Wednesday, October 28, 2015

Life in future with you--- part 12

Life in future with you--- part 12

 ("Lalu, kapan kamu akan membawa nya kesini??"
  "Aku sudah mengajak nya, tapi raffi belum ada waktu untuk menemui nya. Dia terlalu sibuk dengan urusan nya."
  "Mengapa demikian? Mungkin dia ada alasan lain yang kamu tak tahu??"
  "Entahlah, ada atau tidak, aku tak ingin memaksa nya."
  "Mama yakin, raffi bukan orang yang seperti itu."
  "Maksud mama??" Aku mulai bingung dengan apa yang mama ku katakan. Sebenarnya kemana arah pembicaraan ini??
  "Raffi ada di sini, dan ia ingin bertemu dengan mu." Ucap mama ku
  "Raffi..?" Pikir ku.)

  "Mana mungkin raffi kesini, mah. Mama bercanda, bukan??"
  "Untuk apa mama bercanda, sayang? Memang raffi ada disini, lebih baik kamu temui dia sekarang."
  "Tapi mah,, aku..."
  "Gi,,, hargai dia yg sudah meluangkan waktu nya untuk datang menemui mu disini. Dan mama rasa itu tidak mudah untuk nya sayang."
  "Apa maksud mama??"
  "Kamu mau tahu, bagaimana usaha nya untuk bisa sampai sini menemui mu?? Raffi kabur dari rumah sakit, nak.."
  "Rumah sakit?"
  "Ya.. Raffi sempat masuk rumah sakit kemarin. Dan raffi memaksa untuk pulang, yang seharusnya ia masih belum diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit.
Sesaat setelah kamu pergi, raffi jatuh dan sempat tidak sadarkan diri. Itu bermula saat pak tedi menemukan raffi dalam kondisi pingsan di tengah jalan. Malam itu, mama memang meminta pak tedi untuk mengantar semua pesanan baju ke salah satu butik mama yang ada di kawasan puncak. Dan seperti biasa pak tedi langsung bertolak dari bogor ke jakarta, dengan alasan ia tak ingin bermalam disana. Namun ditengah perjalanan ke jakarta, pak tedi melihat sesosok pria yang sedang berdiri di tengah jalan. Entah, apa yang ia lakukan disana. Beberapa kali pak tedi membunyikan klaksonnya, tapi sama sekali tak dihiraukan nya. Seolah ia tak mendengar apa yang pak tedi lakukan. Hingga akhirnya ia pun jatuh, tepat di hadapan nya. Bahkan kepala nya pun sempat cidera. Ia jatuh tepat mengenai kap mesin mobil mama. Dengan cepat, pak tedi langsung mengamankan nya, namun rupanya raffi tak sadarkan diri. Untungnya pak tedi masih mengenal baik sosok raffi, hingga ia langsung saja menghubungi mama. Saat itu...
  "Hallo,, ibu. Ini tedi.."
  "Iya, ada apa telephone ibu pagi-pagi gini..? Kamu sudah sampai jakarta?"
  "Em.. anu bu... e.. em.. anu.."
  "Kamu kenapa? Dimana kamu sekarang?"
  "Saya masih di puncak bu, tapi.... "
  "Tapi kenapa? Ingat tedi, pagi ini kamu harus tiba di jakarta. Karena ibu harus ke butik jam 09.00 pagi."
  "Iya, tapi gini loh bu, den raffi.."
  "Raffi?"
  "Iya den raffi, teman nya non gigi. Dia pingsan."
  "Pingsan? Pingsan kenapa? Mbo' yo kamu ngomong yang jelas toh ted..?? Ibu gak ngerti maksud mu."
  "Uwalahh.. tedi gak ngerti toh bu. Tiba-tiba saja den raffi pingsan di tengah jalan. Lalu apa yang harus tedi lakukan bu?"
  "Posisi kamu dimana sekarang? Apa ada rumah sakit terdekat disana, ato balai pengobatan mungkin??"
  "Jauh tenan to bu,, bu,, jangan kan rumah sakit, rumah penduduk wae jarang. Piye to iki bu..? Kasihan den raffi."
  "Ya sudah kalo memang memungkinkan, kamu bawa pulang saja ke jakarta. Dan segera kamu antar ke rumah sakit terdekat. Nanti kalo ada apa-apa hubungi ibu. Biar ibu yg tanggungjawab."
  "Baik bu.. Maturnuwun.."
Pak tedi pun membawa raffi ke salah satu rumah sakit terdekat di jakarta. Hingga raffi benar-benar ditangani khusus oleh dokter yang bersangkutan disana. Mama terus meminta pak tedi untuk memantau perkembangan nya, meski ia harus bersembunyi tanpa sepengetahuan raffi yang saat itu belum juga sadarkan diri. Namun perlahan tapi pasti, raffi kini mulai sadar. Bahkan ia mulai menanyakan keberadaan nya kini. Ia berusaha untuk melepaskan selang infus yang masih menancap kuat di pergelangan tangan kanan nya. Ia berusaha untuk bisa pergi dari tempat itu. Entah apa yang ingin dia lakukan, apa yang membuatnya enggan untuk berlama-lama disana. Meski dokter sudah melarang keras, tapi raffi tetap bersikeras untuk bisa keluar dari sana. Hingga akhirnya ia berhasil kabur, dan sekarang dia ada disini. Sebaiknya kamu temui dia, dan jangan kecewakan dia. Apa perlu mama ajak dia kesini..?"
  "Tidak usah mah, biarkan aku yang turun menemui nya."
  "Kamu yakin, kamu bisa?? Apa kamu kuat??"
  "Ya.. aku akan baik-baik saja.."
  "Baiklah... Sebaiknya kamu siap-siap, mama tunggu kamu dibawah" Mama pun pergi begitu saja. Aku sejenak terdiam, menelaah setiap ucapan mama kepada ku. Apakah benar yang dikatakan mama tentang raffi? Apakah yang raffi lakukan itu semua ada hubungan nya dengan ku?? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kini muncul dibenak ku saat ini.

"Raffi, kamu gak ikut pulang bersama ku?" 
 "Lebih baik kamu pulang dulu."
 "Kamu yakin gak apa-apa aku tinggal? Kamu terlihat sangat pucat, raffi?? Apa kamu baik-baik saja?"
  "Kamu tak usah khawatirkan aku. Kamu hati-hati dijalan. Jangan lupa kabari aku."
Masih terekam jelas dalam ingatan ku, saat berulang kali aku menanyakan kondisi nya. Mengajak nya untuk ikut bersama ku. Namun berulangkali juga ia mengalihkan pembicaraan nya. Apa mungkin raffi berbohong hanya untuk mengurangi rasa ke khawatiran ku pada nya?

  "Raffi kabur dari rumah sakit"
  "Raffi jatuh, dan sempat tidak sadarkan diri."

Sebenar nya apa yang ada di pikiran nya saat ini?? Mengapa ia lakukan itu..?? Mengapa ia lebih memilih untuk mengutamakan ku dari pada diri nya sendiri? Jika memang benar ia melakukan itu, aku rasa..... Ahh .. sudahlah, mengapa aku jadi memikirkan nya? Bertanya-tanya kepada diri sendiri yang sudah pasti tidak akan tahu jawaban nya. Kini aku harus segera turun untuk menemui nya. Bila perlu aku akan tanyakan hal ini langsung kepada nya.

  "Kamu sudah menunggu lama??"
  "Em.. lumayan.." ucap raffi datar, aku pun kini mulai duduk disamping nya. Memandang lekat tubuh nya yang kini berada persis disamping ku.
  "Bagaimana keadaan mu sekarang? Aku sangat mengkhawatirkan mu saat dinar menghubungi ku dan mengatakan kamu sakit."
  "Dinar??"
  "Ya.. Dinar." Ucap raffi
  "Ya Tuhan..." Pikir ku
  "Dia menelpon ku, memberi kabar kalo kamu sedang sakit. Maka dari itu aku kesini, hanya ingin melihat kondisi mu."
  "Dengan cara kabur dari rumah sakit?" Aku hanya memandang lekat kearah nya. Mencoba mencari-cari kebenaran atas rasa penasaran ku selama ini. Namun melihat dari ekspresi nya, seperti nya raffi benar-benar sulit untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
  "Raffi,, kenapa kamu lakukan itu?? Apa kamu gak lihat, bagaimana kondisi mu sekarang?"
  "Aku.. em.. aku.." raffi seolah tak bisa menjawab nya, hanya keringat bercucuran yang nampak di wajah nya. Kondisi badan yang belum terlalu fit, membuat raffi terlihat pucat. Dan... 
  "Awwww... " Aku memang sedikit menoleh kan wajah raffi kearah kiri. Ku lihat luka di pelipis matanya yang belum sempat mengering, dan masih terbalut perban basah bercampur darah.
  "Biar aku obati luka mu"
  "Nagita, kamu gak usah repot-repot. Aku gak apa-apa.." ucap raffi yang segera menahan ku untuk pergi.
  "Tapi raffi,,,??" raffi pun segera menepis tangan ku yang sempat mengenai luka nya. Dijauhkan nya tangan ku dari wajah nya, namun tidak untuk melepaskan genggaman nya. Raffi malah memegangi erat kedua tangan ku. Dan mendudukkan ku kembali sejajar dengan nya.
  "Percaya lah, luka ini tak akan terasa sakit lagi, karena sesungguhnya penawar sakit itu adalah kamu. Aku kesini, cuma untuk memastikan kondisi kamu. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu. Aku tak perduli dengan apa yang aku lakukan dan apa yang aku rasakan. Yang penting aku bisa menemui mu disini."
  "Raffi,,,, "
  "Sssstttt,,, Kamu gak usah cemas seperti itu. Ini cuma luka biasa, sebentar lagi juga kering. Percayalah, aku akan baik-baik saja" Ucap raffi yang tersenyum kearah ku. Ku menatap lekat kedua bola mata nya, yang seakan tak ingin aku khawatir dengan diri nya yg sekarang. Meski dengan kondisi nya yang seperti ini, raffi masih saja memikirkan ku. Bahkan ia sama sekali tak memikirkan bagaimana kondisi nya saat ini yang masih sama-sama membutuhkan perawatan intensif. Tapi meski begitu, raffi masih terlihat begitu tenang. Pembawaan nya yg santai mampu membuat ku percaya akan ucapan nya, kalo dia akan baik-baik saja. Hingga aku tak begitu khawatir melihat nya.

