Tuesday, June 16, 2015

The Power Of Love Part---22

The Power Of Love Part---22

Perlahan raffi mulai menjauhkan wajah nya, namun tak sedikit pun memalingkan pandangan nya yg hanya berjarak 10 cm dari hadapan nagita. Raffi memandangi setiap lekuk wajah cantik nya, dengan mata nya yg berbinar, senyum nya yg menawan membuat raffi enggan mengedipkan mata meski sekejap.
  "Km gpp?" Ucap nagita, namun tak sedikitpun raffi menanggapi pertanyaan nya, ia tetap terus memandangi nya.
  "Hei.. km kenapa sayang?" Ucap nya lagi, seraya memegangi wajah raffi dengan sentuhan jari2 manis nya.
  "Emmmp.. gak.."
  "Aku gak apa2.." ucap raffi yg langsung menggenggam jari tangan nagita yg sempat mendarat diwajah nya, seraya menciumi nya..
  "Are you seriusly?" Ucap nagita memastikan nya kembali
  "Ya, sungguh.."
  "Sekarang aku antar kamu kedalam yah,,?" Ucap raffi saat langit berubah gelap, dan angin pun mulai berhembus kencang kearah nya. Raffi membawa nagita kekamar nya, mengingat kondisi nya masih perlu istirahat. Tak lama handphone raffi pun berdering cukup keras.
  "Iya, hallo.." ucap raffi saat mengangkat telephone nya.
  "Baik lah.. aku segera kesana.." bisik raffi dalam percakapan nya.
  "Ada masalah?" Ucap nagita sesaat setelah raffi menutup telephone genggam nya beberapa detik yg lalu.
  "Maaf kan aku.."
  "Aku tak bisa berlama2 disini.." lanjut raffi yg kini mulai duduk disamping nya.
  "Km mau kemana?" Selidik nagita
  "Ada pekerjaan yg harus aku selesaikan malam ini.." ucap raffi, ia tau nagita pasti kecewa mendengar nya. Terlebih ia baru sebentar melepas rasa rindu dengan nya.
  "Km jgn sedih yah, aku janji akan meluangkan waktu ku untuk selalu menemui km disini.." ujar raffi segera, seolah tak ingin membuat nya sedih.
  "Pergilah raffi,, aku gak apa2. Aku cuma minta 1 hal sama km, jaga kesehatan km, karena tubuh km pun perlu istirahat." ucap nagita
  "Iya,, sekarang aku pulang dulu yah..? Km jgn lupa minum obat, dan kalo ada apa2 langsung hubungi aku.." Ucap raffi dengan mengecup mesra kening nya.
  "Km hati2 dijalan..?"
  "Jangan lupa kabari aku.." lanjut nagita
Raffi pun tersenyum kearah nya, sebelum ia benar2 pergi meninggalkan nya.

***
Hari-hari pun dijalani mereka sebagai mana mesti nya. Nagita tetap memilih untuk tinggal di villa semasa pemulihan, sedangkan raffi sesekali meluangkan waktu nya hanya untuk menemui dan menghibur nya dikala sendiri. Seperti yg terlihat saat ini, raffi sengaja mengambil cuti di saat tak ada agenda yg mengharuskan nya stay di kantor. Hingga ia bisa leluasa menghabiskan waktu bersama kekasih nya. Namun kedatangan nya kali ini memang tanpa sepengetahuan nagita, hingga cukup membuat nagita terkejut akan kehadiran nya tiba2.
  "Raffi, , ," ucap nya saat raffi mengetuk pintu kamar yg sedari tadi terbuka lebar.
  "Hai.. apa yg sedang km lakukan disini??" Ucap raffi yg perlahan jalan mendekati nagita yg masih terduduk di ranjang nya.
  "Entah lah.." ucap nya seraya mengangkat kedua bahu nya secara bersamaan
  "Gimana keadaan mu, sudah baikan?" Tanya raffi
  "Jauh lebih baik..." ucap nya singkat
  "Aku punya sesuatu untuk km.." ucap raffi yg perlahan menampakkan tangan kanan nya yg sedari tadi ia tutupi dengan tubuh nya yg tinggi tegap.
  "Ini untuk ku??"
  "Cantik banget..." lanjut nagita dengan senyum lebarnya saat raffi memberikan seikat mawar merah dengan hiasan pita berwarna pink kesukaan nya.
  "Km suka??" Ujar raffi mengusap lembut ujung kepala nya.
Nagita pun mengangguk pelan, meng "iya" kan perkataan nya.
  "Km kok disini, gak ke kantor?" Ujar nya
  "Emmm..Gak,, "
  "Aku ingin bersama km saat ini.." ucap raffi seraya berjongkok dihadapan nagita. 
  "Sayang, gak seharus nya km kesini dan meninggalkan apa yg sudah menjadi kewajiban km..?" Ucap nya seraya membelai wajah raffi yg kini berada persis dihadapan nya.
  "Iya, aku mengerti,, maaf kan aku.." ucap raffi

  "Sekarang km mau kemana? Aku akan temani km, kemana pun km mau.." lanjut raffi yg tersenyum kearah nya.
Namun, belum juga nagita menjawab nya, mamah rieta pun datang menemui mereka yg sedang asik mengobrol dikamar nya.
  "Sayang, km ada jadwal terapi hari ini. Km siap2 yah..? Sebentar lagi dokter datang.." Ucap mamah rieta yg mengingatkan kembali akan jadwal rutin nya yg hampir 3 minggu belakangan ini dijalani nagita.
  "Mah,,,  "
  "Hari ini aku gak usah terapi yah??" Ucap nagita
  "Loh.. kok gitu..??"
  "Km gimana sih sayang, kan km sendiri yg udah buat janji."
  "Bukan kah km ingin cepat2 sembuh??" Lanjut mama rieta yg sedikit kecewa akan sikap nagita yg tak menginginkan menjalankan terapi nya untuk kesekian kali.
  "Emmm..Maaf tante,, "
  "Raffi boleh minta waktu sebentar untuk bicara dengan nagita?" Ucap nya yg menoleh kearah mamah rieta, seolah memberi nya kode.
  "Baik lah, mamah keluar dulu.." Ucap mamah rieta dengan menepuk pelan pundak raffi, lalu perlahan pergi meninggalkan mereka berdua dikamar nya.

  "Benar, km ada jadwal terapi hari ini?" Tanya raffi sesaat setelah mama rieta benar2 keluar dari pintu kamar nya.
Nagita pun mengangguk pelan,
  "Lalu kenapa kamu ingin membatalkan nya?" Selidik raffi
  "Aku gak mau lagi menjalani semua rangkaian pengobatan ini.." ucap nagita
  "Kenapa? Km belum mencoba nya..!" ujar raffi
  "Aku udah pernah melakukannya raffi, tp aku gak bisa! Aku gak bisa berjalan normal seperti dulu lagi. Dan aku capek dengan semua nya.." ujar nagita
  "Sayang, km gak boleh berbicara seperti itu. Semua butuh waktu, dan km harus sabar."
  "Sekarang, biar aku yg ditemani km.." Ujar raffi yg mencoba berbicara lembut kepada nya.
  "Tapi raffi.." ucap nya pun terpotong saat raffi menempelkan jari tangan nya ke bibir nagita
  "Sssssssstttttt.."
  "Km gak ingin melihat mamah dan papah km kecewa, bukan?"
  "Dan bukan kah 1 minggu lagi hari wisuda km,,? Apa km tak ingin merayakan bersama dengan yg lain di hari bahagia km? Hari yg selama hampir 4 tahun km tunggu2..?" Lanjut raffi yg mulai menatap nya dalam2, dengan tak sedikitpun memalingkan pandangan nya.
  "Mungkin itu berat untuk mu sayang,, tp aku akan selalu ada untuk km."
  "Percayalah..Tuhan tak akan pernah memberi cobaan diluar kemampuan kita. Dan bagi siapa yg berusaha untuk menerimanya, niscaya akan dilapangkan segala sesuatu nya." lanjut nya tersenyum
Nagita pun langsung memeluk nya, mendekap erat dan bersandar di dada bidang nya. Raffi pun membalas nya, dengan mengecup lembut ujung kepala nya.
  "Sekarang, km siap2.."
  "Lakukan lah untuk org2 yg mencintai km.." Ucap raffi sesaat setelah nagita mulai merenggangkan lengan nya yg sempat melingkar di pinggang nya.
Nagita pun mengangguk pelan dan tersenyum kearah raffi.

Hari itu raffi benar2 menepati janji nya meluangkan waktu khusus untuk menemani nya menjalankan terapi yg sudah seharus nya nagita lakukan selama 3 hari sekali. Dengan penuh hati2 nagita mulai menjalani serangkaian terapis nya. Sedangkan raffi hanya duduk memperhatikan step by step yg dilakukan dokter kepada nagita. Hampir 1 jam mereka melakukan nya, hingga dokter pun memutuskan untuk break terlebih dahulu. 
  "Km baik2 saja bukan??" Ucap raffi sesaat setelah nagita selesai menjalankan serangkaian terapi nya.
  "Ya.. aku baik2 saja.." ucap nya singkat
  "Aku yakin, kalo km lakukan ini terus menerus akan mempercepat proses penyembuhan km.." Ucap raffi
  "Tp aku gak yakin raffi." bls nya yg mulai putus asa dengan semua nya.
  "Mengapa demikian? Apa yg membuat mu gak yakin sayang?
  "Entah lah raffi,," ucap nagita
  "Nagita.. apa mau di lanjut lagi,,?" Ucap dokter itu tiba2
Dan nagita hanya terdiam, seolah tak menginginkan melanjutkan nya kembali. Dirasa nya tak ada perubahan yg nampak pada dirinya hingga detik ini, hingga ia memutuskan enggan melanjutkan nya kembali. Namun seperti nya niat menyudahi semua terhalang oleh raffi yg langsung segera menepis anggapan nagita yg mulai putus asa. Dan segera meng "iya" kan pertanyaan dokter tersebut untuk melanjutkannya kembali.
  "Raffi.." ucap nagita yg sedikit menarik lengan raffi, namun lagi2 raffi enggan menanggapi nya. 
  "Dok, boleh saya membantu nya..?" Ucap raffi
  "Ohh,, silahkan, bagus lah kalo gitu nagita tak usah menggunakan peralatan ini untuk membantu nya berjalan." Ucap dokter tersebut.
  "Ayo.. " ucap raffi seraya mengulurkan kedua tangan nya untuk mengajak nya berdiri.
Namun nagita lagi2 hanya diam dan enggan menanggapi uluran tangan raffi.
  "Nagita,, lihat aku..." ucap raffi yg duduk di samping nya.
  "Aku,,, menerima segala kekurangan km, dan aku gak peduli dengan kondisi mu saat ini. Tp bukan berarti aku gak ingin km sembuh dan berjalan seperti semula"
  "Cobalah km pikirkan tentang perasaan mamah dan papah km yg selalu menginginkan yg terbaik untuk kesembuhan putri nya."
  "Marsha,, yg selalu menunda2 keberangkatan nya, hanya karena tak ingin meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini.."
  "Sekarang terserah km, aku gak akan memaksa untuk km melanjutkan semua nya.." ucap raffi dengan segala kerendahan hati nya. Memberi nya pengertian akan beberapa hal yg semestinya nagita pahami. Raffi mulai beranjak pergi dari tempat duduk nya, sedikit memberi nya ruang dan waktu untuk nagita lebih menelaah apa yg sudah ia sampaikan kepada nya.
  "Ya Tuhan.. kenapa aku gak berfikir kearah sana..?" Bathin nagita
  "Raffi.." ucap nagita yg menahan kepergian nya,,
  "Aku salah,, maafkan aku.." lanjut nagita dengan sedikit mengalahkan ego nya. Sedikit mendengarkan apa yg dikatakan raffi kepada nya. Mengingat begitu banyak orang yg mencintai dan menyayangi nya, dan menginginkan nya untuk hidup normal sebagaimana mesti nya.
  "Maafkan aku, tak seharus nya aku bersikap seperti itu"
  "Aku hanya takut tak bisa melakukan nya dan akan berujung kecewa, dan rasa itu selalu menyelimuti perasaan ku.." ucap nagita
  "Km gak perlu meminta maaf, aku cuma mengingatkan apa yg seharus nya aku lakukan.."
  "Km gak usah takut, ada aku yg akan menuntun km, menjaga km, dan dan melindungi km.."
  "Sekarang, km coba yah..?"
  "Sini aku bantu pelan2.." lanjut raffi yg perlahan membangunkan nya dari kursi roda untuk berdiri dengan kedua tangan yang tak pernah lepas menggenggam erat lengan raffi. Namun meskipun denijian raffi pun tetap mengikuti apa yg dikatakan dokter tersebut. Jika memang dokter menginginkan raffi untuk melepaskan nagita, ia pun harus melakukan nya. Meskipun ia takut terjadi sesuatu dengan kekasih nya. Tapi lagi2 perasaan itu ditepis oleh nya, karena hanya itu yg bisa dilakukan untuk membuat nya bisa berjalan seperti semula.

