Life in future with you--- part 17
("Mami..? Are you ok?? Please, come on mam?" Ucap key yang terus menerus berusaha menarik lengan ku.
"Mom,,? Momy??" Ucap paul yang memandang ku dengan penuh tanya.
"Paul.. aku.." Ya Tuhan.., apa yang harus aku lakukan? Sungguh, aku seperti orang yang tak tahu harus berbuat dan berkata apa kepada nya.
"Nagita...??" Ucap paul lagi. Mungkin kah ini saat nya aku menjelaskan apa yang seharusnya aku jelaskan sejak dulu kepada nya? Rasa nya aku pun sudah tak bisa lagi menyembunyikan kenyataan yang ada. Paul harus tahu siapa aku? Lagi pula aku tak ingin paul semakin berharap kepada ku. Tapi, bagaimana dengan key?? Mana mungkin aku mengatakan hal ini di depan nya?
"Mam..?" Ucap key lagi
"Sayang, kamu masuk dulu sebentar yah..? Tunggu mami didalam, ok? Jangan pergi kemana-mana, sampai nanti mami kembali."
"Baiklah.." ucap key.)
"Bisa kita bicara sebentar?" Aku sengaja membawa paul ketempat lain, tempat yang jauh lebih nyaman untuk aku menjelaskan semua nya. Lagi pula, tak ada lagi yang harus aku tutup-tutupi. Sudah cukup lelah rasa nya hati ini. Mulai detik ini, aku akan mengakhiri semua nya. Mungkin, ini tidak adil untuk nya. Tapi, apa boleh buat. Aku sudah memikirkan nya matang-matang. Dan ini lah keputusan ku..
"Apa yang ingin kamu sampaikan? Mengapa kamu ajak aku kesini? Apa ada sesuatu?? What are you hiding something from me?" Satu persatu pertanyaan pun muncul dari mulut nya. Sorot mata nya seakan menatap ku tajam, seolah menyimpan tanda tanya besar. Dan itu cukup membuat ku merasa ada pada satu titik, dimana aku sulit untuk menjelaskan semua nya.
"Nagita..? Do you hear me,,?" Astaga, mengapa tiba-tiba aku jadi gugup seperti ini..?
"Aku.. Emm, aku..." entahlah, mendadak aku tak bisa berkata-kata. Bibir ini seakan terkunci, bahkan lidah ini seakan kaku. Rasanya aku tak mampu untuk menjelaskan apa yang sudah ada dalam pikiran ku saat ini. Aku benar-benar tak sampai hati bila harus melukai hati dan perasaan nya. Tapi..
"Are you okey?" Lagi-lagi aku melihat jelas bagaimana paul menatap ku, dan itu cukup membuat aku benar-benar tak bisa berkutik. Aku tak mungkin mematahkan hati dan perasaan nya begitu saja, yang sejak awal aku tahu niat baik dan tulus paul terhadap ku. Tapi aku bisa apa?? Haruskah aku membiarkan masalah ini berlarut-larut hingga muncul dengan masalah baru yang mungkin akan jauh lebih rumit dengan apa yang terjadi saat ini. Andai aku bisa mengulang apa yang sudah terjadi, tak kan ku biarkan orang lain masuk dalam kehidupan ku. Tapi sayang nya hidup ini bukan lah lorong waktu, bukan pula skrip atau naskah yang bisa seenaknya kita revisi dan dihapus sesuai dengan yang kita inginkan. Lalu apa yang harus aku katakan kepada nya, bila untuk mengawali pembicaraan saja aku tak bisa??
"Oke,, If you can not say anything? Can i ask you something..??" Aku hanya mengangguk untuk menyetujuinya dan sedikit membuka mulut ku untuk sekedar berkata "ya.."
"Diam, bukan berarti tak ada hal yang ingin kamu sampaikan bukan? It's ok.. Aku mengerti. Dan aku tak akan memaksa mu untuk melakukan nya. Jujur, aku kecewa sama kamu nagita." Ucap paul
"Paul,, aku bisa jelaskan itu semua.."
"Kamu tak perlu melakukan nya. Lagi pula semua sudah jelas, bukan? Kamu mencintainya...??"
DEG.. satu pertanyaan yang membuat ku sedikit mengerutkan dahi. Mengapa tiba-tiba paul berkata seperti itu. Apa ada yang salah pada pendengaran ku saat ini?? Apa mungkin ini cuma pikiran ku saja yang mulai terganggu karena tingkat kecemasan ku yg tinggi..?? Tapi...
"Do you still love him..?" Untuk yang kesekian kali nya mana mungkin aku salah dengar?
"Kamu diam..??" Ucap paul
"Maafkan aku paul.. aku.."
