The Power Of Love Part---20
Setelah mendapatkan persetujuan dari dokter yg menangani nya, dengan persyaratan2 yg harus tetap dijalani nagita selama proses rawat jalan. Malam itu juga nagita bersiap2 mengepak semua barang2 nya untuk segera dibawa ke mobil yg sudah disiapkan sebelum nya. Dengan menggunakan kursi roda, nagita pun siap untuk kembali ke rumah nya.
"Km sudah siap nak??" Tanya papah nya sesaat sebelum ia keluar dari kamar nya.
"Siap pah..." Ucap nya singkat
Tepat pukul 19.00 wib, nagita pun keluar dari ruang perawatan.
#Disamping itu, raffi dan irwan baru saja tiba dirumah. Dengan wajah letih, setelah beberapa jam mengalami kemacetan akhirnya kini mereka bisa bernafas lega, bisa sampai rumah dan berbaring ditempat tidur nya sendiri.
"Huffftttt.. ini sungguh melelahkan" ucap irwan saat mulai merebahkan tubuhnya diranjang yg sudah 4 hari ini tak di tempati nya.
Jika irwan langsung merebahkan tubuh nya, lain hal nya dengan raffi yg langsung menuju kamar mandi. Untuk sekedar merefresh kan tubuh nya yg kini terlihat letih. Namun saat raffi sedang berada dikamar mandi, kia pun menelpon irwan.
"Iya.. hallo?"
"Kenapa?"
"Hah...Serius?" Ucap irwan yg terkejut, saat kia menceritakan apa yg terjadi pada nagita belakangan ini. Hingga membuat raffi merasa uring2an dibuat nya. Kia tak bisa menyembunyikan nya lagi, tp ia pun tak bisa menceritakan hal ini kepada raffi secara langsung secara ia sudah berjanji kepada nagita. Hingga ia harus menceritakan nya kepada irwan, dan biarlah irwan yg akan menyampaikan nya ke raffi.
"Ehh, ki.. seperti nya raffi selesai. Udah dulu yah, nanti aku kabari lagi." Ucap irwan yg buru2 menutup telephone nya saat melihat raffi mulai keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih fresh dan nampak lebih tenang.
"Fi..." Ucap irwan, namun sebenarnya ia pun bingung gimana cara menyampaikan nya ke raffi
"Huffttt" irwan pun mencoba menghela nafas panjang sebelum ia memulai pembicaraan nya dengan raffi
"Kenapa?" Tanya raffi dengan masih sibuk mengusap rambut nya yg basah dengan handuk.
"Fii... Ada yg mau gue sampaikan ke lo, ini soal...."
"Emm...." balas nya yg masih ragu2 untuk mengucapkan nya
"Lo mau bilang apa?"
"Katakan saja.." Lanjut raffi
"Ini soal nagita.." Ucap nya pelan, yg membuat raffi berhenti melakukan aktifitas nya untuk sejenak mendengarkan apa yg akan disampaikan irwan soal kekasih nya.
"Nagita??" Ucap raffi penasaran
"Iya, gue tau kenapa nagita gak mau angkat tlpn dari lo."
"4 hari yg lalu dia mengalami kecelakaan, dan ia sempat koma beberapa hari." Ucap irwan yg mulai menata kata2 nya untuk menyampaikan nya ke raffi
"Apa???"
"Lo gak lagi bercanda kan?" Ucap raffi yg seolah tak mempercayai nya
"Bercanda? Gak lucu kalo gue bercanda masalah ini. Gue serius, barusan gue dapat kabar dari kia. Sebenar nya kia pun sudah janji sama nagita untuk tidak menceritakan hal ini ke lo. Tp melihat kondisi nya saat ini membuat kia pun tak tega jika harus menceritakan hal ini ke lo langsung." Papar irwan
"Udah deh, lo gak usah muter2. Sekarang gimana keadaan nya? Dan dimana nagita sekarang?" Ucap raffi yg memaksa irwan untuk segera memberitahu nya
"Fii lo bisa sabar dikit gak!"