  "Oya, aku punya sesuatu untuk mu. Kamu tunggu disini. Jangan kemana-mana. Aku akan kembali.." raffi pun pergi, entah kemana. Yang jelas, aku melihat raffi yang berjalan keluar. Seolah ia ingin mengambil sesuatu didalam mobil nya. Dan jelas saja...
  "Kamu..?"
  "Kamu menyukai nya..?"
  "Raffi,, kamu masih sempat belikan ini untuk ku??" Ya.. raffi memberikan se ikat mawar putih untuk ku. 
  "Aku tahu, aku salah. Maafkan aku yang sudah membuat mu cemas. Nagita, aku tak akan memaksa mu untuk mencintai ku. Tapi izin kan aku untuk selalu ada di dekat kamu, disaat kamu membutuhkan ku. Aku janji, aku tak akan mengulangi nya lagi. Kamu gak usah khawatir, aku akan selalu ada untuk kamu, yang siap menjaga dan melindungi kamu sampai kapan pun itu.." Ucap raffi yang tersenyum kearah ku, dan menyambut ku dalam dekapan nya. Seakan melepaskan rindu dalam belaian nya. Mungkin benar, cinta selalu membuat kita merasakan hal-hal aneh, tapi nyata. Saat kita bertemu dengan orang yang kita suka, bahkan melihat nya saja mampu membuat hati berdegup kencang. Kita selalu menunggu nya, selalu mencoba mencuri perhatian nya. Tak jarang kita bahkan melakukan hal yang terasa bodoh hanya untuk melihat nya tersenyum atau membuatnya bahagia. Seperti yang raffi lakukan akhir-akhir ini. Jatuh cinta memang indah rasa nya, melewati malam dengan do'a dan harapan. Rindu yang tak pernah usai, atau genggaman jemari yang begitu hangat terasa. Cinta memang sulit untuk ditebak, namun kenangan akan selalu hadir apapun bentuk nya. Lalu, apakah aku mulai jatuh cinta kepada nya? Apa cinta itu hadir kembali di hati ku? Aku memang tak pernah menghapus semua tentang raffi. Baik itu kebaikan nya ataupun keburukan nya, karena bagaimanapun juga raffi pernah menjadi seseorang yang paling berarti dalam hidup ku. Meski ku tahu, hingga saat ini raffi masih mencintai ku. Sedangkan aku...? Entah lah.. yang jelas, saat ini aku mulai terhibur dengan kehadiran nya. Apa yang raffi lakukan mampu membuat mood ku membaik dari sebelum nya. Seperti yang kita rasakan saat ini..
  
  "Apa itu foto key..??" Ucap raffi disela-sela kita berbincang di ruang tengah. Aku memang sengaja memajang foto berdua bersama key di samping meja tv, karena kebetulan semua pigura sudah penuh dengan foto-foto aku dan caca, hanya ada 2 pigura yang masih kosong, hingga aku letakan tepat disamping nya.
  "Iya.. itu aku dan key. Foto yang aku ambil 1 tahun lalu, saat aku masih di australi."
  "Lalu dimana dia sekarang? Apa aku boleh bertemu dengan nya?"
  "Tentu.. tapi .. astaga!" Aku menoleh kearah jam yang bertengger di dinding tempat ku berada saat ini.
  "Klung.. klung.. klung.. " 
  "Aku gak bisa jemput key di sekolah. Aku ada meeting siang ini. Apa kamu bisa menjemput nya? Aku takut key sudah menunggu lama." Ucap caca dalam bbm nya. Mau gak mau aku yang harus menjemput nya.
  "Raffi, aku bisa minta tolong kepada mu?"
  "Katakan lah.."
  "Aku harus menjemput key di sekolah. Apa kamu bisa menemani ku kesana? Aku takut dia sudah menunggu terlalu lama."
  "Lebih baik, kamu siap-siap. Aku tunggu kamu di mobil" Ucap raffi yang dengan segala kerendahan hati nya mau menemani ku untuk menjemput key yang mungkin ini kali pertama nya untuk raffi akan bertemu dengan putri nya.

  "Gi,,.." raffi pun menahan ku, saat aku hendak turun dari mobil nya.
  "Ya..?"
  "Aku.. emm.. aku rasa, aku belum siap untuk menemui nya."
  "Mengapa begitu?? Bukan kah kamu menginginkan nya?" Aku pun menoleh kearah raffi yang masih enggan untuk berbicara dan mengatakan yang sebenarnya.
  "Raffi,,??"
  "Aku gak pantas menjadi seorang ayah untuk nya, mungkin aku bukanlah ayah yang baik untuk nya." Suatu jawaban yang membuat ku yakin, kalo di dalam pribadi yang tenang, terdapat rasa takut yang teramat dalam bagi nya.
  "Raffi, kamu belum mencoba nya. Kamu tahu, dia sangat merindukan mu? Apa kamu tega membuat nya kecewa dengan apa yang kamu lakukan?"
  "Ya.. aku tahu itu. Tapi aku takut gi..." ucap raffi, aku tahu ini tak mudah untuk nya. Rasa takut akan diterima baik atau tidak nya kini mulai masuk dalam pikiran nya. Seolah mengalahkan rasa rindu yang selama ini ia rasakan. 
  "Biar aku yang bicara dengan nya, lebih baik kamu tunggu disini." Aku pun meminta nya untuk tetap stay di mobil. Biarkan aku yang menemui nya, dan sedikit memberi nya pengertian sebelum akhirnya key benar-benar bertemu dengan nya.

  "Mamiiii..." terdengar teriakan yang tak asing di telinga ku. Ku melihat kearah pintu masuk, dan benar saja, key sudah menunggu ku. Entah sejak kapan ia berdiri disana, mungkin aku yang terlalu lama sampai, hingga ia terlihat begitu cemas.
  "I'm afraid, mami." ucap key yang kini berada dipelukan ku. Aku tahu, key pasti sudah menunggu ku sejak lama. Hingga wajar rasa nya jika key berkata seperti itu.
  "Maafkan mami sayang. Sekarang kamu tenang yah? Mami ada disini. Kamu jangan takut lagi, ok?"
  "Ya, mam.." Ucap key yang kembali memeluk ku.
  "Sekarang, mami punya kejutan untuk mu. Tapi key harus janji 1 hal sama mami."
  "Apa?"
  "Mami ingin, key akan selalu ingat pesan-pesan mami, untuk jadi anak  baik, yang selalu mami banggakan. Kamu setuju??"
  "Um'humm.. lalu apa kejutan nya" key pun begitu bersemangat untuk mendengar apa yang akan aku katakan kepada nya
  "Ok. Sekarang, mami tanya 1 hal. Apa key mau bertemu dengan dedy?"
Sejenak key terdiam, semangat yang baru saja ia rasakan kini berubah menjadi hening. Key hanya diam, tak bergeming. Key hanya menatap ku, tanpa 1 kata pun yang keluar dari bibir nya. Mungkin rasa kecewa sempat singgah di hati nya, hingga ia tak ingin merasakan kekecewaan untuk yang kesekian kali nya.
  "Sayang,, Do you hear me?"
  "Ya... i hear you, mam" Ucap key
  "Sayang,,,, Dengarkan mami nak, dedy ada disini. Bahkan dedy yang mengantar mami untuk datang menjemput mu."
  "Are you seriously?" Ucap key yang mulai menatap ku, menunggu kepastian atas perkataan ku.
  "Ya.. Dedy ada di mobil sayang. Dedy sengaja tidak ikut turun, karena dedy ingin memberi kejutan untuk mu. Sekarang, key mau bertemu dengan nya?? Datanglah pada nya sayang, dan ucapkan salam untuk nya. Karena dedy, sudah menunggu mu disana." Aku pun menunjukkan tempat dimana raffi memarkirkan mobil nya. Dan perlahan key pun bergerak menjauh dari ku. Mencoba mengikuti perintah ku untuk datang dan menemui raffi yang sedari tadi menunggu nya disana. Raffi nampak begitu cemas menunggu ku, terlihat saat raffi mulai mondar-mandir kesana-kemari. Mungkin dengan begitu, rasa cemas nya akan hilang dengan sendiri nya. Tapi sepertinya, itu tidak berlaku untuk nya.
  "Lebih baik aku tunggu di dalam mobil saja." Pikir raffi
  "De..dy...?" Ucap key pelan, namun cukup membuat raffi terdiam. Terdiam untuk beberapa saat, hingga akhirnya raffi pun berbalik kearah ku. Yang mungkin jarak nya hanya beberapa meter saja dari tempat dimana ku berdiri.
  "Mami,,, " Key pun berlari kearah ku. Memegang erat kedua tangan ku, seolah tak ingin jauh dari ku. 
  "Ayo lah sayang, jangan kecewakan dedy." Perlahan ku lepaskan jemari nya yang mulai menguat di tangan ku. Ku biarkan key untuk berjalan sendiri, mendekat kearah raffi. Hingga akhirnya tepat dimana key berada pada 1 garis lurus dengan raffi. Bahkan kini raffi bisa melihat jelas wajah putri nya dengan jarak yang begitu dekat.
  "Hai princess?" ucap raffi yang mulai terbata-bata. Raffi mencoba untuk bisa menahan semua perasaan nya. Menahan semua ego nya untuk tidak terlalu berharap bila key akan menerima sebagai ayah biologis nya. Raffi sadar atas apa yang pernah dilakukan nya, raffi tak bisa memaksa key untuk bisa menerima kehadiran diri nya. Hingga akhirnya raffi perlahan mulai bangkit dari tempat persinggahan nya, mencoba untuk menjauh dari hadapan nya. Namun seketika saja,,, 
  "Jangan pergi.. " ucap key yang menahan kepergian nya. Bahkan jemari tangan nya mampu membuat raffi tertahan untuk beberapa saat.
  "Aku mohon, jangan pergi.." ucap key lagi. Dengan segenap perasaan nya, raffi pun berbalik kearah key yang masih mematung di hadapan nya. Tangan nya yang mungil itu berhasil di rengkuh oleh raffi, dan menuntun nya untuk lebih dekat lagi dengan nya. Raffi mulai menatap wajah key yang saat itu hanya berjarak beberapa senti saja dari wajah nya. Membelai nya, dan sesekali mengusap airmata key yang sempat menetes di pipi nya. 
  "Dedy.." ucap key disela-sela tangis nya. Raffi pun langsung memeluk key dengan penuh cinta, mendekap erat dengan kasih yang mungkin selama ini belum pernah ia lakukan pada putri nya. 4 tahun menunggu untuk bisa merasakan hangat nya di peluk sang ayah, membuat ku sadar.. tak akan ada yang bisa menggantikan posisi di hati nya. Ikatan bathin pun tetap ada, darah yang mengalir pun begitu pekat terasa. Meski aku tahu, mungkin ini pemandangan yang belum pernah aku lihat sebelum nya. Huhhfff,, rasa nya hilang sudah beban ku dengan segenap rasa bahagia yang aku rasakan saat ini. Aku seolah larut dalam rasa haru, yang mungkin tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. Bahagia mu adalah bahagia ku, sedih mu adalah sedih ku, dan akan selama nya seperti itu, hingga nanti saat nya kamu mengerti, betapa aku sangat menyayangi mu, putri ku..

