Monday, September 21, 2015

Life in future with you--- part 8

Life in future with you--- part 8

(Akan ada hari dimana keteladananmu akan mengiringi tugasku sebagai Madrasah bagi keturunan kita. Akan ada hari dimana kita akan melihat nisan dan memesan sepetak lahan berdampingan untuk nanti ketika esok tak ada lagi. Akan ada hari dimana salah satu dari kita menghadap Ilahi, dengan pendamping hidup sholehah yang setia menemani sampai di akhir perjalanan nanti. Semoga Allah mengijinkan Sakinah bersamamu hadir suatu hari nanti hingga kelak dikumpulkan kembali di Surga-Nya nanti. Aamiinn Allahuma Amiinn..)

Suatu harapan yang mungkin akan ada saat nya untuk aku bisa mewujudkan semua nya bersama orang yang benar2 bisa menerima dengan segala kekurangan ku, dan mencintai ku dengan setulus hati.

Ketika malam mulai menyambut pagi. Angin menyapa lewat dedaunan, mendayu bak melodi yang merdu menyapa alam. Diri ini bagai tertahan, dibalik asa ku yang melemah. Entah lah, tiba2 aku sangat merindukan papa. Sebelum naluri terhenti mati, menghitung waktu, merajut asa. Antara aku dan nafas ku. Aku ingin sekali memeluk nya, bersandar dibahu nya, dan meluapkan segala isi hati ku kepada nya. Andai aku bisa bertemu dengan nya.. Papa.. Seketika angin malam menerpa tubuhku. Aku pun terbangun dalam gelap, dan tersadar dalam lamunan..
  "Ini cuma mimpi.." pikir ku
Meski begitu, aku terlihat begitu larut dalam angan ku. Hingga airmata pun tak bisa ku hindari lagi. Aku pun menoleh kearah ranjang tempat tidur ku. Ku dapati key yang sedang terlelap dalam tidur nya. Angin tadi seolah menjadi pertanda bagi ku, bahwa aku harus kembali dan berada disamping nya. Kasihan dia,, tak seharusnya aku meninggalkan nya sendiri disana. Namun...
  "Prakkk.." setumpuk buku pun jatuh berserakan. Rupanya aku tak sengaja menyenggol nya. 
  "Astaga... " Aku mencoba untuk membereskannya. Namun dari beberapa buku yang terjatuh, ada 1 buku yang jatuh dengan keadaan terbuka. Ku ambil buku itu, dengan goresan pena yang masih terlihat jelas, aku pun membaca nya.. 
  "Jadilah seperti bintang yang selalu menerangi kegelapan, walau dia tahu diri nya gak abadi. Akan segera berganti pagi dan sinar bintang terkalahkan oleh matahari."
  "Papa..." pikir ku. Aku seakan mimpi. Masih jelas dalam ingatan ku, papa pernah menuliskan ini dibuku diary ku. Bahkan foto ini... ?

  "Papahhh...!"
  "Hei sayang,, kamu kenapa nak? Kamu menangis??"
  "Papa jangan pergi.. jangan tinggalkan aku sendiri.. aku takut gelap.."
  "Sini sayang,, duduk di pangkuan papa. Anak pintar gak boleh takut. Coba kamu tengok diatas sana, indah bukan? Kamu gak sendiri sayang. Ada berjuta bintang yang akan setia menemani kamu."
  "Sungguh?"
  "Ya, pasti nya. Dia akan selalu setia menemani kamu, percayalah..."
  "Kalo siang hari???"
  "Ya akan tetap ada.. tapi dibelahan dunia lain. Yang tak terlihat bukan berarti gak ada, bukan?"
  "Lalu, apa yang papa lakukan dengan buku diary ku?"
  "Biar kamu ingat, dan selalu kamu kenang. Karena sesungguhnya didunia ini tidak ada yang abadi sayang. Percaya lah,, suatu saat kamu pasti akan mengerti maksud papa." 
Aku yakin, ini bukan suatu kebetulan. Sesungguhnya nya Allah sudah mendengarkan dan mengabulkan do'a ku. Meski hanya dengan ini, tapi cukup mengobati rasa rinduku selama ini.
  "Pah... i missing you. I miss you so much. Until whenever you will keep in my hearts. I love you.. And i always love you, forever.."

