Life in future with you--- part 12
("Lalu, kapan kamu akan membawa nya kesini??"
"Aku sudah mengajak nya, tapi raffi belum ada waktu untuk menemui nya. Dia terlalu sibuk dengan urusan nya."
"Mengapa demikian? Mungkin dia ada alasan lain yang kamu tak tahu??"
"Entahlah, ada atau tidak, aku tak ingin memaksa nya."
"Mama yakin, raffi bukan orang yang seperti itu."
"Maksud mama??" Aku mulai bingung dengan apa yang mama ku katakan. Sebenarnya kemana arah pembicaraan ini??
"Raffi ada di sini, dan ia ingin bertemu dengan mu." Ucap mama ku
"Raffi..?" Pikir ku.)
"Mana mungkin raffi kesini, mah. Mama bercanda, bukan??"
"Untuk apa mama bercanda, sayang? Memang raffi ada disini, lebih baik kamu temui dia sekarang."
"Tapi mah,, aku..."
"Gi,,, hargai dia yg sudah meluangkan waktu nya untuk datang menemui mu disini. Dan mama rasa itu tidak mudah untuk nya sayang."
"Apa maksud mama??"
"Kamu mau tahu, bagaimana usaha nya untuk bisa sampai sini menemui mu?? Raffi kabur dari rumah sakit, nak.."
"Rumah sakit?"
"Ya.. Raffi sempat masuk rumah sakit kemarin. Dan raffi memaksa untuk pulang, yang seharusnya ia masih belum diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit.
Sesaat setelah kamu pergi, raffi jatuh dan sempat tidak sadarkan diri. Itu bermula saat pak tedi menemukan raffi dalam kondisi pingsan di tengah jalan. Malam itu, mama memang meminta pak tedi untuk mengantar semua pesanan baju ke salah satu butik mama yang ada di kawasan puncak. Dan seperti biasa pak tedi langsung bertolak dari bogor ke jakarta, dengan alasan ia tak ingin bermalam disana. Namun ditengah perjalanan ke jakarta, pak tedi melihat sesosok pria yang sedang berdiri di tengah jalan. Entah, apa yang ia lakukan disana. Beberapa kali pak tedi membunyikan klaksonnya, tapi sama sekali tak dihiraukan nya. Seolah ia tak mendengar apa yang pak tedi lakukan. Hingga akhirnya ia pun jatuh, tepat di hadapan nya. Bahkan kepala nya pun sempat cidera. Ia jatuh tepat mengenai kap mesin mobil mama. Dengan cepat, pak tedi langsung mengamankan nya, namun rupanya raffi tak sadarkan diri. Untungnya pak tedi masih mengenal baik sosok raffi, hingga ia langsung saja menghubungi mama. Saat itu...
"Hallo,, ibu. Ini tedi.."
"Iya, ada apa telephone ibu pagi-pagi gini..? Kamu sudah sampai jakarta?"
"Em.. anu bu... e.. em.. anu.."
"Kamu kenapa? Dimana kamu sekarang?"
"Saya masih di puncak bu, tapi.... "
"Tapi kenapa? Ingat tedi, pagi ini kamu harus tiba di jakarta. Karena ibu harus ke butik jam 09.00 pagi."
"Iya, tapi gini loh bu, den raffi.."
"Raffi?"
"Iya den raffi, teman nya non gigi. Dia pingsan."
"Pingsan? Pingsan kenapa? Mbo' yo kamu ngomong yang jelas toh ted..?? Ibu gak ngerti maksud mu."
"Uwalahh.. tedi gak ngerti toh bu. Tiba-tiba saja den raffi pingsan di tengah jalan. Lalu apa yang harus tedi lakukan bu?"
"Posisi kamu dimana sekarang? Apa ada rumah sakit terdekat disana, ato balai pengobatan mungkin??"
"Jauh tenan to bu,, bu,, jangan kan rumah sakit, rumah penduduk wae jarang. Piye to iki bu..? Kasihan den raffi."
"Ya sudah kalo memang memungkinkan, kamu bawa pulang saja ke jakarta. Dan segera kamu antar ke rumah sakit terdekat. Nanti kalo ada apa-apa hubungi ibu. Biar ibu yg tanggungjawab."
"Baik bu.. Maturnuwun.."