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

Monday, October 19, 2015

Life in future with you--- part 11

Life in future with you--- part 11

 ("Dedy??"
  "Ya, dedy.. Kamu sangat menyukai nya, bukan??"
  "Ya.. Aku sangat menyukai nya. Tapi kenapa bukan dedy yang memberikan lagsung untuk ku? Kenapa harus mami??"
  "Dedy ada keperluan lain sayang. Tapi dedy janji, secepat nya dedy akan datang kesini."
  "Really??" tanya key
  "Ya sayang,, dedy juga titip salam untuk mu. Kata nya salam sayang untuk my princess."
  "Thanks mam, love you.." morning kiss itu pun mendarat di kedua pipi ku. Itulah yang mungkin tak didapatkan oleh para ibu yang ada di dunia ini. Key memang begitu manis memperlakukan ku. Kadang dibalik sifat manja nya, terselip kedewasaan yang tak jarang membuat ku bangga.)

  "Sekarang key siap-siap, kita turun. Oma dan aunty pasti sudah menunggu kita dibawah untuk sarapan."
  "Baiklah..."
Hari itu, memang tak ada kegiatan lain selain duduk bersantai. Setelah semua pekerjaan rumah aku selesaikan dengan cepat. Hingga aku bisa memiliki waktu yang cukup untuk sejenak merilekskan tubuh yang masih terasa sakit. Mungkin itu semua karena 2 malam terakhir ini aku kurang tidur. Hingga aku merasakan sedikit pusing. Aku menyandarkan tubuhku yang mulai lemas di sofa panjang. Berharap ini cuma pusing biasa, dan pasti nya tidak akan terjadi apa-apa pada ku.
  "Mba... Kamu kenapa??" aku sempat terkaget. Entahlah, sejak kapan caca berdiri dan berada di hadapan ku. Bayangan ku sempat kabur, hanya gelap yang ku rasa saat itu. Sampai akhirnya aku sadar, bahwa caca sudah berada persis disamping ku.
  "Kamu baik-baik saja??" ucap caca lagi yang mulai duduk disebelah ku. Aku sedikit memperbaiki posisi duduk ku.
  "Aku gak apa-apa." 
  "Kamu yakin?!" tanya caca lagi. Mungkin ia kini mulai memperhatikanku dan seperti nya caca mulai khawatir dengan keadaan ku.
  "Ya,tentu... Key mana??" saat aku tak melihat key disampingnya. Sekaligus mengalihkan kecurigaan caca terhadap ku.
  "Ada.. Dia lagi asik dengan mainan baru nya. Aku dengar itu dari raffi, benar begitu??" Aku tahu, key pasti sudah bercerita kepadanya. Dan pasti nya caca mulai kepo dengan semuanya.
  "Ya.. " suatu jawaban singkat, berharap caca tak akan mengingtrogasi ku dengan pertanyan lain tentang nya. Tapi... Sepertinya aku salah. Karena percuma saja, caca malah melontarkan beberapa pertanyaan kepada ku soal raffi
  "Lalu, bagaimana dengan hubungan mu sendiri? Sudah kah ada titik terang diantara kalian?"
  "Huuuffttt.." pikir ku,
  "Entahlah, aku pun masih ragu."
  "Ragu?? Aku pikir dengan begitu kamu akan menerima nya kembali, dan hidup bahagia dengan keluarga kecil mu." ucap caca, aku hanya menaikkan bahu ku dan menurunkan nya kembali.
  "Aku tak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Biarlah mengalir dengan sendiri nya. Kalaupun aku kembali dengan raffi, maka aku pun akan memilih waktu yang tepat untuk mengatakan itu semua."
  "Kamu terlihat sangat pucat.." ucap caca
  "Sungguh??"
  "Em'heum.. Sebaiknya kamu istirahat.." ucap caca
  "Ya, sepertinya begitu.. tapi.. bagaimana dengan key??" aku pun menoleh kearah key yang sedang asik bermain dengan boneka baru nya. Ini hari liburku, hari dimana selalu aku tunggu untuk bermain dengan nya. Mana mungkin aku melewatkan 1 hari bersamanya.
  "Biar aku yang jaga dia. Lagi pula, kamu belum istirahat, bukan??"  
Ya.. Memang benar. Sepulang nya dari puncak aku langsung beres-beres, hingga aku belum sempat istirahat. Dan mungkin benar apa yang diucapkan caca. Aku harus istirahat, sebelum semua nya terlambat.
  "Baiklah, aku ke kamar dulu."
Aku pun langsung naik ke kamar. Rasa nya aku tak sanggup lagi untuk berjalan. Hingga aku hanya bisa berbaring diranjang. Berharap dengan begitu, sakit yang ku derita akan hilang dengan sendiri nya. Ku coba untuk memejamkan mata, namun seperti nya aku tak bisa. Entahlah, apa yang membuat ku sulit melakukan nya, sebenarnya apa terjadi pada diriku saat ini?

  "Tok... Tok... Tok.." begitu nyaring terdengar di telingaku. Ketukan itu berkali-kali terdengar oleh ku.
  "Siapa?"
  "Ini mama sayang.." ya.. rupanya mama sudah pulang.
  "Silahkan masuk mah.." aku pun mempersilahkan mama untuk masuk, meski aku tak bisa membukakan pintu untuk nya.
  "Mama ganggu istirahat kamu??" Mama mulai berjalan mendekati ku. Mungkin mama sudah mendengarnya dari caca tentang aku.
  "Gak mah, lagi pula aku cuma rebahan saja. Mama baru pulang??"
  "Iya, tadi ke butik. Kamu sakit?"
  "Aku cuma pusing sedikit.. Mungkin sebentar lagi reda. Mama tenang saja." aku mencoba untuk menutupi sakit itu dari mama. Berharap mama tidak lagi cemas memikirkan ku. 
  "Jangan pernah menganggap sepele akan sakit mu. Mama paling gak suka kamu bohongin mama akan hal itu" mama pun mulai menatap ku serius. Seolah mama tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku memang tak bisa menyembunyikan 1 hal apapun dari mama. Hingga aku seolah tak bisa berkata apa-apa lagi kepadanya.
  "Apa perlu mama antar kamu ke rumahsakit??"
  "Mah,, aku cuma pusing biasa. Sebentar lagi juga sembuh. Mama tak usah khawatirkan aku seperti itu. Percayalah, tak ada yang serius, aku hanya butuh istirahat."
  "Kamu yakin?? Kali ini kamu gak bohongi mama??"
  "Ya.. " aku pun tersenyum kearahnya, setidaknya aku bisa meyakinkan nya untuk saat ini. Meski ku tahu, apa yang aku lakukan itu salah. 
  "Kamu sudah makan? Biar mama ambilkan makanan."
  "Gak usah mah,,"
  "Tapi kamu belum makan dari siang, sayang! Gak.. gak.. pokoknya sekarang kamu harus makan" Aku tau mama begitu mengkhawatirkan kondisi ku. Suatu niatan baik seorang ibu yang pastinya akan dilakukan oleh ibu-ibu lain yang ada di dunia ini. 
  "Mah... Aku gak mau makan."
  "Lalu kamu mau apa??" ucap mama ku.
  "Aku... aku cuma ingin mama duduk disini, dan temani gigi. Mama mau menemani ku disini..?" mama hanya tersenyum kearah ku, dan mengusap ujung kepala ku. Aku tahu, mama gak mungkin menolak permintaan ku. Setidaknya aku gak sendirian di kamar, ada mama yg selalu menemani ku, dan menjaga ku dikala ku sakit. Meski ku kini sudah menjadi seorang ibu. Walaupun kini aku sudah tak lagi menjadi puteri kecilmu, tapi aku masih ingin dimanja oleh mu, menjadi nagita yang dulu. Yang selalu bisa dibelai oleh kelembutan tangan seorang ibu.

