Monday, June 1, 2015

The Power Of Love Part---18

The Power Of Love Part---18

Malam itu tinggal lah marsha sendiri dirumah sakit. Sampai pagi menjelang, marsha masih setia menunggu nya. Hingga saat nya dokter masuk ke ruangan untuk mengecek kondisi nagita saat ini. Berharap akan ada kabar baik tentang kondisi kakak nya sudah 2 hari tak sadarkan diri. 
  "Gimana keadaan dia dok?" Tanya cacha sesaat setelah dokter yg menangani nya keluar dari ruang ICU.
  "Blum ada perubahan, kondisi pasien masih seperti semula." Ucap dokter tersebut.
  "Lalu,, Apa saya boleh menemui nya dok?" Ucap cacha yg ingin bertemu langsung dengan kakak nya, secara sudah 2 hari ia belum juga diperbolehkan untuk menemui nya.
  "Ohh, silahkan.."
  "Sus, tolong antarkan ke dalam"
  "Kalo begitu saya permisi.." lanjut dokter yg memperbolehkan nya untuk menemui nagita lalu pergi meninggalkan nya.
  "Terimakasih banyak dok.." Ucap cacha
  "Mari, saya antarkan.." ucap suster tersebut.
Tak perlu tunggu lama marsha langsung bergegas masuk untuk menemui nagita, dengan diantar suster yg merawat nya selama ini. Perlahan tapi pasti cacha pun berjalan kearah nya. Walaupun dengan tubuh gemetar, ia menghampiri ranjang yg tak jauh dari tempat ia berada saat ini. Jika kemarin ia hanya bisa melihat nya dari jauh, kini ia bisa melihat kondisi nya secara langsung. Marsha mulai memandangi wajah kakak nya yg masih terbaring lemah tak berdaya dengan alat bantu pernafasan dan perban baru yg masih membelit disekitar kepala, lengan bahkan kaki nya. Marsha mulai mendudukan tubuhnya di kursi tepat disamping kanan nya, dan perlahan ia mulai menggenggam erat tangan nagita. Seolah memberi nya kekuatan, untuk tetap bertahan dan berjuang melawan rasa sakit yg hampir 3 hari belakangan ini dirasakan nya.
  "Kak,,,, ini gue cacha. Lo dengar gue kan?" Ucap nya lirih
  "Kak,, gue bisa merasakan apa yg lo rasain saat ini, sakit banget bukan?" Ucap nya yg mulai berkaca2 dengan tangan yg terus ia genggam nya
  "Tp lo bukan gue kak, yg akan menyerah begitu aja."
  "Lo pasti bisa melawan rasa sakit ini. Lo harus kuat kak gigi.. lo harus kuat.. hiks.. hiks" lanjut cacha yg tak bisa menahan perasaan nya lagi, hingga tangis itu pecah begitu saja di tempat yg memang cuma hanya ada mereka berdua.
Cacha mulai menunduk menangisi atas apa sudah terjadi pada kakak nya. Dengan berurai air mata cacha terus terisak dalam kesedihan yg begitu dalam. Hubungan kedua nya memang sangat lah dekat, hingga tak khayal jika marsha tak kuasa melihat kondisi org yg sangat disayangi nya hanya bisa terbaring di ruang ICU.
  "Kak,, lo ingat waktu dulu?"
  "Disaat gue jatuh dan terluka, cuma lo bisa mengobati rasa sakit itu."
  "Disaat gue menangis karena sesuatu, cuma lo yg bisa menenangkan hati ini."
  "Lo sangat berati dalam hidup gue, dan gue butuh lo kak.. hiks.. hikss.." Ucap nya yang masih menangis dengan menciumi tangan kakak nya yg masih terkulai lemas.
Namun seperti nya apa yg diucapkan cacha sedikit banyak nya didengar oleh nagita. Dan itu membuat nya ikut menitihkan air mata, walaupun kondisi nya belum sadarkan diri.
  "Kak, lo dengar apa yg gue ucapkan?" Ucap cacha saat melihat nagita ikut menangis bersama nya.
Mendapati reaksi tersebut, cacha langsung saja mengusap air mata yg sempat membasahi pipi dengan punggung tangan nya.
  "Kak, lo sadar?? Lo dengar apa yg gue katakan?"
  "Coba lo kasih isyarat ke gue, kalo lo dengar apa yg gue katakan barusan.." Ucap cacha yang terus menerus berbisik pelan ditelinga sang kakak dengan terus menyeka butiran bening yg hendak menetes dari pelupuk mata nya. Air mata nagita berlinang membanjiri sudut mata nya, tatkala cacha terus memberi nya motivasi untuk tetap bertahan. Sedikit demi sedikit nagita mulai merespon nya. Tangan yg sedari tadi cacha genggam, tiba2 mengalami reaksi. Jari2 nya mulai bergerak2, bahkan membalasnya dengan mengeratkan genggaman tangan cacha yang seolah tak ingin melepaskan nya. Mungkin itu lah isyarat nya yg diberikan nagita. 
Melihat respon positif dari sang kakak, Marsha langsung memberitahu dokter akan kondisi nya saat ini, dan sesegera mungkin dokter langsung mengecek keseluruhan atas apa yg sempat marsha ceritakan kepada dokter akan reaksi2 yg sempat diberikan nagita kepada nya.

