Life in future with you--- part 2
("Anak? Km sudah nikah? Kapan? Dengan siapa? Kok aku gak tau?" Ucap dinar bertubi2.
"Panjang cerita nya.."
"Ayo lah gi, aku penasaran. Km masih anggap aku sahabat mu bukan? Ayo lah.." bujuk dinar yg membuat ku terpojok, dan mau gak mau aku harus cerita kepada nya.)
*6 tahun yg lalu,
Berawal dari perkenalan ku dengan seorang pria. Yg aku tau dia bernama raffi, anak pengusaha yg mungkin kala itu harta nya tak akan habis 7 turunan. Aku bertemu dengan nya karena kita 1 kampus, dan kebetulan juga papa raffi adalah rekan kerja papa ku yg kala itu sedang ada proyek besar yg mengharuskan mereka berdua bertemu sangat intens. Semenjak itu aku mulai dekat dengan nya, namun seperti nya hubungan kerjasama itu tak berlangsung lama. Karena papa raffi dimutasi ke luar kota bahkan sempat ke luar negeri karena ada trouble yg mengharuskan nya turun tangan langsung, hingga membuat mereka jarang bertemu lagi. Tapi meskipun begitu raffi masih tetap berhubungan baik dengan ku. Dari awal aku mengenal nya tak ada satu pun terlintas dibenak ku untuk suka atau bahkan cinta sama raffi. Meskipun cewe2 1 kampus suka meributkan atau bahkan mengejar-ngejar nya hanya untuk berkenalan, makan siang, atau bahkan kencan bareng dengan nya. Tapi aku gak! Entah apa yg membuat ku gak tertarik sama sekali dengan raffi. Yg jelas aku hanya menganggap nya sebagai teman biasa gak lebih.
"Kaya? Itu sudah jelas! Siapa sih yg gak tahu raffi, anak terkaya dan bahkan donatur terbesar dikampus waktu itu."
"Tampang? Sudah pasti, Oke! Siapa sih yg gak suka dengan gaya nya yg cool, bahkan mobil nya saja hampir setiap hari ganti."
Okey, sudah jelas bukan? Over all fisickly raffi sempurna. Dan sejauh itu aku mengenal nya, raffi memang pribadi yg baik. Hingga tak khayal semua cewe berebut ingin menjadi pacar nya. 1 tahun berlalu, aku masih tetap berhubungan baik dengan raffi. Bahkan raffi suka mengantarkan pulang jika sopir tak bisa menjemput aku di kampus. Namun sejauh itu kita tetap memiliki kehidupan dan privasi masing2.
Seperti siang itu, kebetulan tak ada jam kuliah lagi yg mengharuskan aku berlama2 disana. Hingga aku memutuskan untuk pergi ke toko buku untuk mencari beberapa referensi tugas yg harus aku kumpulkan minggu2 ini. Saat itu aku memang sedang menunggu jemputan diparkiran depan, namun tak kunjung juga datang. Aku lihat raffi berlari kearah parkiran, namun aku tak pernah berfikir dia akan menyeret ku dalam masalah nya. Aku pikir raffi terlalu konyol.
"Huhff, gak ada kerjaan banget sih tuh orang, tiap hari kayak nya gak bisa kalo gak jadi perbincangan 1 kampus." Pikir ku.
Aku pun mencoba untuk berjalan, siapa tau supir ku sudah menunggu didepan kampus. Tapi ternyata seketika raffi menarik ku dengan cara yg menurut ku sangat kasar.
"Raffi.. km apa-apaan sih?"
"Udah, ayo ikut aku..!" ucap raffi.
Sungguh tak ada penolakan saat itu. Aku dibawa nya masuk kedalam mobil. Dan itu cukup melelahkan, karena aku harus berlari mengikuti nya.
"Raffi, apa yg kamu lakukan?? kenapa km membawa ku kesini? Tak seharusnya aku ikut dengan mu, dan berlari2 menghindar dari orang2 yg terobsesi dengan mu" dengan nafas yg masih tersengal2 aku pun mencoba untuk tidak terpancing dengan apa yg raffi lakukan kepada ku.
"Maaf kan aku nagita. Aku gak bermaksud menyeret mu dalam masalah ku. Tp aku gak ada cara lagi selain aku meminta bantuan mu untuk menghindar dari org2 yg selalu memburu ku dengan ajakan2 yg sebenar nya aku sendiri gak suka." Ucap raffi
"Ya tapi nanti gimana kalo org2 itu mengira kalo aku ada hubungan dengan mu? Aku gak mau itu terjadi!"