Saat garis keriput sudah mulai tampak di wajahnya, helaian putih sudah mulai tumbuh di rambutnya, dan kulitnya pun sudah tak lagi selembut dulu. Aku tahu kalau dirimu sudah tak lagi muda, dan aku sadar usiamu sudah semakin tua. Terkadang aku melihat ada kesedihan yang tersirat dari senyumanmu, ada tawa yang terasa hampa, dan ada air mata yang kadang jatuh membelai pipimu. Kadang aku ingat akan jasamu, saat kau menyuapiku, menyisir rambutku, memakaikan bajuku, menggunting kukuku, menggendongku di punggungmu, membacakan buku cerita sebelum aku tidur. Bahkan saat kau mengajariku berjalan, berbicara, membaca, mengikat tali sepatu, sampai mengajariku memakai baju dengan kesabaran yang penuh kasih sayang. Dan sampai saat ini, aku telah memberimu seorang cucu, kau tetap mengajariku untuk menjadi pribadi yang baik. Menjadi seorang anak yang berbakti, dan menjadikan nya orang-orang yang berhasil. Tak ada pengajar yang lebih baik darimu untuk hidupku. Kini aku tlah tumbuh dewasa, bahkan aku sudah memiliki hidupku sendiri. Kini aku pun mulai merasakan apa yang engkau rasakan selama ini. Bagaimana engkau didik putri-putri mu hingga mereka tumbuh dewasa. Dan itu tak semudah yang ku bayangkan. Semua itu butuh perjuangan. Meski kadang aku merasa bosan dengan segala aturan mu. Tapi perlahan aku sadar, apa yang kau ajarkan selama ini membuat hidupku lebih terarah. Dan kini, aku benar-benar mengulangi apa yang kau lakukan dulu kepada ku. Yang kini ku terapkan itu pada putri kecil ku.
Walau waktu semakin berlalu, ketulusan dan kasih sayangmu masih tetap sama, tak ada satupun yang berbeda. Aku sadar kalau kini kau sudah lanjut usia, aku sadar kalau kini kau sudah tak sekuat dulu, tubuhmu semakin ringkih, perasaanmu semakin sensitif, dan pemikiranmu selalu diselimuti oleh kecemasan. Maafkan aku, jika selama ini banyak waktu yang tak ku luangkan untuk bersamamu, banyak kesempatan yang ku lewatkan hanya untuk berbicara denganmu, dan banyak keegoisanku yang selalu mengedepankan keinginanku tanpa memikirkan perasaanmu.
  "Mah .. "
  "Iya, sayang??" ucap mama yang masih membelaiku dengan sentuhan lembut tangan nya.
  "Maafkan aku..... Maaf jika aku belum bisa membahagiakan mu dengan apa yang aku miliki salama ini." kalimat yang sebenarnya sudah lama ingin aku sampaikan kepada mama. Mungkin, aku terlalu egois. Selama ini, aku hanya mementingkan diri ku sendiri. Tak memperdulikan bagaimana perasaan orang-orang disekitar ku, terutama mama. Bahkan aku lupa kapan membuatnya tersenyum bahagia seperti dulu. Seperti saat aku mendapat peringkat 1 di sekolah, saat aku memperoleh penghargaan olimpiade Sains dan Matematika ditingkat provinsi, bahkan masih banyak lain nya. Hingga papa harus membuatkan 1 almari khusus untuk menyimpan semua penghargaan-penghargaan yang berhasil ku peroleh, itu pun rasa nya tak cukup untuk menampung semua nya.
Namun, seketika saja keceriaan itu berubah menjadi awan gelap. Kejadian yang aku alami beberapa tahun yang lalu seakan mengubah semua nya, mengubah keadaan menjadi 180 derajat dari biasa nya. Apa yang aku lakukan sudah membuatnya benar-benar kecewa. Dan itu lah alasan mengapa awan mendung selalu menyelimuti hati dan perasaan nya hingga kini. Meski mama tak pernah mengungkapkan itu, dan selalu mencoba untuk menutupi semua nya dari ku, tapi aku sadar, aku salah. Hingga wajar jika aku meminta maaf kepada mama, meminta maaf atas apa yang pernah aku lakukan kepada nya. Berharap suatu saat nanti aku bisa mengubah tangis dan kesedihan mu itu menjadi tawa bahagia. Mama mulai menatap ku serius, seolah sibuk merangkai kata. Sebelum akhirnya...
  "Sayang,, dengarkan mama nak.
Mama sudah cukup bahagia dengan kalian yang sekarang, yang kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa. Kebahagiaan kalian, adalah kebahagiaan mama. Dan mama akan melakukan apapun untuk bisa membahagiakan kalian. Percayalah, mama akan selalu ada untuk kalian. Jangan pernah berfikir seperti itu, karena mama gak pernah berharap lebih. Cukup kalian berada di dekat mama, itu semua lebih dari apa yang mama inginkan selama ini." mama pun langsung memeluk ku. Mendekap erat tubuh ku. Kasih sayang yang kau beri untuk kedua putri mu sangat lah besar. Hingga aku selalu berfikir bagaimana cara untuk bisa membalas semua apa yang kau beri untuk ku selama ini. Tapi rupanya itu semua tak cukup untuk menggantikan seluruh letih mu, dan perjuangan mu selama ini. Memang benar, jika kasih ibu itu sepanjang masa. Karena sampai kapan pun beliau akan tetap menyayangi mu. Aku selalu berharap, tak akan ada lagi airmata yang kau teteskan hanya karena kesalahan ku. Karena aku hanya ingin selalu melihat senyumanmu, aku ingin selalu merasakan kehangatanmu. Terimakasih atas segalanya yang telah engkau berikan dalam hidupku ini. Terimakasih atas segala do'amu yang menyebutkan namaku, dan Kau akan selalu menempati posisi teratas dalam hatiku, dan namamu akan selalu aku sebut di setiap do'aku.

****
Keesokan hari, aku masih terkulai lemas di tempat tidur ku. Tapi aku masih ingat dengan tanggungjawab ku dikantor. Hingga aku memutuskan bersiap-siap untuk pergi ke kantor pagi itu juga. Meski masih dengan keadaan sakit seperti ini.
  "Kamu mau kemana?? Lebih baik kamu istirahat, mama sudah panggilkan dokter untuk mu" ucap wanita paruh baya yg tiba-tiba saja masuk kedalam kamar ku.
  "Mama..?" Pikir ku, padahal aku baru saja hendak turun dari tempat tidur dan ingin bersiap-siap ke kantor. Tapi bagaimana dengan mama...???
  "Kali ini kamu harus dengarkan apa kata mama."
  "Tapi mah..."
  "Tetaplah disitu, dan jangan memaksakan diri untuk pergi, karena itu akan membahayakan mu."
Apa yang bisa ku lakukan sekarang?? Yang ada aku hanya diam, dan menunggu hingga dokter datang dan selesai memeriksa kondisi ku saat ini.
  "Bagaimana keadaan putri saya dok? Apa dia baik-baik saja?" Ucap mama ku sesaat setelah dokter melepaskan alat tensimeter di lengan kanan ku. Kecemasan itu terlihat dari wajah nya yang menatap serius kearah dokter yang sibuk memeriksa keadaan ku saat itu.
  "Tidak ada yang serius. Ibu tidak usah khawatir. Dia cuma kelelahan. Saya akan memberinya multivitamin, sebaiknya diminum. Dan jangan lupa perbanyak istirahat, karena itu akan mempercepat kesembuhan nya." 
  "Baiklah dok, terimakasih.." dan dokter itu pun pergi.

  "Kamu dengarkan apa yang dokter katakan barusan?" Mama menatap ku tajam, seakan memberi ku peringatan keras untuk tidak beraktifitas seperti biasa terlebih dahulu. Ya... seperti nya aku harus off dari kantor untuk sementara waktu, hingga nanti sampai kondisi ku membaik.
  "Mam.. " key pun berjalan pelan kearah ku yang masih terduduk di tempat tidur. 
  "Oma, mami kenapa? Mami sakit ya?" Ucap key
  "Sini sayang, key mau sekolah ya?"
  "Mami belum jawab pertanyaan ku, apa mami sakit?" Tanya key lagi
  "Mami gak apa-apa sayang"
  "Sungguh?? Mami gak lagi bohong kan??" Ucap key lagi
  "Ya ... Just plain dizzy sayang. Sebentar lagi juga mami akan sembuh, kamu jangan khawatir ya..?"
  "Key sayang mami, key gak mau lihat mami sakit." Seraya memeluk ku dengan erat.
  "Key, biarkan mami istirahat sayang. Key ikut oma yuk, kita sarapan." Ucap mama ku
  "Tapi oma,,, aku masih ingin tetap disini." Ucap key 
  "Baiklah, oma akan meminta tolong bi inah, untuk membawakan makanan nya kesini." mama pun pergi kebawah, untuk menyiapkan beberapa makanan untuk kita berdua. Sedangkan aku dan key duduk manis diatas ranjang sampai bi inah pun datang dengan membawa makanan yang sudah mama siapkan sebelum nya. Sebelum akhirnya key pergi ke sekolah, dan meninggalkan ku sendiri didalam kamar.
Sungguh, sesuatu yang sangat menjenuhkan. Tak ada yang bisa aku kerjakan disini. Dan aku tak biasa untuj berdiam diri seperti ini. Apalagi harus istirahat total tanpa ada kesibukan yang biasa aku lakukan dan kerjakan setiap hari.

  "Din,, apa yang harus aku lakukan?"
  "Maksud kamu??"
  "Ya... apa yang bisa aku perbuat?? Sungguh, aku tak bisa seperti ini." Dinar hanya tersenyum pelan menertawakan ku. Aku memang menelpon nya untuk sekedar bercerita. Tapi bukan untuk ditertawakan oleh nya.
  "Apakah ada yang lucu dari perkataan ku?"
  "Upsss.. sorry. Tapi jujur, malam itu sungguh romantis, bukan?" Ucap dinar
  "Hah..?? Darimana dinar tahu akan hal itu..?" Pikir ku.
  "Kok diam..?"
  "Maksud kamu??"
  "Ya Tuhan.. kamu masih nanya maksud aku?? Gi, raffi sangat mencintai kamu."
  "Lalu..?"
  "Apa kamu tak bisa sedikit membuka hati untuk nya?"
  "Entahlah, aku masih belum bisa menjawab semua nya."
  "Apa yang membuat mu ragu sampai detik ini? Apa kamu takut, raffi akan memperlakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan dulu?"
  "Maybe.. "
  "Oke, sekarang aku mengerti. Sebaiknya kamu istirahat. Lagi pula ada yang harus aku kerjakan."
  "Baiklah, aku serahkan semua nya kepada mu. Kabari aku, jika ada sesuatu yang penting untuk ku."
  "Ya.. pasti nya." Aku pun mengakhiri pembicaraan singkat ku dan dinar siang itu.