"It's ok.. kamu tak perlu meminta maaf kepada ku. Aku gak apa-apa. Dari awal, aku sudah curiga dengan sikap kalian. Tapi rasa curiga itu tertutup rapat oleh rasa penasaran aku terhadap mu. Aku mencoba menepis semua nya, karena aku ingin jauh lebih mengenal siapa kamu? Dan bagaimana kehidupan mu? Hingga akhirnya aku menyadari, ternyata aku mulai mengagumi mu. Rupanya, rasa penasaran ku tak henti sampai sebatas mengagumi. Hingga tumbuh rasa yang menurutku asing, yang membuat ku takut kehilangan mu. Mungkin aku mulai terobsesi untuk memiliki mu. Hampir setiap malam, aku coba meluapkan perasaan ku lewat seseorang yang sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri. Menceritakan apa yang sedang aku rasakan tentang perasaan ku pada mu. Yang aku pikir, mungkin ia jauh lebih mengerti dibanding diri ku yang sama sekali tak memiliki keberanian untuk berkata cinta pada seorang wanita. Dan memang benar, aku gak ada apa-apa nya dibandingkan dia. Rupanya, dia jauh lebih mengerti semuanya. Bahkan ia jauh lebih tahu bagaimana menghadapi mu yang menurut ku sangat sulit untuk di tahlukan. Hampir setiap hari ia tak kenal lelah untuk mendengar keluh kesah ku yang acap kali membuat nya jenuh. Tapi, ia benar-benar tak pernah memperlihatkan itu semua. Hingga akhirnya malam itu,,,,,,,
"Kamu disini???"
"Emm.. Kamu sudah datang??" Ucap paul
"Apa ada sesuatu?? Mengapa tak menelpon ku terlebih dahulu??"
"Pertanyaan mu nanti akan aku jawab. Sekarang, duduklah dulu.. ada hal yang jauh lebih penting yang ingin aku sampaikan pada mu."
"Seperti nya serius.."
"Tentu.." ucap paul
"Cepat katakanlah, apa yang ingin kamu katakan."
"You know, I 've said it all. Now , she to know how my feelings to her." Papar paul, namun seperti nya tak ada respon yang positif dari seorang raffi.
"Raffi, do you hear me? Kamu mengerti kan kemana arah pembicaraan ku?? Dan siapa wanita yang aku maksud? Kamu tahu itu, bukan??" Ucap paul
"Ya, , , , tentu. Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
"Santai lah fi.. Lagi pula aku tak ingin terburu-buru, apalagi memaksa nya untuk mengiyakan permintaan ku. Beri waktu untuk ia berfikir. Setidak nya aku jauh lebih lega, karena tak ada lagi yang aku tutup-tutupi tentang perasaan ku pada nya."
"Keputusan yang bijaksana. Semoga kamu mendapatkan jawaban yang kamu ingin kan. Aku mau ke atas. Kamu mau tunggu disini atau...??"
"No.. no.. biarkan aku ikut dengan mu. Aku masih ingin berbincang banyak dengan mu." Ucap paul yang memotong pembicaraan raffi begitu saja.
"Baiklah, sementara kamu bisa istirahat di kamar ku. Aku mau ke kamar mandi sebentar."
Tak ada yang bisa paul lakukan disana. Selain melihat-lihat seluruh isi kamar raffi tanpa terkecuali. Hingga tak sengaja, paul menjatuhkan sesuatu. Ya.. rupanya dompet milik raffi yang tersimpan diatas meja itu jatuh.
"Dasar ceroboh. Dompet setebal ini di biarkan begitu saja." Ucap paul, seraya berjongkok dan berusaha untuk mengembalikan nya ke tempat semula. Namun saat paul hendak mengambil nya,,,
"Apa yang sedang kamu lakukan..?"
"Kamu selesai..? Aku cuma mau ambil ini. Ini punya mu, bukan??" Seraya memberikan dompet itu kepada raffi yang saat itu masih berusaha mengelap wajah nya dengan handuk ditangan nya.
"Terimakasih."
"Eittzzz.. tunggu dulu. Boleh aku lihat isi dompet mu? Seperti nya menarik untuk aku...." Ucap paul dengan senda gurau nya ia terus menggoda raffi yang kala itu terlihat panik.
"Paul, kembalikan punya ku! Ini gak lucu.. !!"
"Apa yang kamu sembunyikan disana? Apa ada sesuatu yang berharga disana??" Ucap paul
"Apa maksud mu..??"
"Sesuatu yang berharga?? Atau.. Pacar mu, mungkin..?" Ucap paul
"Pacar?? Kamu ini ada-ada saja."
"Why not?? Heii, kamu masih normal, bukan?? Atau jangan-jangan..??"
"Paul,, aku tak seperti apa yang kamu pikirkan."
"Lalu..?"
"Apa perlu aku jelaskan semua itu kepada mu..??"
"It's ok. Tapi, apa kamu sama sekali tak ingin berbagi sedikit pun kepada ku..?"
"Paul..."
"Ok.. ok.. Can i ask you something?"
"Katakan.."
"Apa arti cinta untuk mu..?"
"Cinta...? Mengapa kamu tiba-tiba bertanya cinta kepada ku??"
"Kamu tinggal jawab pertanyaan ku, mudah bukan??"
