Saturday, March 5, 2016

Life in future with you--- part 18

Life in future with you--- part 18

("Kemungkinan malam ini dedy gak kesini sayang. Lebih baik kamu istirahat. Mami gak mau kamu tidur larut malam."
  "Tapi mam..."
  "Key,, ? Apa yang dikatakan mami itu benar sayang. Diluar hujan, dan seperti nya dedy gak bisa menemui mu malam ini." Ucap caca
  "Aku cuma mau kasih ini, aunty." Ucap key
  "Oke mengerti, sangat mengerti. Tapi ini sudah malam nak. Kamu harus istirahat sayang. Lebih baik kamu simpan dulu. Sekarang aunty antar ke kamar yah..?"
Meski ku tahu, begitu kecewanya key saat mendengar raffi tak bisa menemui nya malam ini. Tapi, rasa nya aku tak tega membiarkan nya sendiri. Meski ada caca yang menemani, tapi... sebaiknya aku segera susul dia kekamar.)

Perlahan aku mulai berjalan mendekati mereka, berharap semua akan baik-baik saja.
  "Dia tidur..?"
  "Emm, ya.. Aku baru selesai membacakan buku cerita untuk nya. Aku harap, ia benar-benar terlelap." ucap caca
  "Aku rasa dia lelah. Sudah malam, biar aku saja. Sebaiknya kamu juga istirahat. .."
  "Ok,,, good night.. " Ucap caca.
Perlahan, aku mulai duduk disamping nya. Membenarkan selimut yang belum menutup sempurna di tubuh nya. Berharap, ia benar-benar terlelap dan melupakan semua nya. Semua yang terjadi malam ini, yang mungkin sedikit membuatnya kecewa. Andai saja waktu itu aku mau mendengarkan sedikit penjelasan dari nya, mungkin semua tak akan sesulit ini. Ini semua salah ku.
Ku pandang setiap lekuk wajah nya. Ku usap dan ku kecup kening nya.. seraya berucap.. "Have a nice dream my princess." Hanya itu yang bisa aku ucapkan pada nya. Semoga ia selalu dalam lindungan-Nya.

