Life in future with you--- part 19
("Entahlah, ini cuma perasaan ku saja ataukah memang benar adanya. Bila memang benar, aku pasti sangat bahagia. Tapi, aku rasa itu tidak mungkin. Bahkan nanti, disaat aku pergi...?? Sudahlah, bicara apa aku ini.."
"Pergi.. ?? Raffi, apa maksud mu??"
"Lupakanlah. Sudah malam, lebih baik kamu istirahat. Taxi ku sudah menunggu dibawah..." Raffi tersenyum tipis kearah ku, sebelum akhirnya raffi benar-benar pergi meninggalkan ku dan meninggalkan tanda tanya besar untuk ku..??)
Tapi, sudahlah.. aku tak Ingin menanggapi nya dengan serius. Lebih baik sekarang aku istirahat. Masih ada waktu 3 jam lagi untuk aku bisa terlelap. Mengingat hari hampir menjelang pagi. Dan aku harus menyiapkan segala sesuatu nya untuk keperluan meeting ku pagi ini. Tunggu! Ngomong-ngomong dimana putri ku..? Sejak pagi tadi, aku sama sekali tak melihatnya. Bahkan disaat aku bangun, hanya tersisa selimut dan guling saja disamping ku. Tapi tunggu, tunggu... sepertinya ada sesuatu yang aku abaikan disana. Sesuatu..? Ya.. sesuatu.
"Always love you.." itu lah yang ku baca dari sepucuk surat yang terselip diantara rangkaian bunga mawar yang tergeletak cantik disamping kanan sewaktu aku bangun dan membuka kedua mata ku. Aku rasa ada yang aneh pagi ini. Dengan tidak ada nya key disampingku saja itu sudah cukup membuatku merasa ada yang berbeda. Apa mungkin dia sudah menunggu ku di bawah?? Lantas siapa yang berhasil membangunkan nya? Dan bunga ini.. ?? Ahh, ini sebuah teka-teki di pagi hari menurut ku. Apa sebaiknya aku turun saja..? Ya.. mungkin sebaiknya seperti itu.
"Kamu sudah bangun, nak... ??"
"Mama,,,, Aku pikir siapa."
Dengan santai nya mama berjalan dan membuka gorden kamar ku lebar-lebar.
"Mah..."
"Hmm..? Kamu pasti mencari key putri mu, bukan?? Dia sudah menunggu mu dibawah."
"Apa mama yang membangunkan nya??"
"Kamu tahu bagaimana kebiasaan nya, bukan?? Lalu mana mungkin mama yang melakukan nya."
Mungkin benar juga apa yang dikatakan mama.
"Lantas siapa yang bisa membuatnya seperti itu?" Mama hanya tertawa kecil..
"Cuma kalian yang bisa membujuk nya seperti itu."
"Maksud mama..?"
"Menurut mu..? Bunganya cantik, sama cantiknya seperti anak mama ini. Kamu tak perlu bingung seperti itu. Ini semua raffi yang melakukannya. Dan mama rasa dia cukup telaten kok mengurusi nya. Sebaiknya kamu sekarang siap-siap. Mama tunggu dibawah ya.."
Raffi..?? Masa sih..?? Tapi sudahlah. Untuk apa aku berlama-lama disini. Lagi pula aku sudah siap dengan segala sesuatu nya. Lebih baik aku turun, untuk sekedar sarapan, dan berbincang. Setelah itu kita langsung pergi, mengingat aku pun harus mengantarkan key ke sekolah. Sebelum akhirnya raffi mengantarkan ku ke kantor. Namun rasa nya masih ada yang mengganjal di hati ku.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu..?"
"Hmm..? Katakan saja.."
"Bagaimana kamu bisa kembali kerumah ku secepat itu??" Ya,, bisa dibayangkan, raffi baru saja pulang dari rumah ku dini hari. Dan kemungkinan besar ia baru bisa sampai rumah 30 menit kemudian. Itu pun jika raffi benar-benar lelah ia akan terlelap dengan mudah nya. Tapi aku rasa itu tidak mungkin, kantung mata yang menebal membuat aku yakin bahwa raffi hanya sempat mengganti pakaian dan kembali menyambangi rumah ku.
"Kamu diam??"
"Aku rasa... tak ada yang harus aku jawab dari pertanyaan mu. Karena aku yakin kamu pasti tahu hal itu." Ucap raffi
"Kamu terlalu memaksakan diri, raffi..!"
"Aku cuma berusaha untuk menjadi ayah yang baik untuk nya. Apa aku salah..?"