"Ya aku tau itu, tapi mau gimana lagi aku gak ada cara lain?? Aku benar2 bingung" Ucap raffi
"Itu sangat mudah raffi. Km tinggal pilih salah satu dari mereka. Beres bukan?" Sedikit saran konyol sih, tapi itu cara yg menurut ku tepat, agar semua cewe berhenti mengejar2 nya lagi setelah tau kalo raffi punya pacar.
"Hah,, ? Maksud km, aku harus memilih diantara cewe2 gila itu untuk dijadikan pacar? Ohh, itu gak mungkin!" Raffi pun menolak apa yg aku sarankan kepada nya.
"Kenapa gak mungkin? Mereka cantik2. Dan menurut ku, km cocok dengan nya."
"Km kenapa sih? Kok km sentimen gitu? Sebentar deh,, kenapa gak km saja yg jadi pacar ku?" Raffi pun menoleh kearah ku. Aku sedikit kaget, dan gak menyangka juga dengan apa yg raffi katakan kepada ku. Mengapa raffi bisa berfikir demikian?.
"Aku?? Jadi pacar kamu? Itu gak mungkin raffi!" Aku pun langsung mengelak nya dan mengalihkan pandangan ku kearah spion yg ada disisi kiri ku.
"Kenapa gak mungkin? Bisa saja bukan? Lagian km itu sungguh aneh, cewe2 lain pada ingin jalan dengan ku. Sedangkan km, yg jelas2 mengenal dan dekat dengan ku tapi sangat anti jadi pacar ku. Atau sebenarnya km diam2 memanfaatkan kedekatan kedua orangtua kita selama ini, untuk bisa dekat dengan ku, iya bukan? Secara aku tampan, kaya, dan banyak disukai wanita." Ucap raffi dengan rasa percaya diri nya yg tinggi.
Raffi mulai menatap ku tajam2, mungkin kalo saja aku punya perasaan yg sama seperti wanita2 lain, mungkin saat itu aku sudah jatuh pingsan dibuat nya. Tatapan nya, senyum nya, sungguh membuat wanita silau akan ketampanan nya. Tapi lagi2 aku buang rasa itu jauh. Untuk apa aku malah memikirkan nya? Aku berusaha untuk tidak mendengarkan apa yg raffi katakan kepada ku. Anggap lah itu angin lalu yg menyambar ku disiang bolong.
"Maaf raffi, aku harus pergi." Aku pun berusaha keluar dari mobil nya, dan berlari menjauh.
"Nagita tunggu.." raffi pun terus memanggil ku, namun aku tetap saja tak menghiraukan nya. Aku tak ingin berlama2 disana, yg ada raffi terus mengganggu ku, dan mengusik kenyamanan ku.
Hari demi hari aku jalani dengan kesendirian, karena aku pun saat itu baru saja putus dari pacar ku yg kebetulan masih 1 kampus dengan ku. Raffi mengetahui kalo aku baru saja putus cinta, hingga ia terus mencecar ku. Berbagai cara pun terus dilakukan raffi agar tetap bisa mendekati ku. Meskipun saat itu raffi pun diketahui sudah memiliki kekasih yg jauh lebih menarik dari ku. Tapi entah lah, apa sebenarnya yg raffi cari dan inginkan dari ku. Hingga ia tetap berusaha mengganggu hidup ku. Bahkan raffi sudah seperti hantu yg selalu muncul dihadapan ku setiap saat, dimanapun, dan kapan pun.
"Ya Tuhan... ini orang gak ada kerjaan lain apa selain mengganggu ketenangan ku!" Batin ku. Tapi ternyata bukan hanya itu, raffi sudah seperti bodyguard ku yg kemana2 selalu mengikuti ku kemanapun aku pergi. Bahkan dia keppo akan semua jadwal kegiatan ku. Terlebih raffi selalu mementingkan kepentingan aku, dari pada harus menemani pacar nya untuk sekedar belanja atau makan siang. Tak khayal jika pacar nya selalu cemburu terhadap ku.
Siang itu,,
"Gi.. tunggu!" Raffi pun memanggil ku, saat aku hendak berjalan ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku untuk ku jadikan sebagai bahan ajar. Aku pun berhenti sejenak, untuk meladeni raffi yg sebenar nya gak terlalu penting untuk ku.
"Aku boleh minta waktu km sebentar? Please, temui aku di gedung serbaguna lantai 5. Aku ingin bicara sesuatu." Ucap raffi
"Tapi raffi.."