Ku lirik jam dinding dikamar ku, rupanya malam belum begitu larut. Mungkin akibat hujan besar yang mengguyur kota jakarta, sedikit mempengaruhi situasi diluar sana hingga terlihat sangat larut. Aku mulai beranjak pergi dari samping nya, namun seketika handphone ku berbunyi. Dan aku rasa, itu fara. 15 menit yg lalu aku memintanya untuk mengirimkan schedule ku selama 3 hari kedepan.
  "Malam fara. Ya, aku sudah terima laporan mu. Aku sudah cek semua nya. Besok pagi, tolong siapkan printout nya di meja ku."
  "Mam..?" Suara itu.. ya,, suara yang tak asing lagi bagi ku. Rupanya ia benar-benar belum terlelap, bahkan ia kini terduduk kembali dan kembali menatap ku.
  "Who is she, mam??"
  "Kamu mengerti maksud ku? Baiklah, aku rasa cukup jelas. Besok pagi aku tunggu di ruangan. Selamat malam."
  "Mam.. ??"
  "Hmm..??"
  "Apa itu dedy??"
  "Itu aunty fara, sayang. Kamu belum juga tidur?"
  "Um'humm.." Aku sedikit mengangkat dagu nya, dan memandang lekat kedua mata nya yang seperti nya terlihat sedikit memerah.
  "Kamu menangis,,??"
  "Don't worry mam.. I will be fine." Key seakan menepis semua nya. Anggapan bahwa ia selalu baik-baik saja itu selalu di lontarkan nya tatkala aku menanyakan mengapa alasan nya menangis.
  "Are you sure??" Aku cuma ingin memastikan kembali, berharap ia akan menjelaskan semua nya. Namun belum juga aku mendapatkan penjelasan dari key tentang alasan nya mengapa ia menangis, terdengar seseorang telah mengetuk pintu kamar ku..
  "Siapa??"
  "Ini mbok, non.."
Pikir ku, tumben malam-malam mbok ina mencari ku. Aku pun segera menemui mbok ina yang masih menunggu dibalik pintu kamar ku.
  "Where are you go, mam? Could i join with you??" Seru key saat aku mulai beranjak keluar dari kamar dan menjauh dari nya.
  "No,, no,,! Don't go anywhere. Soon i will be back."
Aku pun segera membukakan pintu yg sedari tadi tertutup rapat. Untuk sedikit mencari tahu apa yg ingin mbok ina sampaikan kepada ku.
  "Mbok memanggil ku?"
  "Maaf non, mbok cuma mau kasih tahu. Di luar ada den raffi."
  "Raffi.. ?" Aku sedikit menurunkan intonasi ku. Rasa nya sulit untuk ku percaya dia ada disini. Tapi mana mungkin mbok ina berbohong. Lebih baik aku pastikan dulu kebenaran nya.
  "Kasian den raffi, non. Seperti nya ia kehujanan."
  "Lalu, dimana dia sekarang mbok??"
  "Di luar, non. Mbok sudah mengajaknya masuk, tapi den raffi bilang biar tunggu diluar saja. " Papar mbok ina yang terus membuntuti ku hingga akhirnya aku benar-benar menemui raffi. Dengan masih mengenakan kemeja lengkap beserta blazer, ia berdiri di depan ku.
  "Hai.. Apa aku mengganggu mu?" Sungguh, aku benar-benar tak menyangka. Raffi datang dan menepati janji nya. Meski hujan... bahkan angin besar.. rupanya tak menyurutkan niatnya untuk datang dan menemui putri kecil nya.
  "Silahkan masuk.."
  "Emm, biar aku disini saja. Baju ku basah, kebetulan mobil ku mogok diujung jalan sana."
  "Mbok, bisa minta tolong ambilkan handuk untuk nya?"
  "Baik non.. "
  "Ayo masuklah.. tak baik berlama-lama disini." Aku pun langsung membawanya kedalam, setidaknya itu jauh lebih baik dari pada ia harus berdiam diri diluar.
  "Apa kedatangan ku ini mengganggu mu??" ucap raffi
  "Makasih mbok. Kamu pakai ini. Setidaknya keringkan dulu tubuh mu. Kamu bisa pakai kamar tamu. Sementara aku akan ambilkan baju untuk mu."
  "Kamu tak perlu melakukan itu. Aku baik-baik saja. Sebentar lagi juga kering. Kamu tak usah khawatirkan aku." Namun aku sama sekali tak menghiraukannya. Sudah jelas-jelas basah kuyup, mana mungkin bisa dikatakan baik-baik saja. Aku tetap mencari apa yang seharusnya raffi butuhkan saat ini. Sepotong baju, ya.. sepotong baju yang mungkin bisa membuat nya hangat dan tak kedinginan seperti apa yang aku takutkan waktu itu. Aku mencoba mencari-cari baju yang sekira nya pas dikenakan untuk nya. Tapi..
  "Astaga, harus nya aku menemukan nya disini." Aku mulai sedikit panik, bahkan aku sendiri tak sadar tlah mengacak-acak isi lemari yang sebenarnya bukan milik ku. Hingga akhirnya aku menemukan apa yang selama ini aku cari. Setidaknya ini bisa dipakai untuk nya.
  "Apa yang sedang kamu lakukan disini, nak..?? Apa kamu mencari sesuatu??" Ucap mama ku yang tiba-tiba muncul dibelakang ku.
  "Aku.. Emm, aku cuma mau ambil ini. Setidaknya ini bisa menggantikan pakaiannya yg basah agar tak kedinginan seperti saat ini."
  "Memangnya cukup?" Tanya mama ku
  "Seperti nya.. Aku rasa, mereka tidak jauh berbeda."
  "Kamu sudah coba buatkan minuman hangat untuk nya??" Ucap mama
  "Aku belum sempat membuatkan nya. Mungkin setelah ini.. "
  "Ya sudah, biar mama yang suruh mbok ina untuk masak air panas untuk nya. Kamu sekarang lebih baik temui dia. Biar ini semua mama yang rapikan." Mungkin benar apa yang dikatakan mama, sebaiknya aku segera menemui nya. Meski handuk yang ku beri sedikit mengurangi basah dirambut dan tubuhnya, tapi raffi tetap harus mengganti nya.
  "Sementara, kamu pakai ini dulu. Jika kamu membutuhkan sesuatu, katakan saja pada ku. Aku tunggu kamu di luar."
Pikir ku, untuk mengganti semua yang dikenakan mungkin akan memakan waktu yang cukup lama. Lebih baik aku ke dapur, membuatkan sesuatu yang bisa menghangatkan nya. Mungkin teh hangat lebih cocok untuk nya.

