Life in future with you--- part 21
("Apa mami membawa pesanan ku itu??" Aku pikir, ia lupa dengan apa yang di pesan nya. Tapi aku salah. Key menyantap dengan lahap pizza itu. Aku hanya menggeleng, melihat nya terlalu suka dengan apa yang dimakan nya. Tapi tunggu, aku rasa bukan hanya suka. Dia lapar.
"Oma, mau..?" Ujar key, dengan masih mengunyah apa yang ada dimulut nya. Aku dan mama hanya terkekeh melihat nya. Sebelum akhirnya caca datang dan berusaha mengganggu nya. Tapi untunglah, itu tak berlangsung lama. Sebelum akhirnya suasana hangat menyeruak dalam ruangan itu. Ruang yang hanya ada kami berempat. Dan itu cukup membuat kami merasa nyaman.)
Pagi ini seperti biasa, aku ke kantor dan menjalankan segala rutinitas ku. Tapi seperti nya aku akan telat untuk tiba disana. Lihatlah, jalanan sudah mulai padat. Bahkan lebih padat dari biasanya. Padahal ini baru jam 07.00 wib, bagimana nanti? Aku tak bisa membayangkan, jika semua kendaraan akan memenuhi seluruh badan jalan, mungkin tak ada lagi cela untuk mobil ku bisa melaju. Untunglah itu semua hanya berlangsung 45 menit, aku baru bisa sampai lobby.
"Morning Mrs.." Sapaan yang selalu melekat sejak pertama ku menginjakkan kaki disini.
"Morning.." balasan yang selalu ku lontarkan bersama senyum manis disepanjang ku melewati nya. Entah karena status jabatan ku, atau memang ada hal lain yang membuat mereka melakukan hal seperti itu. Tapi perlu di garis bawahi, bahwa aku tidak pernah menilai seseorang dari status sosialnya, karena aku selalu menghargai apa yang mereka kerjakan. Mungkin itu salah satu alasan nya.
"Katakan, apa saja jadwalku hari ini?" Fara yang selalu stay dengan agenda ku, membuka cepat apa saja yang sudah terlist di dalam nya. Mengikuti dan berusaha mengimbangi arah langkah ku yang mulai menjauh dari nya.
"Emm, pukul 09.45 wib akan ada meeting dengan KeelRits & VCrop. Pukul 2 siang nanti akan ada pertemuan dengan Mr. Clark."
'Mr.Clark??' Tanpa perlu aba-aba pun aku langsung menghentikan langkah ku begitu saja.
"Kau bilang, Mr. Clark??" Fara mengangguk pelan mengiyakan apa yang aku ucapkan.
"Sudah saya katakan, kita sudah tidak ada urusan lagi dengan nya."
"Maaf. Saya sudah jelaskan itu sebelumnya. Hanya saja Mr. Clark memaksa. Jika Mrs. Nagita keberatan, biar saya cancel." Jelas fara yang mulai mengimbangi ku. OK! Ini bukan lagi salah nya, fara sudah sangat efisien mengatur jadwal ku dengan sangat rapih.
"Baiklah, kamu siapkan semua nya. Saya akan tetap menemuinya."
Meletakkan tas di meja, dan menghempaskan tubuh ku ke kursi. Rasa nya aku baru saja selesai mengerjakan beberapa laporan, tapi tunggu! Astaga,, apa yang harus aku lakukan dengan berkas-berkas yang ada di hadapan ku ini?? Sepertinya gak ada yang berkurang sedikitpun, bahkan masih terlihat sama seperti kemarin saat aku melihatnya.
'Drtt, drttt..'
'Drtt, drrttt..'
"Ya, Hans??"
".........................................."
"Tidak. Hanya saja aku bingung dengan apa yang ada di hadapan ku saat ini. Kau tahu, begitu banyak berkas dimeja ku."
".........................................."
"Baiklah, kau ingin aku melakukan itu??"
"........................................................."
"Ya, ya, ya. Aku memang tak pernah menang jika harus melawan mu. Sekarang cepatlah katakan, aku tak punya banyak waktu, Hans."
"........................................................."
"Emm---Maafkan aku, Hans. Harus nya aku tak melibatkan mu dalam masalah ini. Aku tak berfikir panjang, bahkan aku tak pernah memikirkan bahwa itu akan mengancam posisi mu. Maafkan aku."