  "Mami.. " aku sempat terkaget saat key memanggil ku pelan, rupa nya ia terbangun dari tidur lelap nya. Dengan wajah yg masih terlihat kantuk, key pun beranjak dari tempat tidur dan mendekat kepada ku.
  "Iya sayang, kamu terbangun?"
  "Um'humm.." key pun mengangguk pelan.
  "Apa yang mami lakukan disini? And then, itu foto siapa?" Ucap key
  "Hmmmm..?"
  "Mami kok sedih?" Mungkin key melihat aku menangis. Bahkan airmata ku pun masih berlinang di pipi ku.
  "Are you ok, mam?" Key pun memegangi wajah ku dan tak sungkan mengusap airmata ku, yang begitu larut memandangi nya.
  "Mami gak apa-apa. Ini sudah larut malam sayang, sebaiknya kita kembali ketempat tidur sekarang.." aku pun membawa nya kembali ke tempat tidur, dan menutupi sebagian tubuh nya dengan selimut tebal. Mencium kening nya seperti yang sering aku lakukan sebelum key benar-benar terlelap. Kini ku tahu bagaimana rasa nya merindukan seseorang yang sangat berarti dalam hidup ku. Sungguh sulit bagi ku untuk mengungkapkan nya. Lalu bagaimana dengan perasaan key selama ini??? Terlintas dalam pikiranku akan hal itu. Apa pantas aku lakukan ini kepada nya? Apa aku tega membiarkan nya merasakan seperti apa yang aku rasa saat ini?? Perlahan ku mulai memandangi wajah nya yang berada persis disamping ku.
  "Maafkan mami sayang,," aku pun menutup malam itu dengan kecupan sayang di kening nya, sebelum akhirnya aku terlelap.