Hingga dari hari ke hari raffi selalu setia menemani, mendampingi, bahkan berkorban waktu hanya untuk nagita. Hingga pada akhir nya tepat dimana 1 hari menjelang acara wisuda nya digelar, nagita benar2 siap untuk melepas apa yg selama ini ia gunakan untuk membantu nya berjalan dan beraktivitas. 
  "Km yakin tak memerlukan ini lagi?" Ucap raffi, saat nagita memutuskan tak ingin menggunakan kursi roda nya lagi, bahkan tongkat yg 2 hari belakangan ini selalu membantu nya untuk berjalan pun kini di abaikan nya.
  "Aku yakin raffi.." ucap nagita dengan kesungguhan hati nya
  "Baik lah.. km pelan-pelan.." ucap raffi yg perlahan melepaskan pegangan nya, dan berusaha menjauh dari hadapan nya. Perlahan tapi pasti nagita mulai bertumpu pada kedua kaki nya sendiri, tanpa ada alat yg membantu nya seperti sebelum2 nya. Bahkan kini ia bisa berdiri tegap, meski sempat goyang keseimbangan. Namun tekad nya kuat untuk bisa melangkah dan sampai di tempat raffi berada.
  "Ayo sayang, mendekat lah.. km pasti bisa" ucap raffi yg berjarak 5 meter dari hadapan nya.
Perlahan nagita mulai melangkahkan kaki kanan nya dan diikuti dengan kaki kiri nya. Langkah demi langkah ia lewati dengan penuh hati2 dan keseimbangan. Hingga akhir nya tinggal 1 langkah lagi nagita sampai, ia jatuh di pelukan raffi.
  "Km gpp..?" Ucap raffi yg dengan sigap nya menolong dan tak membiarkan nya untuk jatuh dan terluka.
  "Aku gak apa2.." ucap nagita tersenyum
  "Aku bisa, bukan?"
  "Km gak usah panik gitu donk?" Lanjut nagita yg masih terus memandangi nya, memandang wajah raffi yg masih terlihat panik dibuat nya.
  "Km tau?? Gimana perasaan ku saat itu??"
  "Hingga saat ini, jantungku masih berdegup kencang.." lanjut raffi.
Nagita hanya tersenyum mendapati raffi yg begitu takut terjadi sesuatu akan diri nya. Namun meski begitu raffi mulai bisa tersenyum bahagia, melihat kesehatan nagita yg jauh lebih baik dari sebelum2 nya. Dan itu cukup membuat nya puas akan usaha nya selama ini.

*****
Tepat di hari wisuda nya, 
  "Sayang,, km sudah siap??" Ucap mama rieta dengan segala persiapan nya.
  "Siap mah.." ucap nya
  "Ayo.. papa dan cacha sudah menunggu di mobil.." ucap mama rieta
Mereka pun pergi ke tempat dimana akan diselenggarakan nya acara wisuda tersebut. Namun dimanakah raffi? Hingga saat ini tak ada yg mengetahui dimana raffi sekarang.
  "Km tunggu apa lagi kak?"
  "Ayo masuk, sebentar lagi giliran km.." lanjut cacha
Dengan terpaksa, nagita pun masuk tanpa ditemani sang kekasih. Meski jauh didalam lubuk hati nya, ia menginginkan raffi ada disamping nya. Terlebih nagita dinobatkan sebagai mahasiswi terbaik dan memperoleh predikat A+ di angkatan nya. Dan itu cukup membuat nya puas akan hasil yg diperoleh nya.
  "Selamat ya sayang,," ucap papa gideon yg langsung memeluk nya
  "Makasih pa.." ucap nya tersenyum 
Ucapan selamat pun tak kunjung berhenti diperoleh nya, namun rasa gelisah pun terus mengiringi disetiap senyum yg selalu ia torehkan kepada beberapa orang yg memberi nya pujian serta sanjungan.
  "Raffi.. km dimana?"
  "Kenapa km gak datang?" Bathin nagita

#disamping itu,
*syuuuuuutttttt..
Raffi pun terlihat memarkirkan mobil nya. Dengan langkah jenjang nya raffi mulai berjalan ke tepat yg sudah ia ketahui sebelum nya. Ia tau pasti akan telat, bahkan ia tau nagita pasti akan kecewa akan hal ini. Tapi raffi tetap menyempatkan datang untuk menemui nya, menepati janji nya meski sebenar nya ia tak yakin nagita akan mengerti semua tentang alasan2 nya.
Hingga acara pun hampir selesai, raffi baru menampakkan diri. Dimana, ia pun tak tahu posisi nagita sekarang, bahkan ia pun tak tahu apa baju yg dikenakan nagita saat itu. Dan itu cukup membuat nya kebingungan, dan tak semudah itu menemukan nya. Secara angkatan kali ini lebih banyak dari biasa nya. Namun bukan raffi jika ia tak bisa menemukan nya. Raffi terus berjalan menerobos ratusan orang yg memadati ballroom. Hingga tepat di belakang gadis yg mengenakan balutan kebaya warna coklat muda, tatanan rambut sederhana namun tak mengurangi kecantikan nya, dengan mengenakan hills kurang lebih 7 cm yg terkesan anggun. Raffi mulai menghentikan langkah nya, dan mencoba mengatur nafas nya yg sempat tersengal2 dibuat nya. Tak berfikir lama, raffi langsung menyodorkan seikat bunga cantik dengan hiasan pita dan note yg bertuliskan "Selamat ya cinta ku.."
Tanpa takut salah akan org yg dituju nya. Tak lama gadis itu langsung membalikkan badan nya. Dan itu cukup membuat raffi merasa DAG DIG DUG...
  "Raffi..." ucap nagita yg kaget mendapati raffi yg tiba2 ada di belakang nya dan memberi nya seikat bunga.
  "Hei.. " ucap nya tersenyum lega, saat ia tau bahwa perkiraan nya benar.
  "Km kok tau aku disini?" Selidik nagita
  "Emmmpp.. perasaan cinta tg membawa ku kesini.." ucap nya tersenyum
  "Km sangat cantik.." lanjut nya, saat raffi mulai memandangi nya dari ujung kepala hingga ujung kaki nya.
  "Km ini bisa saja, ini untuk ku??" Ucap nagita seraya mencium aroma wangi bunga yg raffi kasih untuk nya
  "Ya.."
  "Km tak ingin memeluk ku?" Ucap raffi seraya merentangkan kedua lengan nya.
Nagita pun langsung memeluk nya, dan mendekap erat tubuh nya.
  "Selamat ya sayang atas apa yg km peroleh.."
  "Aku bangga sama km.." lanjut raffi seraya mencium pelipis nya dengan lembut.
  "Makasih ya raffi, km sudah mengajari ku banyak hal. Hingga aku bisa seperti ini." Ucap nagita yg mulai merenggangkan pelukan nya
  "Dan terimakasih km sudah menepati janji mu untuk menemani ku disini, meski akhir nya telat.." lanjut nagita yg mulai tersenyum bahagia.
  "Maafkan aku.." ucap raffi yg memeluk nya kembali.
  "Ehemmm... eheeeemmm.." terdengar seseorang mengkaget kan nya, hingga raffi dan nagita pun langsung melepaskan pelukan nya dan sedikit menjauh.
  "Pah.." ucap nagita, saat tau seseorang itu adalah papa neya.
  "Kalian kenapa masih disini..? Bukankah acara sudah selesai..??"
  "Emmpp.. maaf om.." ucap raffi yg tersenyum kecut ke arah mr. Gideon
  "Ayo tunggu apalagi? Mama dan cacha sudah menunggu" ucap papa nya
  "Emm..baik pah." Ucap nagita
  "Raffi,, km ada waktu? Bisa ikut bersama kami? Ya.. itung2 pesta kecil lah, lunch bareng?" Ucap mr. Gideon, dan itu cukup membuat nagita dan raffi merasa terkejut mendengar nya
  "Apa aku cuma mimpi??" Bathin raffi
  "Apa ini sungguhan..??" Bathin nagita
  "Kalian kenapa malah memandangi ku seperti itu?" Ucap mr.gideon saat raffi dan nagita hanya memandangi nya, mencari kebohongan yg diucapkan nya beberapa menit yg lalu. Namun sungguh tak ada 1 pun tanda yg meyakinkan nya kalo apa yg di ucapkan nya itu cuma basa-basi, karena ternyata itu benar.
  "Raffi, km mau terima ajakan saya?" Tanya mr.gideon lagi.
  "Emmpp.. e.. baik om.." ucap raffi meng "iya" kan

Merekapun pergi menuju mobil yg masih terparkir di halaman kampus.
  "Raffi, km ikuti mobil saya. Dan nagita, km ikut mobil raffi." Ucap mr. Gideon, yg lagi2 membuat kedua nya merasa heran akan perubahan sikap nya akhir2 ini.
Tak ada kata lain, selain mengikuti perkataan nya. Nagita pun  akhirnya ikut bersama raffi. Mereka menuju tempat yg sudah menjadi pilihan papa nya untuk sekedar lunch bersama keluarga kecil nya.
  "Apa km merasa ada yg aneh?" Ucap raffi ditengah perjalanan nya
  "Maksud km?" Ucap nagita penasaran
  "Iya.. papa km."
  "Gak biasa nya papa km sebaik ini..?" Lanjut raffi
  "Lalu maksud km papa ku jahat?" Ucap nagita
  "Bukan, bukan itu maksud ku." Ucap raffi
  "Raffi.. boleh aku bertanya sesuatu?" Ucap nagita
  "Ya.. katakan lah.." ucap raffi yg masih terjaga mengendarai nya
  "Terbesit kah di pikiran km untuk dendam ke papa ku atas apa yg pernah dilakukan nya kepada mu..?" Ucap nagita, dan itu membuat raffi tersenyum simpul kearah nya.
  "Km pikir aku akan dendam kepada nya?" Ucap raffi yg menoleh kearah nya.
  "Lupa kan lah..."
  "Km tak akan mungkin melakukan nya" ucap nagita tersenyum kearah nya

Merekapun sampai ditempat yg sudah dipesan secara privacy oleh papa nya, di suatu resto yg sebenar nya tak asing untuk raffi karena ia pun pernah membawa nagita ke resto ini. Raffi pun mulai merasa canggung, mana kala disandingkan 1 meja bersama orang yg sangat disegani oleh nya. Bahkan ia sempat membenci nya. Namun kali ini rupanya ada sedikit perbedaan. Jika dulu mr.gideon lebih menutup rapat2 akan kehadiran raffi dalam kehidupan putri nya, kali ini ia lebih terlihat welcome. Terlebih raffi lah yg sudah membuat nya sadar akan perbuatan nya yg hampir saja mencelakakan putri nya sendiri. Bahkan raffi lah yg selalu terlihat ada manakala nagita membutuhkan seseorang untuk memberikan nya support.
  "Silahkan duduk raffi, anggap saja ini makan siang biasa.." ucap mr.gideon
  "ii.. iya om.." ucap raffi
Seluruh makanan sudah dipesan sebelum nya, hingga tak perlu menunggu lama untuk bisa menikmati hidangan yg sudah menjadi ciri khas resto tersebut. Meski terkesan intim namun tetap santai. Lelucon pun sempat terlontar dari marsha yg membuat suasana tegang menjadi lebih rileks. Dan itu cukup membuat raffi mulai terlihat nyaman berada di tengah2 keluarga Capital. 
  "Mungkinkah ini saat nya? Apa aku siap dengan segala resiko nya?" Bathin raffi
  "Om,, tante.." ucap raffi yg memulai pembicaraan serius nya. Dengan segala kerendahan dan keteguhan hati nya, raffi menyampaikan niat baik nya. 
  "Om, mungkin raffi bukan lah kriteria yg cocok untuk calon pendamping nagita."
  "Atau bahkan bukan calon menantu idaman untuk om dan tante yg selama ini kalian cari"
  "Tapi adakah sedikit kesempatan untuk raffi? Untuk menjadi pendamping nagita, putri om?" Ucap raffi dengan penuh hati2 saat penyampaian nya.
DEG,, denyut jantung nagita seakan berhenti berdetak, saat raffi memberanikan diri untuk menyampaikan niat baik nya, yg secara gak langsung ia melamar nya didepan kedua orangtua nya.
Mama rieta pun seakan tak bisa berkata apa2, dan marsha hanya bisa melihat dari kesungguhan hati raffi yg sejak awal sudah ia ketahui bahwa raffi memang benar2 mencintai kakak nya.
  "Semua saya serahkan ke nagita.."
  "Biar nagita yg akan menjawab nya.." ucap mr.gideon yg menoleh kearah nagita.
  "Hah, em.. e.. " ucap nagita tersengal2, seolah tak tau apa yg harus ia katakan.. menerima atau kan tidak.. 
  "Nagita,, " ucap raffi yg mulai merengkuh kedua tangan nya, dan berlutut dihadapan nya.
  "Apakah km bersedia menikah dengan ku? Mendampingi ku, dan menerima segala kekurangan ku?" Ucap raffi
  "Ini kah yg aku inginkan selama ini? Raffi,, aku tak bisa berkata2 lagi. Andai kamu tau perasaan ku saat ini.."
  "Aku sangat bahagia raffi, aku mencintai mu.. sangat mencintai mu.." bathin nya, hingga tak ia sadari air mata bahagia pun menetes begitu saja.
  "Nagita... will you merry me?" Ucap raffi lagi.
Nagita berusaha menyeka airmata yg secara tak sengaja mengalir begitu saja dengan jari tangan nya. Dan dengan segala pertimbangan, dan segenap rasa cinta yg dimiliki nya selama ini, ia tak mungkin mampu menolak nya.
  "Iya raffi, aku mau.." ucap nya tersenyum. Dan itu cukup memberi nya kejelasan akan hubungan nya selama ini.

**
  "Km tau..? Apa yg membuat ku bahagia hingga saat ini?" Bisik raffi saat ia memeluk nya dari belakang.
  "Apa?" Tanya nagita penasaran
  "Hadir nya km dalam hidup ku."
  "Pernah kah km berfikir mengapa kita di persatukan? Meski pada awal nya banyak rintangan yg menghalangi kita untuk bersatu.."
  "Namun, takdir berkata lain. Tuhan begitu menyayangi kita berdua. Hingga Tuhan menganugerah kan cinta yg akhir nya menyatukan kita berdua." Ucap raffi yg perlahan memutarkan tubuh nagita yg sedari tadi membelakangi nya.
  "Km kenapa?" Lanjut raffi yg mengetahui nagita mulai menangis
  "Adakah yg salah dari perkataan ku??" Ucap raffi dengan memegangi wajah nagita dengan kedua tangan nya.
  "Gak.. aku gak apa2"
  "Aku bahagia bersama mu.."
  "Aku harap kita akan selalu bersama, melewati segala rintangan yg mungkin kita temui dikemudian hari." Ucap nagita tersenyum
  "I love u..." ucap raffi
  "l love u..." bls nagita
Dan rona kebahagiaan pun terpancar dari keduanya, berharap tak akan ada lagi kesedihan atau bahkan airmata luka. Yg ada hanya tawa, canda, jikalau ada airmata itupun adalah airmata kebahagiaan.
#End...