"Aku tunggu km disana.." raffi pun langsung memotong pembicaraan ku dan pergi begitu saja. Aku belum tau apa maksud semua ini? Apa yg akan dikatakan raffi? apakah hal yg sama ataukah ada hal lain yg aku sendiri belum mengetahuinya?. Tp kalo raffi membicarakan hal yg sering ia katakan kepada ku tentang perasaan nya, sungguh aku tak ingin mendengar nya. Sudah cukup rasa nya aku di katakan sebagai orang ketiga dalam hubungan raffi. Karena kenyataan nya sungguh terbalik. Tp aku mulai penasaran, sebenarnya apa yg ingin disampaikan raffi. Hingga aku memutuskan untuk menemui nya. Aku menaiki beberapa anak tangga, dan berjalan mencari keberadaan raffi yg kala itu memintaku untuk naik ke lantai 5. Dimana tak ada 1 sudut pun yg terlihat ramai. Karena lantai 5 merupakan ruang kosong yg sewaktu2 saja dipakai untuk pertemuan antar organisasi. Aku pikir ini cuma kerjaan raffi yg ingin mengerjai ku.
"Raffi.. raffi,, km dimana?" Aku pun terus memanggil nama nya, namun tak ada 1 pun orang yg mendengar nya atau bersahut kepada ku. Namun tiba2 pelukan pun mendarat begitu saja di perut ku. Begitu kencang nya pegangan itu, hingga membuat ku sulit bergerak dan bernafas.
"Raffi, lepaskan aku!" Aku tahu itu pasti raffi, namun apa yg diucapan ku tak di dengar nya sama sekali.
"Kamu mau buat aku mati berdiri, karena pelukan mu yg membuat ku sulit bernapas?" Aku pun terus berusaha melepaskan tangan nya yg bersarang kuat di perut ku. Namun percuma saja, aku terlalu lemah untuk melakukan itu.
"I love u.. i love u.. i love u.." bisik pelan raffi yg terdengar jelas di telingaku.
"Km apa2an sih, tolong lepaskan aku raffi!" Permintaan ku untuk yg sekian kali nya.
"Nagita.. aku mohon, beri aku kesempatan untuk mencintai km dan menyayangi km." Bisik raffi, sudah ku duga raffi akan berbicara seperti itu.
"Aku gak bisa raffi,,"
"Kenapa nagita?" Raffi pun mulai bertanya alasan ku.
"Karena.. karena aku sama sekali gak mencintai km."
"Km gak perlu mencintaiku, tp izin kan aku untuk mencintai mu. Please nagita.. aku mohon.." raffi pun terus memohon kepada ku. Bukan aku munafik menolak apa yg raffi minta, yg pastinya di ingin kan setiap wanita diluar sana yg sangat mengagumi nya. Tapi aku bukan mereka yg mau menerima begitu saja, banyak konsekuensi yg harus aku terima untuk menjadi seorang pacar sekelas raffi.
"Maaf kan aku raffi, aku bukan wanita yg km cari. Aku hanya wanita biasa, yg gak ada apa2 nya jika dibandingkan dengan mu. Lagian, kamu sudah memiliki seseorang yg jauh lebih mencintai kamu dan mengerti kamu."
"Tapi aku sama sekali tak mencintai nya.." ucap raffi
"Km sudah memilih nya raffi!"
"Aku akan putusin dia sekarang juga, asal km mau menerima ku nagita." Ucap raffi
"Gak semudah itu km mencampakkan dia begitu saja." Aku sedikit tak terima dengan ucapan raffi, bagaimanapun juga kita sama2 wanita. Yg memiliki perasaan lembut, dan pasti nya akan terluka jika raffi benar2 melakukan nya tanpa sebab dan alasan yg jelas.
"Oke, jika km menolak nya. Aku akan loncat ke bawah dan km pasti akan menyesal nagita." Ucap raffi yg langsung menuju ke ujung gedung yg entah berapa puluh meter ketinggian nya.
"Km jangan konyol raffi! Itu bahaya, raffi tolong km menjauh dari sana!" Seru ku yg tak ingin terjadi sesuatu terhadap raffi.
"Aku akan menjauh dari sini, jika km mau menerima ku. Jika tidak, biarkan aku jatuh dan mati dihadapan mu." Perlahan raffi mulai berjalan mundur dan akhirnya raffi pun terpeleset dan hanya bisa bergelantungan di atap gedung lantai 5.
"Raffi..!" Aku pun langsung berlari kearah nya, memegang erat kedua tangan nya.
"Biarkan aku jatuh nagita." Ucap raffi
"Jangan gila raffi!" Seru ku.
"Km bilang gila? Hah.. ? aku gila karena mu, dan biarkan aku mati karena mu.." ucap raffi dengan wajah penuh kesungguhan dan kekecewaan.