Pak tedi pun membawa raffi ke salah satu rumah sakit terdekat di jakarta. Hingga raffi benar-benar ditangani khusus oleh dokter yang bersangkutan disana. Mama terus meminta pak tedi untuk memantau perkembangan nya, meski ia harus bersembunyi tanpa sepengetahuan raffi yang saat itu belum juga sadarkan diri. Namun perlahan tapi pasti, raffi kini mulai sadar. Bahkan ia mulai menanyakan keberadaan nya kini. Ia berusaha untuk melepaskan selang infus yang masih menancap kuat di pergelangan tangan kanan nya. Ia berusaha untuk bisa pergi dari tempat itu. Entah apa yang ingin dia lakukan, apa yang membuatnya enggan untuk berlama-lama disana. Meski dokter sudah melarang keras, tapi raffi tetap bersikeras untuk bisa keluar dari sana. Hingga akhirnya ia berhasil kabur, dan sekarang dia ada disini. Sebaiknya kamu temui dia, dan jangan kecewakan dia. Apa perlu mama ajak dia kesini..?"
"Tidak usah mah, biarkan aku yang turun menemui nya."
"Kamu yakin, kamu bisa?? Apa kamu kuat??"
"Ya.. aku akan baik-baik saja.."
"Baiklah... Sebaiknya kamu siap-siap, mama tunggu kamu dibawah" Mama pun pergi begitu saja. Aku sejenak terdiam, menelaah setiap ucapan mama kepada ku. Apakah benar yang dikatakan mama tentang raffi? Apakah yang raffi lakukan itu semua ada hubungan nya dengan ku?? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kini muncul dibenak ku saat ini.
"Raffi, kamu gak ikut pulang bersama ku?"
"Lebih baik kamu pulang dulu."
"Kamu yakin gak apa-apa aku tinggal? Kamu terlihat sangat pucat, raffi?? Apa kamu baik-baik saja?"
"Kamu tak usah khawatirkan aku. Kamu hati-hati dijalan. Jangan lupa kabari aku."
Masih terekam jelas dalam ingatan ku, saat berulang kali aku menanyakan kondisi nya. Mengajak nya untuk ikut bersama ku. Namun berulangkali juga ia mengalihkan pembicaraan nya. Apa mungkin raffi berbohong hanya untuk mengurangi rasa ke khawatiran ku pada nya?
"Raffi kabur dari rumah sakit"
"Raffi jatuh, dan sempat tidak sadarkan diri."
Sebenar nya apa yang ada di pikiran nya saat ini?? Mengapa ia lakukan itu..?? Mengapa ia lebih memilih untuk mengutamakan ku dari pada diri nya sendiri? Jika memang benar ia melakukan itu, aku rasa..... Ahh .. sudahlah, mengapa aku jadi memikirkan nya? Bertanya-tanya kepada diri sendiri yang sudah pasti tidak akan tahu jawaban nya. Kini aku harus segera turun untuk menemui nya. Bila perlu aku akan tanyakan hal ini langsung kepada nya.
"Kamu sudah menunggu lama??"
"Em.. lumayan.." ucap raffi datar, aku pun kini mulai duduk disamping nya. Memandang lekat tubuh nya yang kini berada persis disamping ku.
"Bagaimana keadaan mu sekarang? Aku sangat mengkhawatirkan mu saat dinar menghubungi ku dan mengatakan kamu sakit."
"Dinar??"
"Ya.. Dinar." Ucap raffi
"Ya Tuhan..." Pikir ku
"Dia menelpon ku, memberi kabar kalo kamu sedang sakit. Maka dari itu aku kesini, hanya ingin melihat kondisi mu."
"Dengan cara kabur dari rumah sakit?" Aku hanya memandang lekat kearah nya. Mencoba mencari-cari kebenaran atas rasa penasaran ku selama ini. Namun melihat dari ekspresi nya, seperti nya raffi benar-benar sulit untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
"Raffi,, kenapa kamu lakukan itu?? Apa kamu gak lihat, bagaimana kondisi mu sekarang?"
"Aku.. em.. aku.." raffi seolah tak bisa menjawab nya, hanya keringat bercucuran yang nampak di wajah nya. Kondisi badan yang belum terlalu fit, membuat raffi terlihat pucat. Dan...
"Awwww... " Aku memang sedikit menoleh kan wajah raffi kearah kiri. Ku lihat luka di pelipis matanya yang belum sempat mengering, dan masih terbalut perban basah bercampur darah.
