Monday, June 1, 2015

The Power Of Love Part---19

The Power Of Love Part---19

Hari ke 4, dimana kondisi nagita sudah dinyatakan baik2 saja oleh dokter yg menangani nya. Bahkan nagita sendiri sudah mengetahui akan cidera pada kaki kanan nya yg akan mengakibatkan ia sulit untuk berjalan.
Sedih,,, ? Itu sudah pasti dirasakan nagita, tp itu tak ditunjukkan oleh nya di depan keluarga nya. Ia hanya bisa tersenyum dihadapan mereka, untuk menutupi rasa kegelisahan dihati nya.
Zaskia baru mengetahui akan musibah yg dialami nagita, hingga siang itu kia menyempatkan diri untuk datang menjenguk nya.
  "Km sudah baikan?"
  "Maafkan aku, sungguh aku baru dapat kabar ini dari cacha. Dan aku cukup shock mendengar nya." Lanjut kia
  "Aku gpp,," ucap nya tersenyum
  "Apa km yakin baik2 saja?" Selidik kia, karena ia tahu apa yg sebenarnya terjadi. Cacha sudah menceritakan semuanya, dan itu membuat nya tak yakin jika nagita hanya berkata "aku gpp". Kia pun menatap nya tajam, berharap nagita akan memberi jawaban lain. Namun lagi2 nagita hanya mengangguk pelan.
  "Gi,, km sudah beri tahu ke raffi tentang keadaan mu saat ini?" Ucap kia, membuat nagita terdiam.
  "Gi,,, raffi harus tahu keadaan mu skrg. Biar aku yg tlpn dia.." ucap kia dengan mengambil handphone yg masih ada didalam tas nya
  "Ki... tunggu. Please, jgn kasih tahu raffi masalah ini." Ucap gigi yang menahan lengan kia
  "Knpa gi??" Timpal kia
  "Dia harus tahu, coba sekarang mana handphone km?" Lanjut kia
  "Km mau apakan handphone aku ki,, " ucap nagita saat kia mengambil handphone yg sedari tadi tergeletak disamping ranjang nya.
  "Km liat ini,,? Berapa kali raffi mencoba menghubungi km?"
  "Berapa kali ia mengirim pesan singkat ini gi?" Ucap kia yg menunjukkan beberapa sms yg masuk dari raffi dan lagi2 nagita hanya bisa terdiam.
  "Lalu, apa km tega membuat nya cemas memikirkan km?" Lanjut kia
Nagita sulit menjelaskan tentang perasaan nya saat ini. Dan situasi ini yg membuat nya bingung.
  "Aku tau, ini akan menyakitkan. Tp aku bisa apa?" Bathin nagita yg tak ingin orang2 dekat nya merasa direpotkan oleh diri nya. Atau bahkan kasihan kepada nya hanya karena melihat kondisi nya saat ini.

  "Ki,, aku gak ingin raffi tahu masalah ini. Aku mohon sama km, aku tak ingin merepotkan nya."
  "Km tau kondisi aku sekarang, lalu apa lagi yg dia harapkan dari org cacat seperti aku??" Lanjut nagita
  "Gi,, km gak boleh bilang seperti itu. Aku percaya kalo raffi tahu, dia akan lebih bisa menerima km. Karena dia sangat mencintai km. Lagi pula km gak akan selama nya cacat, km masih bisa sembuh" ucap kia
  "Sampai kapan ki??"
  "1 bulan, 2 bulan? Atau bahkan 1 tahun lagi?"
  "Kita gak bisa pastikan kapan aku bisa berjalan lagi.." lanjut nagita
  "Lalu apa yg harus ku sampaikan kepada nya gi?" Potong kia dengan tatapan tajam nya
  "Cukup km bilang ke dia, lupakan aku.." Ucap nagita yg tak bisa membendung air mata nya lagi.
Namun lagi2 nagita langsung menyeka butiran bening yg jatuh membasahi pipi nya beberapa kali. Walau tak bisa dipungkiri, betapa hancurnya perasaan nagita saat ia berkata seperti itu. Kia pun langsung memeluk nya..
  "Km sabar yah, kini aku mengerti akan perasaan mu. Tp aku akan selalu ada untuk km." Ucap kia menenangkan nya.