"........................................................."
"Terimakasih banyak, Hans. Kau sangat membantu ku. Soal Rio---aku belum bisa katakan ini pada nya."
"........................................................."
"Aku tahu, Hans."
"........................................................."
"Aku sudah meminta nya untuk pulang, dan seperti nya dia akan kembali. Mungkin, setelah itu akan aku ceritakan semuanya."
"........................................................."
"Thanks, Hans. I also hope so..." Aku mengakhiri panggilan itu. Dan mencoba untuk menormalkan kembali pikiran ku.
Ok! Sekarang lihatlah, didepan sana ada setumpuk berkas menanti mu, dan siap-siap memenuhi pikiran mu, yang pasti nya akan sangat menyita waktu. Bersikap profesional lah, Nagita!
"Tolong, ke ruangan saya sebentar." Dari yang aku lihat, sepertinya ada yang salah dari laporan keuangan yang aku terima. Apa mungkin aku lupa?? Gak! Aku gak mungkin salah! Lagi pula untuk apa pengeluaran sebanyak ini??
"Masuk, dan silahkan duduk." Dengan segera laki-laki itu duduk dan terlihat sangat hati-hati.
"Kamu tahu, mengapa saya memanggil mu kesini??" Laki-laki itu segera menggeleng pelan. Aku bisa membaca dari mimik wajahnya. Seperti nya dia sangat ketakutan. Padahal aku baru saja bertanya hal sepele, dan itu membuat nya takut. Apa wajah ku seseram itu?? Aku rasa tidak!
"Kamu coba lihat, apa ada yang salah dari laporan ini?" Dengan segera ia membuka map kuning yang berisikan laporan nya.
"Saya rasa tak perlu membaca nya hingga selesai. Jika kamu mengerti dengan apa yang kamu kerjakan, itu tidak akan se-fatal ini. Kamu mengerti kan maksud saya??" Sedikit menekan kan, tidak bermaksud menyudutkan.
"Emm, mengerti. Hanya saja saya masih belum begitu paham mengenai pembukuan yang ada di perusahaan ini. Mungkin, karena saya baru menemui hal seperti ini." Ujar laki-laki itu
"Memang selama ini kamu berkerja dimana? Saya rasa semua perusahaan menggunakan teori yang sama."
"Dulu saya di bank. Mungkin itu yang membuat saya bingung untuk penempatan antara debit dan kredit." Sekarang aku baru mengerti apa masalah nya.
"Maaf sudah membuat ibu kecewa dengan hasil saya. Secepatnya, akan saya perbaiki." Lanjut laki-laki itu lagi.
"Sorry, Mrs. Nagita receiving guests. Can leave a message?" Ucap fara
"................................."
"I'm sorry Sir, but------"
"................................."
"Ok, wait a minute" lanjut nya
"Setidaknya kalo kamu belum mengerti, dan paham mengenai pembukuan mungkin bisa langsung menanyakan hal ini pada saya. Tak usah sungkan, karena saya pun dulu pernah berada di posisi mu. Kamu...."
Tut.....tut..
"Ya, fara kenapa? Kau tahu apa yang sedang aku lakukan, bukan? Tidak bisakah kau meminta nya untuk meninggalkan pesan? Apa...? Baiklah tunggu sebentar. Ken, sekarang kamu boleh pergi. Saya akan meminta patrick untuk mengawasi kerja mu."
"Terimakasih, saya permisi." Ujar nya. Aku menyandarkan tubuh ku ke kursi. Rasa nya baru beberapa jam saja aku disini, tapi seakan cukup lama bagiku. Tunggu, seperti nya aku lupa sesuatu.
"Fara, apa dia masih menunggu ku? Apa dia berkata sesuatu? Baiklah sekarang sambungkan line itu, aku ingin berbicara dengan nya." Dengan ragu aku menjawab 'hallo'.
"........................................................" DEG, Suara itu..?? Ya.. seperti nya aku mengenal suara itu.
"........................................................" Sudah tidak diragukan lagi, itu memang benar suara nya.
"Piere! Kau kah itu??"
"........................................................"
"Katakan apa maksud mu? Aku tak punya banyak waktu, Piere!"