"Entahlah, menurut ku cinta itu seperti warna terang di dalam hidup, yang akan selalu setia memberikan sinarnya agar kita dapat berjalan terus. Memberi kekuatan untuk seseorang untuk bisa bertahan hidup, meski terkadang menyakitkan. Tapi itulah cinta yang aku ketahui.."
"Kamu pernah jatuh cinta sebelum nya.. ?" Ucap paul
"Maybe, ,"
"Apa kamu pernah sakit hati sebelumnya, hingga kamu berkata seperti itu?"
"Sakit hati?? Untuk apa aku sakit hati.. Hidup itu pilihan. Jika kamu memilih jatuh cinta, maka kamu pun harus siap patah hati."
"Sekuat itu kah hati mu fi.. ? Lalu apa kini kau tlah menemukan cinta sejati mu??"
"Kamu tak usah mencemaskan ku akan hal itu. Karena cinta selalu tahu kemana ia harus pulang, maka seharusnya pemiliknya tak perlu takut ia akan tersesat. Sepanjang apapun perjalanannya, ia tak akan kemana-mana. Sekalipun beribu kali ia berbelok, berputar, berlayar, bahkan mendaki, ia akan tetap mencari rumahnya, tempat ia kembali ketika ia lelah berpetualang nanti. Sebab cinta selalu tau dimana rumahnya, ia tak akan betah berlama-lama berdiam dalam istana, karena rumah adalah satu-satunya tempat ternyaman untuk rebah, tempat senyum tersejuk di dunia, dan tempat belai tersyahdu. Sebab cinta selalu merindukan pulang, karena disana ia temukan kehidupannya. Kehidupannya sebagai dirinya yang sangat dicintai. Percayalah, suatu saat nanti kamu akan mengerti apa itu cinta.. "
"Hei.. mau kemana?? Raffi.. Tunggu aku..!! Aku belum selesai bicara.. " seru paul yg sama sekali tak dihiraukan nya. Raffi berjalan terus tanpa memperdulikan apa yang di ucapkan paul kepada nya. Bahkan saat benda asing itu pun jatuh dari saku celana nya, seperti nya raffi sama sekali tak mengetahui nya.
"Foto???" Ucap paul
Saat itu aku benar-benar tak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku pikir ini cuma mimpi. Tapi seperti nya itu tidak mungkin. Mulai detik itu, aku berusaha untuk mencari kebenaran itu semua. Hingga akhirnya aku berhasil mengumpulkan informasi tentang kalian. Maafkan aku bila dalam hal ini aku terlalu lancang. Aku cuma tak ingin berada pada posisi yang salah. Andai aku tahu dari awal, ini semua tak akan pernah terjadi." Papar paul
"Paul,, aku minta maaf. Aku tak bermaksud untuk menyeret mu dalam masalah ku.."
"Kamu tak perlu meminta maaf kepada ku, nagita. Justru aku yang salah. Tak seharusnya nya aku berada diantara kalian. Karena sesungguhnya raffi lah yang pantas untuk mu, bukan aku.."
"Paul,, kamu tak marah pada ku..?"
"Marah..? Untuk apa aku marah..? Justru aku akan marah bila kalian tak bersatu.." ucap paul
"Kamu akan tetap jadi sahabat ku. Dan selama nya akan tetap jadi sahabat ku, paul.."
"Tentu.. Kamu tak usah khawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja. Percayalah.."
Akhirnya, kini aku bisa bernafas lega. Tak ada lagi yang harus aku takut kan. Sekarang, tinggal bagaimana aku meyakinkan hati. Siapkah aku menerima raffi untuk kembali dalam kehidupan ku..? Membuka lembaran baru bersama nya dan menepis semua luka yang dulu pernah ada??? Yang jelas, tidak untuk saat ini. Mungkin nanti...
"Mam,, " ucap key
"Iya sayang?"
"Apa dedy akan datang malam ini??" Tanya key
"Memang nya kenapa sayang?"
"Aku punya sesuatu untuk nya.." ucap key
"Oiya???"
"Um'humm.. " ucap key pelan
"Tapi ini sudah malam sayang, lagi pula diluar hujan."
"Tapi mam, key cuma mau kasih lihat ini ke dedy." Ucap key seraya menunjukkan apa yg di bawa nya.
"Kemungkinan malam ini dedy gak kesini sayang. Lebih baik kamu istirahat. Mami gak mau kamu tidur larut malam."
"Tapi mam..."
"Key,, benar apa yang dikatakan mami, sayang. Diluar hujan, dan seperti nya dedy gak bisa menemui mu malam ini." Ucap caca
"Aku cuma mau kasih ini, aunty." Ucap key
"Okey, aunty caca mengerti, sangat mengerti. Tapi ini sudah malam nak. Kamu harus istirahat sayang. Lebih baik kamu simpan dulu. Sekarang kita ke kamar yah..?" Caca pun membawa key ke kamar. Meski ku tahu, begitu kecewanya key saat mendengar raffi tak bisa menemui nya malam ini. Tapi, rasa nya aku tak tega membiarkan nya sendiri. Meski ada caca yang menemani, tapi... sebaiknya aku susul dia kekamar.
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.