"Kamu benar2 gila raffi. Aku gak akan melepaskan mu, km harus naik raffi. Ayo, aku bantu km pelan2." Aku terus berusaha untuk membantu nya, membantu mengangkat nya dan menjauh dari tempat yg sangat gak banget untuk bermain main. Raffi pun berhasil naik kembali dan aku seret dia untuk menepi ke tempat yg jauh dari bahaya, yg sempat membuat ku jantungan karena ulah nya. Aku tak tau jika hal itu benar2 terjadi? Aku tak bisa membayangkan nya lagi.
"Apa yg kamu lakukan barusan? Km mau buat aku merasa bersalah atas apa yg km perbuat? Km gak mikir apa akibat dari semua nya? Ini sungguh Gila!" Seru ku.
"Nagita..nagita.. aku mohon sama km, beri aku kesempatan." Ucap raffi yg menarik lengan ku dan terus membujuk ku, merayu ku, dan meminta ku untuk menerima nya. Bahkan raffi sempat bersujud di hadapan ku. Aku benar2 dilanda rasa bimbang dengan apa yg aku rasakan saat ini. Disatu sisi aku gak ingin jatuh pada luka yg sama, disaat aku benar2 mencintai seseorang yg dirasa nya pantas untuk ku, malah menelan rasa pahit kalo aku harus benar2 bisa melepaskan nya. Dan saat ini, apakah aku tahu raffi tidak akan berbuat seperti itu? Atau kah mungkin ia akan berbuat lebih dari apa yg aku rasakan saat ini?.
Aku berusaha untuk menghindar, sedikit mencari ruang, untuk ku bisa berfikir jernih. Namun seketika raffi menarik lengan ku, hingga spontan aku pun terjatuh dalam dekapan nya. Raffi begitu erat memeluk ku, bahkan hampir tak ada jarak diantara kita berdua. Saat ke 4 mata saling bertatap, saat kedua hidung saling bersentuhan dan saat itu juga raffi mencium ku.
"Raffi..." seketika aku pun segera melepaskan nya, sedikit mendorong tubuh nya dan berlari menjauh dari nya.
"Nagita... ! km belum jawab pertanyaan aku..!" seru raffi.
"Ya Tuhan.. apa yg sudah aku lakukan? Gak seharusnya aku larut dalam perasaan ini. Apa aku mulai jatuh cinta kepada nya? Ahh.. itu gak mungkin, aku gak mungkin mencintai nya." Pikir ku.
Dari hari ke hari raffi terus saja berusaha mendekati ku, bahkan kini lebih intens dari biasa nya. Kadang aku pun merasa kasihan, berulangkali raffi mengungkapkan isi hati nya kepada ku, namun berulangkali juga ku menolak nya. Sekeras apapun batu, jika terus menerus diteteskan air maka akan hancur juga, Lama2 aku pun luluh dengan kesungguhan hati nya. Perlahan aku mulai menerima keberadaan raffi disisi ku. Meski rasa takut itu masih menyelimuti sebagian hati ini. Tapi berulangkali juga raffi meyakinkan aku akan keseriusan nya.
1 minggu, 1 bulan, hingga sampai di usia 5 bulan hubungan ku dan raffi, kita jalani dengan penuh suka. Perlahan benih2 cinta pun itu tumbuh, aku mulai mencintai nya. Dan begitu juga sebaliknya nya. Tepat di hari ulang tahun salah satu teman baik kita berdua, sasha. Yg dirayakan disalah satu Bar ternama dipusat kota jakarta. Sebenar nya aku enggan untuk datang, namun raffi memaksa ku untuk ikut dan datang bersama nya dengan alibi sasha adalah best friend kita berdua. Akhirnya aku pun datang bersama nya. Tak sedikit org yg datang dan menikmati malam penuh kebahagiaan. Bahkan sederet wine pun menemani orang2 yg hadir disana.
"Sayang, km mau?" Ucap raffi dengan memberikan segelas white wine kepada ku.
"Gak raffi,," aku pun langsung menjauhkan gelas itu dari pandangan ku. Karena aku tak begitu suka dengan wine.
"Ini minuman biasa, gak akan memabukkan sayang. Km coba yah, kan sayang aku udah ambil kan untuk km." Ucap raffi, dan lagi2 aku percaya dengan apa yg diucapkan raffi.
"Makasih..." Aku minum beberapa gelas white wine yg raffi beri kepada ku. Tak lama setelah itu aku merasakan pusing, dan itu cukup mengganggu pandangan ku yg sedikit kabur.
"Raffi.. aku ingin pulang,,"
"Km kenapa sayang?" Ucap raffi
"Aku mulai pusing.. antar aku pulang raffi.." aku pun meminta raffi untuk mengantarkan ku pulang. Namun rupa nya raffi harus ke apartemen nya terlebih dahulu sebelum ia benar2 mengantarkan ku pulang ke rumah.