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

Monday, June 1, 2015

The Power Of Love Part---21

The Power Of Love Part---21

Restu sudah diberikan, alamat pun sudah ia dapatkan. Hingga ia seperti mendapatkan kejelasan atas penantian nya yg cukup membuat nya stress beberapa hari ini. Namun tak etis jika raffi harus meninggalkan tanggungjawab atas pekerjaan nya hanya karena urusan pribadi. Banyak pekerjaan yg belum ia selesaikan, hingga ia harus kembali ke kantor dan segera menyelesaikan segala sesuatu yg sudah menjadi tanggungjawabnya.

Ditempat lain,,
  "Kak,, " ucap marsha pelan
  "Hmm,, " Gumam nagita, saat berada diruang tv bersama nya 
  "Aku boleh tanya sesuatu?" Ucap nya dengan mengecilkan volume tv yg ditontonnya.
  "Km mau tanya apa?"
  "Katakan saja.. " lanjut nagita dengan masih memperhatikan majalah yg sedari tadi ia baca.
  "Apa kakak akan tetap ikut wisuda tahun ini?" Ucap cacha yg langsung mengalihkan perhatian nya kepada nagita yg masih terlihat sibuk dengan majalah yg ada ditangan nya.
  "Kamu ini ada2 saja cha, mana mungkin aku bisa ikut dengan kondisi seperti ini?" Ucap nagita tertawa pelan 
  "Bukan kah masih ada waktu 3 minggu lagi? Km bisa ikut fisioterapi.."
  "Lagi pula bukan kah itu acara yg paling kamu tunggu2 dan kamu impi2 kan selama ini?" Ucap marsha menatap tajam kearah nya
Dan lagi2 nagita hanya tertawa pelan,,, namun kali ini ia mulai mengalihkan pandangan nya ke marsha yg posisi nya tak jauh dari ia berada. Nagita memang selalu menunggu2 moment itu, dimana ia bisa melepas status mahasiswi nya yg hampir 4 tahun ini disandang nya. Namun seperti nya nagita harus menjauhkan angan nya akan hal itu, mengingat kondisi yg tak memungkinkan untuk mengikuti nya.
  "Cha, sudah 2 minggu ini aku ikuti apa yg disarankan dokter untuk melakukan fisioterapi, tp apakah ada perubahan hingga saat ini??? Gak ada ,bukan?? Lalu,, dengan sisa waktu yg kurang dari 3 minggu ini, bagaimana cara nya aku bisa melakukan itu???" 
  "Itu sungguh tak masuk akal marsha.." Lanjut nagita dan melanjutkan kembali aktifitas nya yaitu membaca majalah fashion yg sudah menjadi hobby nya selama ini.
  "Gak ada yg gak mungkin di dunia ini.. semuanya bisa terjadi kalo kita mau berusaha" ucap cacha
  "Lalu maksud km, kakak gak berusaha??" Timpal nagita yg melirik kearah nya
  "Mungkin kakak butuh seseorang untuk bisa memotivasi nya"
  "Bukan malah mencoba untuk menjauhi nya" ucap marsha dengan memalingkan wajah nya kearah tv yg sengaja ia perbesar volume nya, hingga nagita pun merasa tersindir akan ucapan marsha yg kadang ada benarnya. 
Memang akhir2 ini nagita mulai putus asa dengan apa yg terjadi pada diri nya. Bahkan ia memilih untuk tinggal di villa, dibandingkan tinggal di rumahnya sendiri. Padahal jika dibandingkan disini, pasti nya jauh lebih lengkap fasilitas dirumah nya. Namun bukan itu yg dicari nagita, melainkan "ketenangan". Mungkin disini nagita merasa jauh lebih tenang, dengan suasana yg asri membuatnya betah berlama2 didalam villa yg penduduk nya hanya bisa dihitung oleh jari tangan. Maklumlah villa ini dibeli bukan untuk ditempati nya tiap hari, melainkan hanya untuk sewaktu2 saja. Villa sekelas hotel bintang lima yg terletak didaerah anyer ini dipilih nagita karena ia suka dengan view nya yg langsung menghadap pantai. Hingga tak khayal jika nagita lebih memilih untuk tinggal disini selama  masa pemulihan nya.

  "Tok..tok..tok.." terdengar ketukan pintu beberapa kali dari arah pintu utama nya
  "Cha,, tolong dong buka kan pintu nya,, mungkin itu mamah" ucap nagita saat terdengar suara org bertamu ke rumah nya.
  "Mamah??"
  "Bukannya barusan mamah sms bakal kesini telat?? Mungkin kah secepat itu?" Ucap marsha
  "Coba sekarang km cek dulu deh diluar, siapa tau benar" ucap nagita
  "Ok, baik lah.." Ucap nya yg langsung beranjak dari tempat duduk nya dan menuju pintu depan yg jaraknya gak jauh dari ruang tengah. 
Tanpa mengecek lagi marsha pun langsung membukakan pintu nya lebar2. Berharap mamah nya yg memang benar2 datang dan membawakan nya makanan. Namun rupa nya kali ini ia harus menelan dalam2 rasa lapar nya, karena ternyata bukan mamah rieta yg datang untuk menemui nya melainkan org lain.
  "Raffi..??" Ucap marsha kaget, saat mendapati raffi yg tiba2 ada didepan nya.
  "Bagaimana mungkin dia bisa ada disini??"
  "Ya Tuhan.. apa yg harus aku katakan..??" bathin marsha, karena setahu nya tak ada yg mengetahui tempat ini kecuali keluarga nya.
  "Marsha, km disini...?" ucap raffi, namun cacha hanya terdiam tanpa berkomentar apapun, seolah bingung merangkai kata2 untuk menjawab semua pertanyaan2 yg kemungkinan raffi tanyakan kepada nya.
  "Marsha,, km gak apa2?" Ucap raffi mengagetkan nya.
  "Ohh.. Maaf, maaf.."
  "Km ngapain kesini??" Bisik marsha pelan, takut nagita mendengar apa yg sedang ia bicarakan .
  "Marsha,,,, tolong izin kan aku bertemu dengan nagita.." Ucap raffi
  "Untuk apa raffi?" ucap nya, tanpa mempersilahkan masuk terlebih dahulu, hingga mereka hanya berdiri di depan pintu tanpa duduk atau bahkan sekedar  basa-basi menawarkan nya minum.
  "Ada yg harus aku bicarakan kepada nya" ujar raffi
  "Tapi........" Ucap nya terpotong
  "Please marsha, aku mohon.. Aku ingin menemui nya" lanjut raffi yg terus memohon kepada marsha untuk bisa menemui kakak nya. Upaya raffi untuk tetap bisa bertemu dengan nagita memang tak bisa di hindari lagi. Hingga keributan itu pun sampai terdengar jelas ditelinga nagita. Ia memutuskan untuk berjalan kearah ruang tamu, memecahkan segala rasa penasaran nya atas keributan yg cukup membuat nya terganggu. Meskipun untuk menempuh nya, ia harus bersusah payah menggunakan kursi roda untuk bisa sampai ke sana.

  "Cha... sia_pa?" Ucap nya pun terpotong, saat ia tau raffi lah org yg sedang bersama marsha kali ini. Perlahan nagita berjalan mundur, seolah ingin menghindar dari raffi yg masih berada di depan pintu utama nya. Nagita berusaha memutar kursi roda nya dan berbalik arah menuju ruang keluarga. Namun upaya nya kali ini untuk menghindar percuma, karena raffi sempat melihat nya.
  "Nagita.. nagita... tunggu..." Ucap raffi berlari mencoba menghentikan laju kursi roda nya yg perlahan menjauh dari pandangan nya.
  "Tolong beri aku kesempatan, aku ingin bicara sama km.."
  "Please nagita, aku mohon..?"Lanjut raffi yg terus meminta nya untuk sejenak meluangkan waktu untuk sekedar berbicara dan menjelaskan apa yg sebenarnya terjadi. 
Dan akhirnya nagita pun mengabulkan permintaan nya, untuk sedikit mendengarkan apa yg ingin raffi sampaikan kepada nya.
Sedangkan marsha hanya bisa melihat apa yg mestinya ia lihat dan mendengar apa yg bisa ia dengar, tanpa mau ikut campur urusan kedua nya.

Nagita membawanya ketempat yg dirasa lebih santai untuk berbicara 4 mata dengan nya. Jika biasanya deburan ombak selalu terdengar jelas telinganya, namun kali ini terasa begitu sunyi. Dan seketika saja suasana berubah menjadi hening. 
  "Bagaimana keadaan mu??"
  "Aku sangat merindukan mu.." Ucap raffi memulai pembicaraan nya.
  "Aku baik2 saja. Km tak usah khawatirkan aku." Ucap nagita yg mencoba bersikap dingin kepada nya.
  "Nagita,,,?" Ucap raffi dengan sedikit mengatur nafas nya, yg mulai terlihat sesak saat nagita bersikap dingin terhadap nya. Namun lagi2 raffi berusaha untuk tetap menerima perlakuan nya,,
  "Ada hal yg perlu aku tanyakan kepada mu."
  "Ini tentang sikap km yg berubah akhir2 ini? Bahkan, aku sama sekali tak mengenali diri km yg sekarang. Apa yg membuat mu seperti ini???" Ujar raffi yg terus mencoba meminta penjelasan atas sikap nya selama ini.
  "Gak ada yg berubah dari diri ku, mungkin itu hanya perasaan mu saja.." Ucap nagita yg lagi2 bersikap acuh kepada nya.
  "Lalu kenapa km berusaha menghindar dari ku? Kenapa NAGITA, jawab??!" Ucap raffi dengan volume suara lebih tinggi dari biasanya
  "Km tau, gimana perasaan aku saat itu? Apa km tahu, betapa panik nya aku saat mengetahui km mengalami kecelakaan dan masuk rumahsakit...?"
  "Bahkan untuk tahu kondisi km pun itu sulit aku dapatkan"
  "Apa km tau akan hal itu nagita??" lanjut raffi yg tak bisa mengontrol emosi nya yg mulai meledak2.
  "Raffi,,,, km tanya kenapa aku lakukan itu??" Ucap nya pelan
  "Km bisa lihat kondisi aku saat ini, bukan?? Itu cukup untuk menjawab semua pertanyaan2 atas perubahan sikap ku pada mu. Lalu apa lagi yg perlu aku jelaskan kepada mu raffi? Apa??"
  "Tak ada lagi yg bisa km harapkan dari gadis cacat seperti aku. Lalu untuk apa km masih disini??" Lanjut nagita yg mulai berkaca2, pandangan nya pun mulai kabur dikarenakan airmata yg sudah tak bisa terbendung lagi. Dan akhirnya butiran bening itu jatuh begitu saja membasahi pipi mulus nya.
  "Lebih baik km pergi, tinggalkan aku sendiri" Lanjut nagita dengan terus menyeka airmata yg sempat mengalir membasahi setiap sudut wajah nya dengan kedua tangan nya.
  "Ok, Jika itu bisa membuat mu bahagia, aku akan pergi.."
  "Tapi,, sebelum aku pergi, aku ingin km jawab pertanyaan ku.." Ucap raffi dengan segala kerendahan hati nya.
  "Apakah km mencintai ku??" Ucap raffi menatap tajam kedua bola mata nya secara bergantian, seraya berlutut dihadapan nya dengan memegang erat kedua tangan nya. Berharap nagita akan memberi nya jawaban sesuai dengan apa yg diharapkan nya. Namun perlahan tangan itu berusaha lepas dari genggaman nya,,
  "Maafkan aku raffi,, aku gak bisa.." Ucap nagita, derai airmata pun mengiringi segenap perasaan nya, saat ia berucap tak sesuai dengan apa yg ada dihati nya. Seolah menggambarkan betapa dalam cinta yg dimiliki nya untuk raffi. Alam pun seakan tak merestui apa yg dilakukan nagita, hingga saat ia berucap gemuruh angin pun seolah menerpa nya. Dan itu cukup membuat raffi kecewa.
  "Baiklah, aku akan pergi..."
  "Mungkin selama ini aku salah mengartikan perasaan mu"
  "Terima kasih atas waktu mu selama ini..." Lanjut raffi yg perlahan mundur dan menjauh dari nya. Tak ada 1 kata pun yg terucap dari nagita, atau bahkan menahan kepergiannya. Hingga raffi mulai menjauh, nagita tetap ada pada posisi yg sama tanpa sempat menoleh sedikit pun ke arah raffi. Meskipun jauh di lubuk hati nya ia tak ingin raffi pergi meninggalkan nya. Namun lagi2 rasa itu ditepis nagita, dan membenarkan bahwa itu lah yg terbaik untuk nya.

