski sebenar nya ia tak yakin nagita akan mengerti semua tentang alasan2 nya.
Hingga acara pun hampir selesai, raffi baru menampakkan diri. Dimana, ia pun tak tahu posisi nagita sekarang, bahkan ia pun tak tahu apa baju yg dikenakan nagita saat itu. Dan itu cukup membuat nya kebingungan, dan tak semudah itu menemukan nya. Secara angkatan kali ini lebih banyak dari biasa nya. Namun bukan raffi jika ia tak bisa menemukan nya. Raffi terus berjalan menerobos ratusan orang yg memadati ballroom. Hingga tepat di belakang gadis yg mengenakan balutan kebaya warna coklat muda, tatanan rambut sederhana namun tak mengurangi kecantikan nya, dengan mengenakan hills kurang lebih 7 cm yg terkesan anggun. Raffi mulai menghentikan langkah nya, dan mencoba mengatur nafas nya yg sempat tersengal2 dibuat nya. Tak berfikir lama, raffi langsung menyodorkan seikat bunga cantik dengan hiasan pita dan note yg bertuliskan "Selamat ya cinta ku.."
Tanpa takut salah akan org yg dituju nya. Tak lama gadis itu langsung membalikkan badan nya. Dan itu cukup membuat raffi merasa DAG DIG DUG...
"Raffi..." ucap nagita yg kaget mendapati raffi yg tiba2 ada di belakang nya dan memberi nya seikat bunga.
"Hei.. " ucap nya tersenyum lega, saat ia tau bahwa perkiraan nya benar.
"Km kok tau aku disini?" Selidik nagita
"Emmmpp.. perasaan cinta tg membawa ku kesini.." ucap nya tersenyum
"Km sangat cantik.." lanjut nya, saat raffi mulai memandangi nya dari ujung kepala hingga ujung kaki nya.
"Km ini bisa saja, ini untuk ku??" Ucap nagita seraya mencium aroma wangi bunga yg raffi kasih untuk nya
"Ya.."
"Km tak ingin memeluk ku?" Ucap raffi seraya merentangkan kedua lengan nya.
Nagita pun langsung memeluk nya, dan mendekap erat tubuh nya.
"Selamat ya sayang atas apa yg km peroleh.."
"Aku bangga sama km.." lanjut raffi seraya mencium pelipis nya dengan lembut.
"Makasih ya raffi, km sudah mengajari ku banyak hal. Hingga aku bisa seperti ini." Ucap nagita yg mulai merenggangkan pelukan nya
"Dan terimakasih km sudah menepati janji mu untuk menemani ku disini, meski akhir nya telat.." lanjut nagita yg mulai tersenyum bahagia.
"Maafkan aku.." ucap raffi yg memeluk nya kembali.
"Ehemmm... eheeeemmm.." terdengar seseorang mengkaget kan nya, hingga raffi dan nagita pun langsung melepaskan pelukan nya dan sedikit menjauh.
"Pah.." ucap nagita, saat tau seseorang itu adalah papa neya.
"Kalian kenapa masih disini..? Bukankah acara sudah selesai..??"
"Emmpp.. maaf om.." ucap raffi yg tersenyum kecut ke arah mr. Gideon
"Ayo tunggu apalagi? Mama dan cacha sudah menunggu" ucap papa nya
"Emm..baik pah." Ucap nagita
"Raffi,, km ada waktu? Bisa ikut bersama kami? Ya.. itung2 pesta kecil lah, lunch bareng?" Ucap mr. Gideon, dan itu cukup membuat nagita dan raffi merasa terkejut mendengar nya
"Apa aku cuma mimpi??" Bathin raffi
"Apa ini sungguhan..??" Bathin nagita
"Kalian kenapa malah memandangi ku seperti itu?" Ucap mr.gideon saat raffi dan nagita hanya memandangi nya, mencari kebohongan yg diucapkan nya beberapa menit yg lalu. Namun sungguh tak ada 1 pun tanda yg meyakinkan nya kalo apa yg di ucapkan nya itu cuma basa-basi, karena ternyata itu benar.
"Raffi, km mau terima ajakan saya?" Tanya mr.gideon lagi.
"Emmpp.. e.. baik om.." ucap raffi meng "iya" kan
Merekapun pergi menuju mobil yg masih terparkir di halaman kampus.
"Raffi, km ikuti mobil saya. Dan nagita, km ikut mobil raffi." Ucap mr. Gideon, yg lagi2 membuat kedua nya merasa heran akan perubahan sikap nya akhir2 ini.
Tak ada kata lain, selain mengikuti perkataan nya. Nagita pun akhirnya ikut bersama raffi. Mereka menuju tempat yg sudah menjadi pilihan papa nya untuk sekedar lunch bersama keluarga kecil nya.
"Apa km merasa ada yg aneh?" Ucap raffi ditengah perjalanan nya
"Maksud km?" Ucap nagita penasaran
"Iya.. papa km."
"Gak biasa nya papa km sebaik ini..?" Lanjut raffi
"Lalu maksud km papa ku jahat?" Ucap nagita
"Bukan, bukan itu maksud ku." Ucap raffi
"Raffi.. boleh aku bertanya sesuatu?" Ucap nagita
"Ya.. katakan lah.." ucap raffi yg masih terjaga mengendarai nya
"Terbesit kah di pikiran km untuk dendam ke papa ku atas apa yg pernah dilakukan nya kepada mu..?" Ucap nagita, dan itu membuat raffi tersenyum simpul kearah nya.