"Biar aku obati luka mu"
"Nagita, kamu gak usah repot-repot. Aku gak apa-apa.." ucap raffi yang segera menahan ku untuk pergi.
"Tapi raffi,,,??" raffi pun segera menepis tangan ku yang sempat mengenai luka nya. Dijauhkan nya tangan ku dari wajah nya, namun tidak untuk melepaskan genggaman nya. Raffi malah memegangi erat kedua tangan ku. Dan mendudukkan ku kembali sejajar dengan nya.
"Percaya lah, luka ini tak akan terasa sakit lagi, karena sesungguhnya penawar sakit itu adalah kamu. Aku kesini, cuma untuk memastikan kondisi kamu. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu. Aku tak perduli dengan apa yang aku lakukan dan apa yang aku rasakan. Yang penting aku bisa menemui mu disini."
"Raffi,,,, "
"Sssstttt,,, Kamu gak usah cemas seperti itu. Ini cuma luka biasa, sebentar lagi juga kering. Percayalah, aku akan baik-baik saja" Ucap raffi yang tersenyum kearah ku. Ku menatap lekat kedua bola mata nya, yang seakan tak ingin aku khawatir dengan diri nya yg sekarang. Meski dengan kondisi nya yang seperti ini, raffi masih saja memikirkan ku. Bahkan ia sama sekali tak memikirkan bagaimana kondisi nya saat ini yang masih sama-sama membutuhkan perawatan intensif. Tapi meski begitu, raffi masih terlihat begitu tenang. Pembawaan nya yg santai mampu membuat ku percaya akan ucapan nya, kalo dia akan baik-baik saja. Hingga aku tak begitu khawatir melihat nya.
"Oya, aku punya sesuatu untuk mu. Kamu tunggu disini. Jangan kemana-mana. Aku akan kembali.." raffi pun pergi, entah kemana. Yang jelas, aku melihat raffi yang berjalan keluar. Seolah ia ingin mengambil sesuatu didalam mobil nya. Dan jelas saja...
"Kamu..?"
"Kamu menyukai nya..?"
"Raffi,, kamu masih sempat belikan ini untuk ku??" Ya.. raffi memberikan se ikat mawar putih untuk ku.
"Aku tahu, aku salah. Maafkan aku yang sudah membuat mu cemas. Nagita, aku tak akan memaksa mu untuk mencintai ku. Tapi izin kan aku untuk selalu ada di dekat kamu, disaat kamu membutuhkan ku. Aku janji, aku tak akan mengulangi nya lagi. Kamu gak usah khawatir, aku akan selalu ada untuk kamu, yang siap menjaga dan melindungi kamu sampai kapan pun itu.." Ucap raffi yang tersenyum kearah ku, dan menyambut ku dalam dekapan nya. Seakan melepaskan rindu dalam belaian nya. Mungkin benar, cinta selalu membuat kita merasakan hal-hal aneh, tapi nyata. Saat kita bertemu dengan orang yang kita suka, bahkan melihat nya saja mampu membuat hati berdegup kencang. Kita selalu menunggu nya, selalu mencoba mencuri perhatian nya. Tak jarang kita bahkan melakukan hal yang terasa bodoh hanya untuk melihat nya tersenyum atau membuatnya bahagia. Seperti yang raffi lakukan akhir-akhir ini. Jatuh cinta memang indah rasa nya, melewati malam dengan do'a dan harapan. Rindu yang tak pernah usai, atau genggaman jemari yang begitu hangat terasa. Cinta memang sulit untuk ditebak, namun kenangan akan selalu hadir apapun bentuk nya. Lalu, apakah aku mulai jatuh cinta kepada nya? Apa cinta itu hadir kembali di hati ku? Aku memang tak pernah menghapus semua tentang raffi. Baik itu kebaikan nya ataupun keburukan nya, karena bagaimanapun juga raffi pernah menjadi seseorang yang paling berarti dalam hidup ku. Meski ku tahu, hingga saat ini raffi masih mencintai ku. Sedangkan aku...? Entah lah.. yang jelas, saat ini aku mulai terhibur dengan kehadiran nya. Apa yang raffi lakukan mampu membuat mood ku membaik dari sebelum nya. Seperti yang kita rasakan saat ini..
