The Power Of Love Part---14
Dan setelah manaiki 7 lantai dan berjalan kurang lebih 10 menit, akhirnya mereka sampai didepan ruangan dengan pintu yg terbuat dari kaca hitam yg diperkirakan ketebalan nya kurang lebih 5-10 mm, dengan cctv disetiap sudut nya. Bahkan tepat di depan raffi berdiri saat ini terdapat cctv yg otomatis terlihat dari dalam ruangan dan tak lupa dengan print finger yg menempel di sudut pintu sebelah kanan, pertanda gak sembarang orang bisa masuk apa lagi tanpa sepengetahuan nya.
"Ayo raffi,, silahkan masuk. Beliau sudah menunggu mu didalam." ucap lucky membuyarkan lamunan nya
"Ohh.. baik om.." ucap raffi, meng "iya" kan permintaan nya untuk masuk ke ruangan dan menemui nya.
"Huuufft.." terlihat raffi menghela nafas sebelum ia bertemu dengan Mr. Gideon
Dengan rasa penasaran raffi pun mulai melangkahkan kaki untuk masuk ke ruangan yg sungguh dingin bagaikan es, entah lah berapa derajat suhu diruangan tersebut. Membuat nya merasakan dingin yg sangat hebat hingga menusuk sampai tulang rusuk nya. Walau tak dipungkiri rasa takut menyelimuti hati dan perasaan nya saat ini.
"Punya keberanian juga km menemui saya" ucap pria yg berada dibalik kursi yg menghadap tembok, hanya terlihat lengan berbalut blezer hitam dengan jam tangan mahal yg melingkar dipergelangan kiri nya.
Perlahan kursi itu memutar kearah nya dan benar saja dia adalah Mr. Gideon, papah nagita,,
"Silahkan duduk.." ucap nya mempersilahlan raffi untuk duduk di kursi yg sudah disediakan
"Baik om.." bls raffi
"Apa km tahu tujuan saya menyuruh mu kesini??" tanya Mr.Gideon yg masih bersandar dikursi nya
"Gak.. om.." ucap raffi singkat, bukan rasa gugup lagi namun udara yg berhembus membuat nya semakin kaku dan sulit untuk berucap.
Tanpa basa-basi Mr. Gideon mengeluarkan amplop kecil berwarna coklat dan meletakkan nya diatas meja.
"Apa ini om??" tanya raffi saat Mr. gideon menyodorkan amplop coklat itu ke arah nya
"Itu untuk mu.." ucap nya singkat
"Apa maksud om..?" selidik raffi
"Saya minta km jauhi anak saya.."
"Saya gak mau lihat lagi km dekati anak saya nagita.." lanjut nya tegas
"Saya gak akan pernah melakukan itu om.."
"Saya mencintai nya.." lanjut raffi menolak pemberian Mr. Gideon dan mengembalikan nya
"Ahahaha..."
"Cukup kuat juga pendirian mu anak muda.Tahu apa km tentang cinta?, sampai km menolak pemberian saya"
"Kalian itu masih terlalu muda mengenal cinta. Sekarang, Katakan lah berapa yg km minta..?"
"Silahkan km tulis berapa pun nominal yg km inginkan.." lanjut nya dengan memberikan cek kosong yg sudah ia tandatangani. Mungkin jika raffi bukan lah org baik, ia pasti akan menuliskan nominal sebesar mungkin pada cek kosong tersebut. Namun raffi bukanlah org yg gila akan harta.
"Terimakasih, tp berapa pun uang yg om beri gak akan pernah mengubah rasa cinta saya kepada nagita,," ucap raffi
"Raffi,, mungkin setelah km mendengar ini, kamu akan berfikir lagi atas pernyataan mu barusan. Nagita akan saya jodohkan dengan seseorang, yg mungkin km pun mengenal nya. Dia laki2 yg jauh lebih baik dari pada km" papar nya
"Tapi om, ," sanggah raffi
Hampir 1 jam raffi berada diruangan itu, rasa kesal, emosi terkumpul jadi satu dalam benak nya. Ingin rasanya meluapkan emosi nya saat itu, namun seperti nya itu tak mungkin raffi lakukan. Bagaimana pun juga Mr. Gideon adalah seseorang yg sangat raffi hormati.