Hingga pagi menjelang, aku terlihat sibuk membereskan berkas2 yang harus aku bawa ke kantor pagi ini. Mengingat akan ada meeting penting hari ini. Hingga aku harus mempersiapkan semua nya. Namun,,
  "Kriiiiiinggg..." bbm ku pun berbunyi. Aku sedikit kaget dengan isi bbm dinar. Tak lama handphone ku pun berdering. Dinar pun menelpon ku. 
  "hallo..? Iya, aku sudah baca bbm km. Berapa lama?? Baiklah, aku akan siap-siap sekarang. Ok,, Bye.." aku pun segera berkemas.
  "Mam..." aku menghentikan aktifitas ku sejenak. Entah lah sejak kapan key berada di belakang ku. Apa key mendengar pembicaraan ku dan dinar barusan? Apa key ...? Ahhh, Aku segera menepis semua nya, dan berbalik menyapa nya dengan senyuman.
  "Haii cantik,, Kamu sudah siap ke sekolah?" Aku pun mendudukkan key di atas meja kerja ku. Berharap key tak mendengarkan apa yang aku bicarakan. Tapi seperti nya itu tidak mungkin, kesedihan pun begitu jelas terlihat diwajah nya. Dan sekarang aku yakin key pasti mendengar pembicaraan ku dengan dinar barusan.
  "Mami mau kemana?" Sungguh, pertanyaan yang tak aku harapkan sebelum nya. Aku pun sejenak terdiam, berfikir apa yang harus aku sampaikan kepada nya. 
  "Mami...?" Key pun mengulang pertanyaan itu. Berharap aku memberikan jawaban atas pertanyaan nya.
  "Sayang,, Mami harus ke luar kota sekarang. Ada pekerjaan yg harus mami selesaikan disana."
  "You will leave me alone here, mam? Are you sure, that?" Aku memang belum pernah meninggalkan nya sendiri. Bahkan aku sendiri tak tahu akan berapa lama disana.
  "Key.. dengarkan mami sayang. Mami gak akan lama disana. Secepat nya mami akan kembali. Mungkin malam ini."
  "Really?"
  "Maybe. I promise. After all is done, I 'll be home soon"
  "If dedy here, mom will not like this, isn't it? Kasihan mami." key pun memeluk ku. Aku terenyuh saat key berbicara seperti itu, karena sebelum nya key tak pernah mengeluhkan hal itu kepada ku. Apa mungkin key mulai merasa cemburu dengan kesibukan ku? Apa mungkin kini key mulai merasa bosan dengan dedy nya yg tak kunjung menemui nya?? Entah lah. Perlahan ku lepaskan pelukan nya itu, dan mencoba untuk melemparkan senyuman kearah nya.
  "Key..."
  "Hmmm..?" 
Aku mencoba untuk menarik nafas panjang, sebelum akhirnya aku memberikan sedikit pengertian kepada key.
  "Key, ini semua gak ada hubungan nya dengan dedy sayang. Apapun yang mami lakukan semua untuk key, bukan begitu?"
  "Apakah itu juga alasan dedy selama ini, mam?" Key pun menatap ku dalam-dalam
  "Ya Tuhan..." bathin ku
  "Maybe. Key sayang sama dedy?"
  "Um'humm..." key pun mengangguk pelan.
  "Kalo suatu saat dedy ingin bertemu, apa key mau menemui nya?"
  "Ya.. Apa dedy ada disini mam? Kapan aku bisa bertemu dengan nya?"
  "Secepat nya. Mami akan coba hubungi dedy. Tapi gak sekarang sayang. Mami harus siap2, karena aunty dinar sudah menunggu dibawah."
  "Janji..?" Ucap key
  "Ya sayang. Sekarang kamu siap2, kerena aunty caca yang akan mengantarkan kamu ke sekolah hari ini."
  "Ok..." key pun berlari keluar untuk bersiap-siap. Sedangkan aku, harus segera membereskan semua nya. Sebelum akhirnya aku pun turun dengan beberapa berkas yang sudah aku siapkan sebelum nya.
  
  "Mah, aku titip key ya..?"
  "Kamu tak ingin sarapan dulu? Mama sudah siapkan makanan kesukaan mu." Ucap mama ku yang sedang mempersiapkan beberapa menu makanan. Tapi seperti nya aku tak bisa. Dinar sudah menunggu ku di depan. Dan aku tak ingin dinar menunggu lama, apa lagi perjalanan kita yang pasti nya akan memakan waktu yang cukup lama.
  "Biar aku makan dimobil saja, lagi pula gigi masih kenyang.." padahal aku sendiri belum makan dari semalam. Entah kenapa nafsu makan ku mendadak hilang. Padahal mama sudah menyiapkan makanan kesukaan ku. Dan aku tak ingin mama tahu akan hal itu, karena aku tak ingin mama khawatir dengan kondisi ku.
  "Key,, mami harus berangkat sekarang. Key harus janji sama mami, untuk jadi anak yang baik. Ada oma dan aunty caca yang akan menjaga kamu disini. Kalo ada apa-apa segera telephone mami, ok?"
  "Ya mam.. I love you.." key pun memeluk ku sebelum akhirnya aku meninggalkan nya untuk menjalankan kewajiban ku sebagai pimpinan di perusahan tempat aku bekerja.