Aku sejenak terdiam, mungkin semua orang memiliki cara nya tersendiri. Dan mungkin itu cara dia untuk bisa menjadi seorang ayah yang baik, yang rela melakukan hal apapun demi putrinya, bahkan tanpa memperdulikan dampak apa yang nanti akan terjadi pada diri nya. Mungkin itu yang kini ada di benak raffi saat ini. Andai saja kamu tahu bagaimana cemas nya aku, raffi? Aku sangat mengkhawatirkan kondisi mu saat ini.
"Kamu tak perlu menatap ku seperti itu. Aku.. Emm, aku harus ke kantor sekarang. Sebaiknya kamu masuk. Aku gak akan pergi, sebelum aku memastikan sendiri kamu masuk dan duduk di ruang kerja mu. Emm, ayolah... sekarang kamu masuk!"
"Tapi, Raffi... kamu.."
Raffi buru-buru mengecup kening ku, sebelum akhirnya raffi berkata sesuatu untuk bisa meyakinkan ku.
"Percayalah, aku akan baik-baik saja." Dengan senyum tipis nya, raffi perlahan pergi meninggalkan ruang kerja ku. Kini aku hanya bisa menatap kosong kearah pintu, yang mungkin tak terlihat lagi sosok atau bayangannya disana. Semoga Tuhan selalu melindungi setiap langkah nya.
**
"Bisa ke ruangan ku sebentar?"
Tak berselang lama, ketukan pintu pun terdengar jelas.
"Masuklah, silahkan duduk. Saya sudah memikirkan semua nya. Dengan segala pertimbangan, saya memutuskan bahwa saya sendiri yang akan menyelesaikan semua nya."
"Tapi pak, apa bapak siap dengan segala kemungkinan yang terjadi? Mereka bukan orang biasa, mereka pasti sudah menyiapkan segala bukti-bukti nya dengan sangat rapih.. dan saya yakin, kita akan kalah, karena kita sama sekali tidak mempunyai bukti otentik atas tindak kejahatan yang mereka perbuat."
"Saya tahu itu. Kamu lakukan saja apa yang saya minta. Besok pagi, saya minta semua sudah siap. Karena besok pagi, aku akan langsung ke bandara. Pesawat ku jam 9.00 wib. Dan satu lagi, tolong telephone pengacara saya, suruh dia datang kesini."
"Baik pak, kalau begitu saya permisi."
Siang itu, aku sengaja keluar dari ruang kerja ku. Sedikit mencari angin segar, mata ku sudah mulai terasa berat karena kantuk. Mungkin secangkir kopi bisa membuat aku lebih segar.
"Kalian sudah dengar berita ahmad group??"
"Kenapa-kenapa?? Gue dengar katanya mau di tutup? Benar begitu??"
"Husss,,, Kalian jangan buat gosip yang nggak-nggak deh. Tadi pagi gue lihat sendiri bapak raffi datang kesini dengan ibu nagita. Dan gue rasa semua baik-baik saja."
"Gue gak mungkin salah, karena gue dapat informasi ini dari orang yang memang bekerja disana. So, mana mungkin gue sebar berita hoax."
Percakapan yang tak sengaja aku dengar dari segerombolan orang yang sedang berkumpul disana. Aku tak bisa mendengar jelas apa saja yang dibicarakan mereka, mungkin karena posisi ku yang lumayan jauh dari tempat mereka berada. Tapi jika benar begitu, mengapa raffi tak pernah menceritakan hal ini kepada ku? Apa yang sebenarnya terjadi? Tak sempat aku menghabiskan secangkir kopi, aku langsung kembali ke ruang kerja ku.
"Gi, kamu dari mana? Dari tadi aku mencari mu." Ucap dinar
"Emm, aku tadi baru selesai buat kopi. Mata ku berat, mungkin akibat begadang semalam."
"Memangnya apa yang kamu kerjakan? Apa key, sakit?? Atau.."
"Gak-gak.. bukan itu.. key baik-baik saja."
"Lalu..?"
"Semalam ada insiden kecil, yang membuat ku harus menemani key bermain dengan ayah nya."
"Raffi..??"
"Ya.. raffi datang kerumah ku hampir tengah malam. Dan aku tak mungkin bisa menolak nya, karena key pun sangat berharap kedatangan nya."
"Tapi, apa kamu sudah dengar gosip tentang perusahaan raffi?? Apa benar yang di katakan orang-orang di luar sana kalau perusahaan yang selama ini membesarkan namanya diambang kebangkrutan??"
"Dinar, aku sama sekali tak tahu masalah itu. Bahkan aku pun baru dengar itu semua siang ini."
"Mengapa demikian?? Apa raffi sama sekali tak pernah menceritakan hal ini kepada mu?"