  "Kamu yang meminta nya kesini? Diluar hujan lebat loh.. Apa itu gak terlalu bahaya untuk nya??" Ucap mama ku.
  "Aku rasa, bukan raffi bila tak melakukan hal yang bisa membahayakan dirinya sendiri."
  "Maksud mu?" Mama menoleh kearah ku, seolah tak mengerti apa yang dimaksud perkataan ku.
  "Aku sudah melarangnya untuk datang kesini. Tapi,, ya seperti yang mama lihat saat ini. Lagi pula aku tak mungkin setega itu, mah."
  "Apa kamu sudah coba tanyakan pada nya, apa yang membuatnya memaksa untuk tetap datang kesini..?" Ucap mama ku. Entahlah.. Aku hanya menggeleng pelan, karena sesungguhnya aku sendiri belum sempat bertanya sesuatu kepada nya.
  "Ya sudah, sebaiknya sekarang kamu antarkan teh nya. Dan segera ajak dia bertemu key. Mama lihat pintu kamar mu terbuka. Mama takut, ia terbangun dan mencari mu."  Ya.. mungkin itu lebih baik. Karena pastinya key sudah menunggu ku sejak lama disana. Lagi pula, dari tadi key selalu menanyakan tentang dedy nya. Biarkan ini jadi kejutan untuk nya. Mungkin, itu akan mengobati rasa kecewa nya. Tapi.. tunggu...! Mengapa hanya ada selimut dan bantal nya saja disini..? Lalu dimana dia? Ku dengar rintik hujan yang begitu nyaring di telingaku. Ku menoleh ke asal muasal angin yang menyibak luas gorden kamar, per tanda seseorang telah membuka jendela kamar yang sengaja aku tutup rapat. Dan seperti nya...