  "Key sangat cantik, dia anak yang pintar. Kamu yakin tak ingin mengajak nya?" Ucap dinar
  "Ini bukan acara keluarga, dan bukan pula acara santai dinar. Lagi pula kita tak akan lama disana, bukan??"
  "Entahlah,, seperti nya begitu." Ucap dinar 
  "Aku harap begitu."
4 jam perjalanan, cukup melelahkan bagi aku dan dinar. Hingga kita memutuskan untuk beristirahat sejenak, sebelum akhirnya acara pun dimulai. Dengan segala persiapan yg sudah aku susun, dan..
  "Bu.. ibu.." fara pun memanggil ku.
  "Iya.. kenapa fara? Ngomong-ngomong mana berkas yang aku minta?"
  "Maaf sebelum nya,, tapi.. emmp.. tapi...?" Fara pun terbata-bata
  "Fara, kamu kenapa? Kamu dengar apa yang ibu nagita ucapkan? Sekarang mana berkas nya?" Dinar pun mendesak fara untuk mengatakan yang sebenar nya.
  "Maaf bu, berkas yang ibu minta semua tertinggal di kantor." Ucap fara.
  "Astaga..!! Kenapa bisa gitu?? Bukan nya tadi pagi kamu bilang sudah dimasukkan kedalam mobil?? Lalu...? Ya Tuhan...!" Dinar pun meluapkan emosi nya, hingga fara pun mulai terlihat takut 
  "Dinar... Biarkan fara menjelaskan semua nya." Aku sedikit emosi juga sih, tapi aku mencoba bersikap bijak. Karena aku percaya, ini bukan suatu kesengajaan. 
  "Maaf bu, saya pikir pak toni sudah memasukkan berkas itu ke mobil. Tapi rupa nya pak toni lupa. Fara minta maaf bu.." Fara pun memaparkan kejadian yang sesungguhnya nya terjadi. Dan fara pun mengakui keteledoran nya.
  "Harus nya kamu pastikan kembali fara!" Dinar pun menyambar ucapan fara begitu saja.
  "Oke, aku maafkan kamu. Sekarang, fara tolong ambilkan tas ku di kamar. Aku tunggu di ruangan." 
  "Tapi gi,, kita mau suguhkan apa ke Paul? Semua nya ada didalam berkas itu. Kamu yakin akan melanjutkan nya? Lebih baik, kita tunda meeting kali ini." Sebuah saran konyol yang dinar katakan kepada ku. Itu sungguh tak mungkin aku lakukan. Hanya karena itu, aku tak mungkin membatalkan nya. Ini soal profesionalitas. Bukan sesuatu yang harus ditakuti atau disegani.
  "Sudah lah, ayo masuk.." aku pun berlalu begitu saja meninggalkan dinar yang masih terlihat cemas.
  "Welcome Mrs. Nagita dan Mrs. Dinar.. Selamat siang, dan silahkan duduk.." ucap Paul yang mungkin sudah lama menunggu ku.
  "Nagita.. kamu yakin..? Kamu yakin ini akan berhasil??" Dinar pun memastikan kembali akan keyakinan ku untuk melanjutkan nya.
  "Ya..." Aku hanya tersenyum kearah nya. Sebelum akhirnya aku memulai meeting itu.
Dengan segenap kemampuan ku, aku mencoba untuk tetap tenang meski sebenarnya aku pun merasa gelisah. Apa aku bisa? Apa ini akan berhasil, atau bahkan malah sebaliknya? Entahlah, yang jelas aku sudah berusaha semampu ku. Meski ku tahu, semua nya ada ditangan ku. 
1... 2... 3 jam terasa berlalu begitu cepat. Dan...
  "It's perfect! Nagita, aku suka dengan ide-ide kamu yang brilliant. Ok, kapan kira-kira kita mulai project ini?" Sungguh, sesuatu yang sangat unexpected. Aku tak menyangka bakal seperti ini.
  "Terimakasih sebelum nya, secepat nya akan kami proses. Dan senang bekerjasama dengan anda."
  "Ok, saya tunggu kabar selanjutnya nya. Saya tutup meeting kali ini dan selamat siang.." ucap Paul
Hufffttt.. akhirnya aku bisa bernapas lega. Semua usulan ku diterima baik oleh semua nya, bahkan standing applause pun aku dapatkan dengan mudah dari beberapa pihak yang terkait di dalam nya.