"Kamu mengenal nya, bukan?? Kamu kenal bagaimana sifat nya. Apa mungkin raffi melakukan itu semua??"
"Ya.. aku rasa itu tidak mungkin. Sifat nya yang tertutup membuat kita sulit untuk mengartikan apa yang sebenarnya terjadi. Sebaiknya kamu tanyakan langsung pada raffi tentang hal ini. Karena aku yakin, cuma kamu yang bisa mengerti perasaan nya."
"Ya.. mungkin aku akan menanyakan hal ini padanya."
-----
Tepat pukul 16.00 wib, aku bergegas keluar kantor untuk menjemput key di sekolah. Dan kebetulan pak joe pun sudah menunggu ku di lobby.
"Kita langsung ke sekolah saja, non??"
"Iya, pak. Mudah-mudahan gak macet, karena aku yakin ini sudah waktunya key untuk keluar kelas." Tapi rasanya bukan jakarta jika tak merasakan kemacetan seperti saat ini. Ya.. saat ini. Mungkin aku harus sedikit sabar untuk bisa melewati kemacetan tengah kota yang begitu padat dengan kendaraan-kendaraan silih berganti. Hingga kurang lebih 30 menit, aku baru bisa sampai tepat di depan sekolah nya.
"Mami..."
"Haii, sayang. Kamu sudah menunggu lama?"
"Um'humm.. Apa dedy juga ikut bersama mami untuk datang menjemput ku??"
"Tidak, sayang. Mami kesini bersama pak joe. Dedy masih ada urusan dikantor. Sudah sore, lebih baik kita sekarang pulang, yah?" Aku segera menuntunnya masuk kedalam mobil. Dan aku biarkan key bersandar di pelukan ku. Mungkin dia lelah, hingga ia merasa begitu nyaman berada di dekat ku.
"Mam.."
"Hmmm.. ?"
"Apa aku boleh bermain di taman..??" Aku memang sudah lama tak pernah lagi mengajaknya ke taman. Mungkin karena kesibukan ku yang begitu menyita waktu, hingga lupa dengan apa yang seharusnya aku lakukan.
"Mam,, please. I want to play there." Mana mungkin aku bisa menolak permintaan nya.
"Pak,, bisa minggir sebentar."
"Baik, non.."
Aku pun tak akan membebaskan nya begitu saja. Sebuah perjanjian pun aku buat agar key tidak menyulitkan ku nanti nya. Mengingat matahari hampir tenggelam, dan aku ingin sebelum gelap kita sudah sampai dirumah.
"Sekarang kamu boleh main sepuasnya. Setelah itu, kita pulang. Kamu mengerti kan maksud, mami?"
"Okey, mam."
Hingga petang, bahkan pagi menjelang, aku sama sekali tak mendapatkan kabar apapun dari raffi. Apakah dia baik-baik saja?
"Apa yang kamu lakukan disini, sayang??" Ucap mama yang tiba-tiba saja ada di belakang ku.
"Aku cuma menyiapkan bekal untuk key bawa ke sekolah."
"Kamu gak ke bandara??"
"Bandara?? Memangnya siapa yang akan pergi??"
"Raffi belum bilang kalo ia akan ke australi pagi ini..?"
Aku menggeleng pelan. Bagaimana mungkin aku bisa tidak tahu tentang hal ini. Sedangkan mama, jauh lebih tahu dibandingkan aku.
"Kemarin sore raffi datang ke butik mama. Dan mama pikir, ia datang untuk mencari mu. Tapi ternyata..."
"Apa ini ada hubungannya dengan bisnis yang dijalani nya??"
"Ya.. orang-orang kepercayaan nya itu sudah melakukan hal-hal di luar kendali raffi. Mereka melakukan tindak kejahatan perdata dan mengambil seluruh aset milik ahmad grup. Surat kuasa raffi yang dulu hanya bersifat sementara, kini sudah berubah menjadi hak paten untuk mereka. Dan sekarang, raffi berusaha untuk mendapatkan kembali hak nya. Meski mama rasa itu sangat membahayakan dirinya.."
Ya Tuhan.. mengapa aku sama sekali tak mengetahui hal itu..?
"Sayang,, mama mohon sama kamu. Tolong hentikan rencana raffi yang gila itu. Mereka bisa melakukan hal apapun untuk mendapatkan apa yang di inginkan nya. Kamu mengertikan maksud mama??"
"Tapi, mah.."
"Kamu sayang dia, bukan?? Kalau begitu datanglah, dan temui dia. Karena pesawat nya akan boarding jam 9.00 wib." Ucap mama ku yang berkali-kali meyakinkan ku.