"Kalo lo gak bisa tenang, gue gak akan kasih tahu lo dimana dia sekarang" ancam irwan, saat emosi raffi mulai tak terkontrol.
Raffi mulai tenang, dan sedikit mau mendengarkan apa yg disampaikan irwan, tanpa memotong pembicaraan nya. Dan irwan pun kembali menceritakan hal yg sebenarnya terjadi belakangan ini.
Satu persatu pertanyaan raffi dijawab irwan sesuai apa yg disampaikan kia kepada nya. Dan itu cukup membuat raffi ingin segera bertemu dengan nya.
"Raffi, lo mau kemana?" Ucap irwan menahan kepergian Raffi saat ia mulai mengangkat tubuh nya dari tempat yg sempat ia duduki beberapa menit yg lalu
"Gue mau kerumah sakit. Gue mau bertemu dengan nya" ucap raffi
"Percuma lo kesana sekarang, jam besuk pun sudah abis kali.. "
"Lo gak lihat ini jam berapa?" Ucap irwan, membuat raffi pun menoleh kearah jam dinding yg terpajang di dinding kamar nya. Dan ternyata jam menunjukkan pukul 22.00 wib.
"Besok gue antar lo kesana, sekarang lebih baik lo istirahat." Ucap irwan
"Tapi wan.." Ucap raffi terpotong
"Udah fi, dengar lah apa yg gue ucapkan. Lebih baik lo istirahat, karena percuma lo kesana sekarang. Yg ada malah lo ganggu jam istirahat nya." Ucap irwan.
Dan akhirnya raffi pun memutuskan untuk menuruti apa kata irwan.
Hingga pagi menjelang, irwan yg tengah bersiap2 ke kantor tiba2 raffi pun segera menarik irwan untuk cepat2 mengantarnya ke rumahsakit, tempat dimana nagita dirawat. Kebetulan irwan sudah janji, hingga ia tak bisa menolak apa yg dilakukan raffi kepadanya.
Tepat pukul 8.00 wib, raffi terlihat memarkirkan mobil nya di salah satu rumah sakit terbesar di jakarta. Dan langsung bergegas menuju ruangan yg sudah diberitahukan kia sebelum nya. Dengan langkah panjang nya, raffi berjalan dengan penuh percaya diri. Dan berharap ia akan bertemu dengan seseorang yg sangat dirindukan nya disana. Namun, sepertinya ini semua tak sesuai yg diharapkan nya.
"Maaf, mas nya cari siapa?" Ucap suster yg sedang membereskan tempat tidur nya yg terlihat berantakan
"Maaf sus, saya cari pasien yg sempat dirawat disini..?" Ucap irwan
"Ohh... maksud mas, mba nagita?" Tanya suster tersebut, karena kebetulan ia lah yg merawat nagita selama dirawat disini.
"Iya.. benar.." ucap raffi membenarkan nya
"Mba nagita memaksa pulang, dan memutuskan untuk rawat jalan. Dan kemarin malam, keluarga nya langsung yg membawa nya pulang." Ucap suster tersebut
"Baik, kalo gitu makasih ya sus. Kami permisi..." Ucap irwan
Disitulah raffi mulai terduduk lemas, dengan tangan menutupi wajah nya yg terlihat kecewa. Irwan pun langsung menghampiri nya.
"Raffi,, lo gak apa2?" Ucap irwan menepuk pelan pundak nya
"Hemmp.."
"Gue gpp.." Ucap raffi pelan
"Sekarang lo mau kemana?"
"Apa mau gue antar lo ke rumah nya?" Lanjut irwan
"Sudah lah, lebih baik kita ke kantor dulu" ucap raffi yg mulai berjalan kearah mobil nya
"Lo yakin mau ke kantor dengan segala rasa penasaran lo saat ini?" Tanya irwan dengan menatap nya tajam. Namun raffi hanya bisa diam, hingga irwan pun memutuskan untuk bertandang kerumah nagita. Memecahkan segala rasa penasaran nya selama ini.