"Sayang, kita ke apartemen aku dulu yah? Ada titipan mama yg aku tinggal disana." Ucap raffi
"Ok.." aku mengiyakan nya, meski saat itu aku tau kalo waktu menunjukkan hampir pukul 00.00 wib. Bahkan hujan besar pun mengguyur seluruh kota jakarta.
"Km masuk saja. Aku cari barang nya dulu." Ucap raffi, aku pun masuk ke dalam. Aku memang sering main ke apartemen nya, tp aku tak pernah berlama2 disana. Namun saat itu raffi lupa akan letak barang yg dicari nya, hingga aku harus berlama2 disana. Aku memutuskan untuk mencoba membuka gorden kamar yg posisi nya gak jauh dari tempat ku berdiri. Dan ku buka pintu jendela nya, sungguh dingin banget malam itu, namun aku tetap berada disana menikmati setiap sisa tetesan air hujan yg jatuh melewati atap apartemen. Karena rupa nya hujan pun telah usai mengguyur kota jakarta.
"Hei, km disini?" Ucap raffi yg tiba2 saja ada di belakang ku.
"Sudah km dapatkan apa yg kamu cari?"
"Sudah,, km gak merasa dingin disini..?" Ucap raffi yg mulai memeluk ku dari belakang.
"Apa yg km lakukan?"
"Memeluk mu bukan? Aku gak ingin melihat km kedinginan disini" Ucap raffi.
Raffi memang selalu bisa membuat ku nyaman berada di dekat nya. Bahkan raffi selalu bisa memberikan kehangatan yg tak pernah bisa aku dapatkan dari orang lain. Perbedaan usia kita memang tak begitu jauh, tapi raffi cukup dewasa dalam hal ini. Bahkan tak khayal raffi sering memanjakan aku dengan kasih sayang nya
"Raffi,, makasih yah.." seru ku.
"Ssssssttttt... km gak perlu berterimakasih, karena aku sangat mencintai km. Apakah kamu pun mencintai ku..?" Ucap raffi.
"Apakah aku perlu menjawab pertanyaan mu?" Aku pun menoleh kearah nya dengan senyuman.
"Emm.. sepertinya?" Ucap raffi yg membalas senyuman kearah ku. Raffi semakin mengerat kan pelukan nya itu, bahkan hembusan nafas nya begitu terasa saat raffi mulai meletakkan dagu nya di bahuku.
"Sayang,," raffi pun perlahan mulai memutarkan tubuh ku yg sedari tadi membelakangi nya. raffi mulai menatap ku dengan senyuman khas dari diri nya. Menyibakkan rambut ku yg sempat menutupi wajah dengan kedua tangan nya. Dan saat raffi mulai menggenggam erat tangan ku, saat itu juga raffi mencium ku. Meski ini bukan kali pertama raffi mencium ku, tapi saat itu merupakan french kiss kita berdua. Aku mulai terlarut dalam permainan raffi. Hingga saat raffi mulai menuntun ku perlahan, menidurkan ku pelan di ranjangnya dan bahkan mulai menindih pelan tubuh ku, aku pun seolah tak bisa menolak nya. Entah setan apa yg merasuki dalam pikiran ku dan raffi saat itu, apakah ini efek wine yg kita minum atau kah,,,,, entah lah! Yg jelas, malam itu menjadi malam terindah yg kita lewati bersama.
Hingga pagi menjelang aku mulai merasakan hal yg aneh dalam telingaku. Suara detak jantung yg begitu terdengar jelas di gendang telingaku, bahkan pelukan hangat ini?? Sungguh aku pun langsung bangun saat itu juga,,
"Raffi.. !" Seketika aku pun berteriak histeris. Dan raffi pun langsung terbangun dari tidur nya.
"Sayang,," Ucap raffi yg juga kaget dengan kondisi yg masih mengenakan selimut tebal nya yg menutupi seluruh bagian tubuh nya.
"Apa yg sudah kita lakukan raffi, jawab aku?!" Aku berharap ini cuma mimpi. Berharap tak terjadi apa2 semalam. Namun seketika raffi mematahkan apa yg aku harapkan.
"Kita.. Emmp, kita.. km tenang dulu sayang.." ucap raffi
"Katakan kepada ku raffi, apa kita melakukan nya?"
"Maafkan aku sayang.." ucap raffi
"Apa??" Aku cukup terkejut mendengar nya. Sungguh apa sebenar nya yg ada di pikiran ku semalam, hingga aku mau melakukan nya. Memberikan apa yg seharusnya aku berikan kepada suami ku kelak. Begitu kotor kah diri ku..? Yg jelas saat ini aku merasa hina di hadapan Mu.