  "Heii, kamu disini?? Apa yang bisa kamu lihat disini, sayang??"
  "The rain." Ku lihat, key seakan menikmati setiap tetes air yang turun ke bumi. Terlihat saat key mulai menengadah kan kedua tangannya, dan merasakan setiap tetes air yang menetes secara beraturan.
  "Emm.. Mam. Can i ask you something..?"
  "Tentu. Sekarang katakanlah..?"
  "What the rain comes from the clouds?" Pertanyaan yang simple sih menurut ku. Tapi, meskipun terbilang simple, tetap saja aku harus berhati-hati untuk nenjawab nya. Perlu diketahui, key bukan anak kecil yang mudah percaya begitu saja. Bila ia merasa belum puas dengan jawaban atas pertanyaan nya, maka ia akan terus mencari tahu jawaban yang masuk akal menurut nya.
  "Mam,, " Aku tersenyum simpul kearah nya, seraya membelai rambut nya yang kini mulai memanjang.
  "Instead of clouds made of cotton right, mam??"
  "Mungkin terlihat seperti kapas. Tapi bukan berarti itu kapas kan?"
  "Lalu.. ??"
  "Tak lain merupakan kumpulan dari beberapa titik air dan kristal es yang partikel nya sangatlah kecil, itu mengapa terlihat putih menyerupai kapas. Itulah yang dinamakan awan. Sekarang dengarkan mami, sayang. Kadang apa yang kita lihat, tak semuanya bisa sama atau sesuai dengan kenyataan. Seperti halnya dengan awan. Mungkin suatu saat kamu akan mengerti.."
  "Lalu kapan saat nya awan akan turun hujan, mam??"
  "Ketika titik-titik air kecil didalam awan saling bergabung membentuk titik-titik air yang lebih besar. Setelah titik air itu cukup besar dan berat, ia akan jatuh dari awan sebagai air hujan. Itu alasan mengapa malam ini turun hujan." Ucap raffi yang mulai berjalan mendekati aku dan key.
  "Dedy...?"
  "Apa yang sedang kalian lakukan disini, hmm..??"
Hufftt, cukup mengejutkan bukan? Bahagia?? Itu sudah jelas terpancar dari sepasang bola mata yang menatap lekat kearah sang ayah yang sangat dirindukan kedatangan nya. Peluk sayang begitu erat terasa. Terlihat saat key begitu nyaman bersandar di pundak nya meski untuk beberapa detik saja.
  "Hujan nya deras, aku cuma ingin melihatnya dari dekat, dedy."
  "Kamu suka hujan..?" Tanya raffi kepada key
  "Um'humm.."
  "Kamu boleh suka hujan. Tapi kamu pun harus lihat, ini sudah malam sayang. Angin malam tak baik untuk kesehatan mu. Kamu mengerti maksud dedy?? Lebih baik kita masuk sekarang." raffi pun membawa nya ke dalam. Menidurkan nya di kasur, meski sepertinya key masih enggan untuk terlelap. Hingga obrolan ringan pun tercipta begitu saja. Bak keluarga kecil sederhana yang berbahagia. Bahkan aku sendiri seakan larut dalam canda dan tawa mereka yang begitu hangat terasa. Seakan tak ada lagi pembatas diantara kita. Mungkin aku terlambat untuk menyadari itu semua. Sampai-sampai aku sendiri lupa bahwa kebahagiaan ku sesungguhnya ada diantara tawa mereka. Mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang terdekat ku, tentang bagaimana perasaan ku pada nya. Meski pada awalnya aku ragu, tapi ia bisa meyakinkan ku.. segala yang aku rasa itu tak mungkin, bisa saja terjadi hanya karena mu. Dan itu cukup membuatku merasa, cuma kamu yang bisa mengubah jam menjadi menit yang lenyap begitu saja tanpa pamit. Yang mampu mengubah detak jantung mengalun lembut menjadi nada yang tak berlirik. Yang mampu mengubah seulas senyum menjadi tawa yang tak bersuara. Mengubah rasa menjadi asa tanpa kata. Mengubah tatap menjadi harap dalam dekap. Mengubah jarak yang jauh menjadi dekat tak bersekat. Bahkan kamu dapat mengubah hampa menjadi utuh tak berongga. Andai saja waktu bisa aku hentikan secara tiba-tiba, aku ingin menghentikan waktu ku malam ini agar tetap bersama nya. Tapi sepertinya itu tak mungkin. Dering handphone raffi yang berulang kali membuat aku sadar, bahwa aku belum bisa memiliki raffi seutuhnya, dengan atau tanpa orang-orang yang bisa mengganggu quality time kita. Tapi, tunggu! Mengapa ia biarkan begitu saja?? Bahkan untuk mengecek siapa yang berusaha menghubunginya pun rasa nya enggan bergeming?? Hingga untuk yang kedua kalinya,,
  "Siapa??"
  "Emm, bukan siapa-siapa. Biarkan aku bermain sepuasnya malam ini. Bukan begitu, my princess?" Mungkin lebih baik aku diam, biarkan mereka bermain sesuka hati nya.. tapi, lagi-lagi handphone nya pun berdering. Dan aku rasa masih dengan orang yang sama. Entahlah, aku tak tahu itu siapa. Yang jelas, ia berusaha untuk menghubungi raffi beberapa kali.
  "Sebaiknya angkat dulu handphone mu. Siapa tahu itu penting." Untuk kesekian kali, akhirnya raffi mulai menyentuh handphone nya. Mencoba untuk mengangkat nya, meski ia seakan ragu. Percakapan, hingga kata demi kata yang sebenarnya aku sendiri tidak begitu jelas atau bahkan mengerti maksud dan tujuan pembicaraan nya kemana, tapi aku yakin itu bukan hal yang biasa. Terlihat saat ia mulai perlahan menjauh dari aku dan key. Dan aku rasa itu sangat privasi..
  "Mam, apa dedy akan pergi lagi..?" Tanya key yang sedikit membuyarkan lamunan ku. Tapi sudahlah, aku tak ingin memikirkan hal itu.
  "Dedy sudah menepati janjinya untuk datang kesini menemui mu. Sekarang tidak ada alasan lagi untuk kamu menunda waktu istirahat mu. Lagi pula besok kamu harus bangun pagi. Mami gak ingin kamu datang terlambat ke sekolah. Kamu mengerti maksud mami?"
  "Ok.. " Akhirnya, key pun menuruti apa yang aku katakan. Hingga akhirnya ia benar-benar terlelap. Namun, mengapa raffi tak juga kunjung datang? Seserius itukah pembicaraan nya?? Lebih baik aku susul dia, aku takut terjadi sesuatu padanya.