"........................................................"
"Cepat katakan apa mau mu?!"
"........................................................"
"Kau gila, Piere!! Apa kau lupa sesuatu? Apa perlu aku ingatkan kembali, hah? Kau ini----"
"............................................."
"CUKUP, Piere!!! Kau benar-benar sudah tidak waras! Aku kecewa, Piere! Ternyata selama ini aku salah menilai mu!" Aku segera menutup telephone itu dengan kasar. Emosi ku memuncak, dan aku enggan untuk berbicara lebih lama lagi. Semakin aku mendengarkan nya, semakin aku cemas memikirkan nya. Dan lagi-lagi...
'Tut.... Tut ....'
"Apalagi, Piere!! Belum puas kah kau mengganggu hidup ku, hah...??"
"Nagita..? Apa kau baik-baik saja?" Aku terhenyak, sadar akan siapa yang sedang berbicara dengan ku. Mengapa aku bisa mengira itu, Piere??
"Ma-maafkan aku. Aku pikir-----sudahlah, Apa kamu baik-baik saja disana??" Aku menyeka airmata yang sempat mengotori wajah ku. Aku tak ingin jika raffi mengetahui hal itu.
"Hey, bukankah itu pertanyaan ku? Dan kamu belum jawab pertanyaan ku!" Harus kah aku mengatakan nya,,,?
"Aku---aku----"
"Piere,,! Kamu bilang, Piere?? Apa dia menganggu mu?? Katakanlah, apa yang sudah ia lakukan?" Seakan menginterogasi ku dengan beberapa pertanyaan seputar piere. Tapi aku tak mungkin menceritakan itu sekarang.
"Tidak! Hanya saja aku takut terjadi sesuatu pada mu. Katakanlah, apa kamu baik-baik saja disana? Apa dia bersikap baik pada mu?" Raffi terkekeh pelan, apa ada yang salah dari pertanyaan ku tadi?? Aku rasa tidak!
"Sungguh ini tidak lucu, Raffi! Aku cemas, mengapa kamu seolah tak menyadari itu..?" Aku benar-benar tak mengerti. Apa kecemasan ku selama ini tak berarti apa-apa untuk nya??? Bahkan raffi seolah menertawakan ku.
"Maaf, kamu jangan marah. Aku sama sekali tak bermaksud seperti itu, percayalah. Hanya saja aku tak bisa menutupi rasa bahagia itu saat ada wanita yang terlihat begitu mencemaskan ku. Percayalah, Piere tak akan berani melukai ku." Ujar nya
"Apa kamu yakin, bahwa dia akan bersikap seperti itu. .?"
"Aku kenal dia, dan aku percaya... dia tak akan pernah melakukan itu. Kalaupun itu terjadi, mungkin ia hanya ingin bermain-main dengan ku, itu saja."
Kamu terlalu baik, raffi. Bahkan kamu terlihat sangat polos. Apa kamu tak sadar dengan apa yang piere lakukan selama ini? Bahkan dia bisa saja melakukan hal yang lebih dari ini. Dan aku tak bisa membiarkan itu terjadi.
"Kamu masih disana??" Aku tersadar, dan mulai menepis semua anggapan itu. Ya Tuhan, jauhkan pikiran buruk tentang mereka berdua. Aku tak ingin sesuatu yang buruk itu terjadi.
"Sayang,,?? Apa kamu baik-baik saja?" Ucap raffi lagi
"Emm, Raffi------"
"Ya..? Kamu ingin berkata sesuatu??"
"Kembali lah, untuk aku dan anak kita." Entahlah, aku hanya ingin berucap itu pada nya. Meski mungkin wajah ku kini mulai blushing akibat ucapan ku itu. Setidak nya aku sangat mengharapkan ia kembali secepat nya.
"Pasti. Itu pasti! Baik-baik disana. Aku akan menghubungi mu lagi, nanti."
"Take care. Bye.."
✩✩✩✩✩✩✩
"Kau tenang saja, aku sedang bersama nya." Key menoleh kearah caca yang kini berada disamping nya.
"She call you..?" Caca langsung tersenyum dan mengangguk pelan.
"If she asks for something. Say, i'm fine." Key tersenyum kearah nya, menunjukkan deretan gigi yang terlihat sangat rapih.