"Tok..tok..tok.." Irwan pun mengetuk pintu rumah nagita yg terlihat sepi. Berulang kali irwan dan raffi mencoba mengetuk pintu tersebut, berharap akan ada seseorang yg akan membukakan pintu untuk nya.
"Cekreeeeekkkk" pintu itu akhir nya terbuka
"Maaf, kalian siapa? Dan ada keperluan apa?" Ucap gadis muda berparas cantik dengan berpakaian rapih yg membukakan pintu untuk mereka
"Maaf sebelum nya, saya raffi dan ini irwansyah" ucap raffi seraya mengulurkan tangan nya.
"Ohh, marsha.." Ucap nya tersenyum dengan membalas uluran tangan mereka
"Ada keperluan apa kesini?" Lanjut nya, tanpa mempersilahkan masuk terlebih dahulu. Karena kebetulan marsha pun akan pergi.
"Saya ingin bertemu dengan nagita, ada?" Ucap raffi
"Ya Tuhan.. apa yg harus ku katakan pada nya?" Bathin marsha
"Marsha,, km gpp??" Ucap raffi seraya mengibarkan tangan tepat dihadapan wajah nya, hingga sedikit membuyarkan lamunan nya
"Ohh, sorry-sorry..." Ucap nya singkat
"Km marsha adik nagita, bukan?" Ucap raffi
"Emmp.. ii..iiyaa.." Ucap nya terbatah2
"Tp maaf, nagita gak ada disini. Dan seperti nya aku harus pergi." Lanjut marsha yg buru2 menghindar dari raffi yg pasti akan timbul pertanyaan2 yg bisa membuatnya sulit untuk menjawab nya
"Marsha, tunggu..." Ucap raffi yg mencoba menghentikan langkah marsha yg mulai menjauh dari nya.
"Aku cuma ingin bertemu dengan nya, memastikan kondisi nya saat ini" lanjut raffi yg terus menahan kepergian marsha saat hendak memasuki mobil yg sudah siap ia naiki.
"Maafkan aku, skrg aku harus pergi.." Ucap marsha melepaskan tangan raffi dan masuk kedalam mobil nya lalu pergi meninggalkan raffi dan irwan yg masih berdiri di halaman depan rumah nya.
"Fii,, seperti nya apa yg dikatakan marsha benar. Mungkin nagita gak ada di sini." Ucap irwan menebak nya
"Lalu dimana dia?" Ucap raffi
"Entah lah... " ucap irwan
****
Hari demi hari dijalani raffi tanpa kejelasan akan keberadaan nagita saat ini. Bahkan kia pun tak tahu kemana keluarganya membawa nagita pergi. Berkali2 raffi datang ke rumah nagita, namun berkali2 juga raffi tak bisa mendapatkan titik terang dimana dia sekarang. Apakah dia baik2 saja? Ataukah sebaliknya?? Entah lah, ini semua membuat nya merasa uring2an hingga 2 pekan belakangan ini.
Sedangkan nagita, masih terus mendapatkan perawatan khusus. Bahkan setiap 2 hari sekali suster yg merawat nya datang kerumah hanya untuk menggantikan perban luka nya. Dan setiap 3 hari sekali nagita menjalani serangkain fisioterapi, melatih refleks gerak nya untuk bisa kembali seperti semula sesuai apa yg disarankan oleh dokter yg menangani nya.
#siang itu, jadwal nya nagita mengganti perban yg sudah tak layak pakai lagi.
"Makasih ya sus..." Ucap nagita sesaat setelah suster selesai melepaskan perban nya dan menggantikan nya dengan yg baru.
"Iya mba, sama2.. Permisi.." Ucap suster tersebut
"Kak.. Aku mau bicara sama km" ucap marsha yg tiba2 datang menemui nya.
