Life in future with you--- part 9
(Namun seperti nya aku tak mungkin menunda kepulangan ku lagi. Kini hanya ada 2 pilihan, pulang larut malam atau ikut raffi yang kebetulan 1 tujuan dengan ku. Dan dengan sangat terpaksa akhirnya aku memilih untuk ikut mobil raffi karena aku tak ingin mengecewakan key yang sudah menunggu ku dirumah.
"Kalian hati-hati dijalan. Nagita, sampai ketemu nanti. Dan Raffi....?!" ucap paul pun tertahan, paul berbisik pelan ke telinga raffi. Entahlah, apa yang paul katakan. Yang jelas raffi hanya tersenyum kearah nya.)
Aku hanya memandangi nya dari jauh, sebelum akhirnya aku masuk dalam mobil, dan kita pun memulai perjalanan pulang, mengingat hari sudah semakin gelap. Dan aku tak ingin terjebak macet atau pun sampai bermalam di jalanan.
"Mengapa tak kau tunggu saja dia?? Mengapa kamu malah memilih ikut bersama ku?" Ucap raffi memecahkan keheningan diantara kita.
"Maksud kamu, paul??"
"Ya.. Bukankah dengan begitu kalian bisa lebih banyak waktu berdua dengan nya?" Ucap raffi singkat, namun cukup membuat ku terkejut. Aku rasa, mulai ada yang berbeda dalam diri nya. Sikapnya yang dingin terhadap ku, seolah mengingatkan aku akan sosok dirinya yang sangat pencemburu. Tapi apakah mungkin raffi cemburu terhadap paul? Apakah raffi mengetahui sesuatu, yang mungkin saja ada hubungan nya antara kedekatan aku dengan paul akhir-akhir ini? Beberapa pertanyaan pun menyelinap di otak ku saat ini. Tapi aku tak ingin ambil pusing, karena aku rasa itu bukan sesuatu yang harus aku pikirkan. Hingga aku hanya diam, dan tak begitu serius menanggapi nya.
"Nagita ...?" Namun rupanya raffi pun berusaha untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan nya.
"Raffi, aku.."
Syuuuuuuutttttt..... laju mobil pun berhenti secara tiba-tiba.
"Kamu menyukai nya, bukan??" Raffi pun memotong pembicaraan ku begitu saja, dan melempar pertanyaan yang menurut ku itu sangat tidak mungkin terjadi. Mana mungkin aku menyukai paul? Namun rupanya raffi semakin penasaran akan hubungan ku dan paul. Raffi pun menatap ku tajam. Binar matanya memandang ku seolah penuh makna. Bahkan tatapan itu tidak berubah, masih tetap sama seperti saat paul memperlakukan ku secara berlebih didepan nya. Seolah ada kebencian. Bahkan kecemburuan itu terlihat jelas dimata nya
"Itu bukan urusan mu, raffi." Berharap tak akan ada lagi pertanyaan yang menyudutkan aku.
"Aku cuma ingin tahu jawaban mu, apa aku salah?" ucap raffi pelan, rupanya ia sungguh2 dengan pertanyaan nya. Terlihat saat ia mulai menatap ku dengan penuh harap. Aku mencoba untuk menarik nafas panjang, sebelum akhirnya berucap..
"Aku dan paul,,, hanya teman biasa. Dan aku hanya menganggap nya sebagai partner kerja, gak lebih."
"Aku minta maaf." Raffi pun melanjutkan mengendarai mobil nya, mengingat masih terlalu jauh perjalanan yang kita tempuh untuk sampai jakarta. Sedangkan aku hanya duduk manis, dan sesekali ku menoleh kearah raffi yang kadang terlihat salting. Aku gak pernah melihat raffi se-gelisah ini. Lengan dan jari nya tak henti-henti ia gerakkan ke atas dan ke bawah. Aku hanya bisa tersenyum geli melihat nya.
"Ada yang lucu??" Raffi pun menoleh kearah ku.
"Sepertinya..."
"Maksud kamu??" Raffi pun berbalik tanya kepada ku. Aku hanya diam tak bergumam.