"Ya.. Dia terlihat sangat bahagia. Tidak. Kau tak usah khawatir, aku akan menjaga nya. Ya.." ucap caca sebelum akhirnya ia menutup panggilan itu. Akhir-akhir ini aku memang tak bisa menemani nya untuk bermain, bahkan untuk menjemputnya di sekolah pun rasanya tidak ada waktu. Hingga aku harus mengutus caca untuk menggantikan ku untuk sementara waktu.
"Key..?" Caca pun menoleh ke arah key yang terlihat asik dengan dunia nya. Entah ini cuma perasaan nya saja, ataukah memang benar ada nya. Key terlihat berbeda, diam, dan tak bersemangat. Seperti itulah gambaran key saat ini.
"Kamu lapar?? Kita akan cari makan di daerah sini. Kamu punya ide, untuk makan apa siang ini??"
"Aku tidak lapar." Ucap key yang masih fokus dengan apa yang dimainkan nya tanpa menoleh kearah caca yang berharap merespon nya dengan baik.
"Kamu tak ingin bercerita sesuatu? Emm, tentang sekolah mu mungkin??"
"Tidak. Bisakah aunty mengantar ku pulang??" key mulai menatap kearah caca. Seolah memohon pada nya. Tak biasa nya key seperti ini. Menolak ajakan caca dan meminta nya untuk segera pulang. Biasanya key selalu senang bila caca ajak jalan-jalan atau sekedar makan siang bersama. Namun, saat ini...?? Caca tersenyum dan mengangguk cepat.
"Ya, aku akan mengantar mu pulang. Bersabarlah.." Ucap caca yang mengusap lembut ujung kepala key dengan penuh sayang. Mungkin, ia perlu waktu untuk bisa buka suara tentang apa yang sedang dirasakan nya saat ini. Mungkin saja ia lelah. Ya.. sepertinya ia lelah.
"Mbok, tolong siapkan makanan. Dan sekalian bawa ke kamar nya."
"Baik, non."
Caca mencoba untuk mengambil ponsel nya. Dan langsung men-dial nomor yang sudah ter-save didalam nya. Namun hingga 3 kali, tak ada jawaban dari apa yang dilakukan nya.
'Apa aku harus menelpon nya??' Caca langsung menggeleng cepat.
'Tidak.. tidak! C'mon caca, kamu bisa melakukan nya. Ya.. aku bisa! Oke!'
"Maaf non, makanan nya sudah siap. Apa-----" belum juga selesai bicara, caca langsung memotong nya.
"Biar aku saja yang mengantarkan nya. Terimakasih sudah merepotkan." Caca segera mengambil alih apa yang ada sudah disiapkan oleh mbok ina. Semangkuk sup, sepiring nasi dan segelas air putih sepertinya cukup untuk key bersantap siang.
"Boleh aku masuk??"
"Um'humm.."
"Apa yang sedang kau lakukan, sayang..?" Seraya meletakkan apa yang caca bawa di tempat yang sudah tersedia disana.
"Umm, Nothing." Ucap key sekena nya. Caca tersenyum kearah nya, mengusap ujung kepala nya.
"Sekarang kamu makan, yah? Aunty bawa makan siang untuk mu." Key menatap sendu. Wajah nya terlihat pucat, seakan tak bersemangat.
"Aku tidak lapar." Ucap key
"Why ..? What do you something??" Ia terdiam, bahkan enggan bergeming. Ia hanya menunduk, sesekali ia memilin selimut dengan kedua tangan nya dan itu terjadi berulangkali.
"Key..??" Caca mencoba merengkuh kedua tangan nya, menangkup wajah kecil dengan kedua tangan nya. Caca merasa ada sesuatu yang menjalar dikedua telapak tangan nya. Seperti sengatan listrik, sangat panas.
"Kau demam? Ya Tuhan, panas sekali badan mu..! Kamu tunggu disini, aunty akan ambilkan sesuatu."
"Cepatlah." Ucap key. Tak ada yang bisa ia perbuat selain mengukur suhu badan nya. Dengan cepat caca membuka kotak putih yang bertuliskan P3K.
"Sekarang buka mulut nya. Dan biarkan untuk beberapa detik saja."