Aku sejenak berfikir, akan kah aku menerima raffi kembali kedalam kehidupan ku?? Apakah aku siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi di kemudian hari?? Apa aku siap dengan konsekuensi nya menjadi Ny. Raffi yang pernah aku bayangkan sebelum-sebelum nya..?? Entahlah, mengapa aku jadi memikirkan nya ..?
  "Kamu kenapa melamun seperti itu??" Ucap mama yang mengagetkan ku.
  "Mama...? Sejak kapan mama disini?"
  "Emmm, sejak beberapa menit yang lalu." Ucap mama ku
  "Maksud mama..??"
  "Ya.. mama dengar apa yang kalian bicarakan. Lalu, apa lagi yang kamu tunggu sayang??" Ucap mama
Entahlah apa yang harus aku katakan kepada mama. Jujur, aku pun bingung...
  "Sayang, key begitu antusias ingin bertemu dengan dedy nya. Dan mungkin juga sebaliknya nya."
  "Aku tahu itu, mah.."
  "Lalu, kapan kamu akan membawa nya kesini??"
  "Aku sudah mengajak nya, tapi raffi belum ada waktu untuk menemui nya. Dia terlalu sibuk dengan urusan nya."
  "Mengapa demikian? Mungkin dia ada alasan lain yang kamu tak tahu??"
  "Entahlah, ada atau tidak, aku tak ingin memaksa nya."
  "Mama yakin, raffi bukan orang yang seperti itu."
  "Maksud mama??" Aku mulai bingung dengan apa yang mama ku katakan. Sebenarnya kemana arah pembicaraan ini??
  "Raffi ada di sini, dan ia ingin bertemu dengan mu." Ucap mama ku
  "Raffi..?" Pikir ku.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

Sunday, October 11, 2015

Life in future with you--- part 10

Life in future with you--- part 10

(Tapi apa daya, derai hujan yang turun tak bisa menghentikan niat nya untuk mengecek langsung kondisi mobil nya saat ini. Merasa tak memperoleh hasil, raffi pun masuk kembali kedalam mobil. Dengan kondisi setengah basah, raffi mencoba mengambil telephone nya dan segera menghubungi seseorang.
  "Gimana?"
  "Gak ada jalan lain, seperti nya kita harus bermalam disini. Kita tunggu sampai hujan reda." Pilihan yang sangat tidak aku inginkan sama sekali. Apa yang aku khawatirkan ini benar-benar terjadi.)

  "Kita harus cari penginapan,," ucap raffi
  "Penginapan?? Kamu bilang penginapan?? Mau cari dimana??? Lagi pula ini hujan gede banget raffi. Mana mungkin kita bisa keluar dari sini dengan keadaan hujan seperti ini. Kamu ..."
  "Kita harus keluar dari sini!" ucap raffi
  "Ya tapi..."
  "Sudah lah, cepat pakai ini! Aku akan membukakan pintu untuk mu." Baru kali ini rasanya raffi membentak ku. Tapi apa mau dikata.. Tak ada jalan lain, aku harus tetap ikut bersamanya. Menerjang hujan yang turun membasahi bumi. Sekedar mencari tempat untuk berteduh. Namun seperti nya tak kita dapati penginapan disekitarnya. Bahkan rumah penduduk pun seperti nya jarang ditemui disini. Yang ada hanya rumah tua, kecil dan seperti nya tak berpenghuni.. namun setidak nya cukup untuk berteduh sementara waktu.
  "Raffi, tunggu.... " aku mencoba menghentikan langkah kaki nya yg perlahan menjauh dari ku.
  "Iya.. ?"sahut raffi 
  "Maafkan aku.." aku sadar, aku salah. Ini bukan keinginan nya. Dan harus nya aku berterimakasih, bukan malah membuat nya emosi hingga sedikit membentak ku tadi.
  "Ini bukan salah mu. Tapi aku gak bermaksud seperti itu, apa lagi harus membentak mu. Aku cuma takut....... "
  "Takut???"
  "Sudah lah, lupakan saja. Kamu tak usah memikirkan hal itu." ucap raffi
  "Kamu mau kemana?"
  "Aku mau cek kedalam sebentar.." ucap raffi
  "Jangan lama-lama.." 
  "Aku gak akan lama.. Kamu tunggu disini, aku akan kembali.." raffi pun berlalu begitu saja, meski ku tahu raffi bukan lah orang yang pemberani seperti yg ku lihat saat ini.

  "Aaaaaaa"
  "Iihhh raffiiiii!!.. Kenapa kamu ikutan teriak??"
  "Aku takut..! Takut gelap.."
  "Raffi, kamu itu cowok. Gak seharus nya kamu memiliki rasa takut seperti ku."
  "Memangnya kalo cowo gak boleh TAKUT?? Lagi pula takut itu ilmiah, so.. Fine-fine saja."
  "Iiiihhh... Kalo kita sama-sama takut, gimana cara nya kamu melindungi aku kalo kamu sendiri seperti ini??"
  "Ya ya.. Tapi gimana caranya aku bisa menghilangkan rasa takut itu?"
  "Entahlah... Kamu harus memikirkan itu sendiri."
  "Sayang,,.? nagita..? Tunggu aku! Jangan tinggalkan aku sendiri."

  "Nagita... Nagita... Hei, Kamu gak apa-apa..?" seru raffi, aku sempat terkaget, saat lambaian tangan singgah di depan mata ku. Lamunan itu seakan hilang begitu saja.
  "Gak.. Aku gak apa-apa." segera ku tepis semua lamunan itu. Raffi yang dulu, kini seolah berubah 180 derajat. Sosok yang ku lihat saat ini dihadapan ku, bukan lah raffi yang penakut. Melainkan raffi yang bisa melindungi setiap orang yang ada disamping nya.
  "Ayo masuk..." raffi pun mengajak ku untuk masuk ke dalam. Mengingat udara diluar sangatlah dingin. Dan aku sangat terlindungi oleh jaz raffi yg melekat di tubuhku saat ini. Sedangkan raffi...???
  "Baju kamu basah. Sebaiknya kamu pakai jaz ini." ku lepaskan jaz nya dan ku kembalikan lagi ke pemilik nya. Karena aku yakin ia pasti lebih membutuhkan ini dibandingkan diri ku yang hanya basah dibagian kepala.
  "Kamu pakai saja, aku gak apa-apa. Lagi pula sudah ada lilin ini yg akan menghangatkan aku. Percayalah..." ucap raffi
  "Kamu yakin..? Bagaimana kalo kamu sakit?"
  "Aku akan meminta mu untuk merawat ku. Simple bukan?" raffi pun melontarkan senyuman ke arah ku. Disaat kondisi seperti ini, ucap raffi masih bisa mengundang tawa. Dan aku berharap semoga tak terjadi apa-apa dengan nya.