  "Menakjubkan.. aku gak percaya kamu bisa melakukan itu." Ucap dinar
  "Aku cuma melakukan apa yang seharusnya aku lakukan." 
  "Tapi itu sungguh unexpected nagita. Kamu tahu??? Aku sudah sport jantung. Kamu luar biasa!"
  "Kamu ini berlebihan dinar,,,," 
aku dan dinar pun bercanda gurau di restoran hotel dimana aku meeting. Suatu obrolan santai, tapi cukup membuat ku merasa nyaman. Namun disaat aku sedang asik ngobrol,,,
  "Hai Nagita.. ternyata kalian disini?" Paul pun datang menghampiri ku. Aku sempat terkejut, ketika ia mulai berdiri disamping ku. Beredar kabar paul memang sering membicarakan ku dengan kerabat dekat nya. Bahkan pujian kecil pun tak khayal di ucapkan oleh nya tentang aku. Meski sebenarnya aku baru mengenal nya. Entahlah, apa maksud semua nya.
  "Kamu boleh ikut dengan ku sebentar? Aku mau memperkenalkan seseorang kapada kamu."
  "Haruskah aku mengenal nya,,?" Aku coba melontaran pertanyaan yang membuat paul merasa kebingungan, entah harus berkata apa lagi. Yang ada, paul merasa salah tingkah dengan sikap ku.
  "Aku bercanda paul, dimana dia?" Aku tersenyum simpul kearah nya, meski aku tahu wajah paul merasa grogi saat aku menggoda nya.
  "Oke, aku kira kamu.. sudahlah lupakan. Dia sahabat ku, dan kebetulan aku meminta nya untuk datang kesini. Aku sengaja ingin memperkenalkan nya kepada mu." Ucap Paul
  "Siapa..?" Aku mencoba menghargai kebaikan nya. Setidak nya aku ingin berteman baik dengan nya. Meski ku tahu paul memiliki perasaan yang lebih dari sekedar teman biasa.
  "Fii... " seketika saja aku terdiam.
  "Raffi? Kenapa dia selalu muncul dimanapun aku berada..? Dia bagaikan hantu yang selalu hadir tiba2 di hadapan ku.
  "Nagita.. perkenalkan ini raffi sahabat ku. Dan raffi, kenalkan ini nagita.." ucap paul
Aku dan raffi hanya diam, tanpa ada 1 kata pun yang terucap diantara kita berdua. Yang ada hanya saling tatap, seolah hati ini yang berbicara.
  "Hei.. kalian ini kenapa? Apa kalian sudah saling mengenal sebelum nya?" Paul pun melihat kejanggalan dalam diri kita berdua.
  "Gak paul! Saya belum pernah bertemu atau bahkan mengenal sebelum nya. Saya raffi, senang berkenalan dengan anda.." suatu jawaban yang tak pernah ku duga sebelum nya yang terucap dari mulut nya. Dengan mudah nya raffi mengatakan seperti itu. Tapi aku hanya menanggapi nya santai. Tak lama kemudian...
  "Aku tinggal sebentar ya.. aku akan kembali sesaat lagi. Kalian tunggu disini.." Paul pun pergi meninggalkan aku dan raffi  berdua.