"Km kenapa? Apa yg ingin km katakan?" Ucap nagita yg masih terduduk di tempat tidur nya
"Kak, sampai kapan km mau lari dari masalah ini?" Ucap marsha yg perlahan mendekati nya
"Apa maksud km?" Selidik nagita yg tak mengerti apa maksud adik nya yg tiba2 datang dan berkata seperti itu.
"Berkali2 raffi datang kerumah, hanya untuk menanyakan keberadaan km"
"Apa km gak kasian melihatnya putus asa hanya karena mencari2 org yg sebenar nya org yg dicari gak peduli dengan apa yg sudah ia korban kan atas waktu, tenaga, bahkan mungkin pikiran dan perasaan nya."
"Apa km gak memikirkan hal itu?" Lanjut marsha yg sedikit membuat nagita membuka mata bathin nya yg selama ini tertutup dengan rasa ketakutan nya akan hal2 yg sebenarnya belum tentu terjadi.
"Kak, , bukan kah km selalu cerita bagaimana perjalanan cinta kalian. Disaat niko selalu ganggu km, disaat papah melarang untuk km berhubungan dengan nya, dan disaat kejadian di puncak waktu itu?"
"Atau bahkan banyak hal yg belum sempat km ceritakan kepada ku, bagaimana rumit nya perjalanan cinta kalian."
"Lalu apa kakak mau melepaskan nya begitu saja, atas apa yg sudah kalian perjuangkan bersama?" Papar marsha yg sudah tak bisa menahan segala rasa yg sempat membebani nya selama ini.
"Marsha,, dengarkan aku. Km gak pernah tau gimana perasaan ku saat ini. Saat tau, aku tak bisa lagi beraktifitas seperti biasa dan hanya bisa terpaku pada kursi roda."
"Disaat aku harus merelakan org yg sangat aku cintai hanya karena aku tak ingin dia merasa terbebani dengan apa yg aku alami sekarang." Ucap nagita dengan sedikit menaikkan volume suara nya
"Kamu gak pernah tahu perasaan aku marsha.. ? Aku lebih sakit, menerima semua kenyataan ini. Tapi aku bisa apa?" Ucap nagita yg perlahan mengurangi emosi nya yg sempat meluap2.
"Hanya ini yg bisa aku lakukan, aku ingin melihat nya bahagia bersama org yg jauh lebih baik dari ku dan bukan org cacat seperti aku.." Lanjut nagita dengan derai air mata yg membasahi setiap jengkal wajah nya, saat meluapkan seluruh isi hati nya kepada marsha.
Apa yg dikatakan marsha cukup membuat nya tersudut. Hingga ia pun mencoba untuk melakukan pembelaan diri.
"Maaf kan aku,," ucap marsha yg langsung memeluk nya erat
"Aku gak bermaksud menyudutkan mu, dan membuat mu merasa bersalah atas apa yg terjadi."
"Maafkan aku.." Ucap marsha yg masih terus memeluk nya, berharap nagita akan memaafkan nya.
"Km gak perlu meminta maaf, aku yg salah. Karena sudah menyeret mu kedalam masalah ini. Dan apa yg km katakan gak semua nya salah, makasih yah.. km sudah ingatkan aku akan hal ini.." Ucap nagita yg mulai memegangi wajah adiknya.
Marsha pun tersenyum simpul kearah nya.
"Sekarang, aku minta km temani aku disini yah? Aku takut sendiri..." Lanjut nagita
"Mamah dan papah kemana?" Tanya marsha saat menyadari tak ada orang lain kecuali mereka berdua
"Pagi ini papah ada meeting, dan kebetulan mamah ada perlu."
"Dan kemungkinan mereka akan datang sore." Ucap nagita
"Ohhh.. ok.." Ucap marsha singkat
#Ditempat lain,
Raffi yg sedang berada didalam ruang kerja nya, mendadak ia dipanggil om suryo untuk menemui nya segera. Hingga raffi harus meninggalkan pekerjaan nya, dan langsung menuju ruangan yg tak jauh dari ruang kerja nya.