Raffi pun duduk di kursi panjang, samping lilin. Aku tau raffi pasti kedinginan. Hingga ia hanya bisa mengepal kedua tangan nya tanpa lepas.
  "Boleh aku duduk disini??"
  "Ya.. Silahkan." ucap raffi singkat
  "Kamu dingin?? Lebih baik kamu pakai ini. Setidaknya kamu tak kedinginan seperti itu." ku pakaikan jaz miliknya untuk menutupi bagian tubuhnya yg basah.
  "Makasih.." raffi pun tersenyum simpul kearah ku.
  "Sejak kapan kamu jadi seorang pemberani, bukankah kamu sangat takut akan gelap?" aku pun menoleh kearah nya.
  "Banyak hal. Tapi, mengapa tiba-tiba kau tanyakan itu kepada ku?" tanya balik raffi
  "A.. Aku... Lupakan saja.. " aku pun segera beranjak dari tempat duduk.
  "Ya Tuhan.. Mengapa aku bisa bertanya seperti itu kepada nya?" batin ku, namun seketika saja raffi menahan ku untuk pergi. Menahan ku untuk tetap disini. 
  "Saat tak ada lagi cahaya dalam kehidupan ku. Saat kamu pergi meninggalkan aku." ucap raffi yg masih menggenggam erat tangan ku.
  "Aku..?"
  "Ya.... Kamu tak menyadari hal itu, bukan???? Disaat aku benar-benar merasa sendiri. Disaat orang-orang pergi meninggalkan aku. Bahkan orang yang sangat aku sayang sekali pun pergi meninggalkan aku. Lalu, apa aku harus terus-menerus dihantui rasa takut dengan yang namanya kegelapan?? Itu sama saja membuat ku mati dengan sendiri nya. Mungkin jika aku tak bisa melawan rasa takut itu, aku gak mungkin ada bersama mu disini. Dulu, aku pernah berada dalam 1 ruang kosong. Yang ada hanya aku sendiri. Tanpa teman, tanpa cahaya, hanya gelap, dingin dan sepi yang ku rasa. Hanya detak jarum jam yang terdengar jelas di telinga ku dan menemani setiap hari-hari ku disana. Sesekali terdengar ketukan pintu yang begitu nyaring di telingaku, itu artinya aku harus siap dengan beberapa suntikan yang menancap diurat nadi ku, yang pasti nya akan mengalir di darah ku. Dan itu cukup membuat hari-hari ku semakin bosan. Seolah hidup ku tak berguna. Aku lelah.. Aku hampir putus asa. Lalu untuk apa lagi aku bertahan?? Ingin rasa nya aku mengakhiri hidup saat itu juga, berharap agar tak ada lagi luka di hati ini. Tapi,, itu tak mungkin terjadi. Beberapa orang menjaga ketat aktifitas ku disana. Entahlah, aku tak tahu siapa mereka?? Yang jelas mereka hanya bertugas memberiku obat yang selalu di suntikkan ke tubuh ku selama 5 jam sekali. Bahkan, jika ku merasa sedikit lebih tenang, mereka bersedia memberi ku cerita-cerita ringan yang membuat ku sedikit terhibur. 1 hal yang membuat ku sadar, dan membuatku merasa tertampar. Saat seorang memberi ku buku cerita akan kisah dongeng, dan membacakan layak nya seorang ibu terhadap putra nya. Dan itu cukup membuat ku sadar.
Sadar kalo aku pun akan menjadi seorang ayah, meski aku tak tahu keberadaan mu saat itu. Aku usap air mata dengan kedua jemari ku, dan berusaha untuk bisa melawan semua nya. Perlahan tapi pasti, aku bangkit dari kegelapan itu. Mencari secercah harapan yang mungkin bisa saja terjadi. Meski ku tahu akan banyak rintangan, bahkan mungkin jalan terjal pun siap menghadang ku di depan sana. Tapi aku akan berusaha, berusaha untuk bisa mencapai suatu titik dimana aku akan menemukan kebahagiaan yang selama ini aku nanti." papar raffi,  aku seolah hanyut dalam perasaan. Hingga aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya linangan air mata yang secara tak sengaja mengalir begitu deras dipipi ku.
  "Kamu tak usah khawatir,, aku tak akan lagi memaksa mu untuk menerima ku kembali dalam kehidupan mu. Aku sadar, apa yang aku lakukan selama ini cukup membuat mu terluka. Maafkan aku.. Maafkan aku.." raffi beranjak pergi dari tempat peristirahatan nya, seolah tak ingin terlihat rapuh didepan ku. Meski ku tahu, guratan kesedihan itu nampak jelas di sudut mata nya. Dan aku tak mungkin bisa membiarkannya pergi begitu saja. Aku mencoba mencari keberadaan nya saat ini. Setidak nya aku bisa menenangkan hati dan perasaan nya, meski rasa nya itu tak mungkin bisa menebus segala rasa bersalah ku pada nya. Aku mencoba menelusuri semua sudut yang mungkin saja raffi singgahi, namun seperti nya nihil. Rupa nya raffi berada di tempat lain. Ya... Aku lihat sosok tinggi tegap itu berdiri di teras depan. Dengan posisi kedua tangan bersila. Memandang lekat 100 meter dihadapan nya. 
  "Kamu ngapain berdiri di situ??" ucap raffi, seolah ia tahu kalo aku berada tepat di belakang nya. 
  "Aku... "
  "Masuk lah, aku gak ingin kamu kenapa-napa. Lagi pula ini masih hujan, udara pun masih sangat dingin. Sebaiknya kamu masuk, dan istirahat lah." pinta raffi
  "Aku masih ingin bersama mu disini. Apa aku salah?" aku perlahan mendekat kearah nya.
  "Kamu ini sudah jelas salah, tapi masih saja keras kepala." ucap raffi
  "Raffi....."
  "Mungkin, aku terlalu cengeng untuk jadi seorang laki-laki. Hingga kadang disaat seperti ini, aku hanya terdiam, terpaku dan kadang membisu. Hanya rangkaian butiran bening inilah yang selalu setia menemaniku di kala aku mengingatnya. Mengingat segala kenangan indah dan pedih yang telah ku lalui bersama mu. Tak khayal jika orang menganggap ku gila, hingga aku harus menjalankan serangkaian pengobatan yang cukup lama. Aku tau semua memang sudah terjadi, tapi penyesalan dan rasa bersalah ini tak akan pernah hilang dari benakku. Aku tak akan mampu menghapusnya dari bayangku, aku tak mampu melupakan semua kejadian itu dan aku tak akan pernah mampu membuang semua kenangan itu begitu saja. Aku minta maaf, aku......." 
Aku pun segera memeluk nya. Mendekap erat tubuh kekar nya yang kini membelakangi ku. Itulah kata yang bisa raffi ucapkan kepada ku "maaf". Sungguh, aku tak pernah menyangka bila raffi begitu terpukul dengan keputusan ku. Tapi aku bisa apa??? Aku gak bisa membiarkannya begitu saja. Hidup di jakarta, tak seperti layak nya hidup di luar sana. Bagaimana mungkin aku melahirkan seorang anak tanpa seorang ayah, apa kata orang nanti?? Adat dan budaya jelas sangat berbeda. Dengan aku hamil di luar nikah pun itu sudah melanggar aturan agama. Dan itu yang membuat ku memilih untuk pergi. Bukan berarti aku tak peduli dengan orang-orang sekitar termasuk raffi. Tapi jika orang lain pun mengalami hal yang sama dengan ku, mungkin itulah jalan satu-satu nya yang mungkin ia tempuh. Layak nya pemikiran anak labil, belum mengerti bahwa apa yang di pilih nya itu salah.
  "Apakah kamu mau memaafkan aku?? Memaafkan semua yang telah aku lakukan kepada mu?" seraya memegangi wajah ku dengan kedua tangan nya. Dengan harap aku mau memaafkan nya. Ku lepaskan kedua tangan nya yg sedari tadi bersarang di wajah ku. Aku sedikit mengatur nafas, merangkai kata.. sebelum akhirnya..
  "Aku sudah memaafkan mu raffi. Jauh sebelum aku bertemu dengan mu, aku sudah lebih dulu memaafkan mu."
  "Apa itu arti nya kamu mau menerima ku kembali..??" tanya raffi lagi
  "Maafkan aku raffi, tapi.."
  "Aku janji, aku akan berubah. Aku akan menebus semua kesalahan ku. Aku...."
  "Raffi,,, dengarkan aku. Tolong, beri aku waktu untuk menjawab semua nya. Aku mohon.. "
  "Ok, aku mengerti. Aku akan menerima semua keputusan mu." raffi pun tersenyum kearah ku. Dengan sisa-sisa harapan yang mungkin bisa membuat nya mengerti, bahwa semua nya itu butuh waktu. Dan aku percaya, akan ada saat nya nanti aku bisa memikirkan dan memilih diantara yang baik, untuk jadi yang terbaik di hidup dan mati ku. Ibarat kata, memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu!? Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta pernah tumbuh dihatimu.

Saat malam mulai menyambut pagi, aku mulai tersadar. Sudah Sejak lama aku berada dipelukan raffi. Bahkan lengan raffi pun masih melingkar erat di perut ku.
  "Kamu sudah bangun??" ucap raffi
  "Hemmmpp..?" aku masih setengah sadar, hingga aku tak begitu mendengarkan ucapan raffi.
  "Kamu siap-siap sekarang. Aku sudah menelphone seseorang untuk mengantar mu pulang, dan mungkin ia hampir sampai. Tunggu lah sebentar lagi.." ucap raffi.
Hingga 10 menit berlalu, terlihat mobil merah maroon terparkir di depan rumah ini. Entahlah itu mobil siapa, yang jelas raffi terlihat begitu akrab dengan seseorang yang ada didalam nya.
  "Kamu sudah siap?? Aku antar kamu ke depan." ucap raffi, aku berjalan hingga persis disamping pintu mobil itu.
  "Raffi, kamu gak ikut pulang bersama ku?" 
  "Aku masih menunggu orang lain disini untuk memperbaiki mesin mobil ku yang rusak itu. Lebih baik kamu pulang dulu. Kamu tenang saja, ini mobil ku. Dan itu sopir pribadi ku, namanya roni. Dan dia yang akan mengantar mu sampai rumah." ucap raffi
  "Apa kamu tak ingin pulang bersama ku?? Apa kamu tak ingin menemui putri mu?" ku pun mulai menatap nya. Namun raffi tak bergumam apa pun. 
  "Raffi..?"
  "Aku... Aku pasti akan menemuinya. Tapi gak untuk saat ini. Percayalah, secepat nya aku akan menemui kalian." raffi pun memeluk ku. Seolah meyakinkan ku.
  "Kamu yakin gak apa-apa aku tinggal? Kamu terlihat pucat, raffi?? Apa kamu baik-baik saja?"
Raffi hanya tersenyum kearah ku, dan mengecup pelan kening ku. Dan lagi-lagi aku hanya diam, saat raffi memperlakukan ku seperti itu.
  "Kamu hati-hati dijalan. Jangan lupa kabari aku." raffi pun membukakan pintu untuk ku, sebelum akhirnya aku masuk dan pergi meninggalkan nya sendiri. Maski aku ragu untuk meninggalkan nya, tapi mau gimana lagi? Key pasti sudah menunggu ku di rumah. Rasa nya aku ingin segera bertemu dengan nya. Sehari tak bertemu, membuat ku sangat merindukan nya.

Tepat pukul 05.00 wib, aku tiba dirumah.
  "Kamu sudah pulang?? Mamah begitu mencemaskan kamu. Mamah takut terjadi sesuatu kepada mu." ucap mamah yang langsung menyambut kedatangan ku.
  "Aku baik-baik saja mah. Mamah tak usah khawatir seperti itu. Percayalah, aku gak apa-apa." aku pun tersenyum kearah mamah, untuk sedikit meyakinkan mamah, kalo aku baik-baik saja.
  "Ya sudah. Lebih baik kamu temui key, dia sangat merindukan mu. Sekalian kamu istirahat, kamu pasti capek." ucap mamah ku.
  "Dimana dia sekarang mah?? Aku pun semalaman cemas memikirkan nya."
  "Dia ada dikamar nya." aku segera pergi menemui nya. Melepas rindu yang amat sangat kepada putri tercinta. Dan aku harap, key belum terbangun dari tidur nya. Hingga aku bisa menepati janji ku, untuk berada disampingnya saat key benar-benar membuka mata. Dan benar saja, key masih terlelap dalam mimpi-mimpi indah nya. Key terlihat sangat pulas bersama boneka yang di peluk erat oleh nya. Aku tak tega membangunkan nya, hingga aku hanya bisa membelai rambut nya, dan sesekali aku mencium nya.
  "Mam.." dengan sayup-sayup mata yang masih belum terlihat jelas. Penglihatan nya pun mungkin masih samar-samar.
  "Morning sayang..? Kamu sudah bangun..??" 
  "Mamiiii.....!!"
  "Owwwwhhhh.. Sayang.." aku pun langsung membalas pelukan nya yang begitu aku rindukan.
  "Mami sudah pulang? I miss u so much, mam.." ucap key
  "Miss u too sayang.."
  "Itu apa??" key menoleh kearah kotak berwarna pink yang berada disamping ku.
  "Heumm??"

  "Aku boleh titip sesuatu untuk nya??"
  "Apa??"
  "Aku titip ini untuk nya, sampaikan salam sayang ku untuk my princess."