  "Silahkan duduk,," aku pun mencoba bersikap santai dan berusaha mencairkan suasana yang begitu dingin terasa.
  "Raffi,, ada yang aku ingin tanyakan kepada mu."
  "Katakan saja.." ucap raffi
  "Mengapa kamu berbohong kepada nya, raffi?"
  "Bukan kah itu yang kamu mau selama ini?" Ucap raffi yang memandang ku dengan tatapan yang berbeda. 
  "Maafkan aku nagita.." Bathin raffi
  "Serius banget,, Kalian mau pesan apa??" Ucap paul yang tiba2 datang begitu saja.
  "Maafkan aku paul. Aku harus kembali ke jakarta." Ucap raffi
  "Why? Bukankah kamu bilang akan bermalam disini?" Ucap paul
  "Aku ada urusan lain,, lagi pula aku tak ingin mengganggu waktu kalian berdua. Maafkan aku.." raffi pun menoleh kearah ku. Sebelum akhirnya raffi pergi meninggalkan aku dan paul berdua. Aku begitu menikmati obrolan santai bersama paul. Tapi sejenak aku teringat akan sesuatu. Key..! Astaga.. aku sudah janji untuk segera pulang. Tapi.. ? Ya Tuhan ini sudah jam berapa? Aku lirik jam tangan yg masih melingkar dilengan kiri ku. Tepat pukul 17.00 wib, yang arti nya aku harus segara bersiap2 pulang.
  "Paul, aku harus pulang sekarang."
  "Kenapa buru-buru? Apakah ada sesuatu??" Ucap paul, mana mungkin aku mengatakan alasan sebenarnya..
  "Aku sudah ada janji dengan seseorang."
  "Siapa? Tunangan mu?"
  "No.. No..! Bukan paul,, bukan itu yang aku maksud."
  "Ok, ok, aku minta maaf. Kalo begitu biar aku antar kamu." Tawaran yang biasa dilakukan seorang pria untuk mendapatkan hati wanita. Tapi aku langsung menolak nya.
  "Gak usah repot2 paul, biar aku pulang sendiri." Tapi seperti nya situasi berkata lain, mobil kantor yang mengantar ku kesini seperti nya baru saja mengalami kerusakan, hingga harus masuk bengkel. Sedangkan paul, mendadak ada meeting yang kemungkinan akan selesai 2 jam lagi, setelah itu baru bisa mengantarkan ku pulang. Namun seperti nya aku tak mungkin menunda kepulangan ku lagi. Kini hanya ada 2 pilihan, pulang larut malam atau ikut raffi yang kebetulan 1 tujuan dengan ku. Dan dengan sangat terpaksa akhirnya aku memilih untuk ikut mobil raffi karena aku tak ingin mengecewakan key yang sudah menunggu ku dirumah.
  "Kalian hati-hati dijalan. Nagita, sampai ketemu nanti. Dan Raffi....?!" ucap paul pun tertahan, paul berbisik pelan ke telinga raffi. Entahlah, apa yang paul katakan. Yang jelas raffi hanya tersenyum kearah nya.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