"Hmmm.."
"Tenang lah, semua akan baik-baik saja." Entah apa yang harus caca katakan pada nya. Ia cuma berusaha menghibur untuk menutupi rasa ke khawatir an nya.
"Ya Tuhan.. bagaimana mungkin suhu badan nya 39°C? Sedangkan ia terlihat baik-baik saja?" Gumam caca.
"What happen to me?"
"Mmm,, tidak. Hanya saja suhu badan mu sangat tinggi. Apa kau merasa pusing atau mual, mungkin?"
"Um'humm..." key menggeleng cepat.
"Baiklah, aunty akan telephone mami. Ia harus tahu kondisi mu sekarang."
"Don't do it. Don't be afraid." Lihatlah, kedua tangan kecil nya memegangi lengan caca dengan kuat.
"I'm ok." Lanjut nya.
"Tapi, key-----"
"Please, don't tell this to her. I don't want to upset her." Diurungkannya niat itu, dan kembali menatap kedua pasang mata yang begitu teduh menurut nya.
"Are you okey?" Kekhawatiran itu terlihat jelas pada caca. Namun itu semua segera di tepis oleh nya, key selalu meyakinkan nya bahwa ia akan baik-baik saja.
"Um'humm.. I just need a break. Maybe it would be better."
"Ya.. That's better." Caca merengkuh tubuh kecil itu ke pelukan nya. Memberi kehangatan yang seharusnya ia dapatkan dari seorang ibu. Hingga ia merasa tenang dan bisa terlelap di pelukan nya.
------------------
"Kamu sudah bangun? Katakan apa yang sakit, hmm??" Aku mendekatkan wajah ku ke wajah nya. Mengusap lembut punggung tangan nya, menempelkan telapak tangan di kening nya. Syukurlah, kondisi nya kini berangsur membaik. Panas nya pun mulai berkurang. Setidak nya aku bisa lebih tenang meski itu belum sepenuhnya membuatku lega.
"That's better." Ucap key tersenyum.
"Lihatlah, apa yang mami bawa. Mami sudah buatkan makanan kesukaan mu." Key mengalihkan pandangan nya pada apa yang aku bawa.
"Beef stick, lemon tart and creme brulee." Aku tahu, key sangat menyukai itu. Dan aku sengaja menyempatkan waktu buat itu semua. Aku kelewat panik saat mendapat kabar key sakit. Bahkan saking panik nya aku meninggalkan ruang rapat begitu saja.
Key jarang sekali sakit, bahkan bisa dibilang 'tidak pernah'. Mungkin karena aku sangat protektif dalam hal apapun itu, bahkan aku selalu menjaga asupan makanan yang cukup untuk nya karena aku tak ingin dianggap lalai sebagai seorang ibu. Tapi kenyataannya, aku gagal. Aku lalai dengan apa yang seharusnya menjadi kodrat ku sebagai ibu. Menjaga dan merawat nya dalam kondisi apapun itu.
"Mami suapin yah??" Key mengangguk. Dengan sigap aku membantu nya untuk bersandar. Menyuapi nya dengan sabar, mulai dari suapan pertama, kedua, hingga untuk kesekian kali nya. Entah mengapa aku jadi ingat sesuatu. Sesuatu yang masih melekat di ingatan ku, hingga saat ini.
"Kau menangis..??" Lihatlah, sentuhan lembut yang mengenai pipi ku begitu hangat terasa. Aku menahan nya agar lebih lama, dan mengecup punggung tangan nya. Aku belum bisa melepaskan bayang-bayang key diwaktu kecil. Saat ia menangis dan merengek minta susu, disaat ia jatuh hanya karena ingin berjalan kearah ku. Mungkin dari banyak nya moment itu, 1 hal yang hingga saat ini kadang aku masih belum bisa mempercayai itu. Hingga kata pertama yang terucap dari bibir nya membuat ku sadar, bahwa aku 'seorang ibu'.
"Mom..?"
"Hmmm....??" Sejenak ia terdiam. Memandang ku dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kau sakit? Katakan, apa nya yang sakit. Apa kau pusing..? Kalo perlu mami akan antar kamu ke rumahsakit." Lihatlah begitu khawatirnya aku. Tapi lagi-lagi key menahan ku. Dan menarik ku dalam peluk nya.