"Km pikir aku akan dendam kepada nya?" Ucap raffi yg menoleh kearah nya.
"Lupa kan lah..."
"Km tak akan mungkin melakukan nya" ucap nagita tersenyum kearah nya
Merekapun sampai ditempat yg sudah dipesan secara privacy oleh papa nya, di suatu resto yg sebenar nya tak asing untuk raffi karena ia pun pernah membawa nagita ke resto ini. Raffi pun mulai merasa canggung, mana kala disandingkan 1 meja bersama orang yg sangat disegani oleh nya. Bahkan ia sempat membenci nya. Namun kali ini rupanya ada sedikit perbedaan. Jika dulu mr.gideon lebih menutup rapat2 akan kehadiran raffi dalam kehidupan putri nya, kali ini ia lebih terlihat welcome. Terlebih raffi lah yg sudah membuat nya sadar akan perbuatan nya yg hampir saja mencelakakan putri nya sendiri. Bahkan raffi lah yg selalu terlihat ada manakala nagita membutuhkan seseorang untuk memberikan nya support.
"Silahkan duduk raffi, anggap saja ini makan siang biasa.." ucap mr.gideon
"ii.. iya om.." ucap raffi
Seluruh makanan sudah dipesan sebelum nya, hingga tak perlu menunggu lama untuk bisa menikmati hidangan yg sudah menjadi ciri khas resto tersebut. Meski terkesan intim namun tetap santai. Lelucon pun sempat terlontar dari marsha yg membuat suasana tegang menjadi lebih rileks. Dan itu cukup membuat raffi mulai terlihat nyaman berada di tengah2 keluarga Capital.
"Mungkinkah ini saat nya? Apa aku siap dengan segala resiko nya?" Bathin raffi
"Om,, tante.." ucap raffi yg memulai pembicaraan serius nya. Dengan segala kerendahan dan keteguhan hati nya, raffi menyampaikan niat baik nya.
"Om, mungkin raffi bukan lah kriteria yg cocok untuk calon pendamping nagita."
"Atau bahkan bukan calon menantu idaman untuk om dan tante yg selama ini kalian cari"
"Tapi adakah sedikit kesempatan untuk raffi? Untuk menjadi pendamping nagita, putri om?" Ucap raffi dengan penuh hati2 saat penyampaian nya.
DEG,, denyut jantung nagita seakan berhenti berdetak, saat raffi memberanikan diri untuk menyampaikan niat baik nya, yg secara gak langsung ia melamar nya didepan kedua orangtua nya.
Mama rieta pun seakan tak bisa berkata apa2, dan marsha hanya bisa melihat dari kesungguhan hati raffi yg sejak awal sudah ia ketahui bahwa raffi memang benar2 mencintai kakak nya.
"Semua saya serahkan ke nagita.."
"Biar nagita yg akan menjawab nya.." ucap mr.gideon yg menoleh kearah nagita.
"Hah, em.. e.. " ucap nagita tersengal2, seolah tak tau apa yg harus ia katakan.. menerima atau kan tidak..
"Nagita,, " ucap raffi yg mulai merengkuh kedua tangan nya, dan berlutut dihadapan nya.
"Apakah km bersedia menikah dengan ku? Mendampingi ku, dan menerima segala kekurangan ku?" Ucap raffi
"Ini kah yg aku inginkan selama ini? Raffi,, aku tak bisa berkata2 lagi. Andai kamu tau perasaan ku saat ini.."
"Aku sangat bahagia raffi, aku mencintai mu.. sangat mencintai mu.." bathin nya, hingga tak ia sadari air mata bahagia pun menetes begitu saja.
"Nagita... will you merry me?" Ucap raffi lagi.
Nagita berusaha menyeka airmata yg secara tak sengaja mengalir begitu saja dengan jari tangan nya. Dan dengan segala pertimbangan, dan segenap rasa cinta yg dimiliki nya selama ini, ia tak mungkin mampu menolak nya.
"Iya raffi, aku mau.." ucap nya tersenyum. Dan itu cukup memberi nya kejelasan akan hubungan nya selama ini.
**
"Km tau..? Apa yg membuat ku bahagia hingga saat ini?" Bisik raffi saat ia memeluk nya dari belakang.
"Apa?" Tanya nagita penasaran
"Hadir nya km dalam hidup ku."
"Pernah kah km berfikir mengapa kita di persatukan? Meski pada awal nya banyak rintangan yg menghalangi kita untuk bersatu.."
"Namun, takdir berkata lain. Tuhan begitu menyayangi kita berdua. Hingga Tuhan menganugerah kan cinta yg akhir nya menyatukan kita berdua." Ucap raffi yg perlahan memutarkan tubuh nagita yg sedari tadi membelakangi nya.
"Km kenapa?" Lanjut raffi yg mengetahui nagita mulai menangis
"Adakah yg salah dari perkataan ku??" Ucap raffi dengan memegangi wajah nagita dengan kedua tangan nya.
"Gak.. aku gak apa2"
"Aku bahagia bersama mu.."
"Aku harap kita akan selalu bersama, melewati segala rintangan yg mungkin kita temui dikemudian hari." Ucap nagita tersenyum
"I love u..." ucap raffi
"l love u..." bls nagita
Dan rona kebahagiaan pun terpancar dari keduanya, berharap tak akan ada lagi kesedihan atau bahkan airmata luka. Yg ada hanya tawa, canda, jikalau ada airmata itupun adalah airmata kebahagiaan.
#End...
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.