Sunday, September 6, 2015

Life in future with you--- part 7

Life in future with you--- part 7

(Sejenak aku terdiam. Masih teringat jelas in memory ku, saat fara memberikan ini kepada ku. Dan..
  "Mungkin, kamu sudah membaca surat yg pernah aku tulis untuk mu"
  "Surat??"
Aku mencoba untuk mengaitkan-ngaitkan semuanya.
  "Apa mungkin ini yg dimaksud raffi selama ini?" Aku mulai penasaran akan isi dari surat tersebut, tapi kotak ini..?)

Perlahan ku buka kertas yg masih terlipat rapih diatas nya. Ku baca baris demi bait untuk memecahkan rasa penasaran ku tentang apa yg tertulis didalam nya. Dan benar.. itu adalah surat yg selama ini raffi tujukan kepada ku. Surat yg selama ini aku simpan tanpa tahu siapa pemilik nya. Hingga kini saat nya aku tahu, bahwa raffi lah yg sengaja menuliskannya untuk ku.
  "Nagita,,, aku tahu, aku salah. Aku sadar, kata maaf tak bisa membayar semua yg pernah aku lakukan selama ini. Kamu berhak membenci ku. Tapi, asal kamu tahu. Aku sama sekali tak bermaksud untuk meninggalkan kamu, atau bahkan melupakan mu. Aku sangat mencintai mu nagita. Bahkan kamu tahu, aku masih menyimpan ini. Kamu ingat ini, bukan??
Nagita,, tak pernah terlintas di pikiran ku, bahkan aku tak pernah menyangka akan secepat itu menjadi seorang ayah. Tapi memang itu kenyataan nya. Kamu hamil, dan aku harus bertanggungjawab. Malam itu, memang aku yang salah. Aku tak sempat menghubungi mu. Bahkan aku gak bisa menepati janji untuk datang melamar mu. Tapi, aku berusaha untuk tetap datang dan menepati janji ku. Meskipun akhirnya aku datang 2 hari setelah kepergian mu ke australi. Aku bukan lari dari tanggungjawab, melainkan aku merasa belum pantas untuk menjadi seorang suami. Aku merasa belum cukup. Aku takut tak bisa membahagiakan mu dan calon anak kita. Karena apa yg ku punya selama ini, itu semua bukan milik ku. Bahkan tabungan ku pun rasa nya tak cukup untuk membeli sepasang cincin ini. Hingga aku memutuskan untuk bekerja. Setidak nya aku bisa memberikan sesuatu untuk mu dari hasil jerih payah ku sendiri. Sekaligus ingin membuktikan kepada papa, kalo aku bisa dan sanggup! Tapi apa kenyataan nya..? Disaat aku siap dengan semua nya, aku harus menelan rasa kecewa. Kamu pergi meninggalkan aku. Meruntuhkan semua impian aku, yg berharap akan berakhir bahagia bersama mu." Aku mulai terduduk lemas, air mata pun mengalir begitu deras. Aku tak tahu harus berkata apa, yg jelas aku tak sanggup bila harus melanjutkan untuk membaca nya. Sungguh, sulit bagiku untuk percaya. Meski ku tahu, raffi bukan tipe orang yg mudah putus asa. Karena raffi pasti akan terus berusaha untuk mendapatkan apa yg diinginkan nya. 
  "Ya Tuhan.. Apa yg sudah aku lakukan?" Aku tak pernah menyangka jika raffi tlah mempersiapkan ini untuk ku. Bahkan cincin ini?

  "Raffi, apa yg kamu lakukan disini? Ayo kita pulang!" 
  "Sayang,, tunggu! Kamu lihat itu? Bagus bukan? Apa kamu menyukai nya? Suatu saat, aku pasti akan membelikan nya untuk mu."
  "Jangan bercanda raffi.. lebih baik kita pulang."
  "Heii, aku serius,,, Kamu ragu dengan ucapan ku? Aku janji sayang..." Raffi memang pernah berkata seperti itu kepada ku. Tapi, aku sama sekali tak pernah berharap raffi serius dengan perkataan nya. Karena aku tahu, tak sedikit uang untuk bisa mewujudkan nya. Dan sekarang... raffi benar2 membuktikan nya kepada ku. Dengan cincin yg sama, seperti yg ku lihat 5 tahun lalu.