"No!! I'm so sorry, I've made you anxious." Key mendongak kan wajah nya "Aku mohon, jangan lakukan itu. I just need a break, ya.. just a break." Lanjut nya. Dengan sangat terpaksa aku menjawab.
"Oke,, tapi dengan 1 syarat." Key merenggangkan pelukan nya itu, dan beralih menatap ku.
"Katakan apa syarat nya..?" Ucapnya yang mulai penasaran.
"Emm, cukup mudah. Kau habiskan makanan ini dan istirahatlah."
"Emm, baiklah. Aku rasa itu hal yang mudah.. hehe." Dengan lahap, ia menghabiskan apa yang aku buat untuk nya. Setidaknya aku percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Mungkin benar apa yang di katakan nya, bahwa ia hanya butuh istirahat.
"Mam, apa selama ini aku selalu merepotkan mu..?" Ucap nya disela-sela waktu menjelang istirahat nya.
"Mengapa tiba-tiba bicara seperti itu, hmm??"
"Tidak. Aku rasa begitu."
"Heyy, listen to me. Tidak ada seorangpun ibu yang merasa keberatan untuk menjaga dan merawat putra-putrinya dengan baik. Dan mami rasa, mami gak pernah merasa direpotkan oleh mu. Sama sekali tidak!"
"Sungguh??"
"Tentu. Berjanji lah untuk selalu menjadi peri kecil mami, yang selalu ada untuk mami, kapan pun dan dimana pun." Key melemparkan senyuman nya, memperlihatkan deretan gigi nya yang nampak rapih.
"Pinky promise.."
"Emm,,,," Aku menggantungkan jawaban ku, seraya meletakkan jari di dagu ku.
"Ayo lah, mami! Berjanji lah untuk ku." Lihatlah, dia terlihat sangat lucu. Bahkan saat dia mengerucutkan bibir kecilnya, aku tak bisa lagi menahan untuk membawa nya kedalam pelukan.
"Tanpa kamu minta, mami akan lakukan itu sayang..."
"So...??"
"Pinky promise.."
——————
Kicau burung menyapa semesta nya. Menyambut pagi yang hendak berganti siang.
"Terimakasih, kau sangat membantu ku. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Bahkan menjelang hari bahagia mu, aku masih terus saja merepotkan mu. Itu pasti!! Kau tenang saja, aku pasti akan melakukan nya."
Aku duduk sambil mengaduk-aduk secangkir coklat panas yang sengaja aku buat. Mencicipi nya secara perlahan dan meletakkan kembali diasalnya. Menyenangkan, bukan..??
"Bagaimana keadaannya?? Apa dia sudah baikan??" Tiba-tiba saja mama datang dan menanyakan hal itu kepada ku.
"Maafkan mama, semalam handphone mama mati. Mama sudah coba hubungi kamu lewat pak teddy, tapi sama sekali gak ada signal disana. Lalu bagaimana kondisi nya? Cucu mama baik-baik saja kan?? Apa kau sudah mengantarnya ke rumah sakit? Lalu apa katanya..??"
"Mah.. tenang lah! Minumlah dulu." Aku menyodorkan secangkir coklat milik ku. Setidaknya bisa membuatnya lebih tenang.
"Minuman apa ini, pahit!!! Tapi sudahlah, mama gak ingin membahas nya. Kembali ke pokok pembicaraan sebelumnya. Sekarang jawab pertanyaan mama!"
"Key baik-baik saja. Dia memang sempat demam tinggi, tapi itu tak berlangsung lama."
"Ahhh... syukurlah. Mama lega mendengarnya."
"Diagnosa awal menunjukkan bahwa daya tahan tubuh nya menurun. Mungkin faktor kelelahan salah satu nya. Tapi tenang saja, dokter sudah memberikan obat dan vitamin untuk nya. Kita tinggal tunggu hasil lab nya.
"Ya Tuhan.. Sejauh itu..??"
"Aku cuma ingin memastikan,, apa benar dia baik-baik saja."
"Lalu dimana dia?? Mama ingin bertemu dengan nya."
"Ia ada dikamar, sedang istirahat. Masuklah mah, ia pasti senang ."
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.