  "Mam,,?? Are you ok??" aku pun mulai tersadar dari lamunan itu.
  "Oiya, mami punya sesuatu untuk mu. Kamu tunggu disini ya..."
  "Something? What is it?" key pun mulai penasaran dengan apa yang aku ucapkan.
  "This is for you.."
  "Princess?? This is for me??" tanya key penasaran
  "Ya.. Kamu suka??"
  "So look beautiful. I like it, mam." ucap key, aku tahu key sangat menyukai semua yang berbau princess. Tak khayal jika ia langsung berkata seperti itu. Apalagi jika key tahu, kalo ayah nya yang membelikan khusus untuk nya.

  "Mam,,,, kenapa mami belikan ini untuk ku?" ucap key yang masih bersandar di pelukan ku.
  "Memang nya kenapa? Key gak suka?"
  "No.. It is not that"
  "Lalu??"
  "It's very expensive, mami?"
  "I know that. Anyway, I did not buy it."
  "Maksud mami??" key pun menoleh kearah ku.
  "Dedy yang belikan itu untuk kamu sayang"
  "Dedy??"
  "Ya, dedy.. Kamu sangat menyukai nya, bukan??"
  "Ya.. Aku sangat menyukai nya. Tapi kenapa bukan dedy yang memberikan langsung untuk ku? Kenapa harus mami??" key pun mulai kritis, hingga aku bingung harus berkata apa? Aku tau key sangat menginginkan bertemu dengan dedy nya.
  "Key,, dengarkan mami sayang. Dedy menitipkan itu sama mami, semua ada alasan nya sayang. Gak mungkin dedy melakukan nya tanpa sebab. Dedy ada keperluan lain sayang. Tapi dedy sudah janji, secepat nya dedy akan datang kesini."
  "Really??" tanya key
  "Ya sayang,, dedy juga titip salam untuk mu. Kata nya salam sayang untuk my princess."
  "Thanks mam, love you both.." morning kiss itu pun mendarat di kedua pipi ku. Itulah yang mungkin tak didapatkan oleh para ibu yang ada di dunia ini. Key memang begitu manis memperlakukan ku. Kadang dibalik sifat manja nya, terselip kedewasaan yang tak jarang membuat ku bangga.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

Saturday, October 3, 2015

Life in future with you--- part 9

Life in future with you--- part 9

(Namun seperti nya aku tak mungkin menunda kepulangan ku lagi. Kini hanya ada 2 pilihan, pulang larut malam atau ikut raffi yang kebetulan 1 tujuan dengan ku. Dan dengan sangat terpaksa akhirnya aku memilih untuk ikut mobil raffi karena aku tak ingin mengecewakan key yang sudah menunggu ku dirumah.
  "Kalian hati-hati dijalan. Nagita, sampai ketemu nanti. Dan Raffi....?!" ucap paul pun tertahan, paul berbisik pelan ke telinga raffi. Entahlah, apa yang paul katakan. Yang jelas raffi hanya tersenyum kearah nya.)

Aku hanya memandangi nya dari jauh, sebelum akhirnya aku masuk dalam mobil, dan kita pun memulai perjalanan pulang, mengingat hari sudah semakin gelap. Dan aku tak ingin terjebak macet atau pun sampai bermalam di jalanan.

  "Mengapa tak kau tunggu saja dia?? Mengapa kamu malah memilih ikut bersama ku?" Ucap raffi memecahkan keheningan diantara kita.
  "Maksud kamu, paul??"
  "Ya.. Bukankah dengan begitu kalian bisa lebih banyak waktu berdua dengan nya?" Ucap raffi singkat, namun cukup membuat ku terkejut. Aku rasa, mulai ada yang berbeda dalam diri nya. Sikapnya yang dingin terhadap ku, seolah mengingatkan aku akan sosok dirinya yang sangat pencemburu. Tapi apakah mungkin raffi cemburu terhadap paul? Apakah raffi mengetahui sesuatu, yang mungkin saja ada hubungan nya antara kedekatan aku dengan paul akhir-akhir ini? Beberapa pertanyaan pun menyelinap di otak ku saat ini. Tapi aku tak ingin ambil pusing, karena aku rasa itu bukan sesuatu yang harus aku pikirkan. Hingga aku hanya diam, dan tak begitu serius menanggapi nya.
  "Nagita ...?" Namun rupanya raffi pun berusaha untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan nya.
  "Raffi, aku.."
Syuuuuuuutttttt..... laju mobil pun berhenti secara tiba-tiba.
  "Kamu menyukai nya, bukan??" Raffi pun memotong pembicaraan ku begitu saja, dan melempar pertanyaan yang menurut ku itu sangat tidak mungkin terjadi. Mana mungkin aku menyukai paul? Namun rupanya raffi semakin penasaran akan hubungan ku dan paul. Raffi pun menatap ku tajam. Binar matanya memandang ku seolah penuh makna. Bahkan tatapan itu tidak berubah, masih tetap sama seperti saat paul memperlakukan ku secara berlebih didepan nya. Seolah ada kebencian. Bahkan kecemburuan itu terlihat jelas dimata nya
  "Itu bukan urusan mu, raffi." Berharap tak akan ada lagi pertanyaan yang menyudutkan aku.
  "Aku cuma ingin tahu jawaban mu, apa aku salah?" ucap raffi pelan, rupanya ia sungguh2 dengan pertanyaan nya. Terlihat saat ia mulai menatap ku dengan penuh harap. Aku mencoba untuk menarik nafas panjang, sebelum akhirnya berucap..
  "Aku dan paul,,, hanya teman biasa. Dan aku hanya menganggap nya sebagai partner kerja, gak lebih."
  "Aku minta maaf." Raffi pun melanjutkan mengendarai mobil nya, mengingat masih terlalu jauh perjalanan yang kita tempuh untuk sampai jakarta. Sedangkan aku hanya duduk manis, dan sesekali ku menoleh kearah raffi yang kadang terlihat salting. Aku gak pernah melihat raffi se-gelisah ini. Lengan dan jari nya tak henti-henti ia gerakkan ke atas dan ke bawah. Aku hanya bisa tersenyum geli melihat nya.
  "Ada yang lucu??" Raffi pun menoleh kearah ku.
  "Sepertinya..." 
  "Maksud kamu??" Raffi pun berbalik tanya kepada ku. Aku hanya diam tak bergumam. 
Aku jadi teringat akan kisah gunung es dan gunung merapi. Sifat raffi yang dingin, tidak berekspresi, jarang bicara jika tidak perlu, bahkan kadang susah ditebak jalan pikirnya. Layaknya gunung es yang kaku dan susah ditembus hatinya. Karakter tenang dan dinginnya, mampu membuat lava panas yang ada dalam dirimu tiba-tiba menjadi dingin. Hanya beberapa kalimat yang keluar dari mulutnya mampu membuat amarah mu reda. Pernahkah kamu merasakan seperti itu sebelum nya?? Sedangkan aku cenderung berkarakter seperti Gunung Merapi. Selalu ceria terlihat mata, dan cenderung lebih ekspresif. Sedih terlihat, marah terlihat, ketika senang pun bisa dengan mudahnya tertangkap oleh mata mu. Seakan-akan kamu mampu melelehkan balok-balok es yang ada dihati nya. Kamu pun mulai menghangat, tidak sedingin sebelumnya. Tanpa sadar, kamu mulai banyak mengeluarkan kata. Tanpa kamu sadar, kamu tidak sependiam sebelumnya. Dan orang-orang terdekatmu mulai merasa bahwa kamu tidak seseram dirimu yang dahulu, mulai banyak tersenyum karena tertular senyumnya. Mulai bisa berekspresi, karena kamu banyak belajar darinya. Pernahkah kamu merasakan seperti yang aku rasakan sebelumnya?? Dan akhirnya kamu pun sadar, bahwa matanya yang dingin seperti es mulai mencair. Sifatnya yang kaku, mulai melunak. Jalan pikirnya yang sulit ditebak, sekarang bisa kamu tebak hanya dengan sekali kamu melihat matanya. Pada akhirnya kamu mengetahui bahwa ia tidak sedingin yang orang bilang. Dan pada akhirnya kamu pun terkejut, bahwa ia begitu, hanya kepada mu seorang. Karakternya yang dingin masih berlaku ke banyak orang. Tapi tidak kepada mu. Ia mulai mencair, gunung es itu mulai mencair. Sayangnya, banyak kejadian yang memperkeruh keadaan. Karena sifatmu yang ramah, keceriaanmu yang menular, kamu tanpa sadari ternyata menawan banyak pria. Banyak yang terpesona kepada mu, banyak yang ingin memiliki mu. Dan pria itu akhirnya tahu. Mungkin akhirnya pria ini sadar. Hatinya sudah mencair terlalu jauh disaat dirinya belum siap mendampingimu. Benteng pertahanan yang selama ini ia bangun susah payah, sudah runtuh terlalu parah karena bertemu denganmu. Kamu tak tahu, betapa fatal akibat kehadiranmu di dalam hatinya. Betapa susahnya ia merapikan semuanya kembali ke sediakala. Ia tahu, sampai saat ini, hanya kamulah yang sanggup mencairkan hatinya. Tetapi ia juga tahu, kamu belum halal baginya. Kamu belum tentu miliknya. Ia sadar, betapa bagus kualitas pria yang ingin menjadikanmu sebagai istrinya. Sedangkan ia bukan siapa-siapa. Ia tak ingin membuatmu merana. Karena mungkin menurutnya, hanya dengan cinta saja tak akan cukup membawamu ke surga. Ia ingin menjaga hatinya dulu dan ia juga ingin menjaga hatimu. Maka ia menetapkan hatinya, untuk menjauhimu perlahan. Nanti sampai ia selesai mempersiapkan semuanya. Mungkin nanti ketika ia sudah siap dan kamu masih sendiri, ia akan datang kembali. Apakah memang benar begitu?? Apakah raffi gunung es itu, dan aku gunung merapi itu? Entahlah, tapi itu yang ku tangkap dari diri raffi selama ini. Aku memang bukan paranormal, yang bisa lihat dari garis tangan si pemiliknya. Bukan pula dilihat dari kartu tarot yang biasa dilakukan oleh mereka yang ingin mengetahui sifat dan perasaan nya saat ini. Melainkan dari mata nya, bahkan ucapan pada setiap perkataan nya yang mungkin secara tidak langsung menggambarkan perasaan nya kini.  Tak perlu ia bercerita panjang lebar, karena aku sangat mengenal nya. Dan kini,, perlahan tapi pasti aku mulai bisa melihat nya tersenyum, bahkan kini raffi mulai terlihat tenang duduk disamping ku.