"Sekarang km boleh pergi dari sini,,"
"Ingat pesan saya. !" ucap nya
"Baik, saya permisi dan selamat siang.." ucap raffi lalu pergi dari ruangan yg membuat nya panas dingin dengan dicecer pertanyaan dan pernyataan yg membuat nya naik darah. Namun itu lah raffi yg selalu bisa menahan emosi dan bisa menetralkan perasaan nya yg sempat tak terkontrol.
"Fi.. lo knpa??" ucap irwan saat raffi mulai terlihat kurang fokus dengan apa yg ada didepan nya.
"Gue gpp.. " ucap raffi singkat yg tak seperti biasa nya ia hanya menjawab dengan wajah yg masih berpaling pada spion mobil yg ada disebelah kiri.
"Lo ngobrol apa aja dengan nya.." selidik irwan
"Nnt gue jelaskan di kantor,," ucap raffi yg mulai menyandarkan kepala nya di jok mobil.
Dan tak lama mereka pun sampai di kantor, dan raffi langsung masuk kedalam kantor dan menuju ruang kerja nya.
"Tok..tok..tok.." terdengar seseorang mengetuk pintu dan memanggil nama nya, raffi yg berada di toilet segera membasuh muka nya dengan air yg ada di wastafle dan mengelap nya dengan tissue yg ada disana. Raffi keluar dari toilet dengan wajah lebih tenang, hingga irwan tak begitu curiga dengan apa yg sedang ia rasakan saat ini.
"Raffi.. Lo gpp..?" ucap irwan
"Sorry wan,,, Lo dari tadi disini??"
"Oya, mana berkas yg harus gue tandatangani??"
"Krna bentar lagi gue harus pergi.." lanjut raffi berjalan kearah kursi kerja nya
"Ada di laci gue.."
"Tapi lo blum cerita ke gue soal tadi,, lo ngomongin apa aja disana?" lanjut irwan yg kepo akan pembicaraan raffi dan Mr. Gideon yg cukup lama saat berada di ruangan yg sangat private menurut nya.
"Huuuftt..."
"Gak ada yg perlu dibahas, semua gak ada yg penting.."
"Percuma juga gue jelasin sama lo, ini gak ada kaitan nya dengan proyek yg akan kita jalani bersama perusahaan nya.." lanjut raffi
"Lalu, apa maksud semua nya??" tanya irwan
"Entahlah..." ucap raffi seraya mengangkat kedua sisi pundak nya
"Ya sudah, mana berkas nya.."
"Gue gak punya banyak waktu.." pinta raffi
"Ok.. bentar.." ucap irwan lalu mengambilkan nya di laci meja kerja nya, tak lama irwan pun membawa setumpuk berkas dan meletakkan nya diatas meja raffi.
"Lo mau kemana??" ucap irwan sambil memperhatikan raffi menandatangani semua berkas yg sudah disediakan beberapa detik yg lalu
"Gue ada perlu bentar.."
"Tp nnt gue langsung balik.." ucap raffi dengan tangan yg masih menggoreskan pena di beberapa lembar kertas yg ada di meja nya.
"Lo ada janji dengan nagita??" selidik irwan
"Bukan, gue ada urusan lain.."
"Ok.. selesai.. gue harus pergi.." lanjut raffi
"Ok.. no problem.." ujar irwan
Tepat pukul 15.00 wib, raffi terlihat keluar dari area perkantoran nya dan pergi menggunakan mobil yg masih terparkir di lobby depan. Entahlah kemana raffi akan pergi, yg jelas pikiran nya selalu teringat akan perkataan Mr. Gideon.
"Saya gak suka km dekati anak saya"
"Saya minta km jauhi dia..!" ucapan itu yg selalu terngiang2 di benak nya
"Aaaaaarrrrgggghh.. "
"Raffi.. lo harus nya ngaca, lo itu bukan siapa2.."
"Lo hanya org biasa yg mimpi punya seorang pacar anak raja.."
"Tapi apa aku salah mencintai nya..?"
"Tuhan... knpa ini gak adil buat gue...???" jerit raffi di tengah perjalanan yg sampai sekarang tak tentu arah dan tujuan nya. Hingga ia berhenti di pinggir jalan yg teduh, membuat nya sedikit lebih tenang
Disamping itu,
"Gimana om, beres??"
"Ok, baik om.. Terimakasih.." ucap niko dalam telephone nya
"Yes.. Apa gue bilang, lo bukan tandingan gue fii.."