  "Ini kah yg km mau nagita?? Apa tak ada lagi cinta untuk ku? Bahkan tak ada 1 kata pun yg terucap untuk sekedar mengiringi kepergian ku??" Ucap raffi sesaat sebelum ia benar2 pergi meninggalkan nya. Raffi hanya bisa memandangi nya dari pintu yg menghubungkan ruang tengah dan halaman belakang. Tak ada lagi yg harus ia lakukan disini, hingga raffi memutuskan untuk pulang. Namun saat raffi mulai melangkahkan kaki nya untuk keluar, sepasang tangan pun mencegat nya. Seolah menahan nya untuk tetap disini.
Raffi mulai menghentikan langkah nya, mencari tahu siapa pemilik tangan yg mencoba menghalangi nya untuk segera pergi.
  "Marsha..?" Ucap raffi
  "Km percaya begitu saja dengan apa yg dikatakan nagita kepada mu?" Ucap marsha
  "Apa maksud km?" Selidik raffi, dengan wajah masih penuh kekecewaan.
  "Raffi,, aku mengenal nya jauh sebelum km mengenal nya."
  "Aku tahu gimana perasaan yg sebenarnya ia rasakan. Km boleh percaya atau gak. Yg jelas,, nagita sangat mencintai mu." Ucap marsha
  "Sungguh? Lalu kenapa dia menginginkan ku untuk pergi??" Selidik raffi
  "Km tahu kenapa??"
  "Dia gak ingin km terbebani dengan kondisi nya saat ini. Bahkan dia gak ingin mepotkan org2 terdekat nya hanya karena keterbatasan nya."
  "Dan mengenai kecelakaan itu, mengapa nagita tak ingin km mengetahui nya? Karena nagita gak ingin km terus memikirkan nya, dan pasti nya akan menggangu pekerjaan mu yg kala itu sedang berada diluar kota."
  "Bahkan disaat2 seperti ini, ia masih memikirkan kebahagiaan mu. Tanpa memikirkan gimana perasaan nya sendiri." Papar marsha
  "Sekarang, semua keputusan ada ditangan mu raffi. Silahkan km pikirkan baik2, sebelum km benar2 memutuskan untuk pergi dari sini..." Lanjut nya, yg sedikit memberi nya ruang untuk berfikir sejenak. Membuka mata hati nya, yg sempat tertutup dengan rasa kekecewaan.
  "Ya Tuhan,, apa yg sudah aku lakukan? Mengapa aku percaya begitu saja dengan apa yg dia ucapkan? Tanpa pernah berfikir bagaimana perasaan nya saat ini.." 
  "Aku harus menemui nya, sebelum aku benar2 kehilangan nya.." bathin raffi, ia mulai menghapus semua air mata yg sempat jatuh menetes dengan kedua tangan nya. Seolah yg tak ingin membuang waktu nya lagi untuk segera menemui nya. Raffi berlari ketempat terakhir ia meninggalkan nya sendiri. Berharap nagita masih berada disana, dan ternyata benar. Nagita masih berdiam diri ditempat semula. Ia hanya menatap kosong hamparan laut luas, dan langit yg mulai memerah. Perlahan tapi pasti raffi berjalan mendekati nya. Hingga tepat berada di belakang nya, raffi langsung mendekap nya.

  "Maafkan aku.." Ucap raffi, dengan segala penyesalan nya. Ia meminta maaf atas kesalahpahaman yg terjadi akhir2 ini. Bahkan ia sempat berfikir jika nagita hanya mempermainkan cinta nya.
  "Apa km mau memaafkan aku??" Ucap raffi seraya memegangi wajah nagita dengan kedua tangan nya, berharap ia akan memberikan nya maaf.
  "Raffi, dengarkan aku..."
  "Aku gak pantas buat km. Km berhak mendapatkan kebahagiaan. Bahkan km berhak mendapatkan seseorang yg jauh lebih baik dari ku. Yg akan mencintai km, menyayangi kamu, lebih dari apa yg km dapatkan dari diri ku selama ini." Ucap nagita, meskipun dengan berat hati mengungkapkan nya
  "Gak, nagita.. Km salah..!"
  "Kebahagiaan ku cuma km,, dan selama nya cuma km kebahagiaan aku!. Percaya lah nagita..." Ucap raffi meyakinkan nya.
Perlahan nagita mulai meluluh, benteng pertahanan nya yg sempat kokoh, kini mulai terkikis akan usaha raffi yg tak ingin pergi meninggalkan nya. Meskipun nagita sudah mencoba agar raffi berubah membencinya. Namun rupa nya itu tak bisa mengubah rasa cinta kepada nya.
  "Jangan pernah meminta ku untuk pergi, karena aku gak akan pernah melakukan itu. Apa yg terjadi pada diri km, tak akan mengurangi rasa ku pada mu. Karena aku,, sangat mencintai kamu.." Ucap raffi yg langsung memeluk nya, menumpahkan segala perasaan nya. Rasa rindu, rasa sayang, bahkan cinta sanggup meluluhkan segala nya.
  "Raffi,, maafkan aku. Semua ini salah ku.." Ucap nagita yg perlahan melepaskan pelukan nya.
  "Sssssstttttt.. " 
  "Km gak perlu minta maaf, ini semua bukan kesalahan mu sayang."
  "Sekarang aku ingin km jujur, apa km mencintai ku..?" Ucap raffi dengan menyibak kan rambut yg sempat menutupi wajah cantik nya, sekaligus meyakinkan nya kembali. Dengan wajah penuh harap, raffi pun menatap nya dalam2.
  "Apa aku harus menjawab nya,,??" Ucap nagita
  "Ya.. katakan lah.." Ucap raffi
Tak ada lagi yg bisa disembunyikan oleh nagita, sudah cukup rasa nya membohongi hati dan perasaan nya selama ini. Terlihat saat nagita perlahan mulai mengatur nafas nya, mencoba merangkai kata yg yg seharusnya ia katakan sedari dulu.
  "Aku mencintai mu raffi, sangat mencintai mu.." Ucap nagita dengan segenap perasaan nya. Dan itu cukup membuat raffi tersenyum lega, merasa puas akan jawaban nya kali ini.
  "Maaf kan aku, jika selama ini aku sudah membuat mu khawatir, maaf kan aku... emmmmp.." Ucap nya pun terpotong saat raffi seketika mengunci bibir nagita dengan sentuhan bibir nya. Raffi mencium mesra bibir nya, dan itu cukup membuat nagita sulit berkata2. Ia hanya pasrah, dengan apa yg dilakukan raffi kepada nya
  "I love u.." Ucap raffi disela2 sisa nafas nya sebelum ia mencium nya kembali dengan penuh kehangatan. Dan itu cukup membuktikan, berapa besar cinta yg dimiliki oleh kedua nya, bahkan alam pun seolah menjadi saksi. Derai angin, gemuruh ombak, kicauan burung seolah berkompromi menjadi sebuah aluanan lagu yg mengiringi perjalanan cinta nya. Dan berharap akan berakhir dengan kebahagiaan.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

The Power Of Love Part---20

The Power Of Love Part---20

Setelah mendapatkan persetujuan dari dokter yg menangani nya, dengan persyaratan2 yg harus tetap dijalani nagita selama proses rawat jalan. Malam itu juga nagita bersiap2 mengepak semua barang2 nya untuk segera dibawa ke mobil yg sudah disiapkan sebelum nya. Dengan menggunakan kursi roda, nagita pun siap untuk kembali ke rumah nya.
  "Km sudah siap nak??" Tanya papah nya sesaat sebelum ia keluar dari kamar nya.
  "Siap pah..." Ucap nya singkat
Tepat pukul 19.00 wib, nagita pun keluar dari ruang perawatan.

#Disamping itu, raffi dan irwan baru saja tiba dirumah. Dengan wajah letih, setelah beberapa jam mengalami kemacetan akhirnya kini mereka bisa bernafas lega, bisa sampai rumah dan berbaring ditempat tidur nya sendiri.
  "Huffftttt.. ini sungguh melelahkan" ucap irwan saat mulai merebahkan tubuhnya diranjang yg sudah 4 hari ini tak di tempati nya.
Jika irwan langsung merebahkan tubuh nya, lain hal nya dengan raffi yg langsung menuju kamar mandi. Untuk sekedar merefresh kan tubuh nya yg kini terlihat letih. Namun saat raffi sedang berada dikamar mandi, kia pun menelpon irwan.
  "Iya.. hallo?"
  "Kenapa?"
  "Hah...Serius?" Ucap irwan yg terkejut, saat kia menceritakan apa yg terjadi pada nagita belakangan ini. Hingga membuat raffi merasa uring2an dibuat nya. Kia tak bisa menyembunyikan nya lagi, tp ia pun tak bisa menceritakan hal ini kepada raffi secara langsung secara ia sudah berjanji kepada nagita. Hingga ia harus menceritakan nya kepada irwan, dan biarlah irwan yg akan menyampaikan nya ke raffi. 
  "Ehh, ki.. seperti nya raffi selesai. Udah dulu yah, nanti aku kabari lagi." Ucap irwan yg buru2 menutup telephone nya saat melihat raffi mulai keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih fresh dan nampak lebih tenang.
  "Fi..." Ucap irwan, namun sebenarnya ia pun bingung gimana cara menyampaikan nya ke raffi
  "Huffttt" irwan pun mencoba menghela nafas panjang sebelum ia memulai pembicaraan nya dengan raffi
  "Kenapa?" Tanya raffi dengan masih sibuk mengusap rambut nya yg basah dengan handuk.
  "Fii... Ada yg mau gue sampaikan ke lo, ini soal...."
  "Emm...." balas nya yg masih ragu2 untuk mengucapkan nya
  "Lo mau bilang apa?"
  "Katakan saja.." Lanjut raffi
  "Ini soal nagita.." Ucap nya pelan, yg membuat raffi berhenti melakukan aktifitas nya untuk sejenak mendengarkan apa yg akan disampaikan irwan soal kekasih nya.
  "Nagita??" Ucap raffi penasaran
  "Iya, gue tau kenapa nagita gak mau angkat tlpn dari lo."
  "4 hari yg lalu dia mengalami kecelakaan, dan ia sempat koma beberapa hari." Ucap irwan yg mulai menata kata2 nya untuk menyampaikan nya ke raffi
  "Apa???"
  "Lo gak lagi bercanda kan?" Ucap raffi yg seolah tak mempercayai nya
  "Bercanda? Gak lucu kalo gue bercanda masalah ini. Gue serius, barusan gue dapat kabar dari kia. Sebenar nya kia pun sudah janji sama nagita untuk tidak menceritakan hal ini ke lo. Tp melihat kondisi nya saat ini membuat kia pun tak tega jika harus menceritakan hal ini ke lo langsung." Papar irwan
  "Udah deh, lo gak usah muter2. Sekarang gimana keadaan nya? Dan dimana nagita sekarang?" Ucap raffi yg memaksa irwan untuk segera memberitahu nya
  "Fii lo bisa sabar dikit gak!"
  "Kalo lo gak bisa tenang, gue gak akan kasih tahu lo dimana dia sekarang" ancam irwan, saat emosi raffi mulai tak terkontrol.
Raffi mulai tenang, dan sedikit mau mendengarkan apa yg disampaikan irwan, tanpa memotong pembicaraan nya. Dan irwan pun kembali menceritakan hal yg sebenarnya terjadi belakangan ini. 
Satu persatu pertanyaan raffi dijawab irwan sesuai apa yg disampaikan kia kepada nya. Dan itu cukup membuat raffi ingin segera bertemu dengan nya.
  "Raffi, lo mau kemana?" Ucap irwan menahan kepergian Raffi saat ia mulai mengangkat tubuh nya dari tempat yg sempat ia duduki beberapa menit yg lalu
  "Gue mau kerumah sakit. Gue mau bertemu dengan nya" ucap raffi
  "Percuma lo kesana sekarang, jam besuk pun sudah abis kali.. "
  "Lo gak lihat ini jam berapa?" Ucap irwan, membuat raffi pun menoleh kearah jam dinding yg terpajang di dinding kamar nya. Dan ternyata jam menunjukkan pukul 22.00 wib.
  "Besok gue antar lo kesana, sekarang lebih baik lo istirahat." Ucap irwan 
  "Tapi wan.." Ucap raffi terpotong
  "Udah fi, dengar lah apa yg gue ucapkan. Lebih baik lo istirahat, karena percuma lo kesana sekarang. Yg ada malah lo ganggu jam istirahat nya." Ucap irwan.
Dan akhirnya raffi pun memutuskan untuk menuruti apa kata irwan.

Hingga pagi menjelang, irwan yg tengah bersiap2 ke kantor tiba2 raffi pun segera menarik irwan untuk cepat2 mengantarnya ke rumahsakit, tempat dimana nagita dirawat. Kebetulan irwan sudah janji, hingga ia tak bisa menolak apa yg dilakukan raffi kepadanya.
Tepat pukul 8.00 wib, raffi terlihat memarkirkan mobil nya di salah satu rumah sakit terbesar di jakarta. Dan langsung bergegas menuju ruangan yg sudah diberitahukan kia sebelum nya. Dengan langkah panjang nya, raffi berjalan dengan penuh percaya diri. Dan berharap ia akan bertemu dengan seseorang yg sangat dirindukan nya disana. Namun, sepertinya ini semua tak sesuai yg diharapkan nya.
  "Maaf, mas nya cari siapa?" Ucap suster yg sedang membereskan tempat tidur nya yg terlihat berantakan
  "Maaf sus, saya cari pasien yg sempat dirawat disini..?" Ucap irwan
  "Ohh... maksud mas, mba nagita?" Tanya suster tersebut, karena kebetulan ia lah yg merawat nagita selama dirawat disini.
  "Iya.. benar.." ucap raffi membenarkan nya
  "Mba nagita memaksa pulang, dan memutuskan untuk rawat jalan. Dan kemarin malam, keluarga nya langsung yg membawa nya pulang." Ucap suster tersebut
  "Baik, kalo gitu makasih ya sus. Kami permisi..." Ucap irwan
Disitulah raffi mulai terduduk lemas, dengan tangan menutupi wajah nya yg terlihat kecewa. Irwan pun langsung menghampiri nya.
  "Raffi,, lo gak apa2?" Ucap irwan menepuk pelan pundak nya
  "Hemmp.." 
  "Gue gpp.." Ucap raffi pelan
  "Sekarang lo mau kemana?"
  "Apa mau gue antar lo ke rumah nya?" Lanjut irwan 
  "Sudah lah, lebih baik kita ke kantor dulu" ucap raffi yg mulai berjalan kearah mobil nya
  "Lo yakin mau ke kantor dengan segala rasa penasaran lo saat ini?" Tanya irwan dengan menatap nya tajam. Namun raffi hanya bisa diam, hingga irwan pun memutuskan untuk bertandang kerumah nagita. Memecahkan segala rasa penasaran nya selama ini.