  "Kamu mau makan dengan ku??" Ucap raffi. Suatu kemajuan, bahkan ia mulai terbiasa dengan keberadaan ku disamping nya. Namun belum juga aku menjawab nya, raffi sudah menghentikan dan memarkirkan mobil nya didepan resto kawasan puncak.
  "Mengapa berhenti? Aku sama sekali belum jawab pertanyaan mu..?"
  "Kamu tak perlu menjawabnya, karena aku tahu jawaban mu" Raffi pun tersenyum simpul kearah ku. Seolah ia tahu apa yang aku inginkan. Dengan cepat raffi membukakan pintu untuk ku, dan ia pun datang menghampiri ku.
  "Apa kamu yakin, aku akan menerima ajakan mu?" aku pun menatap nya tajam.
  "Tentu,, kalau pun kamu menolak nya, aku akan tetap memaksa mu untuk ikut bersama ku." Singkat, namun cukup mencairkan suasana yang sedari tadi terasa beku. Kadang aku bingung, mengapa aku tak pernah bisa menolak ajakan raffi. Dari dulu, raffi selalu bisa membuat aku bilang "iya" kepada nya. Dan akhirnya raffi berhasil membuat ku memutuskan untuk dinner bersama nya. Meski rasa canggung, bahkan salting pun tergambar jelas pada sikap raffi malam itu. Wajarlah jika aku dan raffi terlihat kaku. Sebab ini kali pertama nya untuk kita dinner bersama setelah sekian tahun lama nya. Bahkan aku tak pernah menyangka akan melewati satnite bersama nya.
  "Kamu suka tempat ini??" Ucap raffi. Aku hanya melemparkan senyuman kearah nya. Siapa juga yang tak menyukai tempat ini??
Suasana resto yg tampak remang-remang, nyala lilin dalam gelas disetiap sudut ruangan, menambah kesan classic resto ini. Bahkan not balok berirama seolah tak redup mengiringi nya, menambah kesan romatisme pada setiap pengunjung yang ada disini. Sungguh menarik bukan??

  "Nagita.... Emmp.. Aku... Aku..." raffi pun seakan ingin mengungkapkan sesuatu.
  "Kamu kenapa?"
  "Emmpp.. gak! Aku gak apa-apa." Aku yakin raffi ingin mengutarakan sesuatu, namun seperti nya ia ragu untuk mengucapkan itu. Tapi ya.. sudah lah, aku pun tak begitu ambil pusing. Yang ada dipikiran ku sekarang, hanya key. Ya .. key.. Sedang apa dia saat ini?? Aku memang tak pernah bisa lama meninggalkan nya sendiri. Meski ada mama dan caca, tapi rasanya aku tak tega bila harus jauh dari nya. Sifat manja nya, sifat polos nya, serta rasa kasih dan sayang nya yang tulus membuat aku selalu ingin segera pulang dan memeluk nya.
  "Raffi, aku tak bisa berlama-lama disini." 
  "Kenapa begitu?" Dengan wajah kaget nya, seketika raffi mulai menatap serius kearah ku.
  "Aku harus segera pulang."
  "Tapi kamu belum selesai makan. Kamu lihat ini..?? Lebih baik kamu habiskan dulu makanan mu." Ucap raffi
  "Tapi raffi...." 
  "Kamu masih membenci ku? Apa kamu masih belum bisa memaafkan ku? Jawab aku nagita...?!" Beberapa pertanyaan pun terlontar dari mulut nya. Tapi aku mencoba untuk menjelaskan nya perlahan. Menjelaskan yang seharusnya aku jelaskan sedari dulu, ini tentang aku dan key. Yang mungkin selama ini raffi selalu pertanyakan kepada ku. Mungkin ini lah saat nya raffi tahu, betapa sangat dirindukan kehadiran nya. Sosok seorang ayah yang tak pernah didapatkan oleh putri nya sejak lahir. Betapa antusias nya raffi, saat aku bercerita sedikit tentang key. Meski hanya sedikit, tapi seolah mampu meruntuhkan binar-binar bening dari kedua bola mata nya. Seakan tumpah dan berjatuhan bersama rindu yang teramat dalam. Tak ada lagi amarah, seperti saat pertama kita bertemu. Balok-balok es yang terasa dingin dan kaku itu kini mulai mencair dengan sendiri nya. Aku pun seolah hanyut dalam perasaan itu, larut dalam kerinduan yang tak bisa aku ungkapkan lewat kata-kata.
  "Apa aku boleh bertemu dengan nya?" Ucap raffi pelan
  "Ya.. Tentu nya. "

Akhirnya, kita pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang, meski tanda-tanda akan turun hujan mulai tampak. Angin bahkan petir pun nampak bergemuruh. Tapi kita sama sekali tidak memperdulikan itu. Namun tak berselang lama, handphone ku pun terasa bergetar. Aku lupa untuk mengembalikan nya ke pengaturan awal. Hingga tak terasa 3 missed call pun aku biarkan begitu saja, mungkin karena nada dering yang sengaja aku senyap kan saat meeting berlangsung, hingga sama sekali tak terdengar oleh ku. Rupa nya caca sedari tadi berusaha menghubungi ku. Aku mencoba menghubungi nya kembali, karena aku takut terjadi sesuatu pada key putri ku. Sedangkan raffi, tetap terjaga mengendarai nya.
  "Hallo..? Iya ca, kenapa? Mba masih di puncak."
  "Mba, key gak mau makan. Key cuma mau makan kalo ada kamu disini" ucap caca, sudah ku duga akan terjadi seperti ini. Key memang tak bisa jauh dari ku. 
  "Sekarang dimana dia? Boleh aku bicara dengan nya sebentar?"
  "Hallo mam, where are you?" Ucap key
  "Mami masih di puncak sayang."
  "When to go home, mam? I have prepared a special dinner for you." Ucap key
  "Special dinner?"
  "Em'hum.. but seems mami is busy. Still a lot of work, mam?" Ucap key
  "Sayang ,, don't be sad, okey? I'll soon be home. Don't forget to eat, and then don't wait mami, ok? Maybe, mami would arrive at midnight sayang." Ya.. dengan kondisi seperti ini rasa nya tidak mungkin aku akan datang tepat waktu. Mengingat hujan pun mulai turun, bahkan cukup deras mengguyur kota ini. Hingga mengakibatkan jarak pandang pun terganggu. Dan aku tak mau key menunggu kedatangan ku hingga larut malam.  
  "Siapa,,,,? Key?" Ucap raffi pelan
  "Ya..,," aku coba untuk memperbesar volume suara nya, sengaja agar raffi bisa mendengar apa yang key katakan.
  "Hallo?? Sayang..?"
  "Ya.. I'm hear you.." ucap key pelan
  "Ok! Sekarang, biarkan malam ini aunty caca yang akan menemani kamu tidur. Dan mami pastikan, mami akan ada disamping kamu saat kamu terbangun nanti."
  "Okey, be careful there. I really love you mam, love you so much. See you.." Ucap key
  "Love you too sayang. Key...?"
  "Heummn..??"
  "Say to dedy, please.."
  "Dedy?" Ucap key
  "Ya.. If dedy was with mami here, what would you say to dedy?"
  "Emm.. I'm waiting for you ded." Satu kalimat singkat, namun cukup mewakili semua perasaan nya. Sebelum akhirnya key menutup telephone itu.
  "Kamu dengar dia, bukan? Itulah alasan ku selama ini. Alasan mengapa aku tak pernah bisa jauh dari nya."
Raffi hanya terdiam, seolah terpaku, seakan ikut merasakan apa yang putri nya rasakan. Apa rasa bersalah itu muncul kembali pada diri nya kini? Entahlah, yang jelas raffi hanya diam seribu bahasa. Sesekali ia usap kedua mata nya dengan tangan secara bergantian. Mungkin ia tak ingin terlihat rapuh didepan ku. Kini yang terasa hanya sunyi, sepi.. seolah dunia ini tak berpenghuni. Jelas saja, cuaca buruk seperti ini mana mungkin orang lain mau berkeliaran keluar rumah. Yang ada mereka memilih untuk berkumpul bersama keluarga yg pasti nya akan menghangatkan suasana diantara nya. Tak seperti aku, yang hanya duduk terpaku, memandangi setiap tetes hujan yang jatuh melewati dinding-dinding kaca dari sisi kiri ku. Namun aku seolah terhenyak, seketika mobil yang dikendarai tiba-tiba berhenti ditengah jalan. 
  "Kenapa???"
  "Entah lah,, " raffi mencoba untuk menyalakan kembali mesin yang sempat mati. Namun semua itu seperti nya percuma,,,
  "Kamu mau kemana?"
  "Kamu tunggu disini, aku akan cek mesin nya." Ucap raffi
  "Tapi ini hujan raffi,,"
  "Sudah lah, kamu tunggu disini." Raffi pun keluar tanpa mengenakan pelindung, baik payung atau apalah itu.. Tapi apa daya, derai hujan yang turun tak bisa menghentikan niat nya untuk mengecek langsung kondisi mobil nya saat ini. Merasa tak memperoleh hasil, raffi pun masuk kembali kedalam mobil. Dengan kondisi setengah basah, raffi mencoba mengambil telephone nya dan segera menghubungi seseorang.
  "Gimana?"
  "Gak ada jalan lain, seperti nya kita harus bermalam disini. Kita tunggu sampai hujan reda." Pilihan yang sangat tidak aku inginkan sama sekali. Apa yang aku khawatirkan ini benar-benar terjadi.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.