"Lo bisa menangin hati nya, tp gue yg akan mendapatkan nya"
"Liat nnt, siapa yang akan menjadi pemenang nya" ucap niko dengan senyum licik nya
"Gi.. tunggu.." ucap niko yg berlari kearah nagita yg sedang berjalan keluar kampus bersama teman2 nya.
"Kalian duluan aja, aku masih ada urusan.." ucap gigi saat tau niko memanggilnya
"Ya sudah, kita duluan yah.." ucap teman2 nya bersamaan dan membiarkan gigi bersama niko
Perlahan niko datang menghampiri nya yg masih berdiri di pintu utama kampus nya
"Ada apa niko??" ucap nagita
"Km mau pulang??" tanya niko sambil berjalan kearah parkiran kampus
"Iya.. " bls nya singkat
"Gimana klo kita bareng aja.. karena kebetulan td Om tlpn, minta aku anterin km pulang. Supir yg biasa jemput lagi ada keperluan lain, jadi gak bisa jemput km disini." Ucap niko, mencari2 alasan untuk bisa berdua dengan nagita.
Entahlah, niat jahat apa lagi yg sedang niko rencanakan di otak nya. Nagita sempat tak percaya dengan ucapan niko akan pernyataan tentang supir pribadi nya, namun 5 menit berlalu tak nampak tanda2 jemputan itu datang. Akhir nya nagita memutuskan untuk menerima rawaran niko dan pulang bersama nya.
"Nagita,, aku senang bisa 1 mobil bareng km lagi, setelah sekian lama kita gak pernah seperti ini" ucap niko yg membuat nagita teringat akan kebersamaan nya, dan itu terjadi di awal2 perkenalan nya. Sebelum menjadi niko sekarang yg terkenal angkuh, ambisius, sombong dan sok berkuasa membuat nagita perlahan menjauhi nya hingga saat ini.
"Nagita.. apa yg membuat km menjauh dari ku? Apa ini semua gara2 raffi " tanya niko di tengah perjalanan nya
"Itu gak ada hubungan nya dengan raffi, niko.." ucap nagita
"Lalu apa?" bls niko
"Km berubah, niko yg dulu bukan niko yg aku kenal sekarang"
"Dan itu yg membuat aku gak suka dengan sikap km yg skrg.." lanjut nagita
"Aku berubah krna km gak pernah menganggap aku ada dlam hidup mu nagita.."
"Km sadar klo aku begitu mencintai mu, tp apa km pernah membalas cinta ku?" ucap niko
"Niko, dari dulu hingga sekarang aku selalu menganggap km sebagai teman, gak lebih.."
"Dan sampai kapan pun aku gak akan pernah bisa mencintai km niko.." lanjut nagita
"Itu gak akan terjadi nagita.." ucap niko dengan senyum licik nya
"Apa maksud km niko?" selidik nagita
"Apa Papah km belum cerita tentang perjodohan kita?" ucap niko yg sontak membuat nya kaget
"Perjodohan apa maksud kamu?" selidik nagita yg semakin penasaran dengan apa yg diucapkan niko kepada nya.
"Nagita.. nagita..."
"Percuma km bersusah payah lari dari ku, karena pada akhir nya km akan jatuh kepelukan ku.." ucap niko yg membuat nagita semakin tak mengerti dibuat nya
"Itu gak mungkin niko!" ucap nagita yg tak mempercayai ucapan niko kepada nya
"Km boleh gak percaya, tp raffi sudah mengetahui semuanya.."
"Yg jelas bentar lagi km akan jadi milikku nagita.." lanjut niko
"Niko, hentikan mobil km.." ucap nagita saat mengetahui niko mulai tak bisa mengendalikan laju mobil nya yg semakin cepat dan niat jahat niko pun mulai tercium oleh nagita
"Tenang sayang, km santai saja tinggal duduk manis.. kita akan bersenang2 hari ini.." ucap nya yg mulai membelokkan ke jalan yg sebenarnya bukanlah arah pulang ke rumah nagita, melainkan arah menuju puncak.
"Niko.. Km mau bawa aku kemana??"
"Aku mau turun niko, tolong hentikan mobil nya..!" seru nagita yg mulai cemas akan nasib nya sekarang
Niko tak memperdulikan ucapan nagita, ia terus melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi
"Ya tuhan.. apa yg harus aku lakukan..?"
"Mana mungkin aku bisa menelphon raffi dalam keadaan seperti ini? Yg ada niko semakin terpancing.." bathin nagita
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.
No comments:
Post a Comment