#Sementara itu, mr.gideon dan pihak kepolisian terus mencari2 siapa pelaku yg sudah membuat nagita celaka. Dan setelah beberapa kali penyidikan, berikut data2 yg diperoleh dari beberapa saksi mata. Bahkan bukti video sudah didapatkan oleh pihak kepolisian. Dan hari ini pihak keluarga diminta untuk datang memenuhi panggilan pihak kepolisian, untuk mengetahui kronologis sebenarnya yg terdapat pada video yang akan diputarkan tersebut. Mr. Gideon mengajak mamah rieta untuk ikut bersama nya. Tapi mamah rieta lebih memilih pergi kerumah sakit untuk mengecek kondisi putri nya. Hingga mr.gideon hanya datang bersama pengacara nya untuk memenuhi panggilan tersebut. Setelah nunggu 1 jam lama nya, akhirnya detik2 saat kejadian itu terlihat begitu jelas. Dan itu menjadi perhatian semua pihak terutama mr.gideon yg tak sabar ingin mengetahui nya. Dan... akhirnya setelah di putar beberapa kali, mr.gideon pun yakin bahwa itu adalah unsur kesengajaan. 
  "Apa bapak mengenali nya?" Ucap polisi tersebut
  "Saya blum bisa memastikan siapa pelaku nya, tp seperti nya saya pernah melihat mobil itu" ucap mr.gideon yg terus mencoba mengingat nya
  "Apa bapak punya musuh sebelum nya? Maksud saya, apakah bapak pernah punya masalah dengan client bapak sebelum nya..?" 
  "Atau kah ada seseorang yg bapak perlu curigai dalam hal ini?" Ucap polisi tersebut yg terus mencari titik terang dari masalah ini. Karena  menurut nya apa yg terekam dari video tersebut, bukan lah org lain. Melainkan org2 terdekat, atau bisa jadi rekan bisnis nya. Secara mr.gideon bukan lah org biasa. Melainkan org yg memiliki relasi bisnis yg cukup banyak. Hingga tak khayal polisi langsung menjurus kearah sana.
  "Saya rasa ada.. karena kebetulan 1 minggu yg lalu ia hampir saja mencelakakan putri saya." Ujar mr.gideon
  "Baik, laporan bapak kami terima. Segera akan kami selidiki kasus ini." Ucap polisi tersebut.

#Diwaktu yg bersamaan,
  "Cha, gimana keadaan kakak mu?" Ucap mamah rieta yg baru saja sampai dan langsung menemui cacha yang masih berada diruang tunggu depan kamar ICU.
  "Mamah,,,?"
  "Belum tahu mah, dokter lagi didalam" ucap cacha
  "Semoga kakak akan baik2 saja ya cha,," ucap mamah rieta dengan sejuta harapan nya.
  "Ya,, ku harap juga begitu.." ucap cacha yg berharap dokter itu keluar dan membawa kabar baik akan kondisi kakak nya.
Tak lama dokter pun keluar, dengan stetoscop yg masih menggantung dileher nya.
  "Dok, gimana keadaan nya?" Sambar cacha yg langsung beranjak dari kursi tunggu dan menghampiri nya
  "Alhamdulillah, ini sungguh luar biasa. Nagita sudah sadar, dan sekarang kondisi nya saat ini sudah stabil, bahkan siang ini ia bisa dipindah keruang perawatan." Ucap dokter
  "Alhamdulillah,, lalu apa saya boleh menemui nya dok?" Ucap mamah rieta yg tak sabar ingin sekali bertemu dan melihat putri nya 
  "Boleh, tapi silahkan gantian. Karena nagita masih harus banyak istirahat. Mengingat kondisi nya belum cukup kuat untuk berinteraksi."
  "Dan mengenai hal yg sudah pernah saya sampaikan sebelum nya tentang benturan keras yg mengenai beberapa syaraf di kaki kanan nya, saya minta pihak keluarga baik ibu, dan mba nya untuk selalu memberi nya semangat. Karena dengan begitu akan mempercepat proses penyembuhan." Papar dokter yg menangani nya.
  "Baik dok, terimakasih banyak." Ucap cacha tersenyum
  "Baik.. kalo begitu saya permisi.." bls dokter yg perlahan menjauh dari mereka

Siang itu juga nagita langsung dipindahkan ke ruang perawatan, dan cacha pun sudah mengabari kondisi kakak nya yg sudah berangsur membaik kepada papah nya. Dan itu cukup membuat papah nya senang.
  "Mah,," ucap nagita pelan, dengan nafas yg masih tersengal2
  "Iya sayang, km sudah sadar nak?"
  "Km jgn banyak bergerak dulu, kondisi km masih belum kuat sayang." Lanjut mamah rieta saat membelai rambut nya
  "Mah, mamah jangan nangis. Tak ada yg perlu mamah cemaskan lagi."
  "Percayalah, aku baik-baik saja." Ucap nagita lirih dengan mengusap lembut air mata mamah rieta yg sempat membasahi disekitar wajah nya yg tak terlihat muda lagi, dengan kedua tangan nya.
  "Gak sayang,,"
  "Km cepat sembuh yah, mamah gak bisa melihat mu sakit seperti ini." Lanjut mamah rita
Nagita hanya tersenyum simpul, menutupi segala kesedihan nya saat ini.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

No comments:

Post a Comment