"Apa itu foto key..??" Ucap raffi disela-sela kita berbincang di ruang tengah. Aku memang sengaja memajang foto berdua bersama key di samping meja tv, karena kebetulan semua pigura sudah penuh dengan foto-foto aku dan caca, hanya ada 2 pigura yang masih kosong, hingga aku letakan tepat disamping nya.
"Iya.. itu aku dan key. Foto yang aku ambil 1 tahun lalu, saat aku masih di australi."
"Lalu dimana dia sekarang? Apa aku boleh bertemu dengan nya?"
"Tentu.. tapi .. astaga!" Aku menoleh kearah jam yang bertengger di dinding tempat ku berada saat ini.
"Klung.. klung.. klung.. "
"Aku gak bisa jemput key di sekolah. Aku ada meeting siang ini. Apa kamu bisa menjemput nya? Aku takut key sudah menunggu lama." Ucap caca dalam bbm nya. Mau gak mau aku yang harus menjemput nya.
"Raffi, aku bisa minta tolong kepada mu?"
"Katakan lah.."
"Aku harus menjemput key di sekolah. Apa kamu bisa menemani ku kesana? Aku takut dia sudah menunggu terlalu lama."
"Lebih baik, kamu siap-siap. Aku tunggu kamu di mobil" Ucap raffi yang dengan segala kerendahan hati nya mau menemani ku untuk menjemput key yang mungkin ini kali pertama nya untuk raffi akan bertemu dengan putri nya.
"Gi,,.." raffi pun menahan ku, saat aku hendak turun dari mobil nya.
"Ya..?"
"Aku.. emm.. aku rasa, aku belum siap untuk menemui nya."
"Mengapa begitu?? Bukan kah kamu menginginkan nya?" Aku pun menoleh kearah raffi yang masih enggan untuk berbicara dan mengatakan yang sebenarnya.
"Raffi,,??"
"Aku gak pantas menjadi seorang ayah untuk nya, mungkin aku bukanlah ayah yang baik untuk nya." Suatu jawaban yang membuat ku yakin, kalo di dalam pribadi yang tenang, terdapat rasa takut yang teramat dalam bagi nya.
"Raffi, kamu belum mencoba nya. Kamu tahu, dia sangat merindukan mu? Apa kamu tega membuat nya kecewa dengan apa yang kamu lakukan?"
"Ya.. aku tahu itu. Tapi aku takut gi..." ucap raffi, aku tahu ini tak mudah untuk nya. Rasa takut akan diterima baik atau tidak nya kini mulai masuk dalam pikiran nya. Seolah mengalahkan rasa rindu yang selama ini ia rasakan.
"Biar aku yang bicara dengan nya, lebih baik kamu tunggu disini." Aku pun meminta nya untuk tetap stay di mobil. Biarkan aku yang menemui nya, dan sedikit memberi nya pengertian sebelum akhirnya key benar-benar bertemu dengan nya.
"Mamiiii..." terdengar teriakan yang tak asing di telinga ku. Ku melihat kearah pintu masuk, dan benar saja, key sudah menunggu ku. Entah sejak kapan ia berdiri disana, mungkin aku yang terlalu lama sampai, hingga ia terlihat begitu cemas.
"I'm afraid, mami." ucap key yang kini berada dipelukan ku. Aku tahu, key pasti sudah menunggu ku sejak lama. Hingga wajar rasa nya jika key berkata seperti itu.
"Maafkan mami sayang. Sekarang kamu tenang yah? Mami ada disini. Kamu jangan takut lagi, ok?"
"Ya, mam.." Ucap key yang kembali memeluk ku.
"Sekarang, mami punya kejutan untuk mu. Tapi key harus janji 1 hal sama mami."
"Apa?"
"Mami ingin, key akan selalu ingat pesan-pesan mami, untuk jadi anak baik, yang selalu mami banggakan. Kamu setuju??"
"Um'humm.. lalu apa kejutan nya" key pun begitu bersemangat untuk mendengar apa yang akan aku katakan kepada nya
"Ok. Sekarang, mami tanya 1 hal. Apa key mau bertemu dengan dedy?"
Sejenak key terdiam, semangat yang baru saja ia rasakan kini berubah menjadi hening. Key hanya diam, tak bergeming. Key hanya menatap ku, tanpa 1 kata pun yang keluar dari bibir nya. Mungkin rasa kecewa sempat singgah di hati nya, hingga ia tak ingin merasakan kekecewaan untuk yang kesekian kali nya.