#Disamping itu,
  "Terimakasih, kalian sungguh luar biasa. Saya tertarik untuk bisa bekerja sama lagi bersama kalian." Ucap salah satu client nya
  "Sama2 om, kami yang harus nya berterimakasih atas semua fasilitas yg om beri untuk keperluan kita selama 4 hari ini." Ucap raffi tersenyum
  "Kapan2 kita akan ke jakarta, dan pasti nya akan mampir ke tempat kalian. Ya... sekedar ngobrol, atau lunch" ucap client tersebut,
  "Baik, dengan senang hati." Ucap irwan
  "Kalian mau langsung pulang?" Tanya client tersebut saat raffi dan irwan check out dari hotel yg beberapa hari ini mereka disinggahi
  "Iya om, kita mau langsung pulang saja. Kebetulan ada keperluan lain." Ucap raffi saat semua barang2 nya dimasukkan ke bagasi mobil nya
  "Ok, kalian hati2 di jalan. Salam untuk suryo" ucap client tersebut.
  "Baik om, nnt kami sampaikan" ucap raffi tersenyum
Mereka pun bertolak dari bogor ke jakarta, dengan menggunakan mobil pribadi nya.
  "Fi, lo bilang ada urusan lain? Urusan apa?" Selidik irwan saat sedang mengendarai nya
  "Urusan gue belum selesai sama nagita." Ucap raffi 
  "Maksud lo, nagita belum juga kasih kabar sama sekali?" Tanya irwan
  "Ya... Gue rasa ada sesuatu yg terjadi pada diri nya. Tp gue belum bisa pastikan, apa yg sebenarnya terjadi. Masalah nya gue udah berkali2 tlp dia, tp gak ada jawaban nya.." Ucap raffi
  "Serius?? Lo coba telephone dia sekali lagi.. siapa tau sekarang bisa" ucap irwan