Aku jadi teringat akan kisah gunung es dan gunung merapi. Sifat raffi yang dingin, tidak berekspresi, jarang bicara jika tidak perlu, bahkan kadang susah ditebak jalan pikirnya. Layaknya gunung es yang kaku dan susah ditembus hatinya. Karakter tenang dan dinginnya, mampu membuat lava panas yang ada dalam dirimu tiba-tiba menjadi dingin. Hanya beberapa kalimat yang keluar dari mulutnya mampu membuat amarah mu reda. Pernahkah kamu merasakan seperti itu sebelum nya?? Sedangkan aku cenderung berkarakter seperti Gunung Merapi. Selalu ceria terlihat mata, dan cenderung lebih ekspresif. Sedih terlihat, marah terlihat, ketika senang pun bisa dengan mudahnya tertangkap oleh mata mu. Seakan-akan kamu mampu melelehkan balok-balok es yang ada dihati nya. Kamu pun mulai menghangat, tidak sedingin sebelumnya. Tanpa sadar, kamu mulai banyak mengeluarkan kata. Tanpa kamu sadar, kamu tidak sependiam sebelumnya. Dan orang-orang terdekatmu mulai merasa bahwa kamu tidak seseram dirimu yang dahulu, mulai banyak tersenyum karena tertular senyumnya. Mulai bisa berekspresi, karena kamu banyak belajar darinya. Pernahkah kamu merasakan seperti yang aku rasakan sebelumnya?? Dan akhirnya kamu pun sadar, bahwa matanya yang dingin seperti es mulai mencair. Sifatnya yang kaku, mulai melunak. Jalan pikirnya yang sulit ditebak, sekarang bisa kamu tebak hanya dengan sekali kamu melihat matanya. Pada akhirnya kamu mengetahui bahwa ia tidak sedingin yang orang bilang. Dan pada akhirnya kamu pun terkejut, bahwa ia begitu, hanya kepada mu seorang. Karakternya yang dingin masih berlaku ke banyak orang. Tapi tidak kepada mu. Ia mulai mencair, gunung es itu mulai mencair. Sayangnya, banyak kejadian yang memperkeruh keadaan. Karena sifatmu yang ramah, keceriaanmu yang menular, kamu tanpa sadari ternyata menawan banyak pria. Banyak yang terpesona kepada mu, banyak yang ingin memiliki mu. Dan pria itu akhirnya tahu. Mungkin akhirnya pria ini sadar. Hatinya sudah mencair terlalu jauh disaat dirinya belum siap mendampingimu. Benteng pertahanan yang selama ini ia bangun susah payah, sudah runtuh terlalu parah karena bertemu denganmu. Kamu tak tahu, betapa fatal akibat kehadiranmu di dalam hatinya. Betapa susahnya ia merapikan semuanya kembali ke sediakala. Ia tahu, sampai saat ini, hanya kamulah yang sanggup mencairkan hatinya. Tetapi ia juga tahu, kamu belum halal baginya. Kamu belum tentu miliknya. Ia sadar, betapa bagus kualitas pria yang ingin menjadikanmu sebagai istrinya. Sedangkan ia bukan siapa-siapa. Ia tak ingin membuatmu merana. Karena mungkin menurutnya, hanya dengan cinta saja tak akan cukup membawamu ke surga. Ia ingin menjaga hatinya dulu dan ia juga ingin menjaga hatimu. Maka ia menetapkan hatinya, untuk menjauhimu perlahan. Nanti sampai ia selesai mempersiapkan semuanya. Mungkin nanti ketika ia sudah siap dan kamu masih sendiri, ia akan datang kembali. Apakah memang benar begitu?? Apakah raffi gunung es itu, dan aku gunung merapi itu? Entahlah, tapi itu yang ku tangkap dari diri raffi selama ini. Aku memang bukan paranormal, yang bisa lihat dari garis tangan si pemiliknya. Bukan pula dilihat dari kartu tarot yang biasa dilakukan oleh mereka yang ingin mengetahui sifat dan perasaan nya saat ini. Melainkan dari mata nya, bahkan ucapan pada setiap perkataan nya yang mungkin secara tidak langsung menggambarkan perasaan nya kini. Tak perlu ia bercerita panjang lebar, karena aku sangat mengenal nya. Dan kini,, perlahan tapi pasti aku mulai bisa melihat nya tersenyum, bahkan kini raffi mulai terlihat tenang duduk disamping ku.
"Kamu mau makan dengan ku??" Ucap raffi. Suatu kemajuan, bahkan ia mulai terbiasa dengan keberadaan ku disamping nya. Namun belum juga aku menjawab nya, raffi sudah menghentikan dan memarkirkan mobil nya didepan resto kawasan puncak.
"Mengapa berhenti? Aku sama sekali belum jawab pertanyaan mu..?"
"Kamu tak perlu menjawabnya, karena aku tahu jawaban mu" Raffi pun tersenyum simpul kearah ku. Seolah ia tahu apa yang aku inginkan. Dengan cepat raffi membukakan pintu untuk ku, dan ia pun datang menghampiri ku.
"Apa kamu yakin, aku akan menerima ajakan mu?" aku pun menatap nya tajam.