"Sayang, Aku tak pernah memaksa mu untuk melakukan itu. Tapi kita melakukan nya atas dasar cinta." Ucap raffi
"Cinta? Lalu gimana kalo aku hamil raffi? Apa kamu tak berpikir kearah sana?" Aku pun mulai menangisi apa yg sudah terjadi.
"Aku akan menikahi mu..!" ucap raffi, aku seketika terdiam. Aku tak habis fikir dengan raffi bisa berkata semudah itu ia bilang akan menikahi ku.
"Sayang, aku berjanji sama km. Aku akan bertanggungjawab jika terjadi sesuatu terhadap mu. Karena aku sangat mencintai mu sayang, dan akan selama nya mencintai mu. Percayalah." Ucap raffi yg langsung memeluk ku, menenangkan ku yg kala itu perasaan ku sedang kacau. Entah lah apa yg terjadi jika mama dan papa ku tahu akan hal ini, aku tak bisa membayangkan nya.
"Aku mau pulang,," aku bergegas untuk pergi dan meninggalkan tempat yg membuatku pusing.
"Sayang,,,! Aku antar km pulang yah? Tunggu aku.." raffi pun tengah bersiap2 untuk segera mengantar kan ku pulang. Tak ada 1 patah kata pun yg terucap dari bibir ku. Meski raffi berulangkali mengajak ku untuk berbicara. Hingga saat nya tiba dirumah, aku pun langsung berlari masuk.
Hampir 3 minggu setelah kejadian malam itu, tak ada sesuatu yg mengharuskan ku khawatir akan terjadi sesuatu. Hubungan ku dan raffi masih berjalan seperti biasa. Hingga 4 minggu lebih 5 hari, aku mulai merasakan mual yg sangat amat tidak enak. Dan itu membuat aku beberapa kali absen masuk kampus. Aku pikir aku hanya mual dan pusing biasa, hingga saat nya mama menyarankan ku untuk ke rumahsakit dan aku pun menolak nya.
"Km terlihat sangat pucat nak, dan km terlihat kurusan sekarang." Mama pun melihat ada yg berubah dari diri ku, tp aku selalu beranggapan kalo aku sedang kurang enak badan. Namun seketika ku melihat sekilas akan kalender bulanan ku, yg seperti nya bulan ini begitu polos tanpa silang merah di hari dan tanggal yg biasa aku lakukan setiap bulan nya.
"Astaga!" Aku pun langsung berlari ke arah kamar mandi, aku ambil test pack yg pernah aku beli sebelum nya untuk sepupu ku. Dan apa hasil nya??
"Gak.. ini gak mungkin terjadi.." 2 tanda garis merah yg jelas2 terdapat dalam stik tersebut.
"Raffi.. ! aku harus beri tahu dia tentang ini semua. Ya.. aku harus menelpon nya." Aku mencoba mengambil handphone yg ada di laci almari ku, dan mencoba untuk menghubungi raffi. Namun beberapa kali dihubungi, raffi sama sekali tak mengangkat nya.
"Km dimana raffi?" Aku mulai putus asa, cemas dengan apa yg aku alami saat ini. Aku segera bergegas pergi menemui raffi, dan mencari keberadaan nya saat ini, meski dengan kondisi ku yg masih terlihat pucat. Ku datangi kampus saat itu juga, dan kebetulan raffi baru saja keluar dari kelas nya. Aku tarik tangan nya dan aku bawa ketempat yg jauh dari keramaian.
"Sayang, km kenapa? Kenapa km tarik tangan aku dan membawa ku ke sini..?" Ucap raffi
Aku pun memberikan hasil test pect itu kepada raffi.
"Apa ini sayang?" Raffi pun tak mengerti apa maksud ku dan barang yg di pegang nya.
"Aku hamil raffi,, !"
"Apa? Hamil?" Seru raffi, langsung saja aku tutupi mulutnya dengan kedua tangan ku.
"Maaf-maaf. Km.. km hamil? Kamu gak lagi mimpi kan sayang, itu gak mungkin terjadi.." lanjut raffi yg tak mempercayai nya atas apa yg aku katakan.
"Gak mungkin gimana? Itu sudah jelas raffi! Aku positif hamil anak km." Aku pun terus berusaha meyakinkan nya, bahwa apa yg aku katakan itu benar.
"Ok.. ok.. sekarang km tenang dulu ya. Aku akan bertanggung jawab atas apa yg sudah aku perbuat terhadap mu. Sekarang km ikut aku, dan tenangkan diri km." Raffi pun membawa ku ke tempat yg jauh lebih tenang dan nyaman untuk kita berdua.