  "Apa harus secepat itu?? Baiklah, kalau begitu tolong siapkan semuanya." Hanya kalimat itu yang bisa aku dengar dan sekaligus menjadi penutup dari percakapannya itu. Aku mencoba tetap berjalan mendekati nya, mencari tahu maksud pembicaraan nya itu.
  "Siapa?" Aku seakan memecahkan kesunyian diantara desiran angin yang bergemuruh.
  "Emm, kamu disini..? Dia Beny, asisten ku."
  "Asisten??" Pikir ku.
  "Sudahlah, itu gak penting." Raffi seakan menghindar dari pertanyaan ku. Sedikit janggal juga sih menurut ku. Aku rasa ada hal lain yang raffi sembunyikan dari ku. Terlihat saat raffi mencoba mengalihkan pembicaraan nya dan mencoba untuk tidak membahas nya lagi. Tapi apa?? Apa yang disembunyikan oleh nya?? Sedikit terlintas dibenak ku akan hal itu.
  "Mengapa kamu menatap ku seperti itu?? Apa ada yang salah dengan ucapan ku?"
  "Emm, Gak.. aku gak apa-apa."
  "Sudah malam, sebaiknya aku pulang."
  "Bagaimana dengan mobil mu?" Setahu ku, mobil yang dikendarainya mogok disebrang jalan. Lalu, bagaimana bisa dia bilang mau pulang???
  "Emm, aku sudah telephone orang untuk bawa mobil ku ke bengkel. Lagi pula aku bisa naik taxi."
  "Ini larut malam, raffi..! Kamu jangan macam-macam. Apa gak sebaiknya kamu bermalam disini? Atau jika tidak, biar supir aku yang antar kamu."
  "Kamu begitu mencemaskan ku??" Entahlah, apa yang sebenarnya aku rasakan saat ini. Yang jelas, aku memang benar-benar mencemaskan nya.
  "Heii, kok melamun..?? Kamu belum jawab pertanyaan ku." Entahlah, aku bingung harus berkata apa. Aku hanya diam, dan berjalan menjauh dari nya. Berharap rasa takut itu tak diketahuinya. Hingga aku memilih untuk duduk di kursi, sementara raffi masih di tempat yang sama.
  "Entahlah, ini cuma perasaan ku saja ataukah memang benar adanya. Bila memang benar, aku pasti sangat bahagia. Tapi, aku rasa itu tidak mungkin. Bahkan nanti, disaat aku pergi...?? Sudahlah, bicara apa aku ini.."
  "Pergi.. ?? Raffi, apa maksud mu??"
  "Lupakanlah. Sudah malam, lebih baik kamu istirahat. Taxi ku sudah menunggu dibawah..." Raffi tersenyum tipis kearah ku, sebelum akhirnya raffi benar-benar pergi meninggalkan ku dan meninggalkan tanda tanya besar untuk ku..??

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempatnya.

2 comments:

  1. Mbak posting nya agak cepet dong...bikin penasaran kalo kelamaan ntr berasa basi aja ceritanya..saran aja sih

    ReplyDelete
  2. Makasih chusnul masukan nya.. 😇😇

    ReplyDelete