#ditempat lain,
  "Gimana keadaan km sayang? Apa km sudah minum obat?" Tanya papahnya yg kini duduk disamping nya
  "Baik, td udah kok pah.." Ucap nagita
  "Maafkan papah ya sayang, gara2 papah km jd seperti ini.." Ucap nya saat membelai lembut rambut putri nya. Kini ia sadar atas apa yg sudah diperbuat. Bahkan apa yg pernah dilakukan nya kini malah berdampak negatif pada putri nya. Kini polisi sudah menangkap pelaku yg sudah menabrak nagita, dan itu cukup membuat mr.gideon shock. Org yg sempat ia percaya bahkan dipilih nya untuk menjadi pendamping nagita kelak, malah menjadi bumerang bagi keluarga nya. Kini niko mendekam dipenjara, membayar atas semua perbuatan nya yg sudah membuat nagita celaka. Atas dugaan pembunuhan berencana dengan ncaman pidana 15 thn penjara.
  "Sudah lah pah, papah gak perlu meminta maaf kepada gigi."
  "Ini salah gigi, karena menyebrang jalan tanpa lihat2 dulu." Lanjut nagita
Mr.gideon pun langsung memeluk nya,,
  "Papah,," ucap nagita pelan saat masih berada diperlukan nya
  "Iya sayang.. Km mau apa?" bls papah nya yg mulai merenggangkan tangan nya
  "Pah, aku ingin pulang..." ucap nagita
  "Km masih belum sembuh total sayang. Km masih perlu perawatan intensif" Bls papah nya
  "Tp pah, nagita ingin pulang. Biarkan aku istirahat dirumah.." ujar nagita
  "Sayang, dengarkan mamah. Dokter belum mengizinkan km pulang. Dan coba lihat sekarang, luka km saja masih belum kering sayang."
  "Udah ahh, km jangan macam2. Mamah gak ingin km knpa2." Ujar mamah rieta yg mencoba memberi nya pengertian.
Tak lama handphone nagita pun berdering, dan lagi2 telephone dari raffi.
  "Siapa?" Selidik mamah rieta, saat bayi ya hanya memandangi layar handphone nya saja tanpa menyentuh nya sama sekali.
  "Bukan siapa2.." ucap nya singkat, seolah tak ingin semua org tahu kalo raffi lah yg menelpon nya.
Namun rupa nya upaya raffi untuk menghubungi nya tak cukup sampai disini, 1, 2, bahkan berkali kali raffi terus berusaha menghubungi nya hingga mamah rieta pun semakin penasaran.
  "Sini,, kalo km gak mau angkat tlpn nya biar mamah yg angkat.." ucap mamah rieta mengulurkan tangan nya, berharap nagita akan memberikan hp nya.
Nagita pun terpaksa memberikan hp nya,,
  "Raffi..??" Ucap mamah rieta saat tahu raffi lah yg sedari tadi menelpon nya
  "Gak usah angkat telephone nya mah." Pinta nagita
  "Km kenapa? Km berantem sama dia?" Selidik mamah rieta
Nagita hanya menggelengkan kepala nya.
  "Lalu apa sayang? Kasian loh dia dari tadi telephone km terus..?" Ucap mamah rieta
  "Pah,, mah,, "
  "Nagita mohon sama papah dan mamah, jgn pernah kasih tau hal ini kepada raffi. Bagaimana kondisi ku saat ini, atau bahkan keberadaan ku nanti." Ucap nagita
  "Kenapa sayang? Bukan kah km sangat mencintai nya?" Lanjut mamah rieta
  "Mah, aku gak mau merepotkan nya dengan keadaan ku sekarang. Raffi berhak mendapatkan seseorang yg jauh lebih baik dari gigi. Yg bisa membuat nya bahagia, dan tak akan membuat nya malu."
  "Tp gii.." Ucap mamah rieta pun terpotong.
  "Mah,, " ucap gigi menatap tajam mamah rieta, dengan mata yg mulai berkaca2
  "Apa km yakin dengan keputusan km sayang?" Selidik papah nya
Sejenak nagita hanya terdiam, dan akhir nya 1 kalimat pun terucap dari bibir nya
  "Iya pah, nagita yakin.." Ucap nya
Perasaan pun tak bisa dibohongi, sungguh sakit rasanya. Bila apa yg diucapkan nya tak sesuai hati dan perasaan nya. Namun, itulah keputusan nagita. Walau ingin rasa nya menjerit, tp itu tak mungkin dilakukan nya. Semua rasa itu tertahan, hanya air mata yg tak sengaja menetes. Dan itu cukup membuktikan bahwa sebenarnya ia belum siap melepaskan raffi begitu saja.

Setelah beberapa kali mencoba menghubungi nya namun nihil, raffi pun akhirnya mencoba untuk mengirimkan pesan singkat.
  "Klung.. klung.."
  "Siapa mah?" Tanya nagita saat mendengar beberapa pesan singkat yg masuk di handphone nya
  "Dari raffi, mau baca?" Ucap mamah rieta
  "Bacakan saja,," ucap nagita
  "Nagita, Apa aku punya salah sama kamu, hingga km tak mau mengangkat tlpn dari ku?"
  "Sore ini, aku perjalanan pulang ke jakarta. Aku minta kita bertemu, dan km jelaskan pada ku apa sebenarnya yg terjadi" ucap raffi dalam pesan singkat nya.
  "Maafkan aku raffi, aku tak ingin km tahu akan kondisi ku saat ini. Aku gak ingin km sedih atau malah menjadi beban buat km."
  "Aku tau ini pasti berat untuk kita, tp mungkin ini yg terbaik untuk kita berdua.."
  "Maafkan aku raffi.." bathin nagita

  "Sayang,, km gpp?" Ucap mamah rieta mengagetkan lamunan nya 
  "Iya mah, maaf.."
  "Pah, nagita ingin pulang malam ini juga.."
  "Cepat atau lambat raffi pasti akan tau keberadaan ku disini.." Lanjut nagita yg memohon ke papah nya untuk segera dipulangkan
  "Baik, papah akan bicarakan hal ini kepada dokter nya" ucap papah nya lalu pergi untuk menemui dokter yg bersangkutan.
 
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

No comments:

Post a Comment