Raffi memang sudah berjanji akan bertanggung jawab atas perbuatan nya, bahkan raffi bersedia menikahi ku saat itu juga. Tapi dengan usia ku yg masih muda, begitu juga sebaliknya nya. Itu tidak mudah mendapatkan izin dari kedua orangtua kita, kecuali aku harus menceritakan itu semua. Namun seperti nya itu tak mungkin aku berkata jujur. Hingga sampai usia kandungan ku masuk 3 bulan, mama mulai timbul rasa curiga dengan berat badan ku yg semakin hari semakin berisi. Bahkan hampir setiap hari aku alami morning sick. Dan itu cukup membuat mama bertanya2.
"Gi.. mama lihat akhir2 ini km suka mual dan muntah. Km kenapa sayang?" Ucap mama ku yg menanyakan perubahan fisik ku.
"Apakah aku harus jujur dengan semua nya? Apa aku harus menceritakan hal ini ke mama? Gimana jika mama tau, apakah mama akan marah pada ku?" Bathin ku.
"Sayang?? Gi.. gigi..?" Ucap mama yg membuyarkan lamunan ku.
"Segala sesuatu jika ditutup2i, suatu saat pasti akan tercium juga. Lalu untuk apa aku berlama2 memberitahu nya?" Pikir ku.
Perlahan aku mulai merangkai kata, tentang apa yg akan aku ceritakan kepada mama. Dengan sangat hati2 aku berkata jujur kepada nya. Menceritakan apa yg aku alami sejauh ini. Dan itu cukup menjadi tamparan bagi mama. Rasa malu, kecewa, bahkan mungkin enggan memaafkan ku terpancar begitu jelas diwajah mama saat itu.
"Mah.. maafkan aku." Itulah yg hanya bisa ku katakan kepadanya, meski airmata tak bisa terbendung lagi.
"Apa raffi sudah mengetahui nya?" Mama pun menanyakan hal itu.
"Raffi sudah berjanji akan bertanggungjawab atas kehamilan ku."
Aku pun sedikit lega, saat mama sudah mengetahui hal ini. Namun gimana dengan papa?.
Lain hal nya dengan raffi. Setelah tahu aku hamil, raffi seperti kehilangan arah. Yg awal nya bersedia bertanggungjawab dan akan menikahi ku. Kini malah sedikit ragu untuk melangsungkan nya. Raffi tidak diperbolehkan papa nya untuk menikah muda, bahkan papa nya mengancam akan menarik seluruh fasilitas yg selama ini raffi gunakan. Bahkan tak segan2 untuk men "DO" nya dari kampus selama ini raffi menuntut ilmu. Dan itu cukup membuat raffi tak ingin kehilangan semua nya. Dan itu sempat berperang bathin antara hati dan kenyataan nya.
Sedangkan aku, selalu di tanya mama dan papa akan keseriusan raffi. Bahkan papa tak segan2 akan memaksa raffi untuk menikahi ku minggu ini juga. Namun dimana keberadaan raffi? Entah lah, sampai detik ini dan hingga waktu itu pun tiba, aku tak tau dimana raffi berada. Nomor handphone nya sulit dihubungi, apartemen yg biasa raffi tinggal kini tak lagi ditempati nya, bahkan rumah yg selama ini raffi tinggal bersama keluarga nya sudah lama kosong. Lalu kemana aku harus mencari nya? Disitu aku mulai merasa putus asa.
"Lalu apa yg harus kita lakukan mah? Semakin hari usia kandungan nagita semakin bertambah. Dan gimana jika semua orang tahu kalo anak kita hamil?" Papa pun mulai memikirkan hal negatif yg kemungkinan terjadi dekat2 ini.
"Pah, biarkan nagita pergi dari sini."
"Apa maksud km nagita?" Ucap papa ku
"Nagita gak mau org lain tahu akan hal ini, apalagi membuat mama dan papa malu. Biarkan nagita pergi. Dengan begitu, semua relasi papa gak akan tahu akan hal ini." Sebuah saran konyol sih menurut ku, tapi itu salah satu cara untuk kebaikan kita semua nya.
"Tapi mama gak mungkin membiarkan mu sendiri, km masih terlalu muda untuk melakukan nya sendiri sayang?" Ucap mama
"Mah,, percaya lah, nagita akan baik2 saja. Sekarang izin kan nagita untuk memilih dan menjalani kehidupan ku sendiri. Nagita hanya butuh do'a dari mama dan papa disini." Aku pun segera menyiapkan segala keperluan ku, dan bersiap2 pergi karena aku sebenar nya sudah menyiapkan pasport untuk aku pergi ke luar negeri.