  "Tok..tok..tok.." Irwan pun mengetuk pintu rumah nagita yg terlihat sepi. Berulang kali irwan dan raffi mencoba mengetuk pintu tersebut, berharap akan ada seseorang yg akan membukakan pintu untuk nya.
  "Cekreeeeekkkk" pintu itu akhir nya terbuka
  "Maaf, kalian siapa? Dan ada keperluan apa?" Ucap gadis muda berparas cantik dengan berpakaian rapih yg membukakan pintu untuk mereka
  "Maaf sebelum nya, saya raffi dan ini irwansyah" ucap raffi seraya mengulurkan tangan nya.
  "Ohh, marsha.." Ucap nya tersenyum dengan membalas uluran tangan mereka
  "Ada keperluan apa kesini?" Lanjut nya, tanpa mempersilahkan masuk terlebih dahulu. Karena kebetulan marsha pun akan pergi.
  "Saya ingin bertemu dengan nagita, ada?" Ucap raffi
  "Ya Tuhan.. apa yg harus ku katakan pada nya?" Bathin marsha
  "Marsha,, km gpp??" Ucap raffi seraya mengibarkan tangan tepat dihadapan wajah nya, hingga sedikit membuyarkan lamunan nya
  "Ohh, sorry-sorry..." Ucap nya singkat
  "Km marsha adik nagita, bukan?" Ucap raffi
  "Emmp.. ii..iiyaa.." Ucap nya terbatah2
  "Tp maaf, nagita gak ada disini. Dan seperti nya aku harus pergi." Lanjut marsha yg buru2 menghindar dari raffi yg pasti akan timbul pertanyaan2 yg bisa membuatnya sulit untuk menjawab nya
  "Marsha, tunggu..." Ucap raffi yg mencoba menghentikan langkah marsha yg mulai menjauh dari nya.
  "Aku cuma ingin bertemu dengan nya, memastikan kondisi nya saat ini" lanjut raffi yg terus menahan kepergian marsha saat hendak memasuki mobil yg sudah siap ia naiki.
  "Maafkan aku, skrg aku harus pergi.." Ucap marsha melepaskan tangan raffi dan masuk kedalam mobil nya lalu pergi meninggalkan raffi dan irwan yg masih berdiri di halaman depan rumah nya.
  "Fii,, seperti nya apa yg dikatakan marsha benar. Mungkin nagita gak ada di sini." Ucap irwan menebak nya
  "Lalu dimana dia?" Ucap raffi
  "Entah lah... " ucap irwan

****
Hari demi hari dijalani raffi tanpa kejelasan akan keberadaan nagita saat ini. Bahkan kia pun tak tahu kemana keluarganya membawa nagita pergi. Berkali2 raffi datang ke rumah nagita, namun berkali2 juga raffi tak bisa mendapatkan titik terang dimana dia sekarang. Apakah dia baik2 saja? Ataukah sebaliknya?? Entah lah, ini semua membuat nya merasa uring2an hingga 2 pekan belakangan ini.

Sedangkan nagita, masih terus mendapatkan perawatan khusus. Bahkan setiap 2 hari sekali suster yg merawat nya datang kerumah hanya untuk menggantikan perban luka nya. Dan setiap 3 hari sekali nagita menjalani serangkain fisioterapi, melatih refleks gerak nya untuk bisa kembali seperti semula sesuai apa yg disarankan oleh dokter yg menangani nya.

#siang itu, jadwal nya nagita mengganti perban yg sudah tak layak pakai lagi.
  "Makasih ya sus..." Ucap nagita sesaat setelah suster selesai melepaskan perban nya dan menggantikan nya dengan yg baru.
  "Iya mba, sama2.. Permisi.." Ucap suster tersebut
  "Kak.. Aku mau bicara sama km" ucap marsha yg tiba2 datang menemui nya.
  "Km kenapa? Apa yg ingin km katakan?" Ucap nagita yg masih terduduk di tempat tidur nya
  "Kak, sampai kapan km mau lari dari masalah ini?" Ucap marsha yg perlahan mendekati nya
  "Apa maksud km?" Selidik nagita yg tak mengerti apa maksud adik nya yg tiba2 datang dan berkata seperti itu.
  "Berkali2 raffi datang kerumah, hanya untuk menanyakan keberadaan km"
  "Apa km gak kasian melihatnya putus asa hanya karena mencari2 org yg sebenar nya org yg dicari gak peduli dengan apa yg sudah ia korban kan atas waktu, tenaga, bahkan mungkin pikiran dan perasaan nya."
  "Apa km gak memikirkan hal itu?" Lanjut marsha yg sedikit membuat nagita membuka mata bathin nya yg selama ini tertutup dengan rasa ketakutan nya akan hal2 yg sebenarnya belum tentu terjadi.
  "Kak, , bukan kah km selalu cerita bagaimana perjalanan cinta kalian. Disaat niko selalu ganggu km, disaat papah melarang untuk km berhubungan dengan nya, dan disaat kejadian di puncak waktu itu?"
  "Atau bahkan banyak hal yg belum sempat km ceritakan kepada ku, bagaimana rumit nya perjalanan cinta kalian."
  "Lalu apa kakak mau melepaskan nya begitu saja, atas apa yg sudah kalian perjuangkan bersama?" Papar marsha yg sudah tak bisa menahan segala rasa yg sempat membebani nya selama ini.
  "Marsha,, dengarkan aku. Km gak pernah tau gimana perasaan ku saat ini. Saat tau, aku tak bisa lagi beraktifitas seperti biasa dan hanya bisa terpaku pada kursi roda."
  "Disaat aku harus merelakan org yg sangat aku cintai hanya karena aku tak ingin dia merasa terbebani dengan apa yg aku alami sekarang." Ucap nagita dengan sedikit menaikkan volume suara nya

  "Kamu gak pernah tahu perasaan aku marsha.. ? Aku lebih sakit, menerima semua kenyataan ini. Tapi aku bisa apa?" Ucap nagita yg perlahan mengurangi emosi nya yg sempat meluap2.
  "Hanya ini yg bisa aku lakukan, aku ingin melihat nya bahagia bersama org yg jauh lebih baik dari ku dan bukan org cacat seperti aku.." Lanjut nagita dengan derai air mata yg membasahi setiap jengkal wajah nya, saat meluapkan seluruh isi hati nya kepada marsha.
Apa yg dikatakan marsha cukup membuat nya tersudut. Hingga ia pun mencoba untuk melakukan pembelaan diri.
  "Maaf kan aku,," ucap marsha yg langsung memeluk nya erat
  "Aku gak bermaksud menyudutkan mu, dan membuat mu merasa bersalah atas apa yg terjadi."
  "Maafkan aku.." Ucap marsha yg masih terus memeluk nya, berharap nagita akan memaafkan nya.
  "Km gak perlu meminta maaf, aku yg salah. Karena sudah menyeret mu kedalam masalah ini. Dan apa yg km katakan gak semua nya salah, makasih yah.. km sudah ingatkan aku akan hal ini.." Ucap nagita yg mulai memegangi wajah adiknya.
Marsha pun tersenyum simpul kearah nya.
  "Sekarang, aku minta km temani aku disini yah? Aku takut sendiri..." Lanjut nagita 
  "Mamah dan papah kemana?" Tanya marsha saat menyadari tak ada orang lain kecuali mereka berdua
  "Pagi ini papah ada meeting, dan kebetulan mamah ada perlu."
  "Dan kemungkinan mereka akan datang sore." Ucap nagita
  "Ohhh.. ok.." Ucap marsha singkat

#Ditempat lain,
Raffi yg sedang berada didalam ruang kerja nya, mendadak ia dipanggil om suryo untuk menemui nya segera. Hingga raffi harus meninggalkan pekerjaan nya, dan langsung menuju ruangan yg tak jauh dari ruang kerja nya.
  "Iya om, ada apa?" Ucap raffi menanyakan nya
  "Km sibuk?" Tanya nya
  "Gak juga om, lagi cek berkas2 saja.." bls raffi
  "Kalo gitu km ikut om, kita ada meeting disana.." Ucap nya yg langsung membereskan meja dan ingin langsung bergegas pergi menuju tempat yg sudah dijanjikan sebelum nya
  "Apa yg sedang dikerjakan, sebaiknya km kasih kan ke irwan sementara. Dan om tunggu km di lobby depan, secepatnya." Lanjut nya
Raffi pun langsung menjalankan apa yg diperintahkan nya.

Hingga sampai saat nya tiba ditempat tujuan, raffi pun belum tahu siapa yg akan ia temui sebenar nya.
  "Om, sebenarnya kita mau meeting dengan siapa? Perusahaan mana?" Tanya raffi penasaran, karena ini cukup mendadak bagi nya, bahkan belum ada persiapan yg matang jika ia diminta untuk presentasi didepan nya.
  "PT. CAPITAL Group" ucap om nya yg sontak membuat raffi menautkan kedua alis mata nya
  "Km pernah bertemu sebelum nya bukan??" Tanya nya
  "Hah.. emm.. ii.. iya.." Ucap raffi.
Tak lama, mereka pun datang dan tak seperti biasa nya mr.gideon pun ikut hadir dalam meeting nya kali ini. Gugup,,? Itu sudah pasti raffi rasakan. Saat ia mulai mengulurkan tangan sekedar berjabat tangan. Dan bahkan jarang2 ia menanyakan kabar kepada raffi. Itu cukup membuat raffi dilanda rasa gugup yg sangat amat dalam. Disatu sisi ia merasa grogi, disisi lain ia merasa kalo ini lah kesempatan nya untuk menanyakan langsung tentang keberadaan nagita saat ini.

Sejenak raffi harus mengesampingkan urusan pribadi nya, karena ia ditunjuk untuk memimpin jalan nya meeting kali ini. Meski tanpa persiapan, raffi pun berusaha untuk tetap bersikap profesional agar meeting berjalan sesuai apa yg sudah harapkan. Hampir 2 jam mereka membahas apa yg seharusnya mereka bahas tempo lalu. Dan meeting itu berakhir dengan standing applause, raffi pun segera menutup meeting nya kali ini. Dengan rasa yg tak bisa diungkapkan lagi, kini raffi bisa bernafas lega dengan hasil yg cukup memuaskan.

  "Om.. tunggu," ucap raffi menghentikan langkah mr.gideon yg bersiap2 untuk pergi.
  "Maaf sebelum nya, raffi minta waktu om sebentar, bisa?" Ucap raffi
  "Baiklah, silahkan duduk.." Ucap mr.gideon mempersilahkannya untuk duduk kembali.
  "Apa yg ingin km tanyakan?" Ucap nya
  "Om,,, apakabar dengan nagita?"
  "Apakah dia baik2 saja?"
  "Raffi tahu om gak suka aku dekat dengan nagita. Tp raffi mohon sama om, beri raffi kesempatan untuk bisa bertemu dengan nya" ucap raffi, berharap mr.gideon akan mengizinkan nya
  "Apa km yakin ingin menemui nya dan ingin tahu bagaimana kondisi nya sekarang?" Ucap mr.gideon meyakinkan nya kembali
  "Iya om,, raffi ingin bertemu dengan nya." Ucap raffi
  "Apa km akan menerima, apapun kondisi nya,,?" Bls mr.gideon
  "Iya om, raffi akan menerima apapun kondisi nya" ucap raffi dengan kesungguhan hati nya
  "Baiklah, km silahkan datang temui dia.." Ucap nya sambil menuliskan alamat dimana nagita tinggal selama 2 minggu belakangan ini.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

The Power Of Love Part---19

The Power Of Love Part---19

Hari ke 4, dimana kondisi nagita sudah dinyatakan baik2 saja oleh dokter yg menangani nya. Bahkan nagita sendiri sudah mengetahui akan cidera pada kaki kanan nya yg akan mengakibatkan ia sulit untuk berjalan.
Sedih,,, ? Itu sudah pasti dirasakan nagita, tp itu tak ditunjukkan oleh nya di depan keluarga nya. Ia hanya bisa tersenyum dihadapan mereka, untuk menutupi rasa kegelisahan dihati nya.
Zaskia baru mengetahui akan musibah yg dialami nagita, hingga siang itu kia menyempatkan diri untuk datang menjenguk nya.
  "Km sudah baikan?"
  "Maafkan aku, sungguh aku baru dapat kabar ini dari cacha. Dan aku cukup shock mendengar nya." Lanjut kia
  "Aku gpp,," ucap nya tersenyum
  "Apa km yakin baik2 saja?" Selidik kia, karena ia tahu apa yg sebenarnya terjadi. Cacha sudah menceritakan semuanya, dan itu membuat nya tak yakin jika nagita hanya berkata "aku gpp". Kia pun menatap nya tajam, berharap nagita akan memberi jawaban lain. Namun lagi2 nagita hanya mengangguk pelan.
  "Gi,, km sudah beri tahu ke raffi tentang keadaan mu saat ini?" Ucap kia, membuat nagita terdiam.
  "Gi,,, raffi harus tahu keadaan mu skrg. Biar aku yg tlpn dia.." ucap kia dengan mengambil handphone yg masih ada didalam tas nya
  "Ki... tunggu. Please, jgn kasih tahu raffi masalah ini." Ucap gigi yang menahan lengan kia
  "Knpa gi??" Timpal kia
  "Dia harus tahu, coba sekarang mana handphone km?" Lanjut kia
  "Km mau apakan handphone aku ki,, " ucap nagita saat kia mengambil handphone yg sedari tadi tergeletak disamping ranjang nya.
  "Km liat ini,,? Berapa kali raffi mencoba menghubungi km?"
  "Berapa kali ia mengirim pesan singkat ini gi?" Ucap kia yg menunjukkan beberapa sms yg masuk dari raffi dan lagi2 nagita hanya bisa terdiam.
  "Lalu, apa km tega membuat nya cemas memikirkan km?" Lanjut kia
Nagita sulit menjelaskan tentang perasaan nya saat ini. Dan situasi ini yg membuat nya bingung.
  "Aku tau, ini akan menyakitkan. Tp aku bisa apa?" Bathin nagita yg tak ingin orang2 dekat nya merasa direpotkan oleh diri nya. Atau bahkan kasihan kepada nya hanya karena melihat kondisi nya saat ini.