"Tentu,, kalau pun kamu menolak nya, aku akan tetap memaksa mu untuk ikut bersama ku." Singkat, namun cukup mencairkan suasana yang sedari tadi terasa beku. Kadang aku bingung, mengapa aku tak pernah bisa menolak ajakan raffi. Dari dulu, raffi selalu bisa membuat aku bilang "iya" kepada nya. Dan akhirnya raffi berhasil membuat ku memutuskan untuk dinner bersama nya. Meski rasa canggung, bahkan salting pun tergambar jelas pada sikap raffi malam itu. Wajarlah jika aku dan raffi terlihat kaku. Sebab ini kali pertama nya untuk kita dinner bersama setelah sekian tahun lama nya. Bahkan aku tak pernah menyangka akan melewati satnite bersama nya.
"Kamu suka tempat ini??" Ucap raffi. Aku hanya melemparkan senyuman kearah nya. Siapa juga yang tak menyukai tempat ini??
Suasana resto yg tampak remang-remang, nyala lilin dalam gelas disetiap sudut ruangan, menambah kesan classic resto ini. Bahkan not balok berirama seolah tak redup mengiringi nya, menambah kesan romatisme pada setiap pengunjung yang ada disini. Sungguh menarik bukan??
"Nagita.... Emmp.. Aku... Aku..." raffi pun seakan ingin mengungkapkan sesuatu.
"Kamu kenapa?"
"Emmpp.. gak! Aku gak apa-apa." Aku yakin raffi ingin mengutarakan sesuatu, namun seperti nya ia ragu untuk mengucapkan itu. Tapi ya.. sudah lah, aku pun tak begitu ambil pusing. Yang ada dipikiran ku sekarang, hanya key. Ya .. key.. Sedang apa dia saat ini?? Aku memang tak pernah bisa lama meninggalkan nya sendiri. Meski ada mama dan caca, tapi rasanya aku tak tega bila harus jauh dari nya. Sifat manja nya, sifat polos nya, serta rasa kasih dan sayang nya yang tulus membuat aku selalu ingin segera pulang dan memeluk nya.
"Raffi, aku tak bisa berlama-lama disini."
"Kenapa begitu?" Dengan wajah kaget nya, seketika raffi mulai menatap serius kearah ku.
"Aku harus segera pulang."
"Tapi kamu belum selesai makan. Kamu lihat ini..?? Lebih baik kamu habiskan dulu makanan mu." Ucap raffi
"Tapi raffi...."
"Kamu masih membenci ku? Apa kamu masih belum bisa memaafkan ku? Jawab aku nagita...?!" Beberapa pertanyaan pun terlontar dari mulut nya. Tapi aku mencoba untuk menjelaskan nya perlahan. Menjelaskan yang seharusnya aku jelaskan sedari dulu, ini tentang aku dan key. Yang mungkin selama ini raffi selalu pertanyakan kepada ku. Mungkin ini lah saat nya raffi tahu, betapa sangat dirindukan kehadiran nya. Sosok seorang ayah yang tak pernah didapatkan oleh putri nya sejak lahir. Betapa antusias nya raffi, saat aku bercerita sedikit tentang key. Meski hanya sedikit, tapi seolah mampu meruntuhkan binar-binar bening dari kedua bola mata nya. Seakan tumpah dan berjatuhan bersama rindu yang teramat dalam. Tak ada lagi amarah, seperti saat pertama kita bertemu. Balok-balok es yang terasa dingin dan kaku itu kini mulai mencair dengan sendiri nya. Aku pun seolah hanyut dalam perasaan itu, larut dalam kerinduan yang tak bisa aku ungkapkan lewat kata-kata.
"Apa aku boleh bertemu dengan nya?" Ucap raffi pelan
"Ya.. Tentu nya. "
Akhirnya, kita pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang, meski tanda-tanda akan turun hujan mulai tampak. Angin bahkan petir pun nampak bergemuruh. Tapi kita sama sekali tidak memperdulikan itu. Namun tak berselang lama, handphone ku pun terasa bergetar. Aku lupa untuk mengembalikan nya ke pengaturan awal. Hingga tak terasa 3 missed call pun aku biarkan begitu saja, mungkin karena nada dering yang sengaja aku senyap kan saat meeting berlangsung, hingga sama sekali tak terdengar oleh ku. Rupa nya caca sedari tadi berusaha menghubungi ku. Aku mencoba menghubungi nya kembali, karena aku takut terjadi sesuatu pada key putri ku. Sedangkan raffi, tetap terjaga mengendarai nya.
"Hallo..? Iya ca, kenapa? Mba masih di puncak."
"Mba, key gak mau makan. Key cuma mau makan kalo ada kamu disini" ucap caca, sudah ku duga akan terjadi seperti ini. Key memang tak bisa jauh dari ku.