"Iya om, ada apa?" Ucap raffi menanyakan nya
"Km sibuk?" Tanya nya
"Gak juga om, lagi cek berkas2 saja.." bls raffi
"Kalo gitu km ikut om, kita ada meeting disana.." Ucap nya yg langsung membereskan meja dan ingin langsung bergegas pergi menuju tempat yg sudah dijanjikan sebelum nya
"Apa yg sedang dikerjakan, sebaiknya km kasih kan ke irwan sementara. Dan om tunggu km di lobby depan, secepatnya." Lanjut nya
Raffi pun langsung menjalankan apa yg diperintahkan nya.
Hingga sampai saat nya tiba ditempat tujuan, raffi pun belum tahu siapa yg akan ia temui sebenar nya.
"Om, sebenarnya kita mau meeting dengan siapa? Perusahaan mana?" Tanya raffi penasaran, karena ini cukup mendadak bagi nya, bahkan belum ada persiapan yg matang jika ia diminta untuk presentasi didepan nya.
"PT. CAPITAL Group" ucap om nya yg sontak membuat raffi menautkan kedua alis mata nya
"Km pernah bertemu sebelum nya bukan??" Tanya nya
"Hah.. emm.. ii.. iya.." Ucap raffi.
Tak lama, mereka pun datang dan tak seperti biasa nya mr.gideon pun ikut hadir dalam meeting nya kali ini. Gugup,,? Itu sudah pasti raffi rasakan. Saat ia mulai mengulurkan tangan sekedar berjabat tangan. Dan bahkan jarang2 ia menanyakan kabar kepada raffi. Itu cukup membuat raffi dilanda rasa gugup yg sangat amat dalam. Disatu sisi ia merasa grogi, disisi lain ia merasa kalo ini lah kesempatan nya untuk menanyakan langsung tentang keberadaan nagita saat ini.
Sejenak raffi harus mengesampingkan urusan pribadi nya, karena ia ditunjuk untuk memimpin jalan nya meeting kali ini. Meski tanpa persiapan, raffi pun berusaha untuk tetap bersikap profesional agar meeting berjalan sesuai apa yg sudah harapkan. Hampir 2 jam mereka membahas apa yg seharusnya mereka bahas tempo lalu. Dan meeting itu berakhir dengan standing applause, raffi pun segera menutup meeting nya kali ini. Dengan rasa yg tak bisa diungkapkan lagi, kini raffi bisa bernafas lega dengan hasil yg cukup memuaskan.
"Om.. tunggu," ucap raffi menghentikan langkah mr.gideon yg bersiap2 untuk pergi.
"Maaf sebelum nya, raffi minta waktu om sebentar, bisa?" Ucap raffi
"Baiklah, silahkan duduk.." Ucap mr.gideon mempersilahkannya untuk duduk kembali.
"Apa yg ingin km tanyakan?" Ucap nya
"Om,,, apakabar dengan nagita?"
"Apakah dia baik2 saja?"
"Raffi tahu om gak suka aku dekat dengan nagita. Tp raffi mohon sama om, beri raffi kesempatan untuk bisa bertemu dengan nya" ucap raffi, berharap mr.gideon akan mengizinkan nya
"Apa km yakin ingin menemui nya dan ingin tahu bagaimana kondisi nya sekarang?" Ucap mr.gideon meyakinkan nya kembali
"Iya om,, raffi ingin bertemu dengan nya." Ucap raffi
"Apa km akan menerima, apapun kondisi nya,,?" Bls mr.gideon
"Iya om, raffi akan menerima apapun kondisi nya" ucap raffi dengan kesungguhan hati nya
"Baiklah, km silahkan datang temui dia.." Ucap nya sambil menuliskan alamat dimana nagita tinggal selama 2 minggu belakangan ini.
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.
No comments:
Post a Comment