"Sayang,, Do you hear me?"
"Ya... i hear you, mam" Ucap key
"Sayang,,,, Dengarkan mami nak, dedy ada disini. Bahkan dedy yang mengantar mami untuk datang menjemput mu."
"Are you seriously?" Ucap key yang mulai menatap ku, menunggu kepastian atas perkataan ku.
"Ya.. Dedy ada di mobil sayang. Dedy sengaja tidak ikut turun, karena dedy ingin memberi kejutan untuk mu. Sekarang, key mau bertemu dengan nya?? Datanglah pada nya sayang, dan ucapkan salam untuk nya. Karena dedy, sudah menunggu mu disana." Aku pun menunjukkan tempat dimana raffi memarkirkan mobil nya. Dan perlahan key pun bergerak menjauh dari ku. Mencoba mengikuti perintah ku untuk datang dan menemui raffi yang sedari tadi menunggu nya disana. Raffi nampak begitu cemas menunggu ku, terlihat saat raffi mulai mondar-mandir kesana-kemari. Mungkin dengan begitu, rasa cemas nya akan hilang dengan sendiri nya. Tapi sepertinya, itu tidak berlaku untuk nya.
"Lebih baik aku tunggu di dalam mobil saja." Pikir raffi
"De..dy...?" Ucap key pelan, namun cukup membuat raffi terdiam. Terdiam untuk beberapa saat, hingga akhirnya raffi pun berbalik kearah ku. Yang mungkin jarak nya hanya beberapa meter saja dari tempat dimana ku berdiri.
"Mami,,, " Key pun berlari kearah ku. Memegang erat kedua tangan ku, seolah tak ingin jauh dari ku.
"Ayo lah sayang, jangan kecewakan dedy." Perlahan ku lepaskan jemari nya yang mulai menguat di tangan ku. Ku biarkan key untuk berjalan sendiri, mendekat kearah raffi. Hingga akhirnya tepat dimana key berada pada 1 garis lurus dengan raffi. Bahkan kini raffi bisa melihat jelas wajah putri nya dengan jarak yang begitu dekat.
"Hai princess?" ucap raffi yang mulai terbata-bata. Raffi mencoba untuk bisa menahan semua perasaan nya. Menahan semua ego nya untuk tidak terlalu berharap bila key akan menerima sebagai ayah biologis nya. Raffi sadar atas apa yang pernah dilakukan nya, raffi tak bisa memaksa key untuk bisa menerima kehadiran diri nya. Hingga akhirnya raffi perlahan mulai bangkit dari tempat persinggahan nya, mencoba untuk menjauh dari hadapan nya. Namun seketika saja,,,
"Jangan pergi.. " ucap key yang menahan kepergian nya. Bahkan jemari tangan nya mampu membuat raffi tertahan untuk beberapa saat.
"Aku mohon, jangan pergi.." ucap key lagi. Dengan segenap perasaan nya, raffi pun berbalik kearah key yang masih mematung di hadapan nya. Tangan nya yang mungil itu berhasil di rengkuh oleh raffi, dan menuntun nya untuk lebih dekat lagi dengan nya. Raffi mulai menatap wajah key yang saat itu hanya berjarak beberapa senti saja dari wajah nya. Membelai nya, dan sesekali mengusap airmata key yang sempat menetes di pipi nya.
"Dedy.." ucap key disela-sela tangis nya. Raffi pun langsung memeluk key dengan penuh cinta, mendekap erat dengan kasih yang mungkin selama ini belum pernah ia lakukan pada putri nya. 4 tahun menunggu untuk bisa merasakan hangat nya di peluk sang ayah, membuat ku sadar.. tak akan ada yang bisa menggantikan posisi di hati nya. Ikatan bathin pun tetap ada, darah yang mengalir pun begitu pekat terasa. Meski aku tahu, mungkin ini pemandangan yang belum pernah aku lihat sebelum nya. Huhhfff,, rasa nya hilang sudah beban ku dengan segenap rasa bahagia yang aku rasakan saat ini. Aku seolah larut dalam rasa haru, yang mungkin tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. Bahagia mu adalah bahagia ku, sedih mu adalah sedih ku, dan akan selama nya seperti itu, hingga nanti saat nya kamu mengerti, betapa aku sangat menyayangi mu, putri ku..
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.