  "Ki,, aku gak ingin raffi tahu masalah ini. Aku mohon sama km, aku tak ingin merepotkan nya."
  "Km tau kondisi aku sekarang, lalu apa lagi yg dia harapkan dari org cacat seperti aku??" Lanjut nagita
  "Gi,, km gak boleh bilang seperti itu. Aku percaya kalo raffi tahu, dia akan lebih bisa menerima km. Karena dia sangat mencintai km. Lagi pula km gak akan selama nya cacat, km masih bisa sembuh" ucap kia
  "Sampai kapan ki??"
  "1 bulan, 2 bulan? Atau bahkan 1 tahun lagi?"
  "Kita gak bisa pastikan kapan aku bisa berjalan lagi.." lanjut nagita
  "Lalu apa yg harus ku sampaikan kepada nya gi?" Potong kia dengan tatapan tajam nya
  "Cukup km bilang ke dia, lupakan aku.." Ucap nagita yg tak bisa membendung air mata nya lagi.
Namun lagi2 nagita langsung menyeka butiran bening yg jatuh membasahi pipi nya beberapa kali. Walau tak bisa dipungkiri, betapa hancurnya perasaan nagita saat ia berkata seperti itu. Kia pun langsung memeluk nya..
  "Km sabar yah, kini aku mengerti akan perasaan mu. Tp aku akan selalu ada untuk km." Ucap kia menenangkan nya.

#Disamping itu,
  "Terimakasih, kalian sungguh luar biasa. Saya tertarik untuk bisa bekerja sama lagi bersama kalian." Ucap salah satu client nya
  "Sama2 om, kami yang harus nya berterimakasih atas semua fasilitas yg om beri untuk keperluan kita selama 4 hari ini." Ucap raffi tersenyum
  "Kapan2 kita akan ke jakarta, dan pasti nya akan mampir ke tempat kalian. Ya... sekedar ngobrol, atau lunch" ucap client tersebut,
  "Baik, dengan senang hati." Ucap irwan
  "Kalian mau langsung pulang?" Tanya client tersebut saat raffi dan irwan check out dari hotel yg beberapa hari ini mereka disinggahi
  "Iya om, kita mau langsung pulang saja. Kebetulan ada keperluan lain." Ucap raffi saat semua barang2 nya dimasukkan ke bagasi mobil nya
  "Ok, kalian hati2 di jalan. Salam untuk suryo" ucap client tersebut.
  "Baik om, nnt kami sampaikan" ucap raffi tersenyum
Mereka pun bertolak dari bogor ke jakarta, dengan menggunakan mobil pribadi nya.
  "Fi, lo bilang ada urusan lain? Urusan apa?" Selidik irwan saat sedang mengendarai nya
  "Urusan gue belum selesai sama nagita." Ucap raffi 
  "Maksud lo, nagita belum juga kasih kabar sama sekali?" Tanya irwan
  "Ya... Gue rasa ada sesuatu yg terjadi pada diri nya. Tp gue belum bisa pastikan, apa yg sebenarnya terjadi. Masalah nya gue udah berkali2 tlp dia, tp gak ada jawaban nya.." Ucap raffi
  "Serius?? Lo coba telephone dia sekali lagi.. siapa tau sekarang bisa" ucap irwan

#ditempat lain,
  "Gimana keadaan km sayang? Apa km sudah minum obat?" Tanya papahnya yg kini duduk disamping nya
  "Baik, td udah kok pah.." Ucap nagita
  "Maafkan papah ya sayang, gara2 papah km jd seperti ini.." Ucap nya saat membelai lembut rambut putri nya. Kini ia sadar atas apa yg sudah diperbuat. Bahkan apa yg pernah dilakukan nya kini malah berdampak negatif pada putri nya. Kini polisi sudah menangkap pelaku yg sudah menabrak nagita, dan itu cukup membuat mr.gideon shock. Org yg sempat ia percaya bahkan dipilih nya untuk menjadi pendamping nagita kelak, malah menjadi bumerang bagi keluarga nya. Kini niko mendekam dipenjara, membayar atas semua perbuatan nya yg sudah membuat nagita celaka. Atas dugaan pembunuhan berencana dengan ncaman pidana 15 thn penjara.
  "Sudah lah pah, papah gak perlu meminta maaf kepada gigi."
  "Ini salah gigi, karena menyebrang jalan tanpa lihat2 dulu." Lanjut nagita
Mr.gideon pun langsung memeluk nya,,
  "Papah,," ucap nagita pelan saat masih berada diperlukan nya
  "Iya sayang.. Km mau apa?" bls papah nya yg mulai merenggangkan tangan nya
  "Pah, aku ingin pulang..." ucap nagita
  "Km masih belum sembuh total sayang. Km masih perlu perawatan intensif" Bls papah nya
  "Tp pah, nagita ingin pulang. Biarkan aku istirahat dirumah.." ujar nagita
  "Sayang, dengarkan mamah. Dokter belum mengizinkan km pulang. Dan coba lihat sekarang, luka km saja masih belum kering sayang."
  "Udah ahh, km jangan macam2. Mamah gak ingin km knpa2." Ujar mamah rieta yg mencoba memberi nya pengertian.
Tak lama handphone nagita pun berdering, dan lagi2 telephone dari raffi.
  "Siapa?" Selidik mamah rieta, saat bayi ya hanya memandangi layar handphone nya saja tanpa menyentuh nya sama sekali.
  "Bukan siapa2.." ucap nya singkat, seolah tak ingin semua org tahu kalo raffi lah yg menelpon nya.
Namun rupa nya upaya raffi untuk menghubungi nya tak cukup sampai disini, 1, 2, bahkan berkali kali raffi terus berusaha menghubungi nya hingga mamah rieta pun semakin penasaran.
  "Sini,, kalo km gak mau angkat tlpn nya biar mamah yg angkat.." ucap mamah rieta mengulurkan tangan nya, berharap nagita akan memberikan hp nya.
Nagita pun terpaksa memberikan hp nya,,
  "Raffi..??" Ucap mamah rieta saat tahu raffi lah yg sedari tadi menelpon nya
  "Gak usah angkat telephone nya mah." Pinta nagita
  "Km kenapa? Km berantem sama dia?" Selidik mamah rieta
Nagita hanya menggelengkan kepala nya.
  "Lalu apa sayang? Kasian loh dia dari tadi telephone km terus..?" Ucap mamah rieta
  "Pah,, mah,, "
  "Nagita mohon sama papah dan mamah, jgn pernah kasih tau hal ini kepada raffi. Bagaimana kondisi ku saat ini, atau bahkan keberadaan ku nanti." Ucap nagita
  "Kenapa sayang? Bukan kah km sangat mencintai nya?" Lanjut mamah rieta
  "Mah, aku gak mau merepotkan nya dengan keadaan ku sekarang. Raffi berhak mendapatkan seseorang yg jauh lebih baik dari gigi. Yg bisa membuat nya bahagia, dan tak akan membuat nya malu."
  "Tp gii.." Ucap mamah rieta pun terpotong.
  "Mah,, " ucap gigi menatap tajam mamah rieta, dengan mata yg mulai berkaca2
  "Apa km yakin dengan keputusan km sayang?" Selidik papah nya
Sejenak nagita hanya terdiam, dan akhir nya 1 kalimat pun terucap dari bibir nya
  "Iya pah, nagita yakin.." Ucap nya
Perasaan pun tak bisa dibohongi, sungguh sakit rasanya. Bila apa yg diucapkan nya tak sesuai hati dan perasaan nya. Namun, itulah keputusan nagita. Walau ingin rasa nya menjerit, tp itu tak mungkin dilakukan nya. Semua rasa itu tertahan, hanya air mata yg tak sengaja menetes. Dan itu cukup membuktikan bahwa sebenarnya ia belum siap melepaskan raffi begitu saja.

Setelah beberapa kali mencoba menghubungi nya namun nihil, raffi pun akhirnya mencoba untuk mengirimkan pesan singkat.
  "Klung.. klung.."
  "Siapa mah?" Tanya nagita saat mendengar beberapa pesan singkat yg masuk di handphone nya
  "Dari raffi, mau baca?" Ucap mamah rieta
  "Bacakan saja,," ucap nagita
  "Nagita, Apa aku punya salah sama kamu, hingga km tak mau mengangkat tlpn dari ku?"
  "Sore ini, aku perjalanan pulang ke jakarta. Aku minta kita bertemu, dan km jelaskan pada ku apa sebenarnya yg terjadi" ucap raffi dalam pesan singkat nya.
  "Maafkan aku raffi, aku tak ingin km tahu akan kondisi ku saat ini. Aku gak ingin km sedih atau malah menjadi beban buat km."
  "Aku tau ini pasti berat untuk kita, tp mungkin ini yg terbaik untuk kita berdua.."
  "Maafkan aku raffi.." bathin nagita

  "Sayang,, km gpp?" Ucap mamah rieta mengagetkan lamunan nya 
  "Iya mah, maaf.."
  "Pah, nagita ingin pulang malam ini juga.."
  "Cepat atau lambat raffi pasti akan tau keberadaan ku disini.." Lanjut nagita yg memohon ke papah nya untuk segera dipulangkan
  "Baik, papah akan bicarakan hal ini kepada dokter nya" ucap papah nya lalu pergi untuk menemui dokter yg bersangkutan.
 
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

The Power Of Love Part---18

The Power Of Love Part---18

Malam itu tinggal lah marsha sendiri dirumah sakit. Sampai pagi menjelang, marsha masih setia menunggu nya. Hingga saat nya dokter masuk ke ruangan untuk mengecek kondisi nagita saat ini. Berharap akan ada kabar baik tentang kondisi kakak nya sudah 2 hari tak sadarkan diri. 
  "Gimana keadaan dia dok?" Tanya cacha sesaat setelah dokter yg menangani nya keluar dari ruang ICU.
  "Blum ada perubahan, kondisi pasien masih seperti semula." Ucap dokter tersebut.
  "Lalu,, Apa saya boleh menemui nya dok?" Ucap cacha yg ingin bertemu langsung dengan kakak nya, secara sudah 2 hari ia belum juga diperbolehkan untuk menemui nya.
  "Ohh, silahkan.."
  "Sus, tolong antarkan ke dalam"
  "Kalo begitu saya permisi.." lanjut dokter yg memperbolehkan nya untuk menemui nagita lalu pergi meninggalkan nya.
  "Terimakasih banyak dok.." Ucap cacha
  "Mari, saya antarkan.." ucap suster tersebut.
Tak perlu tunggu lama marsha langsung bergegas masuk untuk menemui nagita, dengan diantar suster yg merawat nya selama ini. Perlahan tapi pasti cacha pun berjalan kearah nya. Walaupun dengan tubuh gemetar, ia menghampiri ranjang yg tak jauh dari tempat ia berada saat ini. Jika kemarin ia hanya bisa melihat nya dari jauh, kini ia bisa melihat kondisi nya secara langsung. Marsha mulai memandangi wajah kakak nya yg masih terbaring lemah tak berdaya dengan alat bantu pernafasan dan perban baru yg masih membelit disekitar kepala, lengan bahkan kaki nya. Marsha mulai mendudukan tubuhnya di kursi tepat disamping kanan nya, dan perlahan ia mulai menggenggam erat tangan nagita. Seolah memberi nya kekuatan, untuk tetap bertahan dan berjuang melawan rasa sakit yg hampir 3 hari belakangan ini dirasakan nya.
  "Kak,,,, ini gue cacha. Lo dengar gue kan?" Ucap nya lirih
  "Kak,, gue bisa merasakan apa yg lo rasain saat ini, sakit banget bukan?" Ucap nya yg mulai berkaca2 dengan tangan yg terus ia genggam nya
  "Tp lo bukan gue kak, yg akan menyerah begitu aja."
  "Lo pasti bisa melawan rasa sakit ini. Lo harus kuat kak gigi.. lo harus kuat.. hiks.. hiks" lanjut cacha yg tak bisa menahan perasaan nya lagi, hingga tangis itu pecah begitu saja di tempat yg memang cuma hanya ada mereka berdua.
Cacha mulai menunduk menangisi atas apa sudah terjadi pada kakak nya. Dengan berurai air mata cacha terus terisak dalam kesedihan yg begitu dalam. Hubungan kedua nya memang sangat lah dekat, hingga tak khayal jika marsha tak kuasa melihat kondisi org yg sangat disayangi nya hanya bisa terbaring di ruang ICU.
  "Kak,, lo ingat waktu dulu?"
  "Disaat gue jatuh dan terluka, cuma lo bisa mengobati rasa sakit itu."
  "Disaat gue menangis karena sesuatu, cuma lo yg bisa menenangkan hati ini."
  "Lo sangat berati dalam hidup gue, dan gue butuh lo kak.. hiks.. hikss.." Ucap nya yang masih menangis dengan menciumi tangan kakak nya yg masih terkulai lemas.
Namun seperti nya apa yg diucapkan cacha sedikit banyak nya didengar oleh nagita. Dan itu membuat nya ikut menitihkan air mata, walaupun kondisi nya belum sadarkan diri.
  "Kak, lo dengar apa yg gue ucapkan?" Ucap cacha saat melihat nagita ikut menangis bersama nya.
Mendapati reaksi tersebut, cacha langsung saja mengusap air mata yg sempat membasahi pipi dengan punggung tangan nya.
  "Kak, lo sadar?? Lo dengar apa yg gue katakan?"
  "Coba lo kasih isyarat ke gue, kalo lo dengar apa yg gue katakan barusan.." Ucap cacha yang terus menerus berbisik pelan ditelinga sang kakak dengan terus menyeka butiran bening yg hendak menetes dari pelupuk mata nya. Air mata nagita berlinang membanjiri sudut mata nya, tatkala cacha terus memberi nya motivasi untuk tetap bertahan. Sedikit demi sedikit nagita mulai merespon nya. Tangan yg sedari tadi cacha genggam, tiba2 mengalami reaksi. Jari2 nya mulai bergerak2, bahkan membalasnya dengan mengeratkan genggaman tangan cacha yang seolah tak ingin melepaskan nya. Mungkin itu lah isyarat nya yg diberikan nagita. 
Melihat respon positif dari sang kakak, Marsha langsung memberitahu dokter akan kondisi nya saat ini, dan sesegera mungkin dokter langsung mengecek keseluruhan atas apa yg sempat marsha ceritakan kepada dokter akan reaksi2 yg sempat diberikan nagita kepada nya.