"Kabari mama dan papa jika km ada sesuatu, dan ingat lah Tuhan akan selalu menyertai orang2 yg selalu mengingat nya. Jangan pernah melupakan hal itu nak.." itulah pesan terakhir kedua orangtua ku, sebelum saat nya aku pergi meninggalkan nya.
Usia yg hampir 20 tahun tidak lah mudah untuk tinggal di negeri orang dengan seorang diri. Apalagi dalam kondisi berbadan 2. Itu cukup membuat ku merasa, ini lah jalan yg harus aku tempuh dan jalani sendiri tanpa seorang mama yg mungkin orang lain butuhkan disaat kehamilan ku semakin hari semakin membesar. Bahkan aku sempat mengalami pendarahan beberapa kali, tp alhamdulillah semua baik2 saja. Namun seperti nya berbanding terbalik dengan kondisi keluarga ku di jakarta. Semenjak aku pergi, saat itu juga papa mulai jatuh sakit. Bahkan berulangkali aku dengar papa sering bolak-balik masuk rumahsakit. Hingga saat nya aku melahirkan seorang anak perempuan, yg aku bernama "Key", tak ada 1 keluarga pun yg datang menemaniku disaat persalinan, karena mama dan caca harus menemani papa yg harus jalani operasi pemasangan ring pada jantungnya. Dan lagi2 aku memaklumi hal itu, karena kesembuhan papa adalah segala nya untuk ku. Aku kira dengan menjalani operasi itu, papa bisa dinyatakan sembuh oleh dokter. Tapi ternyata aku salah, dan takdir berkata lain. Papa hanya bisa bertahan 1 tahun saja setelah pasca operasi itu. Dan itu cukup membuat aku shock dan panik mendapatkan kabar kalo papa sudah tiada. Kala itu yg ada di pikiran ku hanyalah "Mengapa Engkau memberikan cobaan yg bertubi2 untuk ku? Bahkan Engkau ambil salah satu orang yg sangat berarti dalam hidup ku. Mengapa Kau tak ambil saja nyawa ku, kenapa harus papa?" Pikir ku.
Aku sadar, kalo aku belum sempat mewujudkan apa yg diharapkan nya untuk segera lulus dengan gelar master ku, bahkan papa belum sempat bertemu dengan key cucu nya yg saat itu baru berusia 1 tahun. Namun disaat aku terpuruk, rio datang dengan segala kasih dan sayang yg bisa ia curahkan kepada ku yg kala itu membutuhkan seseorang yg bisa menenangkan pikiran ku. Seseorang yg rela mengorbankan kebahagiaan nya hanya untuk aku. Bahkan rio selalu mensupport ku, kehadiran nya membuat aku sadar. Bahwa perjuangan ku tak berhenti sampai disini. Aku masih harus terus berjuang untuk mereka, ada mama, caca, dan tak lupa putri kecil ku. Hingga 1 thn key terlahir di dunia, bahkan di sela2 waktu aku mengurus key, aku pun menyempatkan diri untuk bisa menyelesaikan study ku yg sempat tertunda beberapa bulan ini. Hingga saat nya key berusia kurang dari 4 tahun, aku bisa menyelesaikan S2 ku dengan sempurna. Dan itu cukup membuat ku bangga atas apa yg aku perjuangkan selama ini. Kini hidupku jauh lebih berwarna dengan kehadiran key disamping aku. Bahkan key tak segan2 mengajari ku banyak hal akan arti kehidupan yg sesungguhnya. Dengan begitu, aku lebih bisa bersyukur atas apa yg Tuhan beri untuk ku hingga saat ini. Itulah kisah ku.." papar ku.
"Maafkan aku gi, sungguh aku tak bermaksud membuka luka lama atau mengingat-ingat masalalu mu lagi. Tapi aku cukup bangga dengan keputusan mu. Bahkan aku salut sama kamu, mungkin jika aku yg mengalami itu semua, gak akan mungkin saat ini aku ada dihadapan mu. Mungkin aku sudah mati bunuh diri." Ucap dinar yg secara tak sengaja ikut larut dalam cerita ku.
"Sudah lah lupakan saja, aku sudah tak ingin membahas nya lagi." Aku pun tersenyum simpul dihadapan nya.
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.
next lagi mba ... klw boleh tanya trs si raffi y ad di mna skrg???
ReplyDeleteEntah lah.. silahkan sayembara .. ahahah
ReplyDeleteya ampunnn -_- .... lanjutannya kpn mba??
ReplyDeleteNanti yah.. belum sempat bikin lagi..
ReplyDeleteklw bsa jgn seudh lebrn mba ... wkkwkw kelamaan itu ckckckc
ReplyDeleteAku pun mau nya begitu.. ;)
ReplyDelete