Aku sejenak terdiam, menelaah setiap apa yang mama sampaikan kepada ku. Mempertimbangkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Tapi,,, bagaimana jika raffi pergi, dan gak kembali?? Tidak-tidak..! Aku harus menghentikan nya. Ya.. aku harus menemuinya sekarang.
"Kamu mau kemana, mba??" Ucap caca
"Aku titip key, yah..!"
"Tapi mba,,,"
"Sekarang aku harus pergi. Nanti aku jelaskan!" Aku segera mengambil kunci mobil yang tergeletak di buffet menuju garasi. Aku harap, dengan waktu yang tersisa ini aku bisa bertemu dengan nya. Lebih baik sekarang aku coba telephone raffi.
"Tut.. tut.. tut.. "
"Ayo, angkat raffiii...!!"
"Tut.. tut.. tut.. " raffi benar-benar mengacuhkan semua panggilan masuk dari ku. Tapi itu semua tak menyurutkan niat ku. Aku tetap melajukan mobil ku hingga tepat di depan rumah nya. Rumah yang dulu sering aku datangi, rumah yang menjadi tempat aku dan raffi bertemu saat pertama kali. Dan kini aku baru menginjakkan kaki ku lagi disini, setelah hampir 6 tahun lama nya. Ku lihat orang-orang yang sedang berkemas, memasukkan beberapa koper ke dalam bagasi. Dan raffi sama sekali tak nampak disana. Aku mencoba berjalan, melangkahkan kaki hingga tepat berada di depan pintu yang begitu menjulang tinggi.
"Maaf non, non ini siapa? Ada perlu apa?" Ucap seseorang paruh baya itu.
"Emm,, saya..."
"Siapa, mbok..??" Dengan mengenakan kemeja putih, raffi keluar menemui ku.
"Nagita.. Kamu disini?? Emm,, mbok, tolong buatkan minum untuk nya."
"Baik, den.."
"Ayo, masuklah,,!"
"Raffi, tunggu!" Aku mencoba untuk menahannya. Menggenggam erat lengan nya, hingga raffi pun berbalik dan berjalan mendekat kearah ku. 1, 2, hingga bahkan mungkin 30 detik, aku hanya bisa menatapnya. Begitu pun juga raffi. Hingga terucap kalimat dari bibir nya.
"Aku minta maaf.. Aku mohon, maafkan aku." Orang yang selama ini aku anggap kuat, ternyata ia sangatlah rapuh. Bahkan ia terlihat sangat rapuh.
"Aku harus pergi..." kalimat yang raffi ucapkan kepada ku disaat ia memeluk ku.
"Apa gak ada cara lain? Aku mohon, raffi... jangan tinggalkan aku."
"Aku harus tetap pergi."
"Tapi itu sangat berbahaya, raffi! Aku gak mau sesuatu yang buruk terjadi pada mu. Aku sayang sama kamu, raffi...! Aku gak mau kehilangan kamu lagi..!" Tak ada lagi kata yang bisa aku ucapkan pada nya. Hanya rasa takut yang kini menyelimuti perasaan ku saat ini. Takut jika ia benar-benar pergi..
"Lihat aku! Dan aku mohon dengarkan aku! Aku gak akan pernah meninggalkan kamu, sayang.. gak akan pernah.."
"Lalu berapa lama kamu disana??"
"Aku janji, setelah urusan ku selesai, aku akan kembali. Dan, sebentar... aku baru sempat mengurus semua ini. Ini tabungan beserta surat-surat berharga yang sudah aku siapkan sebelum aku tahu akan terjadi seperti ini. Cuma itu yang aku punya saat ini."
"Ssssttt.. kamu ini bicara apa?? Kamu gak sendiri, raffi! Masih ada aku, dan key putri mu. Kita berdua akan selalu menunggu mu disini. Kamu baik-baik ya disana. Jangan lupa untuk mengabari kita disini."
"Terimakasih kamu mau mengerti aku. Aku pasti sangat merindukan kalian. Emm,,, Sudah saat nya aku harus pergi. Aku titip salam untuk nya, sampaikan maaf ku karena dalam waktu dekat ini aku gak bisa menemani nya bermain."
Aku tersenyum kearah nya, mengiyakan apa yang raffi katakan kepada ku. Hingga saatnya raffi mulai masuk kedalam mobilnya, bahkan sampai mobil tersebut tak terlihat lagi. Mungkin ini ujian untuk kita. Ujian untuk menjadi seseorang yang jauh lebih baik lagi. Kadang, apa yang terlihat biasa-biasa saja, baru akan terasa berharga jika kita benar-benar kehilangan nya. Itulah yang aku rasakan saat ini, karena raffi,, amat sangat berharga untuk ku...
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.
No comments:
Post a Comment