#Sementara itu, mr.gideon dan pihak kepolisian terus mencari2 siapa pelaku yg sudah membuat nagita celaka. Dan setelah beberapa kali penyidikan, berikut data2 yg diperoleh dari beberapa saksi mata. Bahkan bukti video sudah didapatkan oleh pihak kepolisian. Dan hari ini pihak keluarga diminta untuk datang memenuhi panggilan pihak kepolisian, untuk mengetahui kronologis sebenarnya yg terdapat pada video yang akan diputarkan tersebut. Mr. Gideon mengajak mamah rieta untuk ikut bersama nya. Tapi mamah rieta lebih memilih pergi kerumah sakit untuk mengecek kondisi putri nya. Hingga mr.gideon hanya datang bersama pengacara nya untuk memenuhi panggilan tersebut. Setelah nunggu 1 jam lama nya, akhirnya detik2 saat kejadian itu terlihat begitu jelas. Dan itu menjadi perhatian semua pihak terutama mr.gideon yg tak sabar ingin mengetahui nya. Dan... akhirnya setelah di putar beberapa kali, mr.gideon pun yakin bahwa itu adalah unsur kesengajaan. 
  "Apa bapak mengenali nya?" Ucap polisi tersebut
  "Saya blum bisa memastikan siapa pelaku nya, tp seperti nya saya pernah melihat mobil itu" ucap mr.gideon yg terus mencoba mengingat nya
  "Apa bapak punya musuh sebelum nya? Maksud saya, apakah bapak pernah punya masalah dengan client bapak sebelum nya..?" 
  "Atau kah ada seseorang yg bapak perlu curigai dalam hal ini?" Ucap polisi tersebut yg terus mencari titik terang dari masalah ini. Karena  menurut nya apa yg terekam dari video tersebut, bukan lah org lain. Melainkan org2 terdekat, atau bisa jadi rekan bisnis nya. Secara mr.gideon bukan lah org biasa. Melainkan org yg memiliki relasi bisnis yg cukup banyak. Hingga tak khayal polisi langsung menjurus kearah sana.
  "Saya rasa ada.. karena kebetulan 1 minggu yg lalu ia hampir saja mencelakakan putri saya." Ujar mr.gideon
  "Baik, laporan bapak kami terima. Segera akan kami selidiki kasus ini." Ucap polisi tersebut.

#Diwaktu yg bersamaan,
  "Cha, gimana keadaan kakak mu?" Ucap mamah rieta yg baru saja sampai dan langsung menemui cacha yang masih berada diruang tunggu depan kamar ICU.
  "Mamah,,,?"
  "Belum tahu mah, dokter lagi didalam" ucap cacha
  "Semoga kakak akan baik2 saja ya cha,," ucap mamah rieta dengan sejuta harapan nya.
  "Ya,, ku harap juga begitu.." ucap cacha yg berharap dokter itu keluar dan membawa kabar baik akan kondisi kakak nya.
Tak lama dokter pun keluar, dengan stetoscop yg masih menggantung dileher nya.
  "Dok, gimana keadaan nya?" Sambar cacha yg langsung beranjak dari kursi tunggu dan menghampiri nya
  "Alhamdulillah, ini sungguh luar biasa. Nagita sudah sadar, dan sekarang kondisi nya saat ini sudah stabil, bahkan siang ini ia bisa dipindah keruang perawatan." Ucap dokter
  "Alhamdulillah,, lalu apa saya boleh menemui nya dok?" Ucap mamah rieta yg tak sabar ingin sekali bertemu dan melihat putri nya 
  "Boleh, tapi silahkan gantian. Karena nagita masih harus banyak istirahat. Mengingat kondisi nya belum cukup kuat untuk berinteraksi."
  "Dan mengenai hal yg sudah pernah saya sampaikan sebelum nya tentang benturan keras yg mengenai beberapa syaraf di kaki kanan nya, saya minta pihak keluarga baik ibu, dan mba nya untuk selalu memberi nya semangat. Karena dengan begitu akan mempercepat proses penyembuhan." Papar dokter yg menangani nya.
  "Baik dok, terimakasih banyak." Ucap cacha tersenyum
  "Baik.. kalo begitu saya permisi.." bls dokter yg perlahan menjauh dari mereka

Siang itu juga nagita langsung dipindahkan ke ruang perawatan, dan cacha pun sudah mengabari kondisi kakak nya yg sudah berangsur membaik kepada papah nya. Dan itu cukup membuat papah nya senang.
  "Mah,," ucap nagita pelan, dengan nafas yg masih tersengal2
  "Iya sayang, km sudah sadar nak?"
  "Km jgn banyak bergerak dulu, kondisi km masih belum kuat sayang." Lanjut mamah rieta saat membelai rambut nya
  "Mah, mamah jangan nangis. Tak ada yg perlu mamah cemaskan lagi."
  "Percayalah, aku baik-baik saja." Ucap nagita lirih dengan mengusap lembut air mata mamah rieta yg sempat membasahi disekitar wajah nya yg tak terlihat muda lagi, dengan kedua tangan nya.
  "Gak sayang,,"
  "Km cepat sembuh yah, mamah gak bisa melihat mu sakit seperti ini." Lanjut mamah rita
Nagita hanya tersenyum simpul, menutupi segala kesedihan nya saat ini.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

The Power Of Love Part---17

The Power Of Love Part---17

Pasca operasi, nagita sudah bisa menempati ruang perawatan. Walau keadaan nya masih belum sadar kerena efek anestesi yg dokter berikan kepada nya. Namun sesaat setelah nagita dipindahkan ke ruang perawatan, tiba2 tubuh nagita mulai mengalami reaksi. Nagita mulai kejang2, dan itu cukup membuat keluarga nya sangat panik.
  "Dok, pasien mengalami kejang, denyut nadi nya melemah.." Ucap suster yg mengecek kondisi nagita sesaat setelah pihak keluarga memberitahukan kondisi terakhir putri nya.
Tak perlu tunggu lama, nagita langsung dipindahkan ke ruang ICU, tempat dimana nagita pertama kali masuk dengan kondisi yg bisa dibilang kritis. 
  "Sus, segera pasangkan alat pacemaker (alat pacu jantung) skrg juga." Ucap dokter memerintahkan suster tersebut. 
Apa yang dikatakan dokter berhasil, nampak nya berbanding terbalik dengan kenyataan nya. Tubuh nagita mengalami reaksi pasca operasi. Bahkan cairan infus pun sempat tak bisa masuk ke dalam tubuh nya. Namun akhir nya setelah 1 jam dokter melakukan segala upaya untuk menstabilkan kembali kondisi nya yg semakin melemah, kini sedikit bisa teratasi. Denyut nadi nya kini sudah kembali normal, dan obat pun sudah bisa masuk melalui selang infus yg terpasang di lengan kiri nya. Walaupun kini nagita dinyatakan koma.
  "Apa dok?? Koma??" Ucap mamah rieta yg stok atas apa yg didengar nya
  "Kami sudah berusaha melakukan yg terbaik untuk putri ibu. Kami minta maaf sebelum nya, mungkin hanya do'a dari org2 terdekat yg bisa memberi nya kekuatan. Kalo begitu saya permisi.." Ucap dokter tersebut lalu pergi meninggalkan nya yg masih terduduk lemas di ruang tunggu depan ruang ICU.
Melihat kondisi putri nya hanya bisa terbaring diruang ICU tak sadarkan diri, dengan alat2 yg masih menempel dibeberapa bagian tubuh nya. Dengan balutan perban disetiap titik luka disekujur tubuh nya, hanya dengan alat pemacu jantung yang bisa terdengar setiap detak jantung seperti yg terlihat di layar ICU monitors reading. Mamah rieta pun setia menunggu nya tanpa kenal lelah. Bahkan sama sekali tak memikirkan bagaimana kondisi nya sendiri yg memang belum makan bahkan belum istirahat dari pagi tadi hingga malam menjelang. Mamah rieta rela berdiri berjam2 memandangi putri nya walau dari jauh, krn dokter belum memperbolehkan walau sekedar menjenguk atau bahkan menunggu nya didalam. Tak ada harapan lain selain berharap putri nya akan segera sembuh dari sakit yg di derita nya.

Tak ingin membiarkan org yg sudah membuat putri nya celaka, mr. Gideon tak akan tinggal diam. Ia ingin mengungkap siapa dibalik musibah yg menimpa putri nya itu. Walau sang istri tak ingin memperpanjang masalah ini, tp mr.gideon tak ingin melepaskan nya begitu saja. Banyak saksi yg melihat nya saat kejadian, dan setelah mendengar penjelasan dari beberapa saksi mata, kini ia yakin bahwa ada unsur kesengajaan. Walau sebenarnya ada 1 bukti yg belum ia dapat, mungkin dari situ lah ia mengetahui siapa sebenarnya otak dibalik semua nya. Ya.. CCTV kampus yg memang sengaja dipasang di sisi gerbang utama pintu masuk. Dan itu belum ia dapatkan, krna harus mendapatkan persetujuan dari pihak kampus setempat. Tak ingin membuang2 waktu, seluruh org2 kepercayaan nya digerakkan untuk menyelidiki kasus ini. Bahkan tak tanggung2 ia melaporkan hal ini ke yg berwajib. Hingga pihak polisi langsung menyelidiki kasus ini secara intens.

#Keesokan hari
  "Mah,, mamah.. bangun mah" ucap seseorang yg memanggil nya "mamah" berharap itu adalah suara nagita yg terbangun dari koma nya semalam. Mamah rieta pun langsung menoleh kearah suara itu berasal, walau dengan kantung mata yang sangat tebal, dan pengelihatan yang masih terlihat kurang jelas.
  "Cacha.., km sudah sampai nak?" Ucap mamah rieta yg langsung menyambut nya dengan pelukan
Ya.. rupanya marsha sudah tiba di jakarta malam dini hari, ia langsung mengambil keberangkatan sore dari australi dan langsung bertolak ke jakarta. 
  "Mamah kenapa tidur disini? Kenapa mamah gak pulang semalam?" Ucap cacha
  "Apa km gak lihat kondisi kakak mu saat ini, dia butuh seseorang menjaga nya disini" ucap mamah rieta
  "Mah, coba lihat kondisi mamah saat ini? Mamah gak ingin kak gigi sedih bukan?"
  "Ayo, sekarang mamah makan. Lalu mamah istirahat, biar pak bambang yang antar mamah pulang" Ucap cacha
  "Tapi mamah gak lapar cha.."
  "Km saja ya yg makan.." Ucap mamah rieta yg menolak nya untuk makan dan beranjak dari ruang tunggu untuk melihat kondisi terakhir nagita yg masih nampak seperti semula.
  "Mamah, cacha tau semalam mamah belum makan, bukan? Sekarang mamah harus makan, biar cacha suapin ya..?" Ucap cacha yg menarik dan membawa nya untuk duduk kembali.
Akhirnya mamah rieta pun menuruti semua perkataan cacha untuk sekedar mengisi perut walau hanya beberapa suap nasi yg masuk.
  "Skrg mamah pulang, lalu istirahat. Biar cacha yg gantikan mamah disini.." Ucap cacha yg mengantarkan nya ke loby depan rumah sakit.
  "Km janji yah kabari mamah jika ada sesuatu.." Ucap mamah rieta
  "Iya,, nnt kalo ada apa2, cacha langsung tlpn mamah." Ucap cacha

#Disamping itu,
Raffi yg kini sedang berada diluar kota sibuk mengurusi urusan bisnis bersama client nya. Bahkan hampir setiap hari ia habiskan di ruang meeting bersama rekan kerja nya, hingga sore menjelang petang. Setelah itu ia kembali ke kamar hotel untuk beristirahat dan esok mereka melanjutkan aktivitas seperti biasa nya. Dan itu berulang2 hingga 5 hari kedepan. Hari pertama.. kedua.. berlalu begitu saja.

  "Diminum fi.." Ucap irwan yg membuatkan nya segelas kopi panas untuk sekedar menghilangkan penat yg 2 hari ini menyita waktu istirahat nya.
  "Makasih.." Ucap raffi yg langsung meminum nya
  "Lo dari tadi cek handphone mulu, ada apa?" Ucap irwan yg sedari tadi memperhatikan nya.
  "Gue rasa ada yg gak beres nih,," ucap raffi
  "Gak beres gimana maksud lo" selidik irwan
  "Perasaan gue gak enak,, gue takut terjadi apa2 dengan nya.." Ucap raffi
  "Maksud lo, nagita?" Bls irwan
  "Iya, dari td gue tunggu kabar dari dia. Tp sampe saat ini..,??" Ucap raffi yg perasaan nya mulai gak tentu.
  "Lo udah coba hubungi dia? Tlp, atau bbm gitu..?" Ucap irwan yg sedikit memberi nya solusi
  "Dari semalam gue bbm dia, tp gak ada balasan nya sama sekali" ucap raffi yg meletakkan handphone nya di meja dan mengganti nya dengan mengambil segelas kopi nya
  "Mungkin nagita sibuk,, kan dia lagi ngurus perlengkapan wisuda nya.." Ucap irwan yg mencoba mengajak nya berpositif thinking dengan apa yg sebenar nya kita tak ketahui.
  "Iya gue ngerti, tp apa susah nya balas bbm gue? Toh gak akan lama juga" ucap raffi
  "Ya sudah lah, lihat besok. Kalo sampe dia gak ada kabar sama sekali, coba deh lo tlp dia.." Ucap irwan lalu pergi kedalam kamar nya.
  "Lo mau kemana?" Ucap raffi saat melihat irwan mulai masuk meninggalkan nya
  "Tidur.. Lo gak tidur?" Seru irwan dari kejauhan
  "Tidur lah..." Ucap raffi yg menyusul nya ke kamar, walau masih terus memikirkan nagita yang jauh disana.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

The Power Of Love Part---16

The Power Of Love Part---16

  "PLAKKKKKK" tamparan keras melayang begitu saja tepat di pipi kanan niko, yg kala itu ia sedang berada di loby depan kantor papah nya.
  "Apa maksud om tiba-tiba menampar ku?" Tanya niko dengan memegangi pipi kanan nya yg kini mulai memerah.
  "Km masih bertanya apa maksud saya? Atas apa yg km lakukan terhadap putri ku?" Ucap mr. Gideon lantang, hingga seluruh karyawan melihat nya.
  "Bisa aku jelaskan om.." ucap niko
  "Tak perlu km jelaskan kepada saya, apa yg km lakukan sudah buat saya kecewa!"
  "Ternyata saya salah menilai mu,," lanjut mr. Gideon
  "Maafkan aku om, niko gak bermaksud melakukan hal seperti itu. Niko mohon sama om, beri niko kesempatan sekali lagi om. Niko mencintai nya" ucap niko yg memohon kepada nya, berharap mr. Gideon akan mengabulkan permintaan nya. Namun itu percuma, mr. Gideon sudah terlanjur kecewa akan perbuatan niko yg membuat putri nya hampir celaka.
  "Km pikir, saya akan memberi mu kesempatan lagi atas apa yg sudah km lakukan terhadap putri saya? Gak niko! Itu gak akan saya lakukan..!" ucap mr.gideon dengan tegas
  "Tp om, ," elak niko
  "Cukup niko,,! Harus nya km malu. Saya sudah bicarakan hal ini ke papah km. Dan saya sudah putuskan untuk tidak melanjutkan perjodohan ini." Bls mr. Gideon
  "Om, dengarkan dulu penjelasan saya. Aku bisa jelaskan semua nya." Ucap niko yg berusaha menghentikan langkah mr. Gideon yg kini mulai pergi meninggalkan nya. Namun itu percuma, mr. Gideon sama sekali tak menghiraukan nya.