Bertahun-tahun aku mencoba untuk melepaskan nya, berusaha untuk melupakan semua yg telah terjadi. Mengubur jauh harapan ku tentang raffi, yg aku pikir bisa menyembuhkan goresan luka yg ada di hati ku. Dan itu cukup membuat ku setengah gila! Lalu sekarang, ia datang dengan membawa berjuta cerita. Dan itu cukup memupuskan harapan aku untuk bisa melupakan mu.
  "Kenapa kamu lakukan ini kepada ku, raffi? Kenapa??" Ingin rasa nya aku berteriak, meluapkan segala perasaan ku saat ini. Tapi seperti nya itu tidak mungkin. Aku terlalu lemah untuk melakukan itu semua, karena sesungguhnya nya aku rapuh.
  "Jika dia tak kembali maka sederhana, ia bukan cinta sejati mu. Tapi, jika sebaliknya nya... ia akan kembali dengan cara yang mengagumkan." Ucap seseorang yg kini berada persis di belakang ku.
  "Mama...?" Aku terkaget, entah lah sejak kapan mama berada dibelakang ku. Yg jelas aku ingin segera memeluk nya, mendekap erat tubuh nya. Seolah mencari ketenangan untuk sejenak bersandar di bahu nya. Hingga akhirnya aku mulai merasa tenang untuk sekedar bercerita tentang sedikit masalah ku yang sedikit mengusik hidup ku.
  "Nagita,, mama tahu bagaimana perasaan mu saat ini. Mama sudah mendengar semua nya." Ucap mama yg mulai menatap ku.
  "Mah..."
  "Bukan kah itu yg kamu mau selama ini nak?" Ucap mama ku
  "Gak mah, semua sudah terlambat..."
  "Gak ada istilah terlambat sayang. Kamu boleh saja berbohong untuk berkata tidak. Tapi ingat sayang, kita lah yg mengendalikan hati dan perasaan, bukan sebaliknya nya.
Kamu berhak memilih, siapa yg akan menjadi pendamping mu kelak. Tapi kamu harus ingat nak, tak ada yg bisa melebihi rasa sayang seorang ayah terhadap anak nya. Mama percaya, kamu lebih paham tentang itu. Pepatah mengatakan, jika ada yang menyakiti perasaan kita satu kali, maka itu boleh jadi salah pelaku nya. Kamu mengerti maksud mama?" Ucap mama ku, dan aku hanya mengangguk pelan. Mengerti apa yg sudah mama sampaikan kepada ku.
  "Sekarang, lebih baik kamu istirahat." Ucap mama ku sebelum benar2 pergi meninggalkan ku.
  "Ya......." aku pun tersenyum kearah nya. Hingga akhir nya aku sendiri, menatap kosong langit gelap diatas sana, menyadari bahwa cinta bukan sekedar memaafkan, bukan sekedar menerima apa ada nya, tapi cinta adalah rasionalitas sempurna. Mungkin benar, apa yg di ucapkan mama. "Jika ia cinta sejati mu, maka ia akan kembali dengan cara yg mengagumkan." Dan apakah raffi adalah jodoh ku?? Entah lah, semua misteri. Yang jelas, aku berharap disetiap do'a ku, bahkan disetiap sujud ku, siapa pun itu... Akan ada saat nya hari dimana Allah menjadi saksi saat kau lingkarkan ikatan suci cincin mas kawin dijariku yang kau pilih, walau aku tak sesempurna istri sang Nabi. Akan ada saatnya hari dimana kulingkarkan pula sumpah setia dijarimu yang kupilih sebagai imamku, yang surga-Nya tak bisa ku masuki tanpa ridho dari mu. Akan ada hari dimana ku gelar sajadah ku dan sajadah mu, kita bersujud dalam sepenggal waktu yang sama dan do'a yang terucap dari mu ku Amini juga dalam hati 1 shaf dibelakangmu. Akan ada hari dimana selalu ku nanti alunan Tausyiahmu sebagai pengantar tidurku dan rasa syukur karena-Nya telah memberikan cinta yang ku tujukan padamu. Akan ada hari dimana kau dengungkan adzan dibalik daun telinga sosok mungil yang kelak mewarisi sebagian parasku dan sebagian tingkahmu. Akan ada hari dimana keteladananmu akan mengiringi tugasku sebagai Madrasah bagi keturunan kita. Akan ada hari dimana kita akan melihat nisan dan memesan sepetak lahan berdampingan untuk nanti ketika esok tak ada lagi. Akan ada hari dimana salah satu dari kita menghadap Ilahi, dengan pendamping hidup sholehah yang setia menemani sampai di akhir perjalanan nanti. Semoga Allah mengijinkan Sakinah bersamamu hadir suatu hari nanti hingga kelak dikumpulkan kembali di Surga-Nya nanti. Aamiinn Allahuma Amiinn..

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.