"Sekarang dimana dia? Boleh aku bicara dengan nya sebentar?"
"Hallo mam, where are you?" Ucap key
"Mami masih di puncak sayang."
"When to go home, mam? I have prepared a special dinner for you." Ucap key
"Special dinner?"
"Em'hum.. but seems mami is busy. Still a lot of work, mam?" Ucap key
"Sayang ,, don't be sad, okey? I'll soon be home. Don't forget to eat, and then don't wait mami, ok? Maybe, mami would arrive at midnight sayang." Ya.. dengan kondisi seperti ini rasa nya tidak mungkin aku akan datang tepat waktu. Mengingat hujan pun mulai turun, bahkan cukup deras mengguyur kota ini. Hingga mengakibatkan jarak pandang pun terganggu. Dan aku tak mau key menunggu kedatangan ku hingga larut malam.
"Siapa,,,,? Key?" Ucap raffi pelan
"Ya..,," aku coba untuk memperbesar volume suara nya, sengaja agar raffi bisa mendengar apa yang key katakan.
"Hallo?? Sayang..?"
"Ya.. I'm hear you.." ucap key pelan
"Ok! Sekarang, biarkan malam ini aunty caca yang akan menemani kamu tidur. Dan mami pastikan, mami akan ada disamping kamu saat kamu terbangun nanti."
"Okey, be careful there. I really love you mam, love you so much. See you.." Ucap key
"Love you too sayang. Key...?"
"Heummn..??"
"Say to dedy, please.."
"Dedy?" Ucap key
"Ya.. If dedy was with mami here, what would you say to dedy?"
"Emm.. I'm waiting for you ded." Satu kalimat singkat, namun cukup mewakili semua perasaan nya. Sebelum akhirnya key menutup telephone itu.
"Kamu dengar dia, bukan? Itulah alasan ku selama ini. Alasan mengapa aku tak pernah bisa jauh dari nya."
Raffi hanya terdiam, seolah terpaku, seakan ikut merasakan apa yang putri nya rasakan. Apa rasa bersalah itu muncul kembali pada diri nya kini? Entahlah, yang jelas raffi hanya diam seribu bahasa. Sesekali ia usap kedua mata nya dengan tangan secara bergantian. Mungkin ia tak ingin terlihat rapuh didepan ku. Kini yang terasa hanya sunyi, sepi.. seolah dunia ini tak berpenghuni. Jelas saja, cuaca buruk seperti ini mana mungkin orang lain mau berkeliaran keluar rumah. Yang ada mereka memilih untuk berkumpul bersama keluarga yg pasti nya akan menghangatkan suasana diantara nya. Tak seperti aku, yang hanya duduk terpaku, memandangi setiap tetes hujan yang jatuh melewati dinding-dinding kaca dari sisi kiri ku. Namun aku seolah terhenyak, seketika mobil yang dikendarai tiba-tiba berhenti ditengah jalan.
"Kenapa???"
"Entah lah,, " raffi mencoba untuk menyalakan kembali mesin yang sempat mati. Namun semua itu seperti nya percuma,,,
"Kamu mau kemana?"
"Kamu tunggu disini, aku akan cek mesin nya." Ucap raffi
"Tapi ini hujan raffi,,"
"Sudah lah, kamu tunggu disini." Raffi pun keluar tanpa mengenakan pelindung, baik payung atau apalah itu.. Tapi apa daya, derai hujan yang turun tak bisa menghentikan niat nya untuk mengecek langsung kondisi mobil nya saat ini. Merasa tak memperoleh hasil, raffi pun masuk kembali kedalam mobil. Dengan kondisi setengah basah, raffi mencoba mengambil telephone nya dan segera menghubungi seseorang.
"Gimana?"
"Gak ada jalan lain, seperti nya kita harus bermalam disini. Kita tunggu sampai hujan reda." Pilihan yang sangat tidak aku inginkan sama sekali. Apa yang aku khawatirkan ini benar-benar terjadi.
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.
Keren. ..next part 10 nya jangan lama-lama...
ReplyDeleteMudah mudahan ya.. 😇😇
DeleteKak nextnya skrg dong klo gak besok. Jan lama2 dong kakkkkkkk
ReplyDeleteKalo besok seperti nya tidak bisa deh.. 😀😀 tp di usahakan nanti.. 😊😊
DeleteBagus banget , lanjutannya jangan lama ya mba , semangat mba :)
ReplyDeleteMakasih... 😊 mudah2an ya.. 😇😀
Deletekerenn... ditunggu part 10 nya nih..
ReplyDeletenextnya kapan niiy... ? segera yaaa... :)
ReplyDelete