  "Shhhiiittttt.. liat aja nanti" ucap nya pelan, namun ekspresi kesal nya pun tak bisa ia tutupi.
  "Apa kalian liat-liat? Kerja-kerja!" Ucap nya saat seluruh karyawan yg ada dilobi depan sibuk memperhatikan dan membicarakan nya.
  "Sialan.. gue udah dipermalukan didepan umum, gue gak akan tinggal diam"
  "Gue akan bikin perhitungan!" Lanjut niko dengan sejuta rencana jahat nya.

Siang itu memang tak ada kegiatan yg memaksa nya untuk pergi ke kampus. Urusan sidang sudah selesai, tinggal persiapan wisuda yg akan digelar 2 bulan lagi. Hingga nagita bisa beristirahat dengan tenang tanpa ada gangguan apa pun. Kejadian kemarin membuat nagita sedikit merasa down. Dan dokter sudah menyuruh nya untuk beristirahat total. Walaupun begitu, raffi terus mencoba menghibur, menghilangkan sedikit demi sedikit rasa trauma yg ada didalam diri nagita. Rasa takut yg amat dalam, kadang membuat nya histeris. Dan itu cukup membuat kedua orangtua nya cemas. Namun hari demi hari raffi selalu datang untuk menemui nya. Dan akhir nya berhasil membuat nya tersenyum kembali.
  "Km tau, aku cemas melihat mu 4 hari belakangan ini."
  "Bahkan aku gak yakin, apa aku bisa membuat mu tersenyum lagi, seperti saat ini.." lanjut raffi saat berada di halaman belakang rumah nagita.
  "Raffi, sebenar nya ada yg ingin aku tanyakan kepada mu" ucap nagita saat duduk di kursi panjang dibawah pohon belakang rumah nya
  "Katakan saja.." ucap raffi
  "Apakah km tau soal perjodohan ku dengan niko?" Tanya nagita yg membuat raffi menoleh kearah nya
  "Apa papah pernah menyampaikan hal ini ke kamu, raffi?" Lanjut tanya nagita
  "Huuuuffttt.." raffi pun menghela nafas panjang
  "Sudah lah, tak perlu km tanya kan hal itu. Karena itu bukan alasan ku untuk bisa meninggalkan mu."
  "Tapi raffi.." ucap nya terpotong
  "Apa km ingin aku pergi?" Lanjut raffi yg menatap dan balik bertanya kepada nya
Nagita hanya menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, raffi langsung merangkul nya dan mencium ujung kepala nya
  "Aku bercanda sayang, percaya lah aku gak akan pernah meninggalkan mu. Walau ku tau banyak hal yg harus kita tempuh. Tp aku yakin kita bisa melewati nya." Ucap raffi saat memeluk nya.
  "Km yakin??" Ucap nagita seolah tak percaya akan apa yg dikatakan raffi kepada nya
  "Iya sayang,," Ucap raffi meyakinkan nya kembali.
  "Walau papah akan melarang mu untuk berhubungan dengan ku?" timpal nagita
  "Km tak perlu memikirkan hal itu, sudah ku katakan bukan? aku akan tetap ada disamping km, walau mungkin papah km blum merestui hubungan kita." ucap raffi tersenyum.

Hari demi hari dilalui raffi dan nagita tanpa ada larangan apapun dari mr. gideon tak seperti biasa nya. Sedikit demi sedikit mr. gideon mulai menerima kehadiran raffi disisi nagita putri nya. Tepat hari dimana nagita harus mengurus keperluan wisuda nya, ada banyak persiapan yang harus nagita siapkan seperti berkas2 dan data untuk keperluan pendaftaran wisuda yang akan digelar 1 bulan lebih 1 minggu lagi. Dan pagi itu memaksa nya harus datang ke kampus untuk menyerahkan berkas2 yg dibutuhkan nya. Dan seperti biasa nagita pergi di antar sopir pribadi nya. Namun jika biasa nya nagita hanya di drop, kali ini ia meminta sopir nya untuk menunggu sampai urusan selesai.

  "Gimana, sudah selesai?" tanya kia sesaat setelah mereka keluar dari ruang dosen mengumpulkan berkas yang diperlukan untuk persiapan wisuda nya.
  "Sudah, km mau langsung pulang?" Tanya nagita
  "Iya, km ikut aku aja. Biar aku antar sampai rumah, kebetulan aku lewat sana" ucap kia
  "Gak usah sayang, supir ku nunggu didepan kok.." ucap nagita
  "Ohh.. gtu, ya sudah aku duluan yah..." bls kia yang langsung mencium nya
  "Ok, hati-hati.. " seru nagita
  "Ya..." ucap kia yang perlahan menjauh dari nya
Tak ada lagi yang harus nagita lakukan di sini, hingga ia memutuskan untuk pulang.
Namun sesaat sebelum nagita pergi, handphone nya pun berdering.
  "Raffi?" Ucap nya saat mengetahui nama di layar hp nya, bahwa raffi lah yg menelpon nya.
  "Hallo, iya raffi. Aku udah mau pulang kok.."
  "Km mau brgkt skrg?" Lanjut nagita dalam percakapan nya
  "Iya, aku baru mau pergi. Mungkin 5 hari lagi aku baru bisa pulang ke jakarta. Km baik2 yah, jaga kesehatan km. Ingat apa kata dokter, dan jgn lupa kabari aku." Ucap raffi dalam telephone sesaat sebelum ia pergi tugas keluar kota.
  "Iya sayang, aku akan baik2 saja disini." Bls nagita
  "Sayang,,," ucap raffi pelan sesaat sebelum ia benar2 menutup tlp nya
  "Iya...?" Bls singkat nagita
  "Aku akan sangat merindukan km, i love u.." ucap nya
  "I love u raffi,," ucap nagita mengakhiri pembicaraan nya lalu menutup tlp nya.
Nagita berjalan ke arah gerbang utama karena kebetulan mobil nya terparkir diseberang jalan.

#Disamping itu,
  "Gue sayang sama dia, tp kalo gue gak bisa dapatkan nya, maka org lain pun tak akan pernah bisa mendapatkan nya..,"
  "Sorry nagita, lo harus terima ini. Karena gue gak akan rela, lo bahagia bersama raffi" ucap niko yg kini berada diujung jalan gak jauh dari area kampus tempat dimana mobil nagita menunggu nya.
Sedangkan nagita, ia terus berjalan lurus tanpa memperdulikan disekeliling nya. Yg ia perhatikan hanya lah mobil yg berlalu lalang di hadapan nya. Mungkin tinggal 5 langkah lagi nagita sampai ke mobil yg sedari tadi menunggu nya. Namun dari arah kanan jalan tiba2 mobil dengan kecepatan tinggi datang menghantam nya dan...
  "DUUaAAARRRr" kecelakaan pun tak terhindarkan lagi. Nagita pun terpental 2 meter dari tempat dimana ia berada sebelum nya.

  "Praaaakkkkk.." gelas yg sedang di tuangi air putih pun tiba2 pecah
  "Allahu akbar.."
  "Kenapa firasat ku gak enak? Ada apa dengan putri ku?" Ucap mamah rieta yg perlahan membereskan pecahan gelas yg berserakan di lantai. Dan tak lama setelah itu telephone pun berdering beberapa kali hingga mau gak mau mamah rieta pun beranjak dari dapur dan berjalan menuju sumber suara tersebut.

#diwaktu yg bersamaan
  "Ehh fi, lo knp? Lo baik2 saja bukan?" Ucap irwan saat raffi mulai terlihat cemas
  "Hemmp.. gak.. aku gpp" ucap raffi yg hanya memainkan handphone nya dengan membuka semua galeri nya bersama nagita.
Entahlah perasaan apa yg bersarang dibenak nya saat ini. Yg jelas raffi merasa berat meninggalkan nagita kali ini. Walau cuma untuk beberapa hari saja.

#Ditempat lain,
  "Maaf dok, pasien mengalami pendarahan. Kondisi nya kritis, kita harus segera membawa nya ke ruang operasi." Ucap suster yg menangani nya
  "Apa sudah hubungi keluarga nya?" Tanya dokter tersebut
  "Sudah dok, mereka sedang perjalanan kesini.." ucap suster tersebut
Tak lama mamah rieta pun datang, dan langsung menuju ruang ICU. Disusul dengan kedatangan mr.gideon yg langsung menemui nya diruang tunggu.
  "Gimana mah, nagita baik2 saja bukan?" Ucap mr.gideon yg mulai panik dengan kondisi putri nya saat ini.
  "Mamah belum tau kondisi nya pah, dokter masih memeriksa nya.." ucap mamah rieta lirih.
Mr.gideon mencoba menenangkan istri nya yg tak bisa menahan tangis, melihat putri nya terbaring tak sadarkan diri diruang ICU.
  "Kenapa ini bisa terjadi,,? coba ceritakan kepada saya?" Tanya mr.gideon kepada bambang supir pribadi nagita yg saat itu ada pada kejadian tersebut.
  "Maaf tuan, mobil itu tiba2 datang begitu saja. Padahal saya tahu, waktu kejadian tak ada kendaraan lain selain mobil itu yg menabrak non nagita." Papar bambang
  "Apa mungkin ini unsur kesengajaan?" Ucap mr.gideon.
Namun belum juga selesai membicarakan kronologis kejadian tersebut, dokter pun keluar dari ruang ICU.
  "Gimana keadaan putri kami dok? Apakah dia baik2 saja?" Ucap mr.gideon kepada dokter yg baru saja keluar ruangan beberapa menit yg lalu.
  "Apa bapak dan ibu ini keluarga nya?" Selidik dokter tersebut
  "Iya dok, kami orangtua nya" ucap nya spontan
  "Baik, kalo gitu ada yg harus saya sampaikan. Mari ke ruangan saya" ucap dokter tersebut dan membawa ke ruangan nya

  "Jadi begini pak.. " ucap dokter yg mulai menjelaskan detail nya cidera yg nagita alami pasca kecelakaan tersebut. Nagita mengalami benturan yg sangat keras pada bagian kaki sebelah kanan dan kepala bagian belakang. Bahkan jika tidak langsung ditindak lanjuti akan terjadi penggumpalan darah di kepala bagian belakang, hingga dokter mengambil keputusan untuk melakukan tindakan operasi.
  "Lakukan yg terbaik untuk putri kami dok, apa pun itu" ucap mr.gideon dengan sungguh2
  "Baik kalo begitu, silahkan bapak tandatangani surat pernyataan bahwa pihak keluarga tlah menyetujui tindak operasi ini" ucap dokter dengan menyodorkan berkas yg perlu ditandatangani.
Tak perlu tunggu lama, mr.gideon pun langsung menandatangani nya.

Operasi pun berjalan hari itu juga. Tak ada yg tau apa yg akan terjadi setelah ini. Yg jelas saat ini, hanya do'a yg bisa dipanjatkan dari org2 terdekat nya. Bahkan marsha adik kandung nagita yg kini masih berada di australi, langsung memesan tiket untuk terbang ke jakarta. Memastikan kondisi kakak nya yg kini masih terbaring tak sadarkan diri.
4 jam berlalu, lampu ruang operasi pun berubah hijau. Yg arti nya operasi pun telah usai.
  "Gimana dok, gimana kondisi nya sekarang?" Ucap mr.gideon sesaat setelah dokter yg menangani nya keluar dari ruang operasi.
  "Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Bahkan skrg pasien sudah melewati masa kritis nya. Dan pasien akan kami pindahkan ke ruang perawatan. Namun ada hal yg harus saya sampaikan kepada bapak dan ibu." Ucap dokter tersebut.
  "Apa dok, katakan saja" ucap mamah rieta yg sudah tak sabar mengetahui kondisi saat ini putri nya.
  "Benturan keras di kaki kanan nya, mengakibatkan beberapa syaraf di kaki nya mengalami kerusakan." Ucap dokter tersebut
  "Apa maksud dokter,,? Ucap mamah rieta
  "Apakah ia akan mengalami kelumpuhan dok,?" Timpal mr.gideon penasaran
  "Iya, tp itu cuma sementara. Semua bisa diobati dengan cara fisioterapi." Ucap dokter tersebut
  "Berapa lama dok?" Selidik mr.gideon
  "Tidak bisa dipastikan kapan ia akan kembali pulih seperti semula. Semua saya kembalikan lagi kepada pasien yg akan menjalani terapi tersebut." Ucap dokter tersebut 
  "Kalo gitu, apakah kami bisa melihat nya" tanya mamah rieta
  "Kalian boleh menemui nya, tp jgn dulu banyak diajak bicara. Biarkan ia istirahat dulu. Baik, kalo gitu saya permisi." Ucap dokter itu lalu pergi meninggalkan mereka